
Kahyang terbangun, namun Mandala sudah tidak ada lagi di sisinya. Kahyang meraba tempat Mandala biasa berbaring, tapi tempat itu terasa sudah dingin, yang berarti pria itu sudah lama bangun. Bahkan Rayno juga sudah tidak ada di box bayinya. Kahyang menatap jam digital yang ada di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Apa Mandala sudah lama pergi ke kantor? Semoga masalah nya di kantor cepat selesai"gumam Kahyang yang mengingat jika semalam Mandala mengatakan ada masalah di kantor.
Perlahan Kahyang beranjak dari tempat tidurnya. Seluruh tubuhnya terasa pegal karena melayani Mandala semalam. Suaminya itu seolah tidak merasa lelah saat bercinta dengan dirinya. Kahyang turun dari atas ranjang berniat membersihkan diri. Kahyang hanya bisa menghela napas panjang saat melihat banyaknya jejak yang dibuat oleh Mandala semalam.
"Aku harus kuliah sebentar lagi, dan aku harus memakai pakaian yang bisa menutupi semua tanda yang dibuat oleh Mandala semalam,"gumam Kahyang membuang napas kasar.
Selesai membersihkan diri, Kahyang mencari pakaian yang bisa menutupi jejak yang dibuat Mandala. Pakaian yang memiliki kerah tinggi, dipadukan dengan rok yang panjangnya dibawah lutut dengan rambut yang digerai. Nampak simpel, tapi tetap cantik.
"Bik Mar, apa Rayno sudah menyusu?"tanya Kahyang menghampiri Bik Mar, kemudian mengambil Rayno dari Bik Mar.
"Belum, nyonya. Nampaknya juga sudah haus. Saya baru saja akan menghangatkan ASI nya,"sahut Bik Mar.
"Kalau begitu, biar saya susui saja, Bik,"ujar Kahyang.
Iya, nyonya,"sahut Bik Mar. Dan Kahyang pun kembali ke kamarnya bersama Rayno.
"Sayang mama sudah haus?"tanya Kahyang melihat Rayno yang sudah. tidak sabar untuk menyusu. Tangan bayi yang saat ini sudah berusia enam bulan itu tidak bisa diam saat sedang menyusu. Tangan bayi tampan itu mencoba meraih wajah Kahyang dengan mulut yang terus menghisap sumber kehidupannya. Kahyang memegang tangan Rayno, kemudian menciumnya berkali-kali.Selesai menyusui Rayno, Kahyang pun berangkat ke kampus.
Di perusahaan Mandala, nampak sekretaris Mandala masuk ke dalam ruangan Mandala.
"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan sesuatu?"tanya Mandala.
"Sepertinya televisi itu sudah ada yang mengotak-atik nya, Tuan. Karena itu televisi itu meledak saat dinyalakan. Dan soal saingan bisnis kita, saya mendapatkan informasi jika ada orang yang berada di belakang mereka. Orang ini adalah orang yang membayar, para investor agar tidak keberatan saat produk mereka dijual dengan harga dibawah pasaran,"jelas sekretaris Mandala.
"Maksudnya?"tanya Mandala seraya mengernyitkan keningnya.
"Begini, Tuan. Misal nya barang mereka seharusnya dijual seharga satu juta seratus, tapi saat ini dijual dengan harga satu juta. Maka keuntungan seratus ribu yang seharusnya mereka dapatkan akan dibayar oleh orang yang sengaja menyuruh mereka menurunkan harga pasaran produk mereka. Jadi, jika dalam satu bulan barang yang terjual seratus unit, maka orang itu harus membayar saratus juta pada perusahaan saingan kita. Anda tahu sendiri, dengan menjatuhkan harga seperti ini, produk mereka akan banyak diminati oleh masyarakat. Semakin banyak barang yang terjual maka perusahaan itu akan semakin banyak mendapatkan keuntungan. Dari orang tersebut,"ujar sekretaris Mandala panjang lebar..
"Orang ini benar-benar sudah tidak waras. Dia rela melakukan hal konyol seperti itu hanya untuk menjatuhkan kita? Dia akan rugi banyak. Biarkan saja mereka melakukan hal itu. Bagi yang sudah mengetahui produk kita, mereka tidak akan membeli produk yang dijual saingan kita. Walaupun harganya murah,"ujar Mandala.
__ADS_1
"Tapi insiden televisi produksi kita yang meledak itu telah membuat citra produk kita buruk di masyarakat, Tuan. Dan lagi, yang meledak bukan cuma televisi, Tuan. Ada beberapa produk lain yang juga meledak. Untung saja tidak ada korban luka apalagi korban jiwa,"ujar sekretaris Mandala.
