
Mandala memijit pelipisnya, kepalanya terasa sangat pusing. Akhir-akhir ini pendapatan perusahaan nya menurun drastis karena saingan bisnisnya tiba-tiba menurunkan harga barang mereka yang beredar di pasaran. Hingga akhirnya konsumen lebih memilih barang-barang milik saingan bisnisnya dari pada barang-barang yang dipasarkan oleh perusahan Mandala.
"Bukankah mereka tidak akan mendapatkan keuntungan apapun jika mereka.menjual barang-barang mereka dengan harga seperti ini?"tanya Mandala pada sekretarisnya.
"Saya juga berpikir seperti itu, Tuan. Tapi buktinya mereka menjual produk perusahaan mereka dengan harga di bawah pasaran. Lama kelamaan, kita akan bangkrut jika seperti ini terus,"ujar sekretaris Mandala.
"Mereka sepertinya sengaja ingin menjatuhkan kita. Setelah kita bangkrut, bukankah mereka yang akan menguasai pasar?"tanya Mandala.
"Iya, Tuan. Tapi kenapa mereka rela menjual produk mereka di bawah harga pasaran? Jika mereka melakukan ini, mereka juga akan sama ruginya dengan kita,"sahut sekretaris Mandala tidak habis pikir dengan tindakan saingan bisnis mereka.
"Apa kamu sudah mendapatkan petunjuk tentang kasus televisi produksi kita yang meledak saat dinyalakan itu?"tanya Mandala pada sekretarisnya.
"Belum, Tuan,"sahut sekretaris Mandala.
"Tidak pernah ada produk kita yang gagal. Bahkan selalu di tes dan dicek keamanan nya lebih dulu sebelum dipasarkan. Sepertinya memang ada orang yang ingin perusahaan ini gulung tikar. Apa benar perusahaan saingan kita yang melakukan nya?"gumam Mandala menghela napas berat.
"Saya akan berusaha secepatnya mendapatkan petunjuk atas kasus ini, Tuan,"sahut sekretaris Mandala.
"Aku mau hasil secepatnya. Aku ingin kamu menyelidiki dengan siapa saja perusahaan saingan kita bekerja sama dan siapa saja investor nya. Aku merasa masalah ini sangat aneh. Tidak mungkin para investor itu mau menanam saham jika tidak bisa mendapatkan keuntungan apapun dari perusahaan saingan kita,"ujar Mandala.
"Baik, Tuan,. Oh ya, Tuan, anda ada jadwal pergi ke perusahaan Tuan Prasetyo satu jam lagi,"sahut sekretaris Mandala.
"Hum,"sahut Mandala.
"Kalau begitu saya permisi,"ujar sekretaris Mandala bergegas keluar dari ruangan Mandala.
Satu jam kemudian, Mandala pun pergi ke perusahaan Prasetyo. Dan ternyata disana juga ada Anggoro.
"Pa! Apa kabar?"tanya Mandala menyapa Anggoro.
"Aku baik-baik saja. Oh ya, aku dengar perusahaan kamu bermasalah. Ada tuntutan karena produk yang kalian keluarkan meledak dan penjualan kalian juga menurun. Bagaimana kamu bisa memegang tiga perusahaan sekaligus jika mengurus satu perusahaan saja tidak becus,"cibir Anggoro.
"Dalam bisnis hal seperti ini memang wajar. Pesaing bisa melakukan apapun untuk menjatuhkan saingan bisnis. Aku yakin Mandala bisa mengatasi ini semua. Bukankah begitu, Man?"tanya Prasetyo menengahi.
__ADS_1
"Iya, pa. Aku akan berusaha mengatasi masalah ini,"sahut Mandala tersenyum tipis. Tepatnya senyum yang dipaksakan.
"Mungkin kita harus mencari kandidat menantu yang lain, yang bisa mengurus perusahaan kita dengan baik, kak,"ujar Anggoro tersenyum sinis pada Mandala. Mandala tertunduk mengepalkan kedua tangannya mendengar kata-kata Anggoro.
"Jangan bicara sembarangan Anggoro!"ujar Prasetyo memperingati.
Setiap kali bertemu dengan Anggoro, ayah mertuanya itu selalu saja menunjukkan ketidak sukanya pada Mandala. Dan Mandala hanya bisa bersabar menghadapi Anggoro.
Hari ini Mandala pulang malam. Rasa lelah, penat dan pusing menjadi satu. Walaupun tidak terlalu larut seperti biasanya. Namun Mandala tidak makan malam di rumah. Pria itu masuk ke dalam kamarnya dan tidak menemukan Kahyang di atas ranjang.
