Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
96. Kamu Cemburu?


__ADS_3

Mandala nampak sangat senang dengan kehadiran Kahyang dan Rayno. Putranya itu berulang kali tertawa karena Mandala menggelitik perutnya. Pergi pagi dan pulang malam membuat Mandala tidak punya banyak waktu untuk bermain bersama Rayno.


"Man, biar Rayno aku susui dulu. Biar dia tidak rewel saat kita makan siang nanti,"ujar Kahyang mengambil Rayno dari Mandala, membawa Rayno ke ruangan pribadi Mandala.


"Aku juga mau susu, sayang,"sahut Mandala mengikuti Kahyang menuju ruangan pribadinya.


"Jangan macam-macam, Man!"ujar Kahyang memperingati.


"Aku nggak pernah macam-macam sayang. Cuma satu macam saja,"sahut Mandala mengikuti Kahyang yang duduk di tepi ranjang.


Kahyang membuka kancing bajunya dan mengeluarkan benda kenyal dan lembut yang sangat disukai Mandala dan juga Rayno. Bayi montok itu nampak sudah tidak sabar untuk menyusu. Setelah bermain dengan Mandala dan puas tertawa, Rayno nampak haus dan lapar.


Mandala menelan salivanya susah payah melihat benda favoritnya yang putih mulus itu. Perlahan tangan Mandala merayap dan meremas benda favoritnya yang masih tertutup kain.


"Plak"


"Jangan macam-macam, Man!"ujar Kahyang memukul tangan Mandala yang jahil. Sedangkan Rayno malah tertawa melihat tangan Mandala yang di pukul Kahyang. Sehingga mulutnya yang penuh air susu pun jadi belepotan. Bayi itu mengira kedua orang tuanya sedang bercanda.Kahyang menghela napas panjang,"Man, keluarlah dari ruangan ini! Kamu akan menggangu Rayno menyusu jika seperti ini,"ujar Kahyang seraya membersihkan mulut Rayno.


Mandala menghela napas panjang, menatap putranya yang kembali menyusu. Dirinya juga ingin menyusu, tapi harus berbagi dengan putranya dan sedikit mengalah.


"Di mall tadi bertemu dengan siapa saja?"tanya Mandala terdengar agak datar, membuat Kahyang mengernyitkan keningnya kemudian menoleh ke arah suaminya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"tanya Kahyang menatap Mandala nampak curiga. Apa suaminya memata-matai dirinya? Itulah yang ada di pikiran Kahyang.


"Aku adalah suamimu. Apa aneh jika aku bertanya seperti itu?"tanya Mandala menatap lekat manik mata Kahyang.


Kahyang menghela napas panjang, Kahyang yakin jika suaminya pasti tahu tentang pertemuannya dengan Yudha dan Aldi.


"Aku tidak sengaja bertemu dengan Yudha dan Aldi,"sahut Kahyang yang tidak ingin merahasiakan apapun dari Mandala. Tidak ingin ada celah diantara mereka berdua yang bisa menyebabkan keretakan hubungan mereka.


Dalam sebuah hubungan, harus ada kepercayaan. Dan kepercayaan tidak akan ada tanpa adanya kejujuran. Dan sebuah hubungan tidak akan bertahan lama jika dilandasi kebohongan.


Mandala menghela napas lega, mengetahui istrinya tidak berbohong padanya. Pria itu kemudian memeluk Kahyang dari samping dan mengecup leher Kahyang.


"Kenapa? Kamu cemburu?"tanya Kahyang seraya membelai rambut Rayno yang masih menyusu.


"Tentu saja. Mereka lebih muda dari ku


Bahkan secara terang-terangan mereka menunjukkan padaku jika mereka menyukaimu. Wajar, bukan kalau aku cemburu?"tanya Mandala.

__ADS_1


"Apa kamu tidak percaya padaku?"tanya Kahyang menatap suaminya.


"Bukan tidak percaya, aku cuma takut kehilanganmu. Akhir-akhir ini, aku terlalu sibuk dengan pekerjaan ku, hingga kurang memperhatikan kamu dan Rayno. Aku takut kamu tergoda dengan perhatian yang diberikan oleh orang lain,"sahut Mandala jujur adanya.


"Aku tidak akan seperti itu, Man. Percayalah!"ujar Kahyang memegang pipi Mandala dan menatap lekat manik mata suaminya.


"Aku hanya takut kehilanganmu saja,"sahut Mandala meraih tangan Kahyang yang memegang pipiku, kemudian mengecup telapak tangan Kahyang.


"Kamu sangat mencintai ku?"tanya Kahyang.


"Dengan apa aku harus membuktikan jika aku sangat mencintai mu? Apa semua yang kulakukan untuk mu selama ini belum bisa membuktikan jika aku mencintaimu?"tanya Mandala dengan tangan yang merayap di paha Kahyang dan bibir yang mulai menelusuri leher Kahyang.


