Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
105. Beraksi


__ADS_3

Mandala baru saja keluar dari ruangan meeting, diikuti Patih dan sekretaris nya, menuju ruangannya. Mandala langsung duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Patih dan sekretarisnya menyusun berkas dan dokumen yang mereka bawa ke atas meja kerja Mandala.


"Tadi, kamu bilang, aku harus makan siang bersama siapa?"tanya Mandala menatap sekretarisnya.


"Ah iya, saya lupa mengatakannya pada, Tuan. Klien yang akan makan siang dengan tuan membatalkan janjinya karena istrinya melahirkan,"sahut sekretaris Mandala.


"Oh, begitu,"sahut Mandala nampak tidak masalah dengan janji yang tiba-tiba di batalkan itu. Mandala mengambil handphonenya dari sakunya.


"Halo, sayang! Apa kamu masih di kampus?"tanya Mandala yang menghubungi Kahyang.


"Iya. Memangnya kenapa?"tanya Kahyang dari sambungan telepon.


"Jam kuliah kamu akan selesai sebelum makan siang, 'kan?"tanya Mandala tanpa menjawab pertanyaan Kahyang.


"Iya. Memangnya kenapa?"tanya Kahyang dengan pertanyaan yang sama dengan sebelumnya.


"Nanti aku jemput kamu, ya? Kita makan siang bersama!"ajak Mandala dengan seulas senyum di bibirnya.


"Hum, aku tunggu,"sahut Kahyang, dan Mandala pun mengakhiri panggilannya.


Mandala mengendarai mobilnya keluar dari perusahaan nya menuju kampus Kahyang. Jarang sekali mereka bisa makan siang bersama. Karena itu, setiap ada kesempatan untuk makan siang bersama, Mandala tidak akan pernah melewatkannya.


Disisi lain.


"Halo!"ucap Sheila menerima panggilan masuk di handphonenya.


"Cepat bersiap-siap lah! Target keluar dari perusahaannya. Aku akan terus menginformasikan keberadaan target. Kamu ambillah truk yang sudah disiapkan di tempat yang sudah aku beri tahu kemarin,"ucap seorang pria dari sambungan telepon.


"Oke. Aku on the way sekarang,"sahut Sheila tersenyum miring,"Waktunya beraksi,"gumam Sheila.


Sheila segera mengganti pakaiannya. Memakai celana jeans berwarna hitam, Hoodie kerudung yang dipakai untuk menutupi kepalanya, masker yang menutupi wajahnya, dan kacamata berwarna hitam.


"Jangan salahkan aku, jika aku melenyapkan kamu. Ini semua adalah salah kamu. Jika kamu memilih aku dan meninggalkan dia, kamu tidak akan mungkin harus dilenyapkan seperti ini. Semua ini adalah pilihan kamu,"gumam Sheila dengan senyuman yang lebih mirip seringai.


Sheila meninggalkan apartemennya menuju sebuah tempat. Tempat di mana sebuah truk besar sudah di siapkan untuk dikendarai oleh nya. Seseorang menyerahkan kunci truk itu pada Sheila.


"Aku sudah siap. Sekarang aku harus kemana?"tanya Sheila dalam sambungan telepon. Perempuan itu sudah duduk di balik kemudi truk.

__ADS_1


Di ruangan Aldi.


"Tuan, saya mendapat informasi. Tuan Anggoro bekerja sama dengan Sheila untuk melenyapkan Tuan Mandala,"ucap seorang pria berkacamata.


"Apa? Kapan mereka merencanakan hal itu?"tanya Aldi nampak terkejut.


"Kemarin, Tuan. Dari informasi yang kami dapatkan, Sheila dijanjikan akan diberi uang senilai lima milyar oleh Tuan Anggoro. Dan setelah berhasil melenyapkan Tuan Mandala, rencananya Sheila akan kabur ke luar negeri. Tuan Anggoro telah mempersiapkan segalanya untuk Sheila. Dari paspor sampai negara tujuannya,"sahut pria berkacamata yang merupakan orang kepercayaan Aldi.


"Dasar tua bangka sialan! Dia berniat menghabisi suami dari putrinya sendiri, ayah dari cucunya dan pria yang sangat dicintai putrinya. Apa dia sudah tidak waras lagi? Dan Sheila, perempuan jal"ng sialan itu, berani sekali dia berkomplot untuk melenyapkan orang. Aku akan memberikan dia pelajaran yang tidak akan pernah bisa dia lupakan,"ujar Aldi nampak geram,"Apa kalian tahu kapan dan bagaimana mereka akan melenyapkan Mandala?"tanya Aldi.


