
Kahyang menatap Bik Mar yang nampak tegang, kemudian menghampiri wanita paruh baya yang sudah dianggapnya seperti keluarganya sendiri itu.
"Ibu kost, saya minta maaf karena tidak bisa lanjut menemani ibu dan cucu ibu yang lucu berbelanja. Papa saya sudah menjemput saya. Maafkan saya jika selama ini saya ada salah sama ibu. Dan tolong sampaikan pada teman yang satu kamar dengan saya, saya minta maaf karena tidak sempat pamit padanya,"ucap Kahyang tersenyum tipis pada Bik Mar.
Iya,"sahut Bik Mar singkat.
Walaupun tidak mengerti dengan situasi apa yang sebenarnya terjadi pada majikannya, tapi Bik Mar mencoba mengikuti sandiwara yang dimainkan Kahyang.
Kahyang memeluk Bik Mar sebentar kemudian mencium putranya. Setelah itu, Kahyang pun segera berlalu meninggalkan Bik Mar bersama orang-orang suruhan papanya.Kahyang tidak tahu, apakah setelah ini dirinya bisa bertemu lagi dengan putranya atau tidak.
Untung saja Bik Mar segera mengerti apa maksud majikannya itu. Sepertinya majikannya itu tidak ingin orang-orang yang menjemputnya itu mengetahui tentang putranya. Karena itulah Kahyang berbicara seolah-olah Bik Mar adalah ibu kostnya dan Rayno adalah cucu Bik Mar.
Orang-orang yang menjemput Kahyang pun nampak tidak curiga pada Bik Mar karena saat ini Bik Mar memakai pakaian bagus yang dibelikan Kahyang. Wajah Bik Mar pun sedikit dirias oleh Kahyang. Sehingga saat Kahyang menyebut Bik Mar sebagai ibu kost, orang-orang suruhan papanya pun percaya.
Sebenarnya Bik Mar menyusul Kahyang karena Kahyang lupa membawa tasnya yang dititipkan pada Bik Mar. Namun malah dikejutkan oleh beberapa orang yang menghadang Kahyang.
Bik Mar menatap punggung Kahyang yang semakin menjauh dengan perasaan khawatir. Setelah Kahyang agak jauh, Bik Mar pun segera mengambil handphone nya.
Mandala yang saat ini ada di kantor nampak terkejut saat handphonenya berdering menandakan ada panggilan masuk dan Bik Mar lah pemanggilnya. Mandala pun segera menerima panggilan itu.
"Halo, Bik! Ada apa?"tanya Mandala yang tiba-tiba punya firasat tidak enak. Apalagi tadi pagi Kahyang mengatakan akan pergi ke mall bersama Rayno dan Bik Mar.
"Tuan, Nyonya dibawa pergi orang-orang suruhan papanya Nyonya. Sekarang saya dan Tuan Muda masih di mall. Saya baru kali ini ke mall ini, Tuan. Saya takut kesasar,"ucap Bik Mar terdengar khawatir. Mendengar laporan Bik Mar, Mandala pun panik. Karena ada Rayno bersama Bik Mar.
"Bibi sekarang ada di mall mana?"tanya Mandala seraya bergegas keluar dari kantornya.
__ADS_1
"Di mall xx, Tuan. Kalau tidak salah saat ini saya ada di toilet lantai tiga,"sahut Bik Mar.
"Tunggu di sana! Saya akan menjemput bibi dan Rayno,"ucap Mandala lalu mengakhiri panggilan.
Mandala mengendarai mobilnya dengan perasaan khawatir. Setelah tiba di mall, pria itu langsung membawa Bik Mar dan putranya pulang. Dalam perjalanan, Bik Mar menceritakan apa yang terjadi. Mandala tidak menyangka jika orang tua Kahyang akan mencari Kahyang dan memaksanya pulang.
"Apakah istri saya tadi membawa handphonenya, bik?"tanya Mandala setelah Bik Mar selesai bercerita.
"Saya tidak tahu, Tuan,"sahut Bik Mar.
"Coba bibi periksa di tas istri saya!"pinta Mandala.
"Handphone Nyonya ada di dalam tas, Tuan,"sahut Bik Mar setelah memeriksa tas Kahyang.
Mendengar kata-kata Bik Mar, Mandala hanya bisa memijit pelipisnya. Kahyang dibawa pulang oleh orang tuanya, dan dirinya sebentar lagi akan menikah. Papanya pasti tidak akan mengijinkan Mandala untuk membawa pulang putranya.Lalu bagaimana dengan nasib putranya nanti? Itulah yang ada di pikiran Mandala saat ini. Beberapa menit setelah menempuh perjalanan, akhirnya mereka pun tiba di apartemen. Setelah Bik Mar membaringkan Rayno di box bayi, Mandala pun mengajak Bik Mar duduk di ruang tamu.
"Maksud, Tuan?"tanya Bik Mar agar Mandala bisa menjelaskan lebih detail.
