Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
33. Babak Belur


__ADS_3

Mandala melajukan mobilnya dengan perasaan tidak tenang, entah mengapa Mandala selalu teringat Kahyang. Kerena benar-benar merasa tidak tenang, Mandala akhirnya memutuskan untuk menghubungi Kahyang.


"Halo, Yang!"sapa Mandala setelah Kahyang menerima panggilannya.


"Cantik!"terdengar suara pria dari sambungan telepon Kahyang, membuat Mandala terhenyak.


"Hei! Mau kemana?"suara pria itu lagi.


"Lepaskan! Jangan macam-macam kamu!"terdengar suara Kahyang.


Menyadari ada yang tidak beres terjadi pada Kahyang, Mandala pun mempercepat laju kendaraannya. Hatinya merasa tidak tenang.


"Kahyang!"gumam Mandala, mencengkram kemudi mobilnya dengan kuat.


"Kamu sudah berulang kali mempermalukan aku di depan umum. Kali ini aku akan membuatmu menyesal karena telah menolak sku berulang kali bahkan telah dua kali menendang punyaku. Aku pastikan malam ini, aku akan membuatmu menjerit di bawah kuasaku!"


Mendengar pembicaraan Kahyang dengan seorang pria yang terdengar bermaksud buruk pada Kahyang, Mandala pun menginjak pedal gas nya semakin dalam menuju kampus Kahyang. Menyalip beberapa mobil di depannya. Rahangnya mengeras, matanya berkilat tajam penuh amarah.


"Bajingan! Siapa dia? Berani sekali menyentuh wanitaku!"geram Mandala dengan wajah yang sudah merah padam.


"Lepaskan! Dasar brengseek!"


Suara Kahyang terdengar lagi namun setelah itu sambungan telepon terputus.


"Hei! Berhenti!"teriak seorang security yang baru saja hendak menutup pintu gerbang kampus setelah sebuah mobil keluar dari kampus. Namun belum sempat ditutup, dengan cepat mobil Mandala masuk ke area kampus dengan kecepatan tinggi. Saat menelpon Kahyang, Mandala memang sudah tidak jauh dari kampus Kahyang.


'Siapa dia? Dasar tidak tahu aturan!"umpat sang security,"Kamu tunggu di sini! Aku akan mengejar orang itu,"ujar security itu pada temannya dan langsung berlari menyusul mobil yang menerobos masuk ke area kampus'itu.


"Iya,"teriak temannya.


Mandala bergegas keluar dari mobilnya dan berlari di koridor kampus sambil sesekali menatap jam tangannya.


"Kemana larinya orang tadi? Cepat sekali lari nya,"gumam security yang mengejar Mandala, menatap ke segala arah mencari keberadaan Mandala seraya mengatur napas.


Sedangkan disisi lain, Mandala terus berlari dengan cepat.


"Hei! Mau kemana kamu?"dua orang pemuda menghadang Mandala yang akan melewati mereka. Mandala ingin menerobos keduanya, tapi keduanya menghalanginya Mandala.


"Minggir! Atau aku patahkan tangan dan kaki kalian!"geram Mandala karena melihat Kahyang diseret seseorang dan berteriak meminta tolong.

__ADS_1


"Coba saja!"tantang kedua pemuda itu kompak, semakin membuat Mandala marah.


Tanpa bicara lagi, Mandala langsung menyerang keduanya. Saat keduanya ingin membalas meninju Mandala, pria itu langsung memberi pukulan bertubi-tubi. Hingga akhirnya Mandala menangkap kedua tangan dua pemuda itu dan memelintir tangan keduanya.


Krak! Krak!


"Akkhh!"


Krak! Krak!


"Akkh!"


Mandala benar-benar mematahkan tangan dan kaki kedua pemuda itu. Tidak cukup sampai disitu, Mandala menendang keduanya hingga jatuh tersungkur. Mandala yakin jika kedua pemuda di hadapannya ini berkomplot dengan orang yang saat ini sedang menarik paksa Kahyang.


Mandala kembali berlari menuju sebuah ruangan. Hingga suara yang sangat familiar itu terdengar lagi.


"Tidak! Jangan! Maaannnn!!!!"


"Brakk!"


Suara teriakan itu terdengar bersamaan dengan Mandala yang menendang pintu di depannya hingga terbuka lebar. Pintu yang memang lupa dikunci oleh Roger. Mata Mandala seperti bola api yang akan melahap apapun yang ada di depannya.


Kahyang menatap orang yang membuka pintu dengan kasar itu dengan deraian air mata,"Mann!"panggil Kahyang dengan suara serak diantara isak tangisnya. Tatapan penuh harap agar diselamatkan terlihat di manik matanya. Sedangkan Roger sangat terkejut dengan kehadiran Mandala.


"Brengseek! Beraninya kamu memperlakukan dia seperti itu!"umpat Mandala saat melihat tangan dan kaki Kahyang diikat. Apalagi saat melihat pemuda di depannya sudah melepaskan baju dan ikat pinggangnya.


Dengan amarah yang meledak-ledak Mandala langsung memberikan bogeman mentah ke wajah Roger.


