Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
87. Ada Apa?


__ADS_3

Kahyang melangkah menuju parkiran, kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan kampusnya. Yudha berdiri diam menatap Kahyang dari kejauhan hingga mobil Kahyang menghilang dari pandangan nya.


Riska yang dari tadi memperhatikan Yudha nampak menghela napas melihat Yudha. Kemudian gadis itupun menghampiri Yudha.


"Yud!"panggil Riska.


"Eh, kamu, Ris,"sahut Yudha yang nampak terkejut dengan kehadiran Riska.


"Kamu masih belum bisa melupakan Kahyang?"tanya Riska menatap Yudha yang terlihat agak kurus.


"Melupakan seseorang itu tidak semudah seperti saat kamu jatuh hati, Ris. Apalagi jika kamu sangat mencintainya,"sahut Yudha tersenyum getir.


"Tapi Kahyang dan suaminya sudah bahagia, Yud. Ikhlaskan lah Kahyang! Bukalah lembaran baru!"ujar Riska menasehati.


"Siapa bilang mereka sudah bahagia? Kamu pikir kenapa sampai saat ini mereka tidak mengadakan resepsi pernikahan mereka? Orang tua Kahyang tidak merestui hubungan Kahyang dengan pria brengseek itu. Setelah tahu jika pria brengseek itulah yang menghamili Kahyang,"ujar Yudha tersenyum sinis.


"Dari mana kamu tahu tentang hal itu?"tanya Riska menatap Yudha curiga.


"Kamu tidak perlu tahu,"sahut Yudha datar, kemudian meninggalkan Riska yang nampak bingung.


"Kenapa Yudha jadi berubah seperti itu? Aku merasa dia seperti orang asing. Dia tidak seperti Yudha yang aku kenal selama ini,"gumam Riska menatap punggung Yudha yang semakin menjauh.


Di kantor nya, Mandala nampak duduk di kursi kerjanya, memeriksa dan menandatangani beberapa dokumen hingga perhatian nya pun teralih saat handphonenya berdering. Mandala menatap layar handphonenya yang menampilkan panggilan dari Andini.


"Halo! Ada apa, An?"tanya Mandala sambil memeriksa dokumen.


"Kak, bisa luangkan waktu buat bicara dengan aku, nggak?"tanya Andini. penuh harap.


"Bicaralah!"ucap Mandala lembut.


"Aku ingin bertemu dan berbicara dengan kakak secara langsung,"sahut Andini sesuai rencana yang telah disusun oleh Sheila.


"Kalau begitu, datanglah ke kantor!"sahut Mandala.


"Aku ingin kita bertemu di tempat lain, kak. Aku tidak ingin kita bertemu di kantor kakak,"pinta Andini dengan nada merengek manja.


"Kakak sangat sibuk, An. Tidak punya banyak waktu. Bahkan akhir-akhir ini kakak selalu pulang malam. Perusahaan kita sedang dalam masalah. Dan kakak masih berusaha untuk menyelesaikannya. Jadi, jika kamu ingin bertemu dan bicara dengan kakak, kamu datang saja ke kantor,"sahut Mandala.


"Kalau begitu, aku tunggu sampai kakak punya waktu untuk aku,"sahut Andini terdengar kecewa.


"Jika kamu ada masalah, kamu bisa bercerita pada mama atau pada kakak iparmu. Kakak benar-benar sibuk,"ujar Mandala lagi.


"Aku tidak dekat dengan kakak ipar,"sahut Andini menghela napas.

__ADS_1


"Makanya sering main ke rumah saat kakak ipar kamu tidak kuliah, biar lebih saling mengenal dan akrab,"sahut Mandala menasehati.


"Tok! Tok! Tok!"


Terdengar suara pintu ruangan Mandala yang di ketuk dari luar.


"Masuk!"sahut Mandala.


"Tuan, saya ingin membicarakan tentang masalah kemarin,"ucap sekretaris Mandala yang melihat Mandala sedang menelpon.


"Sebentar!"ucap Mandala pada sekretarisnya,"An, sudah dulu, ya? Kakak ada masalah yang harus dibicarakan,"ujar Mandala kemungkinan menutup teleponnya.


Andini nampak kecewa, sedangkan Sheila yang ternyata bersama Andini nampak sudah bisa menebak apa hasil dari usaha kali ini setelah melihat wajah Andini.


"Gimana? Bisa nggak?"tanya Sheila memastikan. Sudah beberapa hari ini Sheila mendesak Andini untuk mengajak Mandala bertemu.


"Sepertinya kakakku sangat sibuk, kak. Kayaknya kak Sheila belum bisa bertemu dengan kakakku dalam waktu dekat ini,"sahut Andini lesu.


"Ya, sudah. Tapi kamu coba terus, ya? Siapa tahu ada waktu luang kakak kamu,"ujar Sheila yang sebenarnya merasa kecewa. Tapi Sheila benar-benar tidak bisa bertemu dengan Mandala jika tidak memanfaatkan Andini.


Sedangkan di kantor Mandala.


