
Mandala merasa lega karena akhirnya masalah perusahaannya selesai juga. Mandala memutuskan untuk menepati janjinya pada Andini.
"Halo, An! Sore ini kakak punya waktu untuk bertemu dengan kamu. Kamu jadi tidak, mau bertemu kakak?"tanya Mandala dalam sambungan telepon.
"Tentu saja jadi, kak. Aku pilih dulu tempatnya, ya? Nanti aku kirim ke kakak,"sahut Andini terdengar senang.
"Oke. Kakak tunggu,"sahut Mandala kemudian menutup teleponnya.
Begitu Mandala menutup teleponnya, Andini pun langsung menghubungi Sheila.
"Halo, An! Gimana? Sudah ada kabar baiknya belum?"tanya Sheila.
"Kakak siap-siap. Kak Mandala akan datang ke alamat yang akan aku kirimkan,"sahut Andini antusias.
"Kita ke sana bareng aja. Nanti setelah kamu ketemu sama kakak kamu di sana, baru kamu pulang,"ujar Sheila dengan senyuman penuh arti.
"Baiklah. Kita ketemuan di dekat mini market yang nggak jauh dari apartemen kak Sheila,"sahut Andini.
"Oke. Oh iya, tolong kamu bilang sama kakak kamu untuk datang sendiri. Kakak tidak suka dengan asisten nya yang bernama Patih itu. Dia biasanya selalu menempel pada kakak kamu,"pinta Sheila yang tidak ingin rencananya gagal karena Patih.
"Iya, kak. Nanti aku bilang sama kak Mandala,"sahut Andini.
"Oke kakak percayakan semuanya padamu,"sahut Sheila kemudian menutup teleponnya,"Akhirnya... Hari ini kamu akan menjadi milikku Mandala. Dan aku pastikan, perempuan itu akan meninggalkanmu,"gumam Sheila tersenyum licik. Perempuan itu kemudian menyiapkan segalanya. Handycam untuk merekam, obat penambah stamina dan lingerie seksi nan tipis. Wajah Sheila nampak sangat senang. Hari yang ditunggu-tunggu nya akhirnya tiba juga, dan Sheila sangat yakin, rencananya kali ini pasti akan berhasil.
Sedangkan Andini kembali menghubungi Mandala karena permintaan Sheila yang ingin Mandala datang sendiri tanpa Patih.
"Halo, An? Mau ketemu di mana?"tanya Mandala.
"Kak, kakak datang sendiri saja, ya? Jangan mengajak asisten kakak, si Patih itu. Aku cuma ingin bicara berdua dengan kakak,"pinta Andini.
"Oke. Kita mau ketemu dimana?"tanya Mandala lagi.
"Nanti aku kirimkan,"sahut Andini.
"Oke. Kirimkan saja alamatnya,"sahut Mandala.
"Iya, kak,"sahut Andini kemudian menutup teleponnya.
Setelah panggilan telepon diakhiri Andini pun segera mengirimkan alamat tempat mereka akan bertemu pada Mandala.
__ADS_1
"Di villa? Kenapa dia ingin bertemu dengan aku di villa? Dan kalau ingin bertemu aku di villa, kenapa tidak bilang secara langsung saja? Anak itu aneh sekali. Sebenarnya apa yang ingin dia bicarakan?"gumam Mandala saat membaca alamat yang dikirimkan oleh Andini.
Andini dan Sheila lebih dulu sampai di villa. Andini mengajak Sheila berkeliling untuk melihat keadaan villa.
"An, boleh nggak, kakak menginap barang satu malam di sini?"tanya Sheila yang ingin mempersiapkan segalanya di kamar yang akan dijadikan tempat untuk menjebak Mandala.
"Tentu saja boleh. Ayo, aku tunjukkan kamar-kamarnya. Kak Sheila boleh memilih kamar yang kakak suka,"ujar Andini kemudian mengajak Sheila melihat kamar-kamar yang ada di villa itu.
"An, bagaimana dengan kamar yang itu?"tanya Sheila menunjuk pada salah satu kamar yang tidak di tunjukkan oleh Andini.
"Oh, itu, adalah kamar kak Mandala,"sahut Andini.
"Boleh kakak melihatnya?"tanya Sheila yang nampak penasaran.
"Kamar itu selalu di kunci. Tidak ada yang boleh masuk ke kamar itu selain kak Mandala,"sahut Andini.
