
Anggoro terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan dari Prasetyo. Jika dirinya berada di posisi Agung, rasanya Anggoro juga akan melakukan hal yang sama seperti Agung. Karena budi Prasetyo kepada Agung sangat besar.
Prasetyo menghela napas panjang melihat Anggoro terdiam.
"Dengan diam mu itu, berarti kamu juga akan berbuat sama seperti Agung, 'kan?"ucap Prasetyo yang tidak bisa di bantah Anggoro.
"Sekarang, jika aku berada di posisi Mandala dan masih muda sama seperti Mandala, mungkin aku juga akan khilaf seperti Mandala jika melihat gadis secantik Kahyang melepaskan pakaian di depan mataku. Dan kamu jangan bilang tidak akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Mandala, Anggoro! Munafik jika kamu mengatakan tidak tergoda dan tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Mandala! Kita sudah mengalami bagaimana rasanya menjadi muda. Tidak mudah untuk mengendalikan diri saat usia kita masih muda,"ucap Prasetyo sebelum Anggoro menjawab pertanyaannya.
"Sekarang jika mau mencari siapa yang salah, maka semua orang disini bersalah, terutama kita Anggoro. Kita sudah gagal menjaga putri kita hingga putri kita di jebak orang dan harus mengalami semua ini. Bagaimana? Apakah yang aku katakan salah? Kamu bahkan menyembunyikannya maslahah Kahyang yang kabur dari rumah dalam keadaan mengandung dari aku. Dan kamu baru mencari putri kita setelah sembilan bulan kabur dari rumah. Apakah menurut kamu, itu tindakan yang benar?"tanya Prasetyo pada Anggoro.
Anggoro kembali diam, tidak bisa menjawab pertanyaan Prasetyo. Dirinya memang bersalah karena tidak bisa menjaga putrinya, hingga akhirnya putrinya mengalami semua ini. Dan dirinya juga terlalu keras kepala hingga marah dan tidak mau mencari putrinya selama sembilan bulan lamanya.
"Sekarang, apa yang kamu inginkan dengan menghajar Mandala sampai babak belur begini?"tanya Prasetyo lagi. Pria itu tetap terlihat tenang dan berwibawa.
"Aku tahu, aku juga bersalah dalam hal ini. Tapi, walau bagaimanapun, aku tetap tidak bisa terima putri kita diperlakukan seperti itu. Aku ingin Kahyang bercerai dengan Mandala,"ucap Anggoro tanpa keraguan, membuat semua orang terkejut.
"Aku tidak mau bercerai dengan Mandala,"ucap Kahyang dengan tegas dan tanpa keraguan, membuat perhatian semua orang beralih ke arah Kahyang.
"Kamu harus bercerai dengan dia! Untuk apa kamu menikah dengan pria brengseek seperti dia? Aku tidak sudi memiliki menantu seperti dia!"sergah Anggoro yang tetap keras kepala.
"Aku mencintai Mandala. Dan aku tidak mau berpisah dari Mandala,"jawab Kahyang yang sama keras kepalnya dengan Anggoro.
"Persetan dengan cinta! Papa tidak setuju kamu menikah dengan dia!"bentak Anggoro.
"Tapi sampai kapanpun aku tetap tidak akan pernah bercerai dengan Mandala. Aku sudah bahagia hidup bersama dengan Mandala dan putra kami,"ucap Kahyang seraya menggenggam tangan Mandala.
"Putra? Kalian sudah punya putra?"tanya Prasetyo yang sampai melupakan fakta tentang Kahyang yang dihamili oleh Mandala. Bukankah jika Kahyang dihamili Mandala sebelas bulan yang lalu berarti saat ini anak Kahyang sudah berusia sekitar dua bulan? Hal itu baru terpikirkan oleh Prasetyo karena sibuk meredakan emosi Anggoro.
"Bukankah putramu sudah meninggal?"tanya Mala yang juga terkejut. Wanita paruh baya itu beralih menatap Anggoro. Karena menurut informasi dari suaminya, anak Kahyang sudah meninggal.
__ADS_1
"Kenapa kamu bilang anak putri ku sudah meninggal?"tanya Anggoro pada orang kepercayaan nya.
"Waktu itu Nona mengatakan bahwa putra Nona sudah tidak bersama Nona lagi. Jadi saya mengira jika anak Nona sudah meninggal,"sahut orang kepercayaan Anggoro merasa terpojok karena kesalah pahaman nya mengartikan kata-kata Kahyang waktu itu.
"Iya, aku memang berkata seperti itu. Karena waktu itu putraku sedang bersama pengasuh nya..Apa perkataan ku salah?"tanya Kahyang tanpa dosa.
"Maaf,Tuan! Ternyata saya salah mengartikan perkataan Nona,"ujar orang kepercayaan Anggoro dengan kepala yang tertunduk. Membuat Anggoro membuang napas kasar memijit pelipisnya.
"Jadi papa sudah menjadi kakek? Lalu di mana cucu papa sekarang?"tanya Prasetyo nampak antusias.
"Ada di apartemen kami, pa,*sahut Kahyang.
"Kalau begitu, bawa anakmu pulang ke sini! Besok papa akan mengurus perceraian kalian,"ucap Anggoro masih kukuh dengan pendiriannya.
"Sudah aku bilang, aku tidak mau, pa! Kenapa papa terus saja memaksa aku?"protes Kahyang.