"Ceklek"
Terdengar suara pintu kamar mandi. Mandala yang sedang melepaskan jas nya pun menoleh ke arah kamar mandi dan Kahyang pun muncul dari balik pintu itu. Melihat Kahyang, Mandala jadi teringat dengan foto-foto Kahyang bersama seorang pria yang dikirimkan oleh nomor yang tidak dikenal padanya.
"Kamu sudah pulang? Tumben kamu pulang lebih awal?"tanya Kahyang menghampiri Mandala dan membantu Mandala melepaskan dasinya.
"Kenapa? Kamu tidak suka aku pulang lebih awal?"tanya Mandala terdengar datar di telinga Kahyang.
"Istirahat lah! Pasti sangat lelah setelah bepergian hari ini,"ujar Mandala menepis tangan Kahyang yang membuka kancing kemejanya. Pria itu berlalu meninggalkan Kahyang yang terlihat bingung.
"Kenapa dia? Tidak seperti biasanya dia bersikap seperti itu,"gumam Kahyang menatap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup.
Pria itu biasanya akan langsung memeluknya dan mencium nya saat baru pulang bekerja. Tapi kali ini tidak ada pelukan dan ciuman sama sekali. Bahkan Mandala terkesan dingin pada dirinya.
"Apa dia ada masalah di kantor?"gumam Kahyang kemudian keluar dari dalam kamar untuk membuat teh hangat.
Tak lama kemudian Kahyang sudah kembali ke kamarnya dengan membawa teh untuk Mandala. Beberapa menit kemudian, Mandala pun keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe dan rambut yang masih basah. Pria itu duduk di tepi ranjang dan menggosok rambutnya dengan handuk kecil.
"Biar aku bantu,"ucap Kahyang meraih handuk yang dipegang Mandala. Mandala hanya diam tanpa mengatakan apapun.
"Man, apa ada masalah di kantor? Kamu berubah, tidak seperti biasanya,"ujar Kahyang masih mengeringkan rambut Mandala.
"Berubah bagaimana maksudmu?"tanya Mandala memegang tangan Kahyang yang masih memegang handuk,"Kamu merasa kurang aku perhatikan? Atau kamu merasa aku tidak punya waktu untuk kamu? Kamu tahu sendiri, aku sibuk mengurus dua perusahaan sekaligus. Dan kamu tahu sendiri, itu semua bukan keinginan ku. Jika aku tidak punya banyak waktu untuk mu, apa itu salahku?"tanya Mandala menoleh menatap Kahyang.
__ADS_1
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Seolah-olah aku menuntut banyak waktu dari mu,"ujar Kahyang merasa bingung dengan sikap Mandala. Kahyang merasa pembicaraan mereka tidak nyambung.
"Tidurlah!"ucap Mandala membuang napas kasar, kemudian membaringkan tubuhnya miring membelakangi Kahyang.
"Man, kenapa kamu bersikap seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu seperti marah padaku,"ujar Kahyang yang merasa tidak nyaman dengan sikap Mandala.
"Tidurlah! Aku lelah. Aku tidak ingin berdebat dengan mu,"ucap Mandala yang malah memejamkan matanya.
"Man, katakan padaku! Ada apa dengan mu? Kenapa kamu bersikap seperti ini padaku?"tanya Kahyang menarik baju Mandala hingga Mandala terlentang, tidak terima diacuhkan oleh Mandala. Selama bersama dirinya, pria itu tidak pernah tidur membelakangi dirinya. Tapi malam ini, Mandala malah tidur membelakangi dirinya dan nampak marah dengan alasan yang tidak jelas.
Mandala membuang napas kasar, kemudian bangkit dari tempatnya berbaring. Tiba-tiba pria itu langsung menarik tubuh Kahyang dalam pelukannya dan mencium Kahyang dengan agresif. Kahyang berusaha meronta dari pelukan Mandala namun tidak bisa. Pria itu menciumnya dengan kasar. Karena merasa kesal,. Kahyang pun menggigit bibir Mandala
"Akh!"rintih Mandala melepaskan ciumannya pada Kahyang dan mengusap bibirnya yang berdarah.
"Kau menggigitku?"tanya Mandala yang terlihat geram pada Kahyang.
"Kamu sangat kasar! Aku tidak suka itu!"bentak Kahyang emosi.
"Kasar? Kamu bilang aku kasar? Akan aku tunjukkan padamu,.apa itu kasar,"ucap Mandala langsung mendorong tubuh Kahyang hingga terlentang dan langsung menindih tubuh Kahyang.
"Man!"pekik Kahyang. Namun Mandala langsung membungkam bibir Kahyang dengan bibirnya.
...π"Tanpa bicara, bagaimana orang lain tahu apa yang kamu rasa?"π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1