Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
35. Di Panggil Rektor


__ADS_3

"Halo!"sahut Mandala.


"Dengan wali Puspa Kahyang? Saya rektor universitas Kusuma Bangsa,"sahut suara dari seberang telpon.


"Ya, benar. Ada apa, ya, Pak?"tanya Mandala sopan seraya berjalan ke arah balkon kamar.


Semenjak Kahyang menikah dengan Mandala, Mandala memang mengambil alih tanggung jawab orang tua Kahyang sebagai wali Kahyang. Jadi, apapun yang menyangkut urusan Kahyang di kampus, maka Mandala yang akan bertanggung jawab.


"Begini, soal kejadian semalam.."rektor itu nampak ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Soal semalam, apa bapak sudah menangani tiga orang itu?"tanya Mandala.


"Iya. Kami telah membawa mereka ke rumah sakit. Mereka mengalami luka memar, patah tangan, kaki, rontok gigi dan yang di dalam ruangan itu yang paling parah, tulang rusuknya patah,"ujar rektor bergidik ngeri saat mengingat penjelasan dokter, apalagi saat melihat darah di wajah ketiganya dan menonton rekaman saat pemuda dalam ruangan semalam dihajar oleh seorang pria.


"Bagus! Biar mereka ingat, agar tidak menyentuh yang bukan milik mereka. Apalagi istri saya. Semalam saya masih berbaik hati mengampuni nyawa mereka. Saya tidak akan melanjutkan masalah ini ke jalur hukum. Tapi tolong perketat keamanan di universitas. Dan satu lagi, istri saya tidak menanggapi atau tidak menunjukkan bahwa dia terganggu dengan gosip yang beredar tentang dirinya di kampus selama ini. Tapi saya yakin pihak universitas tidak akan mendiamkan mahasiswanya menggosipkan tentang privasi mahasiswa lain, 'kan? Apalagi menyebarkan gosip yang tidak benar. Saya yakin universitas anda murni untuk memberikan pendidikan yang baik dan berkualitas. Saya rasa itu saja yang perlu saya sampaikan. Selamat pagi!"ucap Mandala menutup teleponnya tanpa memberi kesempatan bagi rektor untuk bicara.


Mandala bukan tidak tahu jika banyak gosip yang menerpa Kahyang, walaupun Kahyang tidak pernah mengatakannya. Dan Mandala merasa saat rektor menelpon tadi adalah saat yang tepat untuk menyelesaikan masalah gosip yang menerpa Kahyang.


Pak rektor menatap handphone nya. Sambungan telepon itu sudah diputuskan sebelum dirinya mempunyai kesempatan untuk bicara lagi.


"Ternyata pria itu adalah suaminya. Suaranya terdengar tenang dan berwibawa, tegas, dan mendominasi. Aku merasa terintimidasi saat bicara dengan dia. Siapa sebenarnya pria itu? Tapi syukurlah jika mereka tidak memperpanjang masalah ini,"gumam rektor itu merasa lega.Namun sesaat kemudian pria itu teringat sesuatu.


"Aku harus mengurus masalah gosip tentang istrinya. Aku punya firasat buruk jika aku tidak mengurus masalah itu,"gumam pria yang menjadi rektor itu kemudian menghubungi seseorang.


***


Hari ini Kahyang kembali kuliah, setelah kemarin tidak masuk kuliah. Riska yang melihat Kahyang pun bergegas menghampiri Kahyang. Seperti biasa, gadis itu menarik Kahyang ke tempat yang sepi.


"Yang, katakan! Siapa orang yang telah menolong kamu malam itu?"tanya Riska setelah merasa tempat mereka bicara aman.


"Orang yang menolong aku?"Kahyang balik bertanya.

__ADS_1


"Udah, jangan pura-pura tidak tahu! Aku melihat pria itu saat dia menggendong kamu dari ruangan di ujung koridor kampus itu.Hanya aku dan seorang security yang melihat wajah pria itu. Malam itu aku khawatir sama kamu, karena udah lama ke toilet, tapi nggak balik-balik juga. Akhirnya aku menyusul kamu ke toilet tapi kamu nggak ada di sana. Aku terus nyari kamu, sampai akhir melihat security. Tapi aku malah dibuat kaget melihat dua pemuda yang babak belur. Dan bertambah kaget saat melihat kamu digendong oleh seorang pria,"ujar Riska.


'Jadi kamu tahu, ya, tentang kejadian itu?"tanya Kahyang menghela napas berat.


"Cuma aku, security,Pak rektor, dan satu orang dosen yang tahu tentang kejadian malam itu. Jadi, siapa pria yang menggendong kamu malam itu?"tanya Riska lagi, karena belum mendapatkan jawaban dari Kahyang.


"Suamiku,"sahut Kahyang.


