Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
56. Bingung


__ADS_3

Mandala dan Agung diperkenalkan Prasetyo dengan beberapa rekan bisnisnya.Ada juga sebagian pebisnis yang merupakan rekan bisnis Agung dan Mandala.


"Perkenalkan, ini adalah calon besan saya, ucap Prasetyo menepuk pundak Agung, Dan yang ini adalah calon menantu saya, sekaligus orang yang nantinya akan memimpin perusahaan saya,"ucap Prasetyo pada rekan-rekan bisnisnya seraya merangkul Mandala. Pria paruh baya itu nampak bangga ketika memperkenalkan Mandala pada rekan-rekan bisnisnya.


"Wahh.. calon menantu Tuan Prasetyo memang tampan,"


"Bukankah ini Tuan Mandala, ya? Pebisnis muda yang disegani di kalangan pebisnis,"


"Pantas saja Tuan Prasetyo menolak banyak lamaran untuk putri, Tuan. Ternyata sudah mendapatkan calon menantu yang ideal,"


"Tuan Prasetyo memang pintar memilih menantu,"


"Padahal saya juga ingin berbesan dengan Tuan Agung, malah keduluan Tuan Prasetyo,"


Itulah tanggapan beberapa rekan bisnis Prasetyo saat Prastyo memperkenalkan Mandala pada mereka. Banyak yang berharap bisa berbesan dengan Agung karena mengetahui bagaimana sepak terjang Mandala di dunia bisnis. Dan banyak yang ingin mempersunting putri Prasetyo karena kekayaan Prasetyo yang pastinya akan diwariskan kepada putrinya. Sayangnya tidak ada yang tahu siapa putri Prasetyo. Pria itu benar-benar menutup rapat informasi tentang putrinya agar tidak ada yang mendekati putrinya karena kekayaan yang dimilikinya.


"Maaf, karena tidak mengundang para rekan semua secara resmi. Saya hanya mengirimkan email tanpa memberikan kartu undangan. Acara ini memang agak mendadak karena permintaan adik saya. Sepertinya dia sudah tidak sabar ingin memiliki menantu. Walaupun saya sendiri sebenarnya juga begitu,"ujar Prasetyo kemudian tertawa dan rekan bisnisnya pun ikut tertawa.


"Tidak apa-apa. Suatu kehormatan bagi kami karena terpilih menjadi tamu undangan terbatas dari Tuan Prasetyo. Kami merasa diistimewakan. Bukankah begitu rekan-rekan?"tanya salah seorang rekan bisnis Prasetyo pada rekan-rekannya.


"Benar!"


"Benar"


Begitulah tanggapan para rekan bisnis Prasetyo. Hingga Mandala tanpa sengaja melihat jam yang tertempel di dinding. Mengingat Rayno yang akan mengamuk jika terlalu lama jauh darinya, Mandala pun pamit pada Prasetyo dan rekan bisnisnya.


"Maaf, saya permisi dulu, saya baru ingat kalau ada yang tertinggal di dalam mobil,"pamit Mandala yang sebenarnya ingin menyelinap untuk bertemu dengan Rayno.


"Ya sudah, ambilah dulu!"ujar Prasetyo dan Mandala pun bergegas keluar dari rumah itu. Mandala segera mencari mobil yang dikendarai oleh Patih.Begitu menemukannya, Mandala pun langsung masuk ke mobil yang dikendarai Patih.

__ADS_1


"Dia tidak rewel, 'kan, Bik?"tanya Mandala langsung mengambil Rayno yang masih terjaga dari pangkuan Bik Mar.


"Tidak,Tuan,"sahut Bik Mar.


"Iya, sekarang bos kecil memang tidak rewel. Tapi jika bos tidak kesini, sebentar lagi bos kecil akan membuat gempar mobil ini. Bisa-bisa kami dituduh sebagai penculik bayi,"gerutu Patih yang sudah sangat hafal dengan kebiasaan Rayno selama satu minggu ini. Anak bosnya itu akan mulai rewel dan akhirnya mengamuk dengan cara menangis kencang. Dan bayi itu baru akan berhenti menangis jika Mandala sudah menggendongnya.


Mandala tidak menanggapi perkataan Patih yang memang suka ceplas-ceplos. Pria itu memeluk dan menciumi putranya. Sedangkan Bik Mar juga sudah terbiasa dengan interaksi antara Mandala dan Patih, setelah satu minggu ini bersama Patih dan Mandala


"Ray, jangan rewel, ya? Nanti papa akan menggendong kamu lagi,"ujar Mandala seraya mengelus rambut Rayno. Setelah itu mengecup kening Rayno dan mengembalikan Rayno pada Bik Mar.


"Saya pergi dulu, bik!"pamit Mandala.


"Iya, Tuan,"sahut Bik Mar.


"Cuma pamit sama Bik Mar dan bos kecil saja? Bos tidak pamit padaku? Pilih kasih sekali! Aku tidak dianggap ada. Apa aku tidak terlihat?"gerutu Patih dengan wajah sedih.


"Nggak usah baperan Paijo!"tukas Mandala.


"Menyembelih kambing dua buat ngasih kamu nama!"potong Mandala dengan cepat. Pria itu keluar dari dalam mobil dan bergegas kembali ke dalam rumah tempat diadakan nya acara, membuat Patih bersungut-sungut.


