Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
65. Tidak Bisa Menunggu


__ADS_3

Mandala menatap Kahyang dengan tatapan sayu. Nampak jelas kabut hasraat di mata pria itu.


"Sayang, jangan menolak ku! Please!"mohon Mandala dengan wajah memelas.


"Aku masih menyusui Rayno, Man,"ujar Kahyang beralasan.


Mandala menundukkan kepalanya, menatap Rayno yang berada dalam pangkuan Kahyang.


"Dia sudah tidur,"ujar Mandala saat melihat Rayno yang sudah memejamkan matanya. Bibir bayi itu nampak terbuka dengan sisa air susu di kedua sudut bibirnya.


Perlahan Mandala merengkuh Rayno dari pangkuan Kahyang. Membaringkan Rayno di atas ranjang. Mengusap sisa air susu di bibir Rayno dan mengatupkan bibir putranya itu.


"Man!"pekik Kahyang tertahan saat tiba-tiba Mandala mengangkat tubuhnya. Kahyang menyadari dimana dirinya saat ini berada dan juga menyadari jika putranya baru saja terlelap. Jadi Kahyang menahan suaranya.


"Man, apa yang mau kamu lakukan?"tanya Kahyang dengan suara tertahan. Tiba-tiba degup jantungnya berdetak kencang. Sepertinya suaminya itu akan benar-benar menerkamnya.


Mandala tidak menjawab pertanyaan Kahyang. Pria itu membaringkan tubuh Kahyang di atas sofa yang ada di dalam ruangan itu dan dengan cepat melepaskan kemeja yang dipakainya.


"Ma.. Man! Ja.. jangan.. jangan macam-macam! Orang tua mu menunggu kita di bawah,"ucap Kahyang tergagap. Begitu kemejanya lepas, Mandala langsung mengungkung tubuh Kahyang.


"Aku menginginkanmu. Aku tidak bisa menahannya lagi,"ucap Mandala langsung menyerang bibir Kahyang agresif. Pria itu seperti macam kelaparan hingga Kahyang merasa kewalahan. Mencumbu Kahyang hingga membuat Kahyang bergerak gelisah di bawah kungkungan nya. melucuti kain yang melekat di tubuh mereka tanpa tersisa. Dan dengan tidak sabar menyatukan tubuh mereka. Walaupun Mandala tidak kasar saat melakukan nya, namun pria itu terlihat begitu bernafsu.


Kahyang menjambak rambut Mandala yang tebal menggigit bibirnya sendiri agar tidak keluar suara dari mulutnya.


"Keluarkan suara mu! Jangan menahannya! Aku sangat suka saat mendengar desa Han mu dan saat kamu memanggil nama ku. Jangan khawatir! Kamar ini kedap suara,"ujar Mandala terus bergerak di atas tubuh Kahyang. Namun Kahyang tetap berusaha menahan suaranya, mengingat Rayno yang sedang tidur.


Karena Mandala semakin menggila di atas tubuhnya, akhirnya Kahyang pun tidak sanggup lagi menahan rasa nikmat yang menjalar dan membakar seluruh tubuhnya hingga tanpa sadar keluar desa Han dan lenguhan dari mulutnya.


Di lantai bawah.


Kok mereka lama sekali, ya, ma?"tanya Agung yang sudah menunggu Mandala dan Kahyang di ruang makan.


"Mungkin Ray masih belum selesai menyusu, pa,"sahut Prameswari.


"Ma, pa, sebenarnya anak siapa bayi lucu dan tampan yang digendong kakak tadi?"tanya Andini seraya meraih air di dalam gelas. Sejak awal pertanyaan nya itu belum juga terjawab, hingga membuat Andini semakin penasaran.


"Ray adalah keponakan kamu. Putra kakak mu,"jawab Prameswari menghela napas panjang.

__ADS_1


"Uhuk..uhuk..uhuk.."


Andini yang sedang minum sampai terbatuk batuk saat mendengar apa yang dikatakan oleh Prameswari. Dengan lembut Prameswari yang duduk di sebelah Andini menepuk-nepuk punggung Andini.


"Mama bercanda?"tanya Andini seraya mengelap mulutnya, tampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Prameswari.


"Mama tidak bercanda,"sahut Prameswari menghela napas berat.


"Ba.. bagaimana bisa? Baru kemarin kakak menikah? Bagaimana bisa kakak sudah memiliki anak? Anak dari siapa? Siapa ibunya? Kenapa aku tidak tahu? Lalu, apa kakak ipar menerima anak itu?"tanya Andini bertubi-tubi.


"Mama tidak bisa menjelaskannya sekarang. Ceritanya terlalu rumit untuk diceritakan, butuh waktu lama untuk menjelaskannya,"sahut Prameswari menghela napas panjang. Membuat Andini semakin penasaran. Tapi untuk saat ini tidak berani bertanya lagi karena Prameswari sudah mengatakan bahwa ceritanya terlalu rumit dan butuh waktu lama untuk menjelaskannya.