"Man, jangan menganggu aku!"pinta Kahyang seraya mendorong dada Mandala pelan.


"Malam ini masih bisa di pakai, 'kan?"tanya Mandala mengingat biasanya istrinya akan mendapatkan tamu bulanan setiap tanggal satu. Sedangkan sekarang tanggal tiga puluh.


"Aku tidak tahu. Sudah, sana! Kerjakan pekerjaanmu! Jangan menganggu aku!"ujar Kahyang kembali mendorong tubuh Mandala yang kembali ingin mendekat.


Mandala menghela napas panjang, kemudian mencium putranya yang sedang menyusu dengan tangan yang mainkan kancing baju Kahyang.


"Apa kamu dari lari maraton? Kamu terlihat sangat haus dan lapar. Jangan habiskan bagian papa, ya!"ujar Mandala mencubit pipi putranya dengan gemas, membuat Kahyang kembali menghela napas.


"Aku tunggu di luar, sayang!"ujar Mandala.


Mandala mengecup bibir Kahyang sekilas, kemudian keluar dari ruangan itu. Pria itu kembali mengerjakan pekerjaan nya.


Beberapa menit kemudian, handphone Mandala berdering,"Halo!, pa!"sapa Mandala dalam sambungan telepon.


"Papa tunggu di bawah ya? Saat ini papa sudah ada di lobi perusahaan kamu,"ujar Prasetyo.


"Ah iya, pa. Kami akan segera turun,"ujar Mandala seraya bangkit dari duduknya bermaksud menghampiri Kahyang yang ada di dalam ruangan pribadinya. Namun tidak jadi saat melihat Kahyang keluar dari ruangan pribadinya.


"Sudah menyusu begitu lama, dia tidak tidur juga?"tanya Mandala saat melihat Rayno masih terjaga. Kahyang cukup lama di dalam ruangan pribadinya untuk menyusui Rayno. Mandala berpikir jika Rayno pasti tidur. Tapi, bayi itu ternyata masih terjaga.


"Sekarang Ray semakin besar dan semakin kuat menyusunya,"sahut Kahyang.


"Kalau begitu, kamu harus banyak-banyak makan makanan bergizi, sayang! Supaya air susu kamu tetap banyak. Aku tidak mau mau jatah susuku di habiskan Rayno,"ujar Mandala memeluk Kahyang sambil meraba gundukan kenyal milik istrinya.


"Ish, kamu ini ngomong apa sih, Man! Kenapa bicaramu selalu saja menjurus ke sana?"kesal Kahyang seraya menepis tangan Mandala yang merayap di dadanya,"Jadi nggak, makan siangnya? Aku sudah lapar,"ujar Kahyang membuat Mandala terhenyak.

__ADS_1


"Astaga! Aku lupa. Kita sudah di tunggu papa di bawah. Sini, biar aku saja yang menggendong Rayno,"ujar Mandala langsung mengambil alih Rayno dari gendongan Kahyang.


"Papa siapa?"tanya Kahyang


"Papa Prasetyo,"sahut Mandala.


Mandala memeluk pinggang Kahyang, membawa Kahyang keluar dari ruangan kerjanya dengan sebelah tangannya menggendong Rayno. Mandala sampai lupa jika papa mertuanya sudah menunggu mereka di bawah.


"Tih, ikut kami!"titah Mandala.


"Baik, bos!"sahut Patih bergegas mengikuti majikannya yang sudah berjalan lebih dulu.


Sedangkan para karyawan yang melihat Mandala memeluk pinggang Kahyang sambil menggendong bayi yang lucu pun kembali berbisik-bisik.


"Bukankah itu cewek yang waktu itu juga di peluk, Tuan dan diakui Tuan sebagai istrinya?"


"Iya. Sepertinya memang cewek yang waktu itu,"


"Selama aku bekerja di sini, hanya cewek itu yang pernah dipeluk Tuan. Mesra lagi,"


"Iya, aku juga,"


"Siapa bayi lucu yang digendong oleh Tuan itu, ya?"


"Mungkin saja putra Tuan,"


"Kalau itu putra Tuan Mandala, berarti Tuan Mandala sudah lama menikah, ya? Kok kita nggak tahu, ya?"


"Mungkin saja. Orang kaya terkadang memang suka menikah diam-diam,"


"Mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia,"


"Iya. Mereka nampak serasi,"


Begitulah bisik-bisik para karyawan Mandala. Mereka tidak pernah melihat Mandala membawa wanita ke kantor selain Sheila, Andini dan Kahyang. Mereka juga tidak pernah melihat Mandala memeluk wanita begitu mesra seperti Mandala memeluk Kahyang. Bahkan mereka tidak pernah melihat Mandala memeluk Sheila yang notabene sudah bertahun-tahun dikabarkan pacaran dengan Mandala.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2