Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
108. Memaafkan


__ADS_3

Bersama Yudha dan Riska, Mala membawa Kahyang ke sebuah ruangan, dimana Prasetyo baru saja keluar dari ruangan itu.


"Pa, apa suamiku ada di ruangan ini? Apa dia baik-baik saja?"tanya Kahyang masih dengan wajah khawatir nya.


"Masuklah, dan lihat sendiri!"ucap Prasetyo membuka pintu ruangan yang baru saja di tutupnya tadi.


Kahyang bergegas masuk dan melihat Mandala yang sedang duduk. Kepala dan lengan pria itu nampak dililit dengan perban.


"Mann!"panggil Kahyang langsung berlari menghampiri Mandala dan memeluk Mandala.


"Awhh,"rintih Mandala.


Mendengar Mandala merintih kesakitan, Kahyang pun langsung melepaskan pelukannya. Agung dan Prameswari yang masih ada dalam ruangan itu pun memilih keluar dari ruangan itu.


"A... apa aku menyakiti mu? Mana yang sakit?"tanya Kahyang terlihat khawatir, menatap seluruh tubuh Mandala.


"Yang sakit yang di bawah, sayang,"sahut Mandala dengan ekspresi tidak berdaya.


"Yang mana? Katakan padaku!"ucap Kahyang masih terlihat khawatir.


Mandala menarik tangan Kahyang pelan, dan Kahyang pun mendekat ke arah Mandala. Mandala mendekatkan bibirnya di leher Kahyang.


"Yang di bawah sana sakit sekali, sayang! Sudah satu minggu tidak kamu rendam dengan kehangatan,"bisik Mandala dengan suara yang terdengar berat. Membuat Kahyang membulatkan matanya.


"Man! Jangan bercanda!"sergah Kahyang kesal seraya mendorong dada Mandala.


"Auwh! Sakit, sayang!"keluh Mandala dengan suara manja.


"Salah sendiri! Kamu sudah sakit seperti ini masih juga bercanda,"gerutu Kahyang bersungut-sungut.


Mandala kembali menarik lembut tangan Kahyang agar mendekat padanya. Sedangkan sebelah tangannya memegang pipi Kahyang.


"Maaf! Aku tidak menepati janji untuk makan siang dengan mu. Dan maaf, aku telah membuatmu khawatir,"ucap Mandala kemudian mengecup lembut bibir Kahyang beberapa saat.


"Aku takut kehilanganmu. Aku pikir, aku tidak akan melihat mu lagi, Man,"ucap Kahyang memeluk erat tubuh suaminya dengan air mata yang menetes membasahi pipinya. Mandala pun membalas pelukan Kahyang, mengecup puncak kepala Kahyang dengan penuh kasih sayang dan mengelus punggung Kahyang.

__ADS_1


"Jangan menangis! Aku baik-baik saja,"ucap Mandala mendekap erat tubuh istrinya.


"Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku saat melihat mobil mu meledak di depan mataku,"ujar Kahyang sesenggukan.


Mandala melerai pelukannya, Lalau menghapus air mata Kahyang,"Yang penting, sekarang aku baik-baik saja. Kamu jangan menangis lagi! Aku lebih senang saat melihat kamu tersenyum. Karena kamu terlihat jelek saat menangis,"goda Mandala.


"Man!"bentak Kahyang terlihat kesal.


"Auwh! Auwh! Sakit, sayang!"keluh Mandala saat Kahyang mencubit Mandala.


"Siapa suruh kamu malah menggodaku,"ketus Kahyang.


"Aku lebih suka melihat kamu marah dari pada melihat kamu sedih. Kamu lebih menggemaskan jika sedang ngambek,"ujar Mandala tersenyum mencubit pipi Kahyang gemas.


Riska yang melihat kemesraan sepasang suami-isteri itu pun memilih pergi meninggalkan ruangan itu. Begitu pula dengan Yudha yang tidak sanggup melihat kemesraan Kahyang dan Mandala lebih lama.


Sakit memang melihat orang yang kita cintai bersama orang lain. Namun apa daya jika cintanya bukan untuk kita lagi? Untuk apa memiliki raganya, jika tidak bisa memiliki hatinya? Kita tidak akan bahagia jika hanya memiliki raga tanpa cintanya. Jalan satu-satunya adalah mengikhlaskan, walaupun tidak mudah dilakukan.


"Aku ikhlas melepas mu, Yang. Mungkin kamu akan lebih bahagia bersama dia, dari pada bersama aku,"gumam Yudha melangkah meninggalkan rumah sakit tempat Mandala di rawat.