"What? Suami kamu? Kamu serius, 'kan? Tidak bercanda,'kan?"tanya Riska nampak tidak percaya.


"Aku serius. Dia memang benar suami aku,"sahut Kahyang dengan wajah serius.


"Suami kamu ganteng banget!"puji Riska. Namun sesaat kemudian bergidik ngeri,"Tapi malam itu wajahnya sangat seram. Dia kelihatan marah banget. Tiga orang dihajarnya sampai patah kaki dan tangan, gigi mereka juga ada yang copot. Wajahnya malam itu begitu menakutkan, auranya begitu dingin dan suram,"ujar Riska bergidik ngeri saat mengingat wajah Mandala malam itu.


"Sudah lah! Ayo kita ke kelas,"ajak Kahyang berniat meninggalkan tempat itu.


"Tunggu!"cegah Riska sambil menahan tangan Kahyang.


"Maaf, aku ingin menanyakan sesuatu yang agak pribadi. Jika kamu tidak ingin menjawabnya, juga tidak apa-apa,"ujar Riska.


"Tanyakan lah!"sahut Kahyang nampak penasaran dengan pertanyaan yang ingin ditanyakan Riska.


"Begini, apa.. apa benar.. Kamu sedang mengandung?"tanya Riska ragu-ragu.


"Ya, aku memang sedang mengandung. Usia kandungan ku sekarang sudah menginjak empat bulan. Sebentar lagi orang-orang juga bakal tahu kalau aku sedang mengandung,"jawab Kahyang tersenyum tipis mengelus perutnya.


"Jadi benar, apa yang kamu katakan dalam rekaman malam itu?"tanya Riska memastikan.


"Rekaman? Rekaman apa?"tanya Kahyang tidak mengerti yang dimaksud Riska rekaman.


"Malam itu, ternyata Roger sudah mempersiapkan semuanya. Dia membawamu kesebuah ruangan yang sudah dilengkapi kamera. Bahkan saat kami masuk ke dalam ruangan itu, kamera itu masih dalam mode merekam. Aku, security, rektor, dan seorang dosen melihat rekaman itu. Suamimu menghajar Roger sampai babak belur dengan membabi-buta. Aku ngeri melihatnya,"ujar Riska bergidik ngeri mengingat bagaimana suami sahabatnya itu menghajar Roger.

__ADS_1


"Di..dia tidak mati, 'kan?"tanya Kahyang merasa takut, mengingat bagaimana brutalnya Mandala menghajar Roger.


"Enggak, cuma keadaan mereka sangat mengenaskan,"sahut Riska.


"Mereka? Memang ada siapa lagi?"tanya Kahyang yang memang hanya mengetahui Roger saja yang dihajar Mandala.


"Ada dua orang teman Roger. Sepertinya mereka bertugas berjaga. Mungkin waktu itu mereka menghalangi suamimu. Karena itu suamimu menghajar mereka,"jelas Riska.


"Waktu itu, aku juga takut jika dia sampai membunuh Roger. Aku tidak pernah melihat dia semarah itu,"sahut Kahyang menghela napas panjang.


"Ya sudah lah! Biar mereka tahu rasa,"sahut Riska, kemudian mereka pergi ke kelas mereka.


Saat tiba di kelas keduanya mendengar jika Nita di panggil ke ruangan rektor. Teman-teman mereka bertanya-tanya, kenapa Nita dipanggil rektor.


Dan di sinilah Nita saat ini. Duduk di depan rektor yang wajahnya terlihat suram.


"Duduk!"titah rektor itu dengan suara yang terdengar datar. Dan Nita pun duduk dengan perasaan takut karena melihat aura dingin di wajah rektor.


"Kamu sudah tahu, 'kan, kenapa saya memanggil kamu?"tanya rektor menatap tajam ke arah Nita.


"Tidak, Pak,"jawab Nita yang sebenarnya merasa takut, karena sudah tahu jika rencana Roger gagal dan malah masuk rumah sakit dengan keadaan yang mengenaskan.


"Baiklah, jika kamu lupa, saya akan mengingatkan kamu. Saya sudah melakukan penyelidikan. Kamu menyebarkan gosip yang tidak benar di kampus tentang Puspa Kahyang, hingga suaminya menegur saya. Kamu juga memasukkan orang luar ke dalam kampus, dan orang itu hampir saja melecehkan Puspa.Kamu berkonspirasi dengan orang luar untuk mencelakai temanmu sendiri. Beraninya kamu merencanakan kejahatan seperti itu di kampus ini! Apa kamu tahu? Karena ulah kamu itu, kamu akan merusak nama baik kampus ini! Kamu tahu, apa kira-kira hukuman atas semua perbuatan kamu itu?"tanya rektor nampak menahan amarah.


...🌸❤️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2