"Bos selalu saja begitu,"gerutu Patih, sedangkan Bik Mar hanya bisa menahan tawa melihat interaksi kedua pria itu.


Mandala berjalan sambil merapikan pakaian nya. Namun saat jarak Mandala dengan pintu utama sudah tinggal tiga meter lagi, tiba-tiba....


"Aaaa..."terdengar suara teriakan dan mata Mandala langsung membulat saat melihat sesosok tubuh wanita dari atas meluncur bebas ke bawah. Reflek Mandala berlari dan langsung menangkap tubuh wanita yang hampir saja jatuh itu.


"Bugh"Mandala berhasil menangkap tubuh wanita itu. Namun mata Mandala kembali membulat saat melihat sosok tubuh siapa yang berhasil ditangkapnya. Mandala rasanya tidak percaya bahwa wanita yang baru saja ditolongnya adalah wanita yang membuatnya galau selama satu minggu ini. Wanita yang sangat dirindukan nya. Ya, wanita yang sekarang dalam gendongan Mandala adalah Kahyang.


Mandala menatap lekat wajah wanita dalam gendongannya itu yang terlihat sangat cantik dengan riasan natural. Masih belum percaya jika wanita itu adalah Kahyang. Karena saat ini Kahyang memakai make up, tidak seperti biasanya yang hanya memakai lips balm dan bedak tipis. Perlahan wanita dalam gendongan nya itu pun membuka matanya

__ADS_1


"Ka.. kamu..."Kahyang membulatkan matanya saat melihat bahwa orang yang telah menyelamatkan dirinya adalah Mandala, pria yang sudah satu minggu ini dirindukannya. Keduanya saling terpaku dengan mata yang saling menatap.


"Kenapa kalian ada di sini?"tanya seorang pria yang tidak lain adalah Anggoro, membuat Kahyang dan Mandala yang masih tertegun itu terkejut.


Anggoro baru saja datang karena terjebak kemacetan lalu lintas yang di sebabkan sebuah kecelakaan. Namun saat akan masuk ke rumah itu, Anggoro malah mendengar suara teriakan. Dan teriakan itu adalah suara putrinya yang jatuh dari atas balkon. Untung saja ada yang menangkap tubuh putrinya itu. Dan Anggoro bisa mengenali siapa pria yang menolong putri nya itu. Anggoro menahan emosinya, pria paruh baya itu sangat yakin jika putrinya yang keras kepala itu akan melarikan diri dari pernikahan nya.


"Ada apa?"tanya Prasetyo yang tergopoh-gopoh keluar dari dalam rumah diikuti oleh beberapa orang. Mereka keluar karena mendengar suara teriakan dari Kahyang.


"Kenapa kalian ada di sini? Dan kenapa kamu menggendong putriku?"tanya Prasetyo yang nampak bingung. Begitu pula dengan Mandala yang bingung harus menjawab apa.


"Sudah lah, tidak perlu dijawab! Man, bawa masuk calon istri kamu! Kebetulan Anggoro juga sudah datang. Apa kamu akan membawa kabur putri Om sebelum kamu menikahinya? Ayo, masuk!"ajak Prasetyo yang sebenarnya masih bingung dengan situasi saat ini. Dan juga penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi.


Mandala dan Kahyang pun semakin terkejut mendengar kata-kata Prasetyo. Tertegun karena merasa bingung mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan Prasetyo.


"Ayo masuk!"ajak Prasetyo sekali lagi karena Mandala masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.


"Ah, iya, Om,"sahut Mandala tergagap. Pria itu masuk ke dalam rumah dengan posisi masih menggendong Kahyang.


"Ayo, langsung ke tempat ijab kabul saja! Sepertinya kamu sudah tidak sabar membawa pergi putri Om,"ujar Prasetyo lagi dan Mandala pun menuruti kata-kata Prasetyo.


"𝙆𝙖𝙝𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙞 𝙊𝙢 𝙋𝙧𝙖𝙨? 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣𝙠𝙖𝙝 𝙆𝙖𝙝𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙞 𝙏𝙪𝙖𝙣 𝘼𝙣𝙜𝙜𝙤𝙧𝙤? 𝘿𝙞 𝙖𝙠𝙩𝙚 𝙠𝙚𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙆𝙖𝙝𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙪𝙡𝙞𝙨 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙏𝙪𝙖𝙣 𝘼𝙣𝙜𝙜𝙤𝙧𝙤 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙮𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜 𝙆𝙖𝙝𝙮𝙖𝙣𝙜. 𝘼𝙙𝙖 𝙖𝙥𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖?"gumam Mandala dalam hati, terlihat bingung.


"𝘼𝙙𝙖 𝙖𝙥𝙖 𝙞𝙣𝙞? 𝘼𝙥𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙈𝙖𝙣𝙙𝙖𝙡𝙖? 𝙆𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙈𝙖𝙣𝙙𝙖𝙡𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪, 𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙖𝙥𝙖 𝙩𝙖𝙙𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙖𝙗𝙪𝙧 𝙝𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙝𝙖𝙢𝙥𝙞𝙧 𝙟𝙖𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙢𝙥𝙞𝙧 𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙨𝙞𝙖-𝙨𝙞𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣?"gumam Kahyang dalam hati.


...🌸❤️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2