
Sheila masih menunggu di depan pintu kamar Mandala dari sore tadi hingga kini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Beberapa kali menggedor pintu kamar Mandala dan memanggil Mandala, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Pintu kamar pun tidak kunjung dibuka. Sudah beberapa kali mencari penjaga villa, tapi belum juga menemukannya.
Sedangkan di dalam kamar Mandala, apa yang sebenarnya terjadi? Mandala dan Kahyang tidak mempedulikan suara gedoran pintu dari Sheila. Setelah Mandala puas bercinta dengan Kahyang di kamar mandi dan di atas ranjang, Mandala dan Kahyang akhirnya tertidur karena kelelahan. Kamar Mandala yang kedap suara membuat Sheila tidak bisa mendengar suara sepasang suami-isteri yang bercinta di dalam kamar itu.
Hingga saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan terdengar gedoran pintu dan suara Sheila lagi, akhirnya Mandala terbangun. Mandala melepaskan dekapannya pada Kahyang, kemudian beranjak untuk duduk.
"Dasar wanita sialan! Betah sekali dia berdiri di depan pintu sana?"gerutu Mandala seraya mengambil handphonenya dari dalam saku celananya yang ada di atas ranjang.
"Pak, tolong antarkan makanan dan minuman ke kamar saya. Terserah bapak mau membelikan makanan apa. Saya dan istri saya tidak pemilih dalam hal makanan,"ujar Mandala menelpon penjaga villa.
"Baik, Tuan,"sahut penjaga villa.
Mandala meletakkan handphonenya di atas nakas. Pria itu menghela napas panjang saat melihat Kahyang yang nampak kelelahan.
"Maaf!"ucap Mandala mengecup lembut kening Kahyang, kemudian membelai rambut Kahyang.
"Man!"panggil Kahyang perlahan membuka matanya.
"Apa, hemm?"sahut Mandala.
"Aku lapar sekali, Man,"sahut Kahyang yang merasa sangat lapar setelah tadi cukup lama melayani Mandala. Belum lagi mereka memang belum makan malam.
"Tunggu sebentar lagi, ya! Aku sudah meminta penjaga villa untuk mengantarkan makanan,"ujar Mandala seraya mengelus kepala Kahyang.
"Hum, aku ingin ke kamar mandi dulu,"sahut Kahyang seraya beranjak dari tempat tidurnya.
"Apa perlu aku bantu?"tanya Mandala.
"Tidak perlu,"sahut Kahyang turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Tidak beberapa lama kemudian, Kahyang pun sudah keluar dari kamar mandi.
"Sayang, aku ke kamar mandi dulu, ya? Kalau ada penjaga villa datang untuk mengantarkan makanan, kamu ambil, ya!"pinta Mandala.
"Hum,"sahut Kahyang.
Penjaga villa nampak berjalan masuk ke dalam villa. Sheila yang melihatnya pun langsung menghampiri penjaga villa itu.
"Kamu kemana saja? Pinjamkan aku kunci kamar Mandala! Jika terjadi sesuatu pada Mandala, aku tidak akan memaafkan kamu,"bentak Sheila yang merasa geram pada penjaga villa itu.
Namun penjaga villa itu nampak tidak mempedulikan Sheila dan terus melangkah menuju kamar Mandala di ikuti Sheila.
"Hei! Aku bicara dengan kamu!'sergah Sheila merasa sangat kesal pada penjaga villa itu, seraya mengikuti langkah kaki penjaga villa itu.
__ADS_1
"Cepat buka pintunya!"bentak Sheila saat mereka sudah berada di depan pintu kamar Mandala.
"Tok! Tok! Tok!"
"Tuan, saya mengantar pesanan Tuan,"ucap penjaga villa itu setelah mengetuk pintu.
"Aku sudah beberapa kali menggedor pintu ini. Tapi Mandala tidak membukanya. Cepat buka dengan kunci yang ada sama kamu!"bentak Sheila pada penjaga villa itu, tapi lagi-lagi penjaga villa itu tidak mempedulikan Sheila, seolah Sheila tidak terlihat.
"Ceklek "
Suara pintu yang terbuka membuat Sheila langsung menoleh ke arah pintu.
"Ini, Nyonya, pesanannya,"ucap penjaga villa itu sopan, seraya menyerahkan kantong plastik yang dibawanya.
"Terimakasih, Pak!"ucap Kahyang dengan seulas senyum lembut di bibirnya.
Sedangkan Sheila nampak terpaku di tempatnya saat melihat Kahyang yang muncul dari balik pintu, apalagi melihat begitu banyak tanda merah di leher Kahyang. Hingga penjaga villa pergi dan Kahyang menutup pintu kamarnya setelah melirik Sheila sepintas, Sheila baru tersadar dari keterkejutan nya.
