Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
63. Tidak Mengenali


__ADS_3

Mandala dan Kahyang baru saja selesai sarapan saat handphone Mandala berdering. Mandala segera menerima panggilan itu setelah tahu siapa yang sedang menghubunginya.


"Halo, Om!"sapa Mandala setelah mengangkat telepon itu.


"Kenapa masih memanggil aku dengan panggilan Om? Panggil aku papa, seperti Kahyang memanggil aku,"protes penelpon yang ternyata adalah Prasetyo.


"Ah, iya. Maaf, aku belum terbiasa,"sahut Mandala seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kamu harus membiasakan nya, Man. Oh, iya, papa mau tanya. Kalian ada di mana sekarang?"tanya Prasetyo.


"Kami di apartemen ku, pa,"jawab Mandala jujur.


"D apartemen kamu? Kenapa kalian tidak tinggal di rumah yang papa berikan pada kalian? Apa kalian tidak suka? Jika kalian tidak suka dengan rumah yang papa berikan pada kalian, kalian bisa memilih rumah yang kalian suka. Atau mungkin kalian bisa merenovasi rumah yang papa berikan sesuai selera kalian. Papa ingin kalian tinggal di tempat yang nyaman dan sesuai selera kalian. Katakan saja apa yang kalian inginkan, papa pasti akan memberikan nya!"ujar Prasetyo terdengar serius.


"Bukan begitu, pa. Kami menyukai rumah yang papa berikan untuk kami. Hanya saja, jarak apartemen yang kami tinggali saat ini lebih dekat dengan universitas Kahyang. Jadi kami ingin tinggal di apartemen ini sampai Kahyang lulus kuliah,"jelas Mandala.


Sebenarnya bukan cuma itu alasan Mandala memilih tinggal di apartemen nya yang sudah hampir satu tahun ini ditinggalinya bersama Kahyang. Alasan lainnya adalah, Mandala merasa belum siap menjelaskan tentang hubungan nya dengan Kahyang selama ini. Entah bagaimana reaksi keluarga Kahyang jika mereka mengetahui bahwa Mandala adalah orang yang telah memperkosa putri mereka sekitar satu tahun yang lalu.


"Oh.. begitu, ya? Ya sudah, tidak apa-apa. Jika kalian memang memutuskan seperti itu. Papa bisa mengerti. Tapi jika kalian tidak suka dengan rumah yang papa berikan, katakan saja, jangan sungkan! Kalau begitu, papa tutup telepon nya, ya? Papa tidak ingin mengganggu pengantin baru,"ujar Prasetyo terkekeh, kemudian menutup teleponnya. Sedangkan Mandala hanya bisa menghela napas panjang.


"Papa Pras yang menelpon?"tanya Kahyang menatap Mandala.


"Hum. Yang! Apa papa Anggoro dan papa Prasetyo akan marah padaku jika aku mengatakan.. "Mandala menjeda kata-katanya untuk menghela napas,"Bahwa akulah yang telah menghamili kamu?"tanya Mandala dengan wajah gusar.


Ada rasa takut dalam hati Mandala jika sampai keluarga Kahyang marah besar padanya karena kejadian yang terjadi hampir setahun yang lalu itu. Mandala takut, jika keluarga Kahyang memaksanya berpisah dari Kahyang.


"Lalu, apakah kita akan menyembunyikan Rayno selamanya dari mereka?"bukannya menjawab pertanyaan Mandala, Kahyang malah balik bertanya pada Mandala.

__ADS_1


Mandala menggenggam tangan Kahyang dan menatap lekat wajah wanita yang dicintainya itu,"Yang, kamu tahu, 'kan? Aku sangat mencintai mu dan juga Rayno. Bagiku kalian berdua lebih berharga dari apapun. Kita baru saja menjadi pasangan suami-isteri yang seutuhnya, bukan sekedar status. Dan ini membuatku merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini. Aku tidak sanggup jika harus berpisah darimu, Yang,"ujar Mandala panjang lebar. Menatap lekat manik mata wanita yang dicintainya, wanita yang saat ini sudah seutuhnya menjadi miliknya.


Kahyang tertunduk, menghela napas dalam. Jujur, Kahyang juga merasa takut jika keluarganya marah saat mengetahui jika Mandala lah yang telah menghamilinya waktu itu. Apalagi mengingat sifat papanya yang keras. Waktu Kahyang mengandung Rayno, Anggoro memaksanya menggugurkan kandungannya. Padahal bayi dalam kandungan Kahyang adalah cucu kandung Anggoro sendiri. Lalu bagaimana reaksi Anggoro jika tahu, Mandala lah yang telah menghamilinya? Kahyang juga takut papanya marah besar dan memisahkan mereka.


"Bagaimana jika kita membicarakan hal ini dengan orang tuaku terlebih dahulu? Sepertinya mereka tidak mengenali kamu lagi. Mereka tidak tahu jika kamu adalah Kahyang yang aku nikahi sembilan bulan yang lalu,"ujar Mandala setelah mereka terdiam beberapa saat.


