
"Jangan di sini, Yang! Kita bicara di kafe depan, yuk! Please, sebentar saja!"pinta Yudha penuh harap.
"Oke. Tapi jangan terlalu lama, ya! Aku belum pernah meninggalkan anakku terlalu lama,"sahut Kahyang setelah berpikir beberapa saat. Bagaimana pun, Kahyang memang harus bicara dengan Yudha agar pemuda yang nampak masih berharap hubungan mereka bisa kembali itu bisa segera move on.
Tak lama kemudian mereka sudah duduk di sebuah kafe yang ada di depan kampus. Mereka duduk di pojok kafe yang tidak terlalu banyak yang duduk di sana. Karena lebih banyak yang memilih untuk duduk di dekat dinding kaca depan, agar bisa melihat keadaan di luar kafe.
"Katakanlah,"ucap Kahyang saat mereka baru saja duduk.
"Kita pesan sesuatu dulu untuk teman ngobrol,"ujar Yudha sambil meraih buku menu di atas meja.
"Aku tidak punya banyak waktu, Yud! Aku harus segera pulang!"tekan Kahyang yang memang mengkhawatirkan putranya. Karena baru kali ini Kahyang meninggalkan putranya dalam waktu yang lama.
"Baiklah, aku akan pesan minuman saja. Nggak enak, 'kan , kalau cuma duduk doang nggak pesan apa-apa?"ujar Yudha membuat Kahyang menghela napas. Seorang pelayan kafe menghampiri mereka dan menanyakan pesanan mereka.
"Kamu mau pesan apa, Yang?"tanya Yudha.
"Kamu saja, aku nggak usah,"sahut Kahyang yang terlihat tidak tenang karena ingin segera pulang.
"Kalau begitu, lemon tea aja dua,"ucap Yudha pada pelayan kafe.
"Katakanlah!"pinta Kahyang setelah pelayan tadi pergi, nampak sudah tidak sabar menunggu Yudha bicara.
"Maaf sebelumnya. Waktu acara ulangtahun kafeku, aku tidak sengaja mendengar pertengkaran kamu dengan suamimu di depan toilet kafeku. Dari situ, aku tahu kalau kamu dan suamimu menikah hanya sebatas status. Hanya demi anak dalam kandungan kamu.Aku juga mendengar bahwa kalian akan bercerai setelah kamu melahirkan. Apa itu benar?"tanya Yudha berhati-hati, takut Kahyang tersinggung.
Kahyang sempat terkejut mendengar kata-kata Yudha, namun langsung disembunyikan nya. Kahyang tidak menyangka jika pertengkaran nya dengan Mandala waktu itu di dengar Yudha. Kahyang menatap Yudha, pria yang dulu pernah dicintainya. Tapi entah mengapa sekarang tidak ada sedikitpun rasa pada Yudha, selain rasa canggung saat berjumpa.
"Maaf, itu adalah urusan pribadi aku dengan suamiku. Aku tidak ingin mengklarifikasi apapun kepada orang lain tentang rumah tangga ku,"jawab Kahyang yang entah mengapa merasa tidak suka orang lain mengetahui kesepakatan nya dengan Mandala, sekalipun orang itu adalah Yudha.
__ADS_1
"Permisi!"ucap pelayan kafe itu meletakkan minuman pesanan Yudha,"Silahkan diminum!"ucap pelayan kafe itu sopan.
"Terimakasih!"ucap Yudha dan Kahyang bersamaan, dan pelayan itu pun segera pergi.
"Yang, aku masih mencintai kamu seperti dulu. Jika memang benar kamu akan bercerai dengan suamimu, aku bersedia menikahi mu, Yang! Aku bersedia menjadi ayah dari anakmu. Aku tidak bisa melupakan kamu, Yang. Aku masih tetap mencintai mu,"ucap Yudha meraih tangan Kahyang lalu menggenggamnya.
Kahyang menarik tangan perlahan, membuat Yudha merasa kecewa. Wanita itu kemudian menghela napas panjang,"Maaf, Yud! Aku tidak ingin berpisah dari suamiku. Aku mencintai dia,"ucap Kahyang jujur adanya,"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku pergi,"ucap Kahyang kemudian beranjak dari duduknya tanpa menunggu jawaban dari Yudha dan bergegas keluar dari kafe itu tanpa menyentuh minuman yang telah dipesankan Yudha.
Meskipun Kahyang tahu jika kata-katanya ini akan sangat menyakiti hati Yudha, tapi Kahyang harus tetap mengatakannya. Kahyang tidak mau Yudha terus berharap pada dirinya. Sedangkan dirinya sekarang tidak lagi mencintai Yudha, melainkan mencintai Mandala. Walaupun hari di mana dirinya dan Mandala berpisah akan segera tiba, tapi Kahyang tidak bisa mengeluarkan Mandala dari hatinya. Karena itu, Kahyang tidak bisa menerima perasaan Yudha lagi, apalagi menerima Yudha sebagai suaminya untuk menggantikan Mandala. Kahyang tidak ingin menjadikan Yudha sebagai tempat pelarian nya.
