Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
34. Rekaman


__ADS_3

Mandala membawa Kahyang masuk ke dalam mobil. dan mendudukkannya di kursi penumpang yang agak diturunkan, agar Kahyang bisa bersandar dengan nyaman. Mandala memakaikan sabuk pengaman Kahyang dan merapikan anak rambut yang menutupi wajah Kahyang. Pria itu kemudian masuk ke dalam mobil, menghela napas berat menatap Kahyang yang memejamkan mata sejak tadi. Mandala melajukan mobilnya seraya menggenggam tangan Kahyang dengan lembut. Seolah dengan genggaman tangannya itu Mandala ingin mengatakan bahwa dirinya selalu ada buat Kahyang dan akan selalu melindungi Kahyang.


Mandala sudah sampai di basemen apartemennya dan kembali menggendong Kahyang yang tertidur hingga ke kamar apartemen mereka. Membaringkan tubuh Kahyang dengan hati-hati dan melepaskan sepatu Kahyang. Mandala menyelimuti tubuh Kahyang kemudian mengecup kening Kahyang dengan lembut. Pria itu kemudian beranjak untuk membersihkan diri.


Saat Mandala berbaring dan merengkuh Kahyang dalam dekapannya, Kahyang nampak bergerak memeluk Mandala. Pria itu mengelus kepala Kahyang hingga keduanya sama-sama terlelap.


Sementara itu, di kampus. Tak lama setelah Mandala meninggal kampus itu, rektor dan seorang dosen pun datang. Mereka langsung menuju tempat terjadinya peristiwa. Sedangkan acara ulangtahun Nela terdengar masih berlangsung. Hanya Riska dan seorang security yang mengetahui kejadian yang membuat rektor dan seorang dosen harus datang ke kampus malam hari itu.


"Apa yang terjadi?"tanya rektor menghela napas melihat dua pemuda yang terlihat babak belur.


"Tadinya saya mengejar sebuah mobil yang menerobos masuk ke universitas ini, Pak. Pria yang mengendarai mobil itu berlari masuk ke dalam kampus dan saya kehilangan jejaknya. Saya terus mencarinya dan tidak sengaja melihat dua orang ini babak belur. Kemudian saya melihat pria yang saya kejar tadi keluar dari ruangan di ujung sana sambil menggendong seorang gadis dengan wajah yang terlihat sangat dingin dan suram. Sepertinya pria itu sangat marah. Saat saya memeriksa ruangan tempat pria itu keluar, saya melihat seorang lagi yang babak belur dan lebih mengenaskan dari kedua orang ini. Dan menurut mahasiswi ini, tiga pemuda ini bukanlah mahasiswa di universitas ini,"jelas security itu seraya menunjuk Riska.


Rektor dan dosen berjalan ke ruangan yang ditunjukkan oleh security. Keempat orang itu melihat Roger yang merintih kesakitan dengan tatapan ngeri. Wajah pemuda itu terlihat seram persis seperti dalam film horor. Karena wajahnya yang berlumuran darah. Mereka juga mengamati seluruh ruangan itu. Rektor menemukan camera yang bahkan masih dalam mode merekam ada di ruangan itu.


"Bagaimana ini, Pak? Apa kita akan melaporkan pada polisi?"tanya sang dosen. Kita lihat dulu rekaman di handycam ini,"ujar sang rektor itu.Rektor pun mulai memutar rekaman di handycam itu.


Riska menutup mulutnya dengan tangannya saat melihat betapa ketakutannya Kahyang dalam rekaman itu. Riska juga terkejut saat Kahyang mengaku sedang mengandung. Riska nampak bergidik ngeri melihat pria yang menolong Kahyang begitu brutal menghajar pemuda yang saat ini masih terbaring mengenaskan di lantai.


Dari handycam itu, mereka mengetahui jika pemuda yang babak belur di ruangan itu berniat melecehkan seorang gadis yang merupakan mahasiswi tercantik di universitas itu.


"Jadi mereka ingin berbuat asusila di universitas ku?"geram sang rektor.


"Apa kamu mengenali semua orang yang ada dalam rekaman ini?"tanya rektor pada Riska.


"Kahyang adalah sahabat saya, saya keluar mencari dia karena pamit ke toilet tapi sudah lama nggak balik-balik. Sedangkan pemuda ini, dia orang yang mengejar-ngejar Kahyang. Kalau pria yang membawa Kahyang pergi