
Kahyang mengendarai mobilnya menuju kantor Mandala. Selama ini Kahyang belum pernah sekalipun pergi kekantor Mandala. Kahyang jadi penasaran, sepertinya apa tempat Mandala selama ini bekerja. Kahyang turun dari mobil nya dan langsung menuju meja resepsionis. Wajah Kahyang yang cantik dan penampilannya yang simpel tapi elegan membuat semua orang yang melihatnya merasa kagum.
Di depan ruangan Mandala.
"Tok! Tok! Tok!"
Sheila mengetuk pintu ruangan Mandala. Sedangkan Andini segera pergi dari tempat itu.
"Masuk!"sahut Mandala dari dalam.
"Ceklek"
Sheila masuk ke dalam ruangan itu, sedangkan Mandala nampak fokus pada layar laptopnya tanpa melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya.
"Mana dokumennya?"tanya Mandala masih fokus pada layar laptopnya. Mengira yang masuk ke dalam ruangan itu adalah sekretarisnya.
"Ruangan kamu sekarang terlihat berbeda,"ujar Sheila melangkah mendekati Mandala.
Mendengar suara yang familiar di telinga nya, Mandala pun mengangkat wajahnya dan menatap Sheila.
"Kau? Untuk apa kamu kemari? Siapa yang menyuruhmu masuk?"tanya Mandala terdengar dingin.
"Bukankah tadi kamu yang menyuruh aku masuk? Kenapa sekarang kamu begitu dingin padaku, Man? Apa kamu tidak ingat kita sudah bertahun-tahun menjalin hubungan. Bahkan hubungan kita sangat dalam hingga sampai melakukan hubungan suami-istri,"ujar Sheila yang malah duduk di meja Mandala, menghadap Mandala.
Sheila me-nyillang kan kaki kirinya di atas kaki kanannya. Dengan paha yang terekspos sempurna karena memakai rok mini ketat dan pendek, baju ketat dengan kerah model V hingga belahan dadanya terlihat menggoda.
Di lantai bawah.
"Permisi, saya mengantar dokumen Tuan Mandala,"ucap Kahyang tersenyum tipis menunjukkan dokumen yang dibawanya.
"Oh ya, silahkan langsung ke lantai dua puluh, nona! Ada lift di sebelah kanan sana,"ucap salah satu resepsionis itu ramah seraya menunjukkan tempat lift berada.
"Terimakasih,"sahut Kahyang tersenyum manis kemudian berjalan menuju arah yang ditunjukkan oleh resepsionis tadi.
"Kenapa langsung disuruh ke ruangan Tuan Mandala?"tanya resepsionis satunya.
"Tadi, sekretaris Tuan Mandala berpesan, kalau ada orang yang ingin mengantarkan dokumen Tuan Mandala, langsung suruh naik saja katanya,"sahut teman resepsionis itu.
__ADS_1
"Perempuan itu siapa, ya? Cantik sekali,"
"Aku baru kali ini melihatnya,"
"Masih muda,"
"Kira-kira siapa, ya, gadis itu?"
"Sudah punya pacar belum, ya?"
"Aku mau jadi pacarnya,"
Itulah bisik-bisik orang-orang yang melihat Kahyang. Sedangkan Kahyang yang sudah biasa menjadi pusat perhatian pun terlihat biasa saja.
"Eh, bukannya itu Andini?"gumam Kahyang saat pintu lift akan tertutup, tidak sengaja melihat Andini yang lewat di depan lift yang dinaiki Kahyang.
"Keluar lah dari ruangan ku! Aku sibuk! Tidak punya waktu untuk kamu,"ucap Mandala kembali fokus pada laptopnya tanpa menghiraukan keberadaan Sheila.
"Man, aku sangat merindukan saat-saat kita bersama. Aku masih mencintai mu, Man. Sedikitpun cintaku padamu tidak pernah berubah. Kenapa kamu tidak mau memperjuangkan cinta kita, Man? Padahal sudah bertahun-tahun kita menjalin hubungan. Kamu jangan hanya mengambil keuntungan meniduri aku, setelah itu mencampakkan aku. Ini tidak adil bagi ku, Man,"ujar Sheila memasang wajah sedih.
"Tak"
"Aku tidak pernah memaksamu untuk tidur dengan ku. Kamu sendiri yang menyerahkan diri mu padaku. Dan itupun karena aku mabuk dan kamu menggoda aku. Jadi, itu bukan salah ku. Kamu melakukannya tanpa aku paksa. Kita sudah putus satu tahun lebih. Aku juga sudah memiliki anak dan istri. Jadi jangan pernah berharap jika aku akan kembali padamu,"ujar Mandala kembali mengetik di laptopnya.
