
raya menutupi lebam di bagian bawah pipinya dengan foundation agar tidak terlalu terlihat jelas kecuali luka di sudut bibir kanannya yang tidak bisa dia tutupi
raya menatap sedih dirinya dalam pantulan cermin, suami yang seharusnya bisa menjaga dan menghormatinya tapi yang dia alami malah sebaliknya
jangankan menghormati bahkan menganggap raya sebagai istrinya pun tidak, raya menghela nafas panjang berharap hari ini adalah hari terbaik untuk dirinya, melupakan sejenak permasalahannya dengan bekerja mungkin bukan sebuah ide yang buruk
"semangat raya" ucap raya menyemangati dirinya sendiri
raya keluar dari kamar tere tanpa membangunkan kedua sahabatnya yang masih terlelap,
raya berjalan menghampiri raffael yang sudah berdiri di samping mobilnya
"lama banget sih lo" umpat raffael melihat raya yang baru selesai berdandan
"gue harus nutupin ini dulu raff" tunjuk raya pada pipi bagian bawanya
"gak usah di tutupin juga gak masalah ray, ayok cabut"
"buat lo gak masalah tapi buat gue jadi masalah besar" ucap raya ketika sudah duduk di kursi samping kemudi
"lebay lo" cibir raffael
"eh tunggu....." cegah raya
"apalagi naraya anastasia kita udah mau telat ini" seru raffael
"muka lo kenapa? kok pada bonyok gitu raff" tanya raya yang baru sadar jika muka raffael babak belur
"tawuran" jawab raffael ngasal
"lo pikir gue percaya" sungut raya
"gue gak minta lo buat percaya"
"lo kenapa? jawab jujur"
"adu jotos sama suami kesayangan lo"
"ya Allah...." kaget raya sampai menutupi mulutnya yang menganga
tanpa membahas lagi masalah wajahnya yang babak belur raffael menjalankan mobilnya menuju perusahaan EO miliknya, sebelum masuk raffael mengajak raya untuk sarapan terlebih dahulu di depan kantor mereka
banyak para karyawan yang menatap ke arah raffael dan raya karena baru hari ini raya dan raffael terang-terangan jalan berdua meskipun niatnya ingin bekerja
"kok raya bisa deket sama bos ya"
__ADS_1
"palingan lagi caper berharap naik jabatan"
"wah gak bener tuh kalau suami raya sampai lihat bisa salah paham"
"ngapain sih ngurusin urusan mereka biarin aja"
"tapi beruntung banget loh raya bisa sarapan bareng bos, pasti di traktir tuh"
bisik-bisik beberapa karyawan terdengar oleh raya dan raffael, raffael yang memang tidak memperdulikan cuitan para karyawannya masih santai mengunyah makananya sampai tandas berbeda dengan raya yang memikirkan asumsi para rekan kerjanya raya khawatir mereka akan beranggapan jika raya seorang wanita murahan yang sudah berstatus sebagai seorang istri tapi masih dekat dengan pria lain dengan cepat pasti berita itu akan menjadi tranding topic di kantornya
"ngapain bengong? abisin buruan"
"raff lo gak denger mereka pada ngomongin kita?"
"telinga gue masih berfungsi dengan baik"
"lo kok santai sih kalau mereka mikir macem-macem gimana?"
"gue gak peduli" ucap raffael menggandeng tangan raya untuk segera masuk ke dalam kantor
"tapi raff...."