Belum sempat pria berkacamata itu menjawab, tiba-tiba suara handphone orang kepercayaan Aldi itu berdering. "Maaf, Tuan! Boleh saya menjawab telepon dulu?"tanya pria berkacamata itu.


"Silahkan!"sahut Aldi.Dan pria berkacamata itu pun langsung menerima panggilan di handphonenya.


"Ada apa?"tanya orang kepercayaan Aldi. Pria itu diam dan mendengarkan apa yang di sampaikan oleh orang yang menelponnya itu,"Apa? Lakukan apapun untuk mencegah aksi mereka!"ucap orang kepercayaan Aldi nampak serius dan langsung menutup teleponnya.


"Tuan, mereka beraksi sekarang,"ucap pria berkacamata itu.


"Kita ke tempat dimana Mandala berada sekarang!"ucap Aldi bergegas keluar dari ruangannya.


Sementara di kampus, Kahyang baru saja selesai mengikuti mata kuliah. Wanita muda itu keluar menuju gerbang kampus.


"Yang!"panggil Riska membuat Kahyang menghentikan langkah kakinya dan menoleh.


"Hai, Ris!"lama tidak bertemu,"sahut Kahyang. Keduanya pun saling berpelukan.


"Iya, nih. Nongkrong di kafe depan, yuk! Udah lama nggak ngobrol,"ajak Riska.


"Ikut, dong!"sahut Yudha yang tiba-tiba muncul.


"Maaf, Ris, Yud! Aku sudah janjian makan siang sama suamiku. Sekarang dia lagi di jalan, mau jemput aku,"ujar Kahyang membuat Riska dan Yudha kecewa.


"Sayang sekali. Ya sudah, nggak apa-apa. Lain kali juga bisa,"sahut Riska. Ketiganya berjalan beriringan ke arah gerbang kampus. Dan Kahyang berjalan di antara Yudha dan Riska.


"Yang! Siapa pria yang ketemu kita di mall waktu itu?"tanya Yudha tiba-tiba.


"Oh, dia Aldi. Teman SMP aku dulu,"sahut Kahyang nampak biasa saja. Sedangkan Riska nampak mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Apa dia mantan pacar mu?"tanya Yudha membuat Kahyang menghela napas panjang.


"Dia sahabat ku,"sahut Kahyang tanpa menoleh pada Yudha.


"Bukan cinta monyet mu, 'kan?"tanya Yudha yang bertingkah seperti seorang kekasih yang sedang cemburu. Sedangkan Riska hanya bisa menghela napas berkali-kali.


"Dia dulu memang suka sama aku. Bahkan berkali-kali aku tolak. Tapi dia tetap bersikap baik padaku,"sahut Kahyang tanpa menutupi apapun.


"Aku lihat, sepertinya sampai sekarang dia masih mencintai kamu,"sahut Yudha.


"Aku tidak tahu dia masih mencintai aku atau tidak. Kalau pun dia masih mencintai aku, aku bisa apa? Mau apa?Aku tidak bisa melarang atau menyuruh orang untuk mencintai aku. Asalkan dia tidak menganggu keluargaku, aku tidak masalah. Tapi yang pasti, saat ini aku hanya mencintai suami ku,"sahut Kahyang membuat Yudha terdiam.


"Kamu nggak bawa mobil, Yud?"tanya Riska memecahkan suasana yang terasa agak sedikit canggung.


"Nggak. Tadi lagi di bawa orang tuaku,"sahut Yudha.


"Ohh.."sahut Riska hanya berde-oh.


Tidak terasa, mereka sudah tiba di depan gerbang kampus. Kahyang nampak menatap ke arah jalanan melihat mobil yang berlalu lalang, mencari mobil suaminya. Seulas senyum terlihat di bibir Kahyang saat dari kejauhan melihat mobil suaminya. Yudha dan Riska nampaknya juga mengenali mobil yang dikendarai oleh Mandala.


Beberapa meter dari tempat Kahyang, Yudha dan Riska berdiri, tiba-tiba...


"Tiinnnn..."


"Brakk"


"Brakk"


"Brakk"


"Maaannn!"


...🌸❤️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2