"Masalah yang mana?"tanya Mandala pada sekretarisnya.


"Apa kamu sudah mengetahui siapa orangnya?"tanya Mandala nampak penasaran. Siapa orang tidak waras yang rela rugi begitu banyak hanya untuk menjatuhkan perusahaannya? Mandala benar-benar ingin tahu siapa orang itu dan apa motif nya melakukan hal segila itu.


"Orang di balik masalah ini adalah Tuan Anggoro. Pengusaha perhotelan yang sangat terkenal itu,"jawab sekretaris Mandala membuat Mandala sangat terkejut.


Ternyata ayah mertuanya itu sangat membenci dirinya hingga rela menghabiskan banyak uang untuk menjatuhkan dirinya. Mandala benar-benar tidak menyangka jika yang melakukan semua itu adalah ayah mertuanya.


"Maaf! Apa Tuan pernah menyinggung pengusaha terkenal itu? Kenapa tiba-tiba dia memusuhi kita?"tanya sekretaris Mandala yang merasa sangat penasaran. Kenapa Anggoro, pengusaha perhotelan itu seperti menaruh dendam pada perusahaan tempatnya bekerja? Hal itu sangat aneh menurut sekretaris Mandala. Karena mereka bergerak di bidang yang berbeda.


Mandala menghela napas dalam kemudian membuangnya dengan kasar.


"Dia tidak suka aku menikahi putrinya,"sahut Mandala membuat sekretarisnya terkejut.


"Tuan Anggoro adalah mertua anda?"tanya sekretaris Mandala.


"Iya,"sahut Mandala singkat.


"Apa Tuan dan Nyonya kawin lari?tanya sekretaris Mandala hati-hati.


"Tentu saja tidak. Kami dijodohkan oleh paman istriku. Ayah mertuaku bersedia menikahkan kami karena paman istriku. Mungkin jika papa Prasetyo tahu tentang hal ini, beliau akan marah pada papa Anggoro. Tapi aku tidak mau mengadu pada papa Prasetyo. Jatuh harga diri ku jika mengadu pada papa Prasetyo. Papa Anggoro akan semakin membenci dan memandang rendah aku, jika aku mengadu pada papa Prasetyo. Aku tidak mau harga diri ku jatuh di mata siapapun, apalagi di mata mertuaku. Aku sangat mencintai putrinya,"ujar Mandala menatap foto dirinya bersama anak dan istrinya yang ada di atas meja kerjanya.

__ADS_1


"Lalu kita harus bagaimana sekarang, Tuan?"tanya sekretaris Mandala.


"Aku akan memikirkan caranya,"sahut Mandala.


"Baiklah, kalau begitu, saya permisi dulu,"pamit sekretaris Mandala, kemudian keluar dari ruangan Mandala.


Mandala kemudian menghubungi mamanya saat teringat dengan Andini.


"Ada apa, Man?"tanya Prameswari saat menerima telepon dari Mandala.


"Andini tadi menelpon aku, ma. Katanya ingin bertemu dan bicara dengan aku secara langsung. Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk bertemu dan bicara dengan dia, ma. Coba mama cari tahu, apa dia punya masalah? Aku takut terjadi apa-apa pada Andini. Soalnya saat aku suruh datang ke kantor dia tidak mau,"ujar Mandala yang sebenarnya memang mengkhawatirkan Andini.


"Baiklah. Nanti akan mama tanyakan,"sahut Prameswari dan Mandala pun mengakhiri sambungan telepon.


"Ada apa dengan anak itu?"gumam Prameswari.


Kebetulan Prameswari melihat Andini yang baru saja pulang. Prameswari pun segera memanggil Andini.


"An, kemari!"panggil Prameswari.


"Ada apa, ma?"tanya Andini.


"Apa kamu ada masalah? Kalau ada masalah, cerita sama mama!"ujar Prameswari setelah Andini duduk di sebelahnya.


"Nggak ada, kok, ma,"jawab Andini,"Kenapa mama bertanya seperti itu?"tanya Andini.


"Kakakmu tadi menelpon mama. Katanya kamu ingin bertemu dan bicara langsung dengan kakakmu. Kamu membuat kakakmu khawatir. Ada apa? Apa ada masalah?"tanya Prameswari penasaran.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kakak. Kalau aku cerita sama mama, mama tidak akan mengerti,"sahut Andini beralasan.


"Beneran nggak ada yang serius?"tanya Prameswari nampak masih penasaran.


"Ini masalah anak muda, mama tidak akan mengerti jika aku membicarakannya dengan mama. Aku mau ke kamar dulu, ma,"ujar Andini menghindari mamanya.


Prameswari hanya bisa menghela napas panjang mendengar kata-kata Andini. Menatap putri satu-satunya itu yang hanya pulang jika liburan saja. Tapi sekarang tiba-tiba memutuskan pindah kuliah. Entah mengapa, dulu Andini ngotot ingin kuliah di luar negeri. Tapi sekarang malah ingin pindah ke dalam negeri.


...🌸❤️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2