
Mandala terbangun dengan posisi masih memeluk Kahyang. Senyuman indah terbit di bibirnya saat mengingat percintaan mereka semalam. Betapa bahagianya hati Mandala saat mengingat betapa gelisah nya Kahyang saat berada dalam kungkungannya dan menjerit memanggil namanya. Semua suara yang keluar dari mulut Kahyang terdengar indah di telinganya. Apalagi saat Kahyang memanggil namanya.
Perlahan Mandala beranjak dari tidurnya, mengusap lembut perut Kahyang, kemudian mengecup perut Kahyang dengan penuh kasih sayang.
"Akhirnya papa bisa menengok mu. Apa kamu senang?"ucap Mandala lirih, menatap perut Kahyang, seolah sedang berbicara dengan anaknya yang berada di dalam kandungan Kahyang.
Mandala merapikan selimut Kahyang, kemudian mengelus kepala Kahyang dengan lembut. Wanita itu terlihat kelelahan setelah semalam bergulat cukup lama dengannya semalam. Mandala mengecup kening Kahyang, kemudian bergegas membersihkan diri saat menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Beberapa menit kemudian, Mandala keluar dari dalam kamar mandi dan bersiap pergi kekantor.
"Aku pergi!"ucap Mandala setelah mengecup kening Kahyang yang masih terlelap. Pria itu bergegas keluar dari kamar itu dan berangkat ke kantornya.
Beberapa menit setelah Mandala pergi, Kahyang membuka matanya. Matanya menelisik mencari keberadaan Mandala. Tapi Mandala tidak ada di ruangan itu. Di kamar mandi pun tidak ada suara apa-apa, yang menandakan Mandala juga tidak ada di dalam kamar mandi.
"Apa dia sudah pergi?"gumam Kahyang, kemudian menatap jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Kahyang menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya saat mengingat apa yang mereka lakukan semalam. Mandala benar-benar membuatnya melayang dan melupakan segalanya. Hanya rasa nikmat yang bisa dirasakannya semalam.
Perlahan Kahyang turun dari ranjang tempatnya berbaring, kemudian berjalan menuju kamar mandi. Kahyang melihat betapa banyaknya tanda yang ditinggalkan Mandala semalam. Namun malah terbit senyuman di bibir wanita muda yang sedang mengandung itu.
Sejak kejadian malam itu, mereka nampak semakin dekat dan bahagia. Walaupun Kahyang tidak pernah mengatakan mencintai nya, namun bisa dekat, tertawa dan bercanda bersama Kahyang sudah cukup bagi Mandala. Seolah mereka lupa bahwa pernikahan mereka hanya sah di mata hukum, tapi tidak dimata agama. Mereka juga lupa bahwa waktu kebersamaan mereka tidak akan lama lagi.
Itulah manusia, banyak yang lupa bahkan kehilangan akal sehatnya saat sedang jatuh cinta. Tidak perduli dengan halal atau haram, saat mata dan hati mereka telah terjangkit virus yang namanya cinta. Kata orang, saat jatuh cinta, dunia serasa milik berdua dan yang lain ngontrak. Tidak perduli dengan anggapan dan apa kata orang, yang penting merasa bahagia dengan orang yang mencintai dan dicintainya. Walaupun definisi bahagia bagi setiap orang itu berbeda, namun mereka akan tetap sepakat mengatakan kata yang sama saat bisa bersama dengan orang yang dicintai dan mencintai mereka, yaitu "BAHAGIA "
Sampai saat ini, Mandala kembali menahan diri agar tidak menerkam Kahyang seperti malam itu. Semenjak mereka menikah, hanya sekali mereka melakukan hubungan suami istri. Dan itupun tanpa direncanakan. Mandala tidak ingin Kahyang menganggap bahwa cintanya hanya sekedar nafsu belaka. Terlebih lagi, memang tidak seharusnya mereka melakukan hubungan suami-istri, karena mereka hanya menikah sah dimata hukum, tapi tidak menikah secara agama.
Di sisi lain.
"Pa, kenapa papa tidak mencari Kahyang? Mama mengkhawatirkan keadaan nya. Sudah tujuh bulan dia pergi, tapi papa malah tidak mencarinya,"keluh Mala.
"Mama tahu sendiri, Kahyang itu keras kepala. Percuma juga mencarinya. Biarkan saja dia merasakan bagaimana kerasnya hidup di luar sana. Dua bulan lagi, baru papa akan mencarinya,"ujar Anggoro datar.
"Tapi mungkin sebentar lagi Kahyang akan melahirkan, pa. Bagaimana jika tidak ada yang mengurusinya saat dia melahirkan? Kasihan dia, pa!"ujar Mala mencoba membujuk Anggoro.
"Itu risikonya! Siapa suruh dia mempertahankan anak haram itu,"ketus Anggoro.