"Ja.. jadi.. dari sore tadi sampai malam begini, aku menunggu Mandala bercinta dengan istrinya? Di depan pintu kamarnya dan mengkhawatirkan dia?"gumam Sheila merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukannya dari sore tadi,"Dasar brengseek! Sialan!"umpat Sheila dengan hati yang sangat kesal karena merasa dikerjai habis-habisan oleh Mandala.
"Brakk"
Sheila yang merasa sangat kesal menendang pintu kamar Mandala. Tapi malah berakhir dengan kakinya yang kesakitan setelah menendang pintu.
Dengan perasaan kesal yang tidak terlukiskan, Sheila berjalan menuju kamarnya. Hatinya benar-benar dongkol. Bagaimana tidak, dirinya telah memberi obat pada Mandala agar bisa bercinta dengan dirinya. Tapi yang terjadi, Mandala malah bercinta dengan istrinya. Berjam-jam dirinya berdiri di depan pintu kamar Mandala karena mengkhawatirkan keadaan Mandala, nyatanya dirinya sedang menunggu Mandala yang sedang bercinta dengan istrinya. Rencananya benar-benar Gatot, alias gagal total.
Sheila keluar dari kamarnya karena merasa perutnya sangat lapar. Terakhir kali Sheila makan adalah tadi siang. Sheila berjalan menuju dapur dan mendapati Mandala yang sedang mengambil air minum.
"Man!"panggil Sheila menghampiri Mandala, namun Mandala hanya melirik sepintas.
"Man, aku lapar sekali,"ucap Sheila dengan suara manja.
"Lalu, apa urusannya dengan ku?"tanya Mandala datar.
"Man, tega sekali kamu berkata seperti itu,"ucap Sheila menunjukkan raut wajah sedih yang dibuat-buat.
"Dengar! Mulai saat ini, jauhi adikku! Jangan memanfaatkan adikku untuk mendekati aku lagi! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah kembali padamu!"ucap Mandala kemudian melangkah melewati Sheila.
"Tidak! Aku tidak terima! Kamu adalah milik ku! Kamu harus kembali padaku!"pekik Sheila langsung memeluk Mandala dari belakang.
"Lepaskan!"bentak Mandala dengan wajah geram, berusaha melepaskan tangan Sheila yang melingkar erat di pinggangnya.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan kamu! Kamu adalah milikku!"pekik Sheila tidak mau melepaskan pelukannya pada Mandala.
"Dasar perempuan gila!"umpat Mandala yang merasa sangat kesal.
"Akkh!"pekik Sheila saat tiba-tiba kepalanya disiram air oleh seseorang hingga tanpa sadar melepaskan pelukannya pada Mandala. Tubuh Sheila basah kuyup, sedangkan Mandala, punggungnya juga ikut basah.
"Sayang?"ucap Mandala saat membalikkan tubuhnya dan melihat Kahyang.
"Kau! Berani sekali kamu menyiram aku!"bentak Sheila pada Kahyang dengan tatapan penuh amarah.
"Kenapa tidak berani? Aku tidak suka milikku di sentuh orang lain. Apalagi ulat bulu macam kamu,"ucap Kahyang dengan tatapan tajam pada Sheila.
"Milikmu? Kamu merebut Mandala dari aku! Kamu dengan cara licik membuat Mandala menghamili mu, sehingga Mandala terpaksa menikahi kamu!"bentak Sheila.
"Aku bukan wanita murahan yang menjajakan tubuh ku seperti dirimu. Dan aku juga tidak suka merebut barang milik orang lain. Bukan seperti kamu, perempuan kegatelan, tidak tahu malu! Sudah jelas-jelas Mandala adalah suami ku, tapi kamu masih saja mengejar-ngejar dia.
"Kau.!"geram Sheila.
"Apa?! Benarkan apa yang aku katakan? Aku tidak pernah merayu lelaki, apalagi lelaki itu suami orang. Aku nggak minat jadi pelakor seperti kamu!"ucap Kahyang menunjuk ke arah Sheila.
"Kau.."
"Plak"
"Plak"
Sheila yang akan menampar Kahyang, tangannya langsung di tahan Mandala dan Mandala malah menampar Sheila.
"Man, kamu tega sekali padaku,"ucap Sheila dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh apalagi menyakiti istri ku,"ucap Mandala kemudian merangkul Kahyang meninggalkan tempat itu.
"Kamu bahkan menamparku demi wanita itu?"gumam Sheila seraya memegang pipinya yang baru saja ditampar Mandala.
...🌸❤️🌸...
.
.
To be continued
__ADS_1