"Begini, sebenarnya pernikahan saya dan istri saya tidak direstui oleh kedua orang tua kami. Sekarang istri saya sudah di jemput paksa, dan saya sendiri sebentar lagi juga akan dinikahkan dengan gadis palihan orang tua saya. Jadi, saya dan istri saya tidak bisa mengasuh putra kami. Jika saya sudah menikah lagi, maukah bibi tinggal di apartemen ini dan mengasuh putra saya? Saya akan usahakan untuk sering ke sini,"ujar Mandala penuh harap.
Dari wajah Mandala, Bik Mar bisa melihat jika pria muda di depannya ini saat ini tidak sedang baik-baik saja. Pria ini terlihat sangat tertekan.
"Baiklah, saya bersedia Tuan,"sahut Bik Mar tanpa keraguan.
"Terimakasih, Bik!"ucap Mandala merasa lega,"Sementara ini bibi bisa pulang ke rumah bibi setelah saya pulang kerja. Bibi akan tinggal di sini sepenuhnya saat saya sudah menikah nanti,"ujar Mandala yang terlihat sedih.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Saya akan menjaga Tuan Muda sebaik mungkin,"ucap Bik Mar nampak prihatin dengan keadaan majikannya,"Oh ya, Tuan, tadi Nyonya titip pesan untuk Tuan, Nyonya minta maaf pada Tuan karena tidak sempat pamit pada Tuan,"ucap Bik Mar yang mengerti pesan tersirat dari kata-kata Kahyang. Teman satu kamar Kahyang adalah Mandala, berarti Kahyang ingin Bik Mar menyampaikan permintaan maafnya pada Mandala.
'Apa hanya itu yang dikatakan istri saya?"tanya Mandala menghela napas berat.
"Iya, Tuan,"sahut Bik Mar.
"Baiklah.Sekarang bibi boleh pulang, dan besok datang seperti biasanya, ya!"pinta Mandala.
"Iya, Tuan. Kalau begitu saya pamit. Jika ada apa-apa dengan Tuan muda, Tuan boleh menghubungi saya kapanpun. Walaupun itu tengah malam pun, saya pasti akan datang,"ucap Bik Mar serius.
'Terikasih, Bik!"ucap Mandala tulus.
Semenjak Mandala memperkerjakan Bik Mar seharian untuk membantu Kahyang membersihkan apartemen dan membantu mengasuh Rayno, Mandala memberikan gaji yang lumayan besar untuk Bik Mar. Mandala dan Kahyang pun tidak pernah pelit. Bahkan selama Bik Mar bekerja pada Mandala, sepasang suami-isteri itu sering memberikan makanan untuk dibawa pulang oleh Bik Mar dan juga sering membelikan baju untuk Bik Mar. Bahkan Mandala pernah membantu biaya pengobatan cucu Bik Mar saat cucu Bik Mar dirawat di rumah sakit karena terkena demam berdarah. Jika Mandala waktu itu tidak membantu biaya pengobatan cucunya dan mencarikan rumah sakit yang bagus, mungkin sekarang cucunya sudah meninggal. Mengingat keuangan mereka yang hanya pas-pasan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Bik Mar tidak menyangka, jika kisah rumah tangga majikannya begitu rumit. Majikan perempuan yang dibawa paksa pulang oleh orang tuanya, dan majikan laki-laki yang dipaksa menikah dengan gadis pilihan orang tuanya. Sepasang suami-istri yang saling mencintai dan sangat baik padanya harus berpisah karena terhalang restu orang tua.
Setelah Bik Mar pulang, Mandala pun beranjak untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian pria dengan bentuk tubuh proporsional itu pun keluar dari kamar mandi dan mengenakan celana pendek serta kaos oblong. Pria itu berjalan mendekati box bayi dan mengelus rambut putranya yang masih terlelap itu dengan penuh kasih sayang.
"Maaf! Semua ini salah papa, hingga kamu dan mamamu harus menderita dan keluarga kita terpisah,"gumam Mandala yang merasa sangat bersalah, menatap sendu putranya yang masih terlelap.
Jika saja waktu itu dirinya bisa menahan diri untuk tidak menyentuh Kahyang, semua ini tidak akan terjadi.Dan yang menjadi korban disini adalah istri dan anaknya. Terutama anaknya. Namun entah mengapa, malam itu Mandala benar-benar tidak bisa menahan diri saat melihat tubuh Kahyang. Bahkan sampai saat ini pun Mandala mati-matian menahan diri untuk tidak menyentuh Kahyang. Mandala tidak pernah merasakan perasaan seperti itu jika melihat wanita lain, walaupun para wanita itu memakai pakaian seksi sekalipun. Namun saat melihat tubuh Kahyang, Mandala kesulitan menahan diri. Entah apa yang membuat Kahyang begitu menarik di matanya.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
.
To be continued