"Tapi kamu yang telah mengambil kesucianku, Man! Kamu telah merusak aku,"ucap Sheila yang tidak terima jika Mandala tidak lagi mencintai nya dan campakkan dirinya.
Mandala kembali menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard laptopnya kemudian menatap Sheila dengan tatapan dingin.
"Kamu pikir aku bodoh? Kamu sudah tidak suci lagi saat aku meniduri mu,"ucap Mandala sinis.
"Jelas-jelas ada darah di sprei waktu itu, dan kamu mengatakan jika aku sudah tidak suci lagi?"ucap Sheila terlihat kecewa. Selama ini Sheila mengira jika Mandala percaya bahwa pria itulah yang telah mengambil kesucian nya. Mengingat saat itu Mandala sedang mabuk. Namun nyatanya dugaannya salah. Ternyata pria itu sudah tahu jika dirinya sudah tidak perawan lagi.
"Aku bukan orang yang mudah kamu bodohi. Kamu menumpahkan wine di atas sprei. Dan waktu itu aku juga tidak terlalu mabuk. Aku dapat merasakan jika aku bukanlah yang pertama bagimu. Bahkan milik istriku yang sudah melahirkan seorang anak dengan persalinan normal saja lebih sempit dari milikmu,"ucap Mandala yang begitu menusuk di telinga dan hati Sheila.
Sheila mengepalkan tangannya saat dirinya dibanding-bandingkan dengan istri Mandala. Tidak terima? Tentu saja. Sheila merasa sangat terhina dengan kata-kata Mandala barusan.
"Permisi, boleh saya bertemu dengan Tuan Mandala?"tanya Kahyang yang sudah berdiri di depan meja sekretaris Mandala yang sedang menunduk memeriksa beberapa dokumen. Pria itu pun mengangkat wajahnya saat mendengar suara Kahyang.
__ADS_1
Sekretaris Mandala memperhatikan Kahyang seraya mengernyitkan keningnya. Pria itu seperti sedang mengingat-ingat dan beberapa saat kemudian nampak terkejut,"A.. ada nyonya. Silahkan masuk!"ucap sekretaris Mandala langsung berdiri dan mempersilahkan Kahyang dengan isyarat tangan mengarah ke ruangan Mandala.
"Terimakasih,"ucap Kahyang tersenyum tipis. Sempat bingung dengan reaksi sekretaris Mandala.
"Sama-sama, nyonya,"sahut sekretaris Mandala masih menatap Kahyang.
"Ternyata aslinya lebih cantik dari pada fotonya. Benar-benar cocok menjadi istri bos,"gumam sekretaris Mandala, namun sesaat kemudian wajahnya berubah menjadi pias,"Mati aku! Bukankah di dalam masih ada Sheila? Aduh! Gimana kalau Tuan sampai marah padaku,"gumam sekretaris Mandala menjadi panik sendiri.
Sheila menjadi sangat marah mendengar kata-kata Mandala,"Mandala! Kamu..."
"Ceklek "
Mendengar suara pintu yang dibuka dari luar Sheila pun langsung turun dari meja dan langsung mencium bibir Mandala. Entah apa yang ada dalam pikiran perempuan itu.
"Akkh!"
"Brug!'
Mandala langsung mendorong Sheila dan mengelap bibirnya yang di cium Sheila barusan. Entah mengapa Mandala merasa jijik saat di cium wanita yang pernah menjadi kekasihnya selama beberapa tahun itu.Sedangkan Sheila nampak meringis menahan sakit karena di dorong Mandala dengan kuat hingga terjatuh di lantai.
"Dasar wanita sialan! Berani-beraninya kamu mencium aku dengan bibir kotor mu itu! Patih! Seret keluar wanita ini! Aku akan memecat mu jika dia sampai masuk lagi ke ruanganku!"teriak Mandala dengan wajah yang terlihat merah padam menatap tajam pada Sheila, mengira yang masuk ke ruangannya adalah Patih.
"Man, kamu kasar sekali! Tega sekali padaku,"ucap Sheila sambil menangis.
Sedangkan Kahyang nampak masih berdiri diam di depan pintu. Sekretaris Mandala yang bergegas menyusul Kahyang pun terdiam.
Karena Patih tidak juga segera membawa Sheila keluar, Mandala pun kembali berteriak,"Patih! Ap...."kata-kata Mandala menggantung saat menatap kearah pintu dan melihat Kahyang sedang berdiri melipat kedua tangannya di depan dada,"Sayang, kamu disini?"tanya Mandala bergegas menghampiri Kahyang. Suara Mandala yang tadinya terdengar menggelegar tiba-tiba menjadi lembut dan wajah yang tadinya penuh amarah berubah menjadi panik.
...π"Kesalahan di masa lalu tidak pernah bisa dihapus. Karena hidup adalah seni menggambar tanpa penghapus."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
__ADS_1
To be continued