
"Istri? Sejak kapan, bos menikah?"tanya Patih yang nampak terkejut mendengar pengakuan Mandala.
"Oh iya, kamu tidak tahu. Aku sudah punya istri yang sangat cantik dan menggemaskan,"ujar Mandala menegakkan kepalanya kemudian terkekeh.
"Apa bos, benar-benar punya istri? Tapi, orang mabuk tidak mungkin bohong, 'kan?"gumam Patih lirih, kemudian kembali bertanya untuk memastikan,"Bos benar- benar sudah punya istri?"
"Tentu saja! Aku bahkan akan segera memiliki seorang anak. Aku tidak sabar menunggu kelahirannya. Dia pasti sangat lucu,"ujar Mandala tersenyum dengan mata sayu karena mabuk.
"Bahkan sudah akan memiliki anak? Berarti istri bos, sedang mengandung?" tanya Patih semakin penasaran.
"Hum,"sahut Mandala kembali meraih botol minuman keras, tapi lebih dulu di jauhkan Patih.
"Berikan padaku!"bentak Mandala mencoba meraih botol yang dijauhkan Patih.
Karena penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Mandala, tiba-tiba muncul ide di kepala Patih,"Bos, ayo cepat pulang! Istri bos akan semakin marah, jika bos pulang larut malam dalam keadaan mabuk,"bujuk Patih.
"Larut malam? Ah, iya, aku harus pulang. Dia tidak akan tidur jika aku belum pulang,"ujar Mandala dengan tubuh sempoyongan bangun dari duduknya.
Patih tersenyum simpul, rencananya berhasil. Patih ingin tahu, apa benar Mandala memiliki istri dan sedang mengandung. Dan siapakah wanita yang menjadi istri majikannya itu? Patih sangat penasaran.
"Kau menikah diam-diam, bos?"tanya Patih sambil memapah Mandala.
"Ssstt.. jangan bilang-bilang! Ini rahasia!"ucap Mandala seraya meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri, seraya merangkul Patih.
"Aku jadi penasaran, seperti apa istri mu bos?"celetuk Patih.
"Istriku, cantik! Sangat.. cantik!"sahut Mandala berjalan sempoyongan di papah Patih.
Dengan susah payah, Patih membawa Mandala ke dalam mobil,"Bos, dimana istri mu tinggal?"tanya Patih. Mandala yang sedang mabuk pun mengatakan di mana dia tinggal selama ini. Patih yang penasaran pun membawa Mandala ke alamat yang dikatakan oleh Mandala.
Dan di sinilah Patih saat ini. Memapah Mandala dengan susah payah sampai di depan unit apartemen yang ditinggali Mandala dan Kahyang.
"Apa benar, ini unit apartemen mu bos?Dengan ragu, Patih menekan bel unit apartemen itu.
__ADS_1
"Tentu saja!"sahut Mandala yang berdirinya pun tidak stabil.
"Siapa yang malam-malam begini bertamu?"gumam Kahyang saat mendengar suara bel. Kahyang memang belum bisa tidur karena merasa bersalah telah menampar Mandala. Apalagi pria itu tak kunjung pulang juga.
Dengan ragu, Kahyang membuka sedikit pintu apartemen nya. Karena takut ada orang yang ingin berbuat jahat. Namun Kahyang langsung membuka pintu itu saat melihat Mandala di papah seorang pria.
"Kamu kenapa?"tanya Kahyang pada Mandala dengan ekspresi khawatir.
"Aku merindukan mu,"sahut Mandala terkekeh mencoba menyentuh pipi Kahyang.
"Bos, mabuk, Nyonya,"sahut Patih yang sempat terkesima melihat wanita cantik yang sedang hamil besar dihadapannya.
"Tolong saya, bawa dia masuk, ya!"pinta Kahyang lembut.
"Baik, Nyonya,"sahut Patih.
"Aku bisa sendiri! Pergi sana! Jangan lihatin istri ku!"ujar Mandala melepaskan tangan Patih dan mendorong Patih.
"Ish, ternyata bos cemburuan,"gumam Patih.
"Ayo masuk!"ajak Mandala berusaha merangkul Kahyang.
"Ini sudah tugas saya, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi pulang, Nyonya,"sahut Patih menutup pintu apartemen itu, kemudian pergi.