Saat hari pernikahannya kemarin, Mandala dapat melihat jika kedua orang tuanya tidak mengenali Kahyang lagi. Karena jika mereka mengenali Kahyang, mereka pasti akan merasa canggung atau salah tingkah saat bertemu dengan Kahyang. Tapi kemarin reaksi apapun dari kedua orang tuanya. Hanya bahagia yang terlihat di wajah mereka.


"Baiklah,"sahut Kahyang yang akhirnya menyetujui usul Mandala. Kahyang juga tidak punya jalan lain untuk mengatasi masalah mereka ini.


Malam harinya, Mandala membawa pulang Kahyang dan Rayno ke rumah orang tuanya. Setelah mobil mereka berhenti di depan rumah, Mandala membukakan pintu mobil untuk Kahyang yang sedang memangku Rayno.


"Biar aku yang menggendong Rayno,"ujar Mandala mengambil Rayno dari pangkuan Kahyang.


"Man!"panggil Kahyang. Wanita itu nampak ragu-ragu keluar dari mobil.


"Kakak!"panggil Andini tersenyum lebar saat melihat Mandala memasuki rumah. Namun fokusnya teralihkan saat melihat Mandala yang sedang menggendong bayi,"Kak, anak siapa itu?"tanya Andini menghampiri Mandala,"Aih..anak ini lucu sekali! Tampan banget!"ujar Andini seraya mencolek pipi Rayno yang masih terjaga.


"Man!"panggil Prameswari nampak terkejut melihat Mandala menggendong bayi, datang bersama Kahyang. Nampak raut bingung di wajah wanita paruh baya itu.


"Ma, lihat ini! Kakak membawa bayi yang tampan dan lucu. Gemesin banget, ma,"ujar Andini yang nampak heboh karena merasa senang.


"Ada apa ini?"tanya Agung yang tiba-tiba muncul. Wajah Agung berubah suram saat melihat Mandala menggendong seorang bayi,"Papa ingin bicara dengan mu,"ucap Agung dengan suara berat.


"Kami juga ingin bicara dengan mama dan papa,"sahut Mandala membuat mereka semua terdiam untuk sesaat. Andini nampak bingung dengan suasana yang berubah menjadi mencekam.


"Din, kamu bantu bibi siapkan makan malam dulu, ya! Mama dan papa ingin bicara dengan kakak dan kakak iparmu,"ujar Prameswari memecahkan suasana yang tiba-tiba terasa mencekam.

__ADS_1


"Iya, ma,"sahut Andini melakukan apa yang diperintahkan oleh mamanya. Walaupun dalam kepalanya banyak pertanyaan. Siapa bayi yang di gendong kakaknya? Mengapa ekspresi wajah kedua orang tuanya berubah saat melihat kehadiran kakaknya bersama kakak iparnya? Mengapa mereka tidak ingin dirinya mendengar pembicaraan mereka? Semua pertanyaan itu begitu mengusik hati Andini. Namun Andini harus bersabar untuk menanyakan semua itu pada mamanya nanti saat suasana sudah kondusif untuk bertanya.


"Apa yang ingin kalian bicarakan?"tanya Agung dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"Apa papa dan mama masih mengenalinya?"tanya Mandala menoleh menatap Kahyang yang duduk di sampingnya, kemudian merangkul Kahyang.


"Tentu saja. Dia adalah istri mu yang kamu nikahi dua hari yang lalu. Papa tidak pikun hingga lupa dengan menantu papa sendiri,"sahut Agung tersenyum tipis pada Kahyang.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"tanya Prameswari nampak tidak mengerti dengan arah pembicaraan putranya.


"Papa dan mama benar-benar melupakan Kahyang?"tanya Mandala, menatap kedua orang tuanya bergantian.


Agung dan Prameswari nampak tertegun mendengar pertanyaan Mandala. Saat Prasetyo menyebutkan nama putrinya kemarin, Agung dan Prameswari memang jadi teringat menantu mereka yang tidak mereka akui, bahkan tidak pernah mereka temui. Namun bukankah banyak nama yang sama namun orangnya berbeda di dalam dunia ini? Itulah yang dipikirkan oleh Agung dan Prameswari pada saat pernikahan Mandala waktu itu.


Mandala menghela napas berat melihat kedua orang tuanya yang masih tertegun,"Biar aku ingatkan. Ini adalah Kahyang. Puspa Kahyang. Wanita yang aku nikahi secara hukum sembilan bulan yang lalu. Wanita yang tidak papa terima sebagai menantu papa di rumah ini. Wanita yang telah mengandung dan melahirkan anakku. Wanita yang dua hari lalu kembali aku nikahi, karena perjodohan papa dan Om Pras"ujar Mandala membuat Agung dan Prameswari membulatkan matanya.


...🌟"Tidak selamanya jujur itu baik, dan tidak selamanya pula berbohong itu buruk. Maka dari itu, kita harus tahu, kapan harus berkata jujur, dan kapan harus berbohong."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2