Mandala menyerang Roger penuh emosi dan bertubi-tubi. Roger pun kewalahan menghadapi Mandala. Postur tubuh yang kalah tinggi dan kalah besar serta kemampuan bela diri yang nampak timpang membuat Roger tidak bisa menghindari serangan Mandala apalagi membalasnya.


"Maann!"teriak Kahyang mencoba menghentikan Mandala yang menghajar Roger tanpa ampun. Kahyang tidak ingin Mandala kalap dan sampai membuat nyawa orang melayang.


Roger benar-benar babak belur dihajar Mandala, bahkan wajah Roger sudah susah dikenali lagi. Tangan dan kakinya pun dipatahkan Mandala.


"Jika saja membunuh itu tidak berdosa. Aku pasti akan membunuhmu!"geram Mandala dengan suara penuh amarah.


"Akkh!"pekik Roger saat Mandala menginjak dadanya. Bahkan Roger tidak bisa melihat dengan jelas karena darah yang membasahi wajahnya masuk ke dalam matanya. Pemuda itu benar-benar sudah tidak berdaya sama sekali.


Mandala membuka ikatan di tangan dan kaki Kahyang, dengan perasaan bersalah. Hampir saja anak dan istrinya celaka. Jika dirinya tidak sampai tepat waktu, entah apa yang akan terjadi pada anak dan istrinya.

__ADS_1


"Maaf! Aku tidak menjagamu dengan baik. Aku telah lalai menjagamu,"ucap Mandala merengkuh Kahyang dalam pelukannya, memeluk erat tubuh wanita yang sedang mengandung darah daging nya itu. Beberapa kali mengecup kepala Kahyang.


"Mann!"ucap Kahyang lirih, terisak dalam pelukan Mandala dengan tangan yang bergetar memeluk erat Mandala.


"Jangan takut! Ada aku!"ucap Mandala lembut.


Selama bersama Kahyang, baru malam ini Kahyang memanggil nama Mandala. Sayangnya, Kahyang memanggil nama Mandala dalam situasi yang seperti ini.


"Kita pulang!"ucap Mandala menghapus air mata Kahyang, kemudian menggendong Kahyang keluar dari ruangan itu.


Sedangkan Riska yang merasa Kahyang pergi terlalu lama pun, berinisiatif mencari Kahyang. Karena sudah berulang kali menghubungi Kahyang, namun nomor handphone Kahyang malah tidak aktif. Riska menjadi cemas dan mencari Kahyang ke toilet. Namun di dalam toilet malah tidak ada satu orang pun.


Riska masih terus mencari Kahyang hingga melihat seorang security yang melintas. Riska terus berjalan menghampiri security itu bermaksud bertanya. Mungkin saja security itu melihat Kahyang.


Satpam yang tadi mengejar Mandala nampak terkejut saat menemukan dua orang pemuda yang merintih kesakitan terkapar di koridor kampus. Begitu pula dengan Riska yang saat ini berdiri tidak jauh dari security itu. Dan security itu semakin terkejut, saat melihat pria yang dikejarnya tadi keluar dari sebuah ruangan sambil menggendong seorang gadis yang wajahnya di sembunyikan di dada pria itu. Security itu bergidik ngeri saat melihat aura pria yang dikejarnya tadi terlihat begitu dingin dan suram.


Begitu pula dengan Riska yang tak kalah terkejut melihat seorang pria dengan aura yang begitu dingin dan suram menggendong seorang gadis yang menyembunyikan wajahnya di dada pria itu dan memeluk leher pria itu.


Riska berdiri kaku dengan tatapan ke arah pria yang melewatinya itu. Namun tiba-tiba Riska terhenyak saat mengingat gaun yang dipakai gadis di gendongan pria tadi sama persis dengan gaun yang dikenakan Kahyang.


"Ka..Kahyang? A.. apa gadis yang digendong pria tadi adalah.. adalah Kahyang?"gumam Riska masih berdiri kaku di tempatnya, menatap punggung pria yang diduga membawa Kahyang tadi semakin menjauh.


"Halo, Pak! Maaf menganggu. Tapi ada tiga orang pemuda yang babak belur di kampus,"lapor security tadi setelah memeriksa ruangan tempat pria yang dikejarnya tadi keluar.


Suara security itu membuat Riska tersadar dari rasa terkejutnya. Riska kembali menatap dua pemuda yang masih merintih kesakitan di atas lantai.


"Apa kamu mengenal mereka berdua?"tanya security itu pada Riska seraya menunjuk dua pemuda yang nampak mengenaskan.


'Tidak, Pak,"sahut Riska setelah mengamati wajah keduanya yang babak belur.


"Coba kamu lihat pemuda yang ada di ruangan itu! Mungkin kamu mengenalinya,"ujar security itu menunjuk ruangan tempat Roger terkapar mengenaskan.


Riska berjalan menuju ruangan yang ditujukan oleh security. Saat masuk ke dalam ruangan itu, Riska berusaha keras untuk mengenali wajah orang yang sudah babak belur itu.


"Dia sepertinya orang yang bernama Roger, Pak. Dia dan dua pemuda tadi bukan mahasiswa di kampus ini,"ucap Riska setelah beberapa lama mengamati wajah Roger.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2