"Gila! Istri bos cantik banget! Mana masih muda lagi. Sepertinya dia juga wanita yang baik. Jadi, karena istrinya itu, beberapa bulan ini bos nampak selalu bahagia. Pantas saja bos frustasi sampai mabuk-mabukkan hanya karena istrinya marah. Tampak nya, bos sangat mencintai nya. Pantas saja, bos tidak patah hati saat putus dengan si Sheila alias syaiton kemarin. Istrinya cantik begitu. Ternyata bos suka daun muda,"ujar Patih tertawa sendiri di dalam lift,"Melihat kandungan istri bos yang sudah besar, bos pasti sudah lama menikah dengan istrinya itu. Kemungkinan setelah putus dengan si syaiton itu. Tapi kenapa bos menyembunyikan pernikahan nya, ya?" gumam Patih yang baru tahu jika Mandala ternyata sudah beristri. Bahkan istrinya sedang hamil besar.
Sedangkan di dalam unit apartemen, Kahyang memegang tangan Mandala yang berjalan sempoyongan ke dalam kamar.
"Kenapa kamu mabuk seperti ini?"gerutu Kahyang.
"Karena kamu,"sahut Mandala menatap sayu pada Kahyang.
"Kenapa karena aku?"protes Kahyang.
__ADS_1
"Karena kamu tidak mencintai ku,"sahut Mandala duduk di tepi ranjang. Wajah pria itu terlihat sedih. Kahyang terkejut mendengar jawaban pria itu.
"Apa.. apa kau mencintai ku?"tanya Kahyang dengan bibir bergetar.
"Aku mencintaimu. Aku ingin memilikimu seutuhnya. Bukan sekedar status,"ucap pria yang tengah mabuk itu kemudian roboh.
Kahyang terdiam mendengar apa yang baru saja dikatakan pria yang selama ini hanya menikahinya demi memberikan status sah bagi bayi yang ada di dalam kandungannya saat ini. Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja. Seharusnya Kahyang bisa mengerti perasaan Mandala, dari cara Mandala memperlakukan nya selama ini. Sikapnya yang lembut, penuh kasih sayang, dan perhatian. Bukankah terlalu berlebihan jika pria itu hanya ingin bertanggung jawab atas bayi dalam kandungannya?
"Aku mencintai mu, aku tidak ingin bercerai. Aku ingin selamanya bersama mu,"racau Mandala dengan mata terpejam.
Kahyang menghapus air matanya yang terus menetes, melepaskan sepatu dan kaos kaki Mandala. Dengan ragu membuka kancing kemeja Mandala satu persatu. Saat semua kancing itu terbuka, terlihat lah dada bidang dan perut rata berotot milik Mandala. Dengan air mata yang masih menetes dan tangan yang bergetar, Kahyang meraba dada dan perut Mandala.
Di awal pernikahan mereka, Kahyang selaku meneriaki Mandala mesum, jika Mandala bertelanjang dada. Hingga Mandala tidak pernah lagi bertelanjang dada di depan Kahyang. Walaupun sebenarnya itu hanya alasan Kahyang. Sesungguhnya Kahyang sangat mengagumi bentuk tubuh Mandala. Namun malu rasanya jika dirinya terpergok mengagumi tubuh Mandala. Walaupun sejatinya ingin merabanya.
Kahyang menyeka tubuh Mandala menggunakan air hangat dengan air mata yang masih saja menetes. Pria itu terus mengigau mengatakan "Aku mencintaimu"berulang kali.
"Aku juga mencintai mu,"ucap Kahyang menyelimuti tubuh Mandala, kemudian berbaring miring menghadap Mandala.
Keesokan harinya, Kahyang membuat sarapan untuk mereka berdua. Sedangkan Mandala terbangun dengan kepala yang terasa pusing. Matanya menelisik melihat ke sekeliling, tapi tidak melihat Kahyang ada di kamar itu.
"Aku tidak bisa mengingat apa-apa. Bagaimana aku bisa pulang ke apartemen ini?"gumam Mandala kemudian bergegas membersihkan diri.
Mandala melihat Kahyang sedangkan menyajikan makanan di atas meja. Tanpa berkata apa-apa, Mandala keluar dari apartemen itu, membuat Kahyang tertegun. Selama ini, tidak pernah Mandala bersikap acuh seperti itu padanya. Bahkan Mandala pergi tanpa sarapan.
Waktu terus bergulir, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun Mandala belum juga pulang. Hingga waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Kahyang mengambil apel dan duduk di kursi meja makan. Dengan perlahan Kahyang mengunyah apelnya, hingga suara pintu apartemen terbuka.
Mandala masuk ke kamar, seolah tidak melihat Kahyang yang duduk di kursi meja makan. Kahyang menghela napas, kemudian menghabiskan apelnya dan menyusul Mandala ke kamar. Kahyang duduk di tepi ranjang, dan tak lama kemudian Mandala keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos oblong dan celana pendek. Pria itu langsung merebahkan tubuhnya di ranjang membelakangi Kahyang.
"Apa kau marah padaku?"
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
.
To be continued