Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
84. Mimpi!


__ADS_3

Selain sebagai asisten pribadi Mandala, pekerjaan Patih adalah membantu sekretaris Mandala memasukkan data-data ke dalam komputer. Jadi tempat duduk pria itu adalah di sebelah sekretaris Mandala yang tepat berada di depan ruangan Mandala. Patih pergi ke toilet karena sakit perut. Tepat setelah Patih pergi, Andini dan Sheila muncul. Jika saat itu ada Patih, maka pria itu tidak akan membiarkan Sheila masuk, walaupun Andini yang mengantar Sheila.


Sejak awal, Patih tidak pernah setuju dengan hubungan Mandala dan Sheila. Entah apa alasannya, Mandala juga tidak tahu. Patih bahkan tidak pernah menghormati Sheila, walaupun dulu masih menjadi kekasih Mandala. Selalu memanggil Sheila dengan panggilan syaiton, alias setan. Apalagi sekarang saat Sheila sudah menjadi mantan Mandala.


Patih berjalan santai keluar dari toilet merasa lega setelah sakit perutnya hilang. Pria itu berjalan menuju meja kerjanya yang menjadi satu dengan meja kerja sekretaris Mandala.


Namun Patih sangat terkejut saat masih beberapa meter lagi sampai di meja kerjanya. Karena mendengar suara teriakan Mandala.


"Dasar wanita sialan! Berani-beraninya kamu mencium aku dengan bibir kotor mu itu! Patih! Seret keluar wanita ini! Aku akan memecat mu jika dia sampai masuk lagi ke ruanganku!"teriak Mandala yang terdengar oleh Patih. Dan pria itu pun bergegas berlari ke ruangan Mandala.


"Patih! Ap..."Mandala tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat siapa yang ada di depan pintu.


"Ada apa bos?"tanya Patih yang baru saja tiba tampak ngos-ngosan.


"Seret perempuan itu keluar dari ruangan ku, dari perusahaan ku! Jika suatu saat dia masuk lagi ke sini, maka aku akan memecat orang yang membiarkan dia masuk,"ucap Mandala dengan nada suara berat penuh ancaman dan tatapan yang tampak mengintimidasi. Membuat sekretarisnya gemetaran.


"Dasar syaiton! Ulat bulu! Perempuan gatal! Sudah aku bilang jangan dekati bos ku!"geram Patih menyeret Sheila keluar dari ruangan Mandala.


"Lepaskan aku! Dasar kacung sialan!Man! Kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini! Aku tidak terima!"teriak Sheila yang terus memberontak dari pegangan Patih, namun terus diseret Patih keluar dari ruangan itu.


"Tuan, yang membawa nona Sheila adalah nona Andini. Saya sudah melarangnya, tapi nona Andini memaksa,"ujar sekretaris Mandala tertunduk dalam.


"Keluarlah!"titah Mandala terdengar datar.


"Baik, Tuan!"sahut sekretaris Mandala segera keluar dari ruangan Mandala dan menutup pintunya.

__ADS_1


"Semoga saja aku tidak dipecat. Gajiku di potong juga tidak apa-apa. Asal jangan di pecat. Seharusnya aku tadi tidak mendengarkan kata-kata nona Andini dan membiarkan Sheila masuk,"gumam sekretaris Mandala di depan pintu ruangan Mandala. Merasa menyesal dengan keputusan nya yang membiarkan Sheila masuk ke ruangan Mandala.


"Sayang, kamu jangan salah paham!"ucap Mandala seraya menghampiri Kahyang dan hendak memeluk dan mencium Kahyang.


"Jangan dekat-dekat dengan ku! Aku tidak sudi kamu sentuh apalagi kamu cium, setelah kamu menyentuh dan mencium wanita lain,"ujar Kahyang dengan wajah sinis menjauh dari Mandala.


Mandala membuang napas kasar,"Aku tidak menyentuh dan mencium dia sayang! Dia yang tiba-tiba mencium ku saat mendengar suara pintu dibuka. Aku juga langsung mendorong dia,"ujar Mandala membela diri.


"Aku ke sini untuk mengantarkan dokumen dan handphone kamu yang tertinggal. Tidak disangka mendapat kejutan seperti ini,"ujar Kahyang meletakkan dokumen yang dibawanya di atas meja kerja Mandala. Kemudian mengeluarkan handphone Mandala dari dalam sling bag nya dan meletakkannya di atas dokumen tadi..


"Aku akan mandi dan mengganti pakaian ku. Kamu tunggu dulu di sini, ya !"pinta Mandala langsung mengunci pintu dan membawa kuncinya. Kemudian bergegas masuk ke ruangan pribadinya untuk membersihkan diri.