"Karena itu, cepat urus tuntas soal produk yang meledak itu. Jika kita bisa membuktikan hal itu bukan karena kegagalan dari perusahaan kita memproduksinya. Maka hal itu tidak akan merusak reputasi kita di mata konsumen. Jika sudah ketemu siapa orang yang berusaha merusak reputasi perusahaan kita itu, kita bisa tetap memperbaiki penjualan kita. Satu lagi, buatlah konferensi pers bahwa kita telah menyelidiki insiden meledaknya produk kita itu. Tunjukkan bukti yang sudah kamu dapat yang menunjukkan jika ada yang sengaja ingin menjatuhkan kita dengan mengotak-atik produk kita hingga akhirnya meledak saat di hidupkan. Konferensi pers itu akan menggiring opini publik bahwa saingan bisnis kita lah yang telah melakukan kecurangan itu. Jika ada yang menyinggung soal harga produk saingan bisnis kita, jelaskan dengan detail bahwa perusahaan pesaing kita tidak akan mendapatkan keuntungan apapun dengan menjual produk mereka dengan harga yang mereka tawarkan saat ini. Jika kamu menjelaskan hal itu, maka pernyataan kamu itu akan menggiiring opini publik untuk meragukan kualitas dari produk yang mereka pasarkan di bawah harga pasaran itu. Konsumen akan bertanya-tanya mengapa mereka melakukan hal itu,"ujar Mandala.
"Baik, Tuan. Saya mengerti,"sahut sekretaris Mandala.
"Mereka menjatuhkan kita dengan cara-cara yang licik maka kita harus memutar otak untuk membuat serangan balik. Kita lihat saja, sampai kapan mereka bisa bertahan menjual produk mereka di bawah harga pasaran,"ujar Mandala tersenyum miring.
Kahyang melangkahkan kakinya menyusuri lorong kampus. Kali ini Kahyang kuliah di jurusan yang disukainya, jadi Kahyang tidak merasa kesulitan dengan tugas-tugas yang diberikan dosen padanya, karena Kahyang bisa mengerjakan semua tugas itu dengan mudah.
"Yang!"panggil Riska saat melihat Kahyang.
"Hei, Ris! Kamu ada mata kuliah juga hari ini?"tanya Kahyang pada Riska yang melanjutkan kuliah ke jenjang S2 di kampus itu.
"Iya. Kamu jam berapa selesai kuliah hari ini?"tanya Riska seraya menatap arloji di pergelangan tangannya.
"Jam satu siang,"sahut Kahyang.
"Boleh juga,"sahut Kahyang tersenyum manis.
"Ya sudah, aku masuk kelas dulu, ya? Mata kuliah ku sudah mau dimulai, nih,"ujar Riska.
"Oke,"sahut Kahyang dengan seulas senyum di bibirnya.
Riska berjalan meninggalkan Kahyang, Kahyang pun melanjutkan langkahnya menuju kelasnya.
"Eh, Yud! Kamu ada mata kuliah juga hari ini?"tanya Riska yang tidak sengaja melihat Yudha menatap Kahyang. Yudha juga memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2 di kampus itu.
"Ah, iya,"sahut Yudha terdengar lesu.
"Sudah, lupakan saja! Dia sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Kamu harus move on, Yud! Percayalah, jika dia tidak ditakdirkan untuk mu, berarti dia bukan yang terbaik untuk mu,"ujar Riska yang melihat Yudha menatap Kahyang yang semakin menjauh.
__ADS_1
"Aku mengerti,"sahut Yudha tersenyum tipis pada Riska. Senyum yang terkesan dipaksakan.
"Kamu lagi sakit, Yud ?"tanya Riska yang melihat wajah Yudha terlihat pucat dan bibirnya juga terlihat pecah-pecah.
"Hanya sedikit demam saja, kok,"sahut Yudha.
"Seharusnya kamu istirahat, bukannya masuk kuliah,"ujar Riska.
"Ada mata kuliah hari ini, sayang kalau dilewatkan. Lagian cuma satu mata kuliah saja, kok,"sahut Yudha.
"Ya sudah, kalau sudah selesai cepat pulang! Cepat sembuh, ya! Aku ke kelas dulu,"ujar Riska.
"Hum,"sahut Yudha.
...π"Yakinlah, dia yang tidak berjodoh dengan mu, berarti bukan yang terbaik untuk mu."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
Notebook :
-Jam analog menunjukkan waktu dengan menggunakan jarum detik, menit, dan jam. Ada jam analog yang menggunakan angka biasa, ada juga yang menggunakan angka romawi.
-Jam digital menunjukkan waktu dengan teks angka yang ditampilkan melalui LCD (liquid crystal display).
.
.
To be continued
__ADS_1