__ADS_1
"Tidak ada yang namanya anak haram, pa. Tidak ada seorang anakpun yang bisa memilih dari rahim mana mereka dilahirkan. Tidak ada dari mereka yang tahu bagaimana mereka dihadirkan di dunia ini. Dengan cara halal atau haram, dengan penuh cinta dan kasih sayang atau kebencian. Jadi jangan pernah menghakimi mereka dan memanggil mereka dengan sebutan anak haram. Perbuatan orang tua mereka lah yang haram, bukan mereka yang haram,"ujar Mala dengan lembut. Mala tahu bagaimana keras kepalanya suaminya.
"Mama tidak usah menceramahi papa. Apa mama ingin beralih profesi dari ibu rumah tangga menjadi ustadzah?"ketus Anggoro membuat Mala hanya bisa menghela napas panjang.
Memang susah bicara dengan orang yang keras kepala. Entah mengapa Mala bisa mencintai Anggoro. Mungkin benar bahwa cinta itu buta, tidak bisa melihat keburukan dan kekurangan orang yang dicintainya. Bagi orang yang sedang jatuh cinta, orang yang dicintainya adalah orang yang paling sempurna dimatanya.
***
Malam ini Mandala kembali pulang ke rumahnya, karena Prasetyo kembali makan makan malam di rumah kedua orang tuanya.
"Apa kabar, Om?"sapa Mandala pada Prasetyo.
"Baik. Sudah lama kita tidak bertemu,"sahut Prasetyo seraya menepuk pundak Mandala.
"Iya, Om,"sahut Mandala tersenyum tipis.
Setelah saling menyapa, mereka pun makan malam bersama seraya mengobrol ringan. Setelah makan malam selesai, mereka pun duduk di ruang keluarga.
"Aku terserah kamu saja. Kapan pun kamu mau, kami akan selalu siap,"jawab Agung tanpa keraguan,"Bukankah begitu, ma?"tanya Agung pada Prameswari.
"Iya,"sahut Prameswari singkat dengan senyum tipis di bibirnya.
Mandala yang mendengar keputusan kedua orang tuanya pun hanya bisa menunduk pasrah. Sekarang Mandala semakin menyadari, bahwa kebersamaannya dengan Kahyang tidak akan lama lagi. Walau ada rasa tidak rela dalam hatinya jika harus berpisah dengan Kahyang.
"Bagaimana dengan mu, Man?"tanya Prasetyo membuat Mandala terhenyak dari lamunannya.
"Eh, aku terserah kalian saja,"sahut Mandala tersenyum tipis, tempatnya senyum yang dipaksakan.
"Om senang mendengarnya. Apa kira-kira besok kamu punya waktu luang? Jika ada, Om ingin mengajakmu ke perusahaan Om dan memperkenalkan kamu dengan orang-orang kepercayaan Om. Sebentar lagi kamu akan menjadi menantu Om. Jadi cepat atau lambat perusahaan itu akan menjadi tanggung jawab mu,"ujar Prasetyo penuh harap pada Mandala.
"Besok jadwal aku padat. Tapi lusa akan aku kosongkan jadwalku, agar aku bisa pergi bersama Om,"sahut Mandala.
"Baiklah, kita pergi ke perusahaan Om, lusa,"sahut Prasetyo dengan wajah sumringah.
__ADS_1
Setelah berbincang lumayan lama, akhirnya Prasetyo pun pamit pulang. Sedangkan Agung menahan Mandala, saat putranya itu ingin pamit kembali ke apartemen nya.
"Apa wanita itu sudah melahirkan?"tanya Agung.
"Belum,"sahut Mandala singkat.
"Kapan prediksi kelahiran nya?"tanya Prameswari yang sedari tadi tidak banyak bicara.
"Kata dokter, sekitar dua minggu lagi,"sahut Mandala.
"Begitu dia melahirkan, segera ceraikan dia. Agar saat kamu menikah dengan putri Prasetyo nanti, kamu sudah tidak ada hubungan lagi dengan wanita itu,"ujar Agung.
"Jika tidak ada lagi yang ingin papa bicarakan, aku balik dulu ke apartemen," sahut Mandala datar tanpa menanggapi kata- kata Agung.
Sudah bosan rasanya Mandala mendengar Agung mengingatkan nya untuk bercerai dengan Kahyang. Setiap kali Agung mengatakan kata-kata itu, hati Mandala menjadi sangat sedih. Kenyataannya bahwa dirinya tidak bisa memiliki Kahyang selamanya membuat sesak dadanya. Terdengar puitis saat seseorang mengatakan bahwa cinta sejati tidak harus memiliki. Walau kalimat itu terdengar puitis dan bijaksana, tapi nyatanya menyesakkan dada bagi yang mengalaminya.
"Man, ijinkan mama bertemu Kahyang,"pinta Prameswari.
"Untuk apa mama menemuinya? Setelah ini Mandala akan menceraikannya. Lebih baik kita tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Papa tidak ingin hubungan Manda dan perempuan itu terbongkar karena mama,"ujar Agung tidak setuju.
"Papa benar. Mama tidak perlu bertemu dengan Kahyang. Aku pulang!"pamit Mandala membuat Prameswari hanya bisa menghela napas panjang.
...π"Mau tak mau kita harus menerima kenyataan, bahwa tidak selamanya cinta itu manis rasanya."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1