"Siapa juga yang mau menunggunya,"gumam Kahyang berniat keluar dari ruangan itu,"Sialan! Dia menguncinya,"gerutu Kahyang merasa kesal saat mengetahui bahwa pintu ruangan itu tidak bisa di buka.


Karena tidak bisa keluar dari ruangan Mandala, akhirnya Kahyang melihat-melihat ruangan kerja Mandala. Kahyang melihat foto Mandala dirinya dan putra mereka Rayno di meja kerja Mandala.


Setelah puas memeriksa ruang kerja Mandala, Kahyang pun masuk ke ruangan pribadi Mandala. Kamar yang tertata rapi dengan ranjang dan lemari pakaian yang ada di ruangan itu. Tatapan Kahyang berhenti ke arah nakas. Kahyang melihat ada perlengkapan bayi seperti bedak, minyak telon, parfum bayi, pelembab rambut bayi dan yang lainnya.


"Kenapa Mandala membawa perlengkapan bayi di ruangan pribadi nya,",gumam Kahyang melihat perlengkapan bayi itu sepertinya sudah dipakai, karena segelnya sudah dibuka dan isinya juga sudah tidak penuh lagi.


Kahyang lalu berjalan kearah dinding kaca di ruangan itu. Dari dinding kaca itu, Kahyang bisa melihat pemandangan di luar. Wanita itu berdiri di depan dinding kaca itu melihat pemandangan diluar gedung itu.


Sedangkan di lift, Patih memegang Sheila yang masih meronta dan tidak terima dengan perlakuan Mandala dan Patih.


"Aku tidak terima dengan perlakuan kalian ini!"bentak Sheila yang kedua tangannya ditarik Patih kebelakang punggung sedangkan Patih memegangnya dari belakang Sheila. Semua itu karena Sheila nekat ingin kembali keruangan Mandala sehingga Patih memegangnya seperti itu.

__ADS_1


"Dasar syaiton! Ulet bulu! Perempuan gatal! Berhentilah menganggu rumah tangga orang lain! Memakai baju setengah jadi seperti ini, kamu kira bosku akan tertarik melihat tubuh mu ini? Tubuh nyonya bosku jauh lebih indah dari tubuh kamu yang seperti jalan tol ini,"ujar Patih yang dari dulu memang tidak pernah suka dengan Sheila. Entah mengapa Patih juga tidak tahu. Apalagi saat ini majikannya sudah memiliki anak dan istri. Patih semakin benci pada Sheila yang menggoda majikannya.


"Dasar kacung sialan! Beraninya kamu menghina ku! Jika aku sudah menjadi istri Mandala, akan ku pecat kamu!"bentak Sheila merasa sangat kesal pada Patih.


"Ya.. ya...ya.. bermimpi lah sesuka dan sepuas hatimu, karena itu cuma mimpi dan nggak bakal jadi nyata,"ujar Patih yang langsung mendorong Sheila keluar dari dari lift, saat lift terbuka. Dan keduanya pun langsung menjadi perhatian semua orang yang melihatnya.


Patih kemudian berhenti di depan resepsionis,"Hei! Kalian semua! Terutama resepsionis dan security! Lihat dan ingat baik-baik wajah perempuan ini! Mulai saat ini, jangan biarkan perempuan ini masuk ke perusahaan ini dengan alasan apapun! Jika kalian membiarkan perempuan ini masuk, maka aku pastikan bosku akan memberikan uang pesangon pada kalian. Dengar tidak?"tanya Patih menatap resepsionis dan security yang selalu berjaga di depan.


"Mengerti, Tih, mengerti!"sahut mereka kompak.


"Ini, bawa pergi jauh-jauh si ulet bulu ini! Aku tidak mau badan ku gatal-gatal karena ulet bulu ini!"ujar Patih seraya mendorong Sheila ke arah dua orang security.


"Dasar kacung sialan! Awas kau! Aku akan menjadikan kamu gembel!"teriak Sheila yang terus di seret oleh dua orang security, keluar dari tempat itu.


"Mimpi!"ucap Patih pergi dari tempat itu tanpa mempedulikan Sheila lagi.


Di depan perusahaan Mandala, nampak seorang pemuda tersenyum miring,"Kita lihat sampai kapan kamu bisa bersenang-senang setelah mengkhianati aku,"ucap pemuda itu dengan seringai menakutkan di wajahnya.


...🌟"Tidak semua keinginan bisa kesampaian, dan tidak semua impian bisa di wujudkan. Maka, belajarlah untuk mengikhlaskan."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2