Setelah dirawat selama satu minggu di rumah sakit, akhirnya Mandala sudah diijinkan untuk pulang. Dan disini lah Prasetyo, keluarga Agung, dan keluarga Anggoro semuanya berkumpul.


"Anggoro, kamu bisa bebas karena Mandala dan Kahyang membuat Aldi mencabut laporannya. Mulai saat ini, semua bisnis perhotelan kamu akan diurus Mandala. Aku memiliki 50 persen saham di perusahaan mu, jadi kamu tidak bisa menentang keputusan ku. Dan jika kamu membuat ulah lagi, aku tidak akan membiarkan seorang pun mengeluarkan kamu dari jeruji besi,"ujar Prasetyo tegas.


"Maafkan aku! Aku terlalu meninggikan ego dan harga diriku. Hingga aku melakukan semua kebodohan ini. Maafkan papa, Kahyang, Mandala!"ucap Anggoro di depan semua orang.


"Aku memaafkan papa. Aku hanya ingin papa memberikan restu untuk hubungan kami berdua. Tanpa restu dari kalian semua, kami tidak akan bahagia,"ucap Mandala yang sedang memangku Rayno, sebelah tangan nya menggenggam tangan Kahyang dengan lembut dan sebelah nya lagi memeluk Rayno.


"Aku juga memaafkan papa. Tolong restui kami, pa!"pinta Kahyang.


"Aku restui kalian. Semoga kalian bahagia,"ucap Anggoro yang pada akhirnya menyerah untuk memisahkan anak dan menantunya. Bagaimanapun dirinya mencoba memisahkan anak dan menantunya, nyatanya mereka tetap tidak terpisahkan. Bahkan jika Mandala dan Kahyang tidak meminta Aldi mencabut laporannya, Anggoro pasti akan mendekam lama di penjara karena telah melakukan percobaan pembunuhan.


Mandala berdiri di balkon kamarnya, memeluk Kahyang dari belakang. Menatap langit yang bertaburan bintang.


"Kamu tahu, betapa sedihnya aku waktu itu? Waktu aku hanya bisa menatap kamu berdiri di balkon kamar mu dari jauh.Waktu itu, bukan sekedar status yang aku inginkan dari hubungan kita. Karena hati ku sudah terpaut dan terlanjur mencintaimu. Aku tidak pernah menyangka jika akhirnya aku bisa memiliki mu seutuhnya, bukan sekedar status,"ucap Mandala memeluk Kahyang penuh cinta.

__ADS_1


"Aku juga tidak menyangka jika kita akhirnya bisa bersama. Aku bahkan hampir mati karena hampir jatuh dari balkon saat akan melarikan diri dari pernikahan kita,"sahut Kahyang tertawa mengingat kebodohan nya sendiri.


Bahagia. Hanya itulah saat ini yang mereka rasakan. Setelah melalui begitu banyak cobaan yang menguras emosi dan air mata.


Sejatinya bahagia itu sederhana, asal kita mau mensyukuri apa yang kita punya dan menjauhkan hati kita dari virus yang namanya iri, dengki dan benci.


...🌟"Cinta adalah saat hatimu merasa bahagia hanya dengan melihat senyuman nya saja."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


Sinopsis


"Kak, aku.. aku minta maaf karena telah memaksa kakak menikahi aku,"


"Jika kakak tidak menyukai aku. Aku tidak akan memaksa kakak untuk terus bersamaku. Kakak boleh menceraikan aku, kapanpun kakak mau,"


"Kamu ini bicara apa? Apa kamu pikir pernikahan itu sebuah permainan?"


Dimas Anggara adalah seorang sales pakaian keliling. Dulunya bekerja di sebuah perusahaan namun berakhir dengan namanya di blacklist oleh perusahaan tempatnya bekerja karena masalah cinta.


Pria tampan bertubuh atletis dan berkulit putih itu di kejar-kejar seorang gadis SMU yang bernama Ayana. Gadis tengil itu awalnya selalu bertengkar dengan Dimas, namun akhirnya malah jatuh cinta pada Dimas.


Apakah gadis itu mampu menaklukkan hati sales pakaian keliling yang sering diolok-olok nya dengan gelar SPd alias Sales Penjual daster itu?


Yuk, ikuti ceritanya!


Ini sinopsis karya aku yang masih ongoing yang berjudul "SPd (Sales Penjual daster). Mampir, yuk!


Terimakasih atas dukungan reader semua! Jika ada waktu mampir, ke karya aku yang lain, ya! Love you all! πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


.


The end

__ADS_1


__ADS_2