"Lalu, siapa yang membersihkan kamar itu?"tanya Sheila. Tidak mungkin, 'kan, kamar yang disebut sebagai kamar Mandala itu tidak dibersihkan? Karena walaupun tidak di tempati, sebuah kamar akan tetap kotor jika tidak dibersihkan. Itulah yang ada di dalam pikiran Sheila.
"Penjaga villa,"sahut Andini.
"Oh gitu,"sahut Sheila seraya mengangguk-angguk kecil, tanda mengerti.
"Kak Sheila istirahat saja dulu. Mungkin satu jam lagi kak Mandala baru sampai,"ujar Andini.
Setelah mencari beberapa lama, akhirnya Sheila pun menemukan penjaga villa itu.
"Bapak yang menjaga villa ini?'tanya Sheila.
"Iya,"sahut pria penjaga villa yang sudah berusia sekitar lima puluh tahun itu nampak acuh.
"Bapak yang membersihkan kamar Mandala?"tanya Sheila lagi.
"Iya,"sahut penjaga villa singkat.
"Boleh saya pinjam kunci kamar Mandala?"tanya Sheila.
"Untuk apa?"tanya penjaga villa itu nampak tidak suka.
"Saya hanya ingin menyiapkan kejutan untuk Mandala, karena kami janjian ketemu di sini. Saya adalah pacarnya. Sudah bertahun-tahun kami pacaran,"ujar Sheila bangga.
__ADS_1
"Tuan melarang siapapun masuk ke dalam kamarnya,"sahut penjaga villa itu terdengar datar.
Sheila menghela napas panjang kemudian mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.
"Ini untuk bapak. Tolong pinjamkan saya kunci kamar Mandala,"ujar Sheila menyodorkan beberapa lembar uang pada penjaga villa itu.
"Ini uang untuk apa?"tanya penjaga villa itu.
"Untuk bapak,"sahut Sheila pura-pura tersenyum ramah.
"Terimakasih!"sahut penjaga villa itu datar, mengambil uang dari Sheila, kemudian berbalik pergi.
Melihat penjaga villa mengambil uangnya tanpa memberikan kunci dan langsung pergi, Sheila pun langsung mengejar pria tua itu,"Tunggu dulu! Mana kuncinya?"tanya Sheila. Tapi penjaga villa itu tidak menghiraukan Sheila dan terus melangkah pergi.
"Hei! Dasar pria tua sialan! Berikan kuncinya!"maki Sheila karena penjaga villa itu mengambil yang diberikan oleh Sheila tapi tidak mau meminjamkan kuncinya pada Sheila. Dan malah meninggalkan Sheila begitu saja. Membuat Sheila sangat kesal. Akhirnya Sheila memilih untuk masuk ke dalam kamarnya karena penjaga villa itu tetap tidak mau memberikan kunci kamar Mandala..
Setelah menunggu dengan perasaan tidak sabar, akhirnya Sheila melihat mobil Mandala memasuki villa itu. Sheila pun bergegas keluar dari kamarnya bertepatan dengan Andini yang juga keluar dari kamarnya.
"Kakak siapkan minuman buat kakak kamu, ya? Nanti kamu saja yang memberikannya,"ujar Sheila dengan senyuman manis.
"Oke. Tapi setelah itu aku langsung pulang, ya, kak? Soalnya malam ini aku ada acara dengan teman-teman aku. Aku harap kakak bisa bicara dengan kakakku dari hati ke hati,"ujar Andini tanpa curiga pada Sheila sama sekali, kemudian pergi meninggalkan Sheila yang tersenyum miring.
"Bicara dari hati ke hati? Aku ingin bicara dengan sentuhan yang sangat teramat dalam,"gumam Sheila menatap punggung Andini yang semakin menjauh penuh senyuman licik,"Aku akan membuatkan minuman spesial untuk Mandala ku tersayang,"gumam Sheila seraya berjalan ke arah dapur.
Mobil Mandala langsung masuk ke garasi mobil. Dan tak lama kemudian, pria itupun masuk ke dalam villa.
"Akhirnya kakak datang juga,"ujar Andini langsung memeluk Mandala. Gadis itu terlihat sangat senang.
"Kamu ingin bicara apa dengan kakak hingga memanggil kakak ke sini?"tanya Mandala.
"Kakak duduk dulu, biar aku buatkan minuman,"ujar Andini kemudian meninggalkan Mandala menuju dapur. Sedangkan Mandala memilih duduk di ruang tamu.
Sheila memasukkan obat ke dalam teh yang dibuatnya dengan penuh senyuman. Secangkir teh yang akan membuat dirinya bisa memiliki Mandala.
"Kak Sheila! Apa minumannya sudah siap?"
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
.
To be continued