"biar gue yang urus"
raya melepaskan tangannya yang di genggam oleh raffael, raya tidak ingin orang-orang beranggapan kalau dia dan raffael mempunyai hubungan khusus
"kak raya aku rindu" teriak tari berlari memeluk raya yang baru masuk ke dalam ruangan
"cih lebay...." cibir salma yang kebetulan sedang berada di ruangan itu
"raya kenapa kemarin kamu tidak masuk? kerja lagi sibuk-sibuknya malah bolos, udah bosen kerja disini kamu hah?" tanya salma kepada raya dengan nada suara meninggi
"maaf kak salma kemarin saya sakit makanya tidak masuk kerja" jawab raya
"kalau sakit itu kasih kabar bukan seenaknya aja, ini perusahaan bukan punya nenek kamu" ketus salma
"maaf kak" ucap raya lirih
"jangan diem aja ayok kerja, selesaikan pekerjaan kamu yang kemarin belum sempat di kerjakan tari" titah salma berlagak seperti bos
"baik kak"
salma berjalan sengaja menubrukan pundaknya ke pundak raya, raya sedikit meringis karena memang pundak raya sedikit memar karena di dorong eza saat mereka bertengkar malam itu
tari yang menyadari raya menahan rasa sakitnya menatap raya dengan penuh selidik
__ADS_1
"kakak baik-baik aja?" tanya tari tanpa mengalihkan pandangannya
"aku baik-baik aja tar" jawab raya bohong
"jangan bohong kak jelas banget kakak kayak nahan sakit gitu" ucap tari meneliti setiap inci tubuh raya
"cuman perasaan kamu aja dek, ayok kerja" sahut raya
"kak tunggu" cegah tari
tiba-tiba tari mengusap pipi raya dengan tisu basah yang ada di atas meja kerjanya, mata tari melotot kala melihat memar di bagian bawah pipi raya sangat kentara, tari juga melihat sudut bibir raya yang masih terlihat luka
sejak tadi memang tari memperhatikan wajah raya, tari merasa aneh karena raya memakai fondation di saat bekerja biasanya raya tidak pernah menggunakan make up setebal itu hanya untuk pergi bekerja dan terbukti raya sengaja menutupi luka di wajahnya dengan foundation
"kakak gak mau cerita sama aku?" cecar tari
"setelah selesai bekerja aku janji akan cerita" ucap raya
tak banyak bicara lagi raya dan tari mulai bekerja dengan serius, banyak sekali pekerjaan raya yang terbengkalai karena sehari kemarin raya tidak bekerja
saking sibuknya bekerja tak terasa waktu sudah menunjukan jam makan siang, raya dan tari bergegas pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah sangat kelaparan
"kak katanya mau cerita" ucap tari
"baiklah"
raya menceritakan semua kejadian dimana raya dan eza bertengkar malam itu, tidak ada yang raya sembunyikan dari tari karena memang tari sudah mengetahui bagaimana hubungan pernikahan raya dan eza yang tidak terlalu harmonis
mata tari berkaca-kaca mendengar cerita raya, tari ikut merasakan bagaimana jika dirinya berada di posisi raya mungkin tari tidak akan sekuat hati raya dan berbesar memaafkan pria yang sudah jelas melukainya
"kakak yakin akan tetap mempertahankan pernikahan kakak dengan kak eza?" tanya tari
"aku butuh waktu untuk menata hati aku lagi tar, aku ingin membuat keputusan dengan pikiran tenang dan tidak membuat aku menyesal nantinya"
"aku mendukung apapun keputusan kakak asalkan kakak bahagia"
tari menggenggam erat tangan raya menyalurkan kekuatan untuk raya, usia tari memang lebih muda dari raya cara berpikir tari sudah sangat dewasa tidak menampakan jika dirinya seorang gadis remaja yang sedang duduk di bangku kuliah
tari memang bekerja sambil kuliah untuk meringankan beban kedua orang tuanya, tari mengambil kelas karyawan sehingga bisa kuliah di saat libur bekerja
"nanti pulang kerja aku jemput, kita harus membicarakan masalah kita ray"
raya membaca pesan yang di kirimkan oleh eza, bukan pesan seperti itu yang raya harapkan dari eza
raya ingin sedikit saja eza perhatian padanya tapi nyatanya eza menghubungi raya karena memang ingin membicarakan masalah rumah tangganya
__ADS_1
"bahkan bertanya keadaanku saja engga kamu za"