"Bik, tolong naik dulu di atas. Katakan pada Mandala dan istrinya, kami menunggu mereka di meja makan,"titah Agung pada seorang ART.


"Baik, Tuan,"sahut ART bergegas pergi ke lantai dua tempat kamar Mandala berada


"Man..uhg.."racau Kahyang saat Mandala terus bergerak di atas tubuhnya.


"Sayang.. ini benar-benar nikmat,"racau Mandala yang semakin cepat bergerak di atas tubuh Kahyang. Mandala benar-benar tidak bisa melukiskan kenikmatan yang saat ini sedang dirasakan nya. Saat tubuhnya menyatu dengan tubuh Kahyang.


"Yang, sedotannya.. ughh.. sempit sekali.. Aku merasa di jepitnya,"racau Mandala yang merasa milik Kahyang terasa begitu sempit. Mandala merasa miliknya di sedot dan di jepit oleh Kahyang. Pria itu semakin menggila di atas tubuh Kahyang.


"Tok! Tok! Tok!"


"Man! Ada yang memanggil"ucap Kahyang tertahan saat mendengar suara pintu yang diketuk dan mendengar suara seorang wanita di depan pintu kamar itu.


"Sebentar lagi, sayang,"ujar Mandala dengan napas yang memburu.


"Tok! Tok! Tok!"


"Tuan muda! Ditunggu di meja makan!" suara itu terdengar lagi.


Mandala tidak menghiraukan suara itu. Pria itu terus bergerak di atas tubuh Kahyang. Mana mungkin dirinya menghentikan permainan nya di tengah jalan. Kepalanya akan teras sakit jika harus menghentikan permainan di tengah jalan.


"Man!"panggil Kahyang yang nampak terganggu dengan suara ketukan pintu dan panggilan dari luar.


"Jangan hiraukan, sayang! Aku tidak bisa menahannya lagi,"ucap Mandala dengan tubuh yang sudah basah oleh peluh.

__ADS_1


Tidak ada respon dari dalam kamar majikannya. ART itu pun memutuskan untuk kembali ke bawah.


"Man.. akhh.."pekik Kahyang tertahan merasakan darahnya mengalir begitu deras di seluruh tubuhnya dan sesuatu yang terasa hangat keluar dari dalam tubuhnya.


"Sayang.. akhh.."pekik Mandala yang juga merasakan hal yang sama dengan Kahyang. Untuk sesaat tubuh mereka menegang, merasakan ledakan kenikmatan yang bersamaan.


Mandala mengecup bibir Kahyang berulang kali. Masih mengungkung tubuh Kahyang. Seolah enggan untuk beranjak dari tubuh Kahyang.


"Man, mereka sudah menunggu kita di bawah,"ucap Kahyang mengingatkan.


Dengan tidak rela Mandala beranjak dari atas tubuh Kahyang. Kemudian pria itu mengangkat tubuh Kahyang dari atas sofa ke kamar mandi. Keduanya membersihkan diri dengan cepat, mengingat orang tua mereka sedang menunggu di bawah.


"Bagaimana, Bik? Apa mereka akan segera turun?"tanya Prameswari saat melihat ART yang tadi disuruh Agung untuk memanggil Mandala dan Kahyang.


"Saya sudah mengetuk pintu kamar Tuan Muda berulang kali, Nyonya. Tapi tidak ada sahutan dari dalam,"jawab ART itu apa adanya.


"Apa mungkin mereka tertidur?"gumam Prameswari.


"Kita tunggu sebentar lagi,"sahut Agung dengan mata yang fokus pada gadget nya. Demikian pula dengan Andini yang memainkan gadget nya untuk menunggu kakaknya bergabung dengan mereka di meja makan.


Lima belas menit kemudian, nampak Mandala dan Kahyang masuk ke ruangan makan itu. Prameswari menghela napas panjang saat melihat rambut sepasang suami-isteri itu terlihat setengah kering.


"Dasar laki-laki! Tidak sabaran sekali. Apa tidak bisa menunggu nanti,"gumam Prameswari menggelengkan kepalanya pelan.


"Mama bilang apa?"tanya Andini yang tidak terlalu jelas mendengar gumaman Prameswari.


"Nggak apa-apa,"sahut Prameswari dengan senyum yang terlihat dipaksakan.


"Ayo makan!"ucap Agung melirik anak dan menantunya sekilas, kemudian menghela napas. Tanpa dijelaskan pun Agung sudah tahu apa yang membuat anak dan menantunya begitu lama di dalam kamar.


"Bik, tolong jaga dulu putra ku, ya! Dia sendirian di kamar,"pinta Mandala pada seorang ART.


"Iya Tuan Muda,"sahut ART itu bergegas pergi ke lantai dua.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2