"Kamu masih bertahan dengan pria brengseek seperti dia?"tanya Anggoro dengan tatapan sinis kepada Mandala.
"Enak sekali kamu meminta maaf, setelah memperlakukan putri ku secara tidak adil!"ketus Anggoro pada Agung.
"Pa, aku memang salah. Tapi tolong beri aku kesempatan kedua. Aku sangat mencintai Kahyang,"mohon Mandala.
"Cih, jika kamu mencintai putri ku, kamu tidak akan mau dijodohkan dengan wanita lain. Bagaimana jika yang dijodohkan dengan mu itu bukan putriku?"sinis Anggoro pada Mandala.
"Sudahlah Anggoro! Kahyang dan Mandala sudah saling mencintai. Mereka juga sudah menikah sah di mata hukum dan agama. Bahkan mereka sudah memiliki seorang putra. Kenapa kamu masih bersikeras memisahkan mereka? Bukankah sudah aku katakan? Kita semua di sini bersalah hingga semua ini bisa terjadi. Apa kamu masih mau membuat kesalahan lagi? Apa kamu sangat ingin putri kita menjadi seorang janda? Dan apa kamu mau cucu kita hidup sebagai anak yang broken home?"tanya Prasetyo dengan pembawaan yang tetap tenang.
"Aku akan mencarikan jodoh yang baik untuk putriku dan ayah yang baik untuk cucuku,"sahut Anggoro yang masih kukuh dengan pendiriannya membuat semua orang menghela napas panjang.
"Aku tidak mau. Aku yang akan menjalani hidup ku. Bukan papa ataupun orang lain. Jadi aku yang berhak memutuskan dengan siapa aku akan hidup. Aku yang tahu dan merasakan dengan siapa aku merasa bahagia. Aku sudah bahagia bersama Mandala. Aku tidak ingin berpisah dengan Mandala dan menikah dengan pria lain,"tolak Kahyang tegas.
__ADS_1
"Kamu itu masih bau kencur! Anak kemarin sore! Tahu apa kamu tentang bahagia?"sergah Anggoro.
"Sudahlah Anggoro! Kenapa kamu begitu keras kepala? Apa kamu bisa mencari pria yang bisa mencintai dan dicintai Kahyang? Mencari pria yang tulus menyayangi cucu kita?"tanya Prasetyo lagi. Bagaimana pun, tidak akan ada yang bisa menyamai apalagi melebihi kasih sayang orang tua kandung. Jadi kamu jangan keras kepala untuk memisahkan anak kita yang sudah bahagia!"Prasetyo benar-benar tidak habis pikir dengan pola pikir adiknya itu.
"Kakak terlalu memanjakan dia. Karena itu dia jadi keras kepala dan suka melawan orang tua,"gerutu Anggoro menyalahkan Prasetyo.
"Aku memanjakannya hingga putri kita jadi keras kepala? Bukankah sifat keras kepalanya itu menurun dari kamu? Kamu mendidiknya terlalu keras hingga putri kita pun menjadi keras. Kamu selalu memaksakan kehendak mu tanpa memikirkan perasaan nya. Apa kamu tidak ingat saat kamu memaksa Kahyang kuliah mengambil jurusan bisnis dan manajemen? Sedangkan dia ingin kuliah jurusan Fashion Design,"ujar Prasetyo membuat wajah Anggoro menjadi masam.
"Jika Kahyang tetap ingin bersama Mandala, biarkan saja! Mereka saling mencintai dan sudah memiliki putra, untuk apalagi kita memisahkan mereka? Mereka telah ditakdirkan untuk bersama, walaupun dengan cara seperti ini. Jadi, jangan bersikeras untuk memisahkan mereka! Jika kamu masih bersikeras memisahkan mereka, maka kamu akan berhadapan dengan ku. Aku tidak ingin ada pembahasan soal ini lagi. Agung, Prameswari, pulanglah! Masalah ini sudah selesai,"ucap Prasetyo pada Agung dan Prameswari.
"Terimakasih, Pras!"ucap Agung karena Prasetyo yang berusaha menyelesaikan perselisihan itu.
"Tidak usah di pikiran! Anggoro memang keras kepala!"sahut Prasetyo kemudian menatap Kahyang,"Sayang, bawa suamimu pulang! Obati lukanya. Lain kali, papa akan mampir ke apartemen kalian. Sekarang masih ada yang harus papa selesaikan,"ujar Prasetyo pada Kahyang.
"Iya, pa. Terimakasih!"ucap Kahyang tersenyum tulus.
"Terimakasih, pa!"ucap Mandala.
"Tidak usah berterimakasih. Ini memang sudah menjadi kewajiban papa,"sahut Prasetyo kemudian menatap adik iparnya,"Mala, nasehati suamimu itu! Agar tidak semakin keras kepala dan egois!"ucap Prasetyo.
"Iya, kak,"sahut Mala yang sebenarnya tidak kurang lagi menasehati Anggoro. Tapi pria itu tetap saja keras kepala.
...🌸❤️🌸...
Notebook :
Broken home merupakan kondisi ketika keluarga tidak utuh. Sederhananya, orang tua yang bercerai bisa berdampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mental sang anak. Kondisi ini yang kemudian membuat seseorang disebut sebagai anak broken home.
.
__ADS_1
.
To be continued