Yudha tertegun untuk beberapa saat. Rasanya Yudha tidak percaya jika Kahyang saat ini mencintai suaminya dan tidak mencintai nya lagi. Secepat itukah Kahyang melupakan dirinya yang sudah beberapa tahun menjadi pacarnya? Dan mencintai orang lain yang baru beberapa bulan dikenalnya? Yudha beranjak dari duduknya, kemudian meletakkan uang berwarna biru di atas meja dan bergegas menyusul Kahyang.
"Yang! Tunggu!"panggil Yudha berlari mengejar Kahyang dan langsung memegang tangan Kahyang,"Apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi?"tanya Yudha dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Maaf! Hatiku sudah tidak lagi mencintai mu. Aku mencintai.suamiku. Maaf! Carilah wanita lain yang lebih pantas untuk mu dan mencintai mu. Aku sudah tidak bisa lagi mencintai mu. Maaf!"ucap Kahyang melepaskan tangan nya dari genggaman Yudha dan melangkah pergi meninggalkan Yudha.
"Aku masih mencintai mu? Kamu bisa kembali padaku, kapanpun kamu mau!"teriak Yudha masih belum menyerah.
Kahyang tidak menoleh ataupun menjawab pertanyaan Yudha. Wanita muda itu hanya menunduk kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan Yudha. Sedangkan Yudha terdiam di tempatnya menatap kepergian Kahyang dengan perasaan hancur. Ternyata orang yang dicintainya tidak lagi mencintai nya.
Tiinn! Tiinn!
Suara klakson mobil itu membuat Kahyang mengangkat wajahnya. Wanita itu melihat mobil Mandala yang terparkir di tepi jalan. Kahyang pun berlari kecil menghampiri mobil Mandala dan bergegas masuk.
"Mobil itu lagi? Apa itu mobil suami Kahyang? Benarkah Kahyang sudah tidak lagi mencintai aku dan sekarang mencintai suaminya?"gumam Yudha yang melihat Kahyang masuk ke dalam mobil yang diketahuinya sering mengantar dan menjemput Kahyang.
Kahyang segera memakai sabuk pengaman dan Mandala pun segera melajukan mobilnya. Mandala hanya diam dan fokus melihat jalan raya tanpa bicara sepatah katapun pada Kahyang.
__ADS_1
"Man, tadi itu.. aku dan Yudha .. "ucap Kahyang gugup, merasa bersalah dan bingung harus berkata apa. Kahyang merasa seperti sedang berselingkuh saat menemui pria lain tanpa sepengetahuan Mandala.
"Tidak apa-apa,"sahut Mandala menoleh sekilas ke arah Kahyang seraya tersenyum tipis.
Tapi apakah benar tidak apa-apa? Sesungguhnya tidak. Saat Mandala ingin menjemput Kahyang, Mandala lebih dulu melihat posisi Kahyang dari GPS yang terpasang di cincin Kahyang. Mandala dapat memastikan jika Kahyang sedang berada di dalam kafe depan kampus tempat Kahyang menimba ilmu. Saat Mandala akan menelpon Kahyang, tiba-tiba Kahyang keluar dari kafe itu. Mandala terkejut saat Yudha juga keluar dari kafe itu mengejar Kahyang, bahkan memegang tangan Kahyang. Cemburu? Tentu saja. Tapi Mandala menahannya, bahkan menutupinya dari Kahyang. Mandala sadar, sebentar lagi dirinya tidak akan bisa menjaga Kahyang. Tidak lama lagi dirinya akan menikah dengan wanita yang dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Karena itu, Mandala tidak akan melarang Kahyang berhubungan dengan siapapun.
Sepanjang perjalanan pulang, Kahyang hanya diam. Bingung harus bagaimana dan harus berkata apa. Begitu pula dengan Mandala. Sesekali Kahyang melirik Mandala yang mengemudi dengan tenang. Ekspresi pria itu tampak biasa saja. Hingga akhirnya mereka pun tiba di apartemen mereka.
Kahyang bergegas membersihkan diri sebelum menyentuh putranya yang sedang di gendong Bik Mar. Sedangkan Mandala menunggu Kahyang selesai mandi seraya bekerja dengan laptopnya. Setelah Kahyang selesai mandi, Mandala pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Saat Mandala keluar dari kamar mandi, Kahyang nampak sedang memangku Rayno yang baru saja selesai menyusu. Bayi berusia satu bulan itu nampak mulai.mengantuk setelah menyusu tadi.
"Man, tadi aku dan Yudha..."
...๐"Cinta sejati tidak harus memiliki.๐...
...๐Kalimat itu terdengar puitis dan romantis. Tapi bikin dada terasa sesak dan hati menangis."๐...
..."Nana 17 Oktober"...
...๐ธโค๏ธ๐ธ...
.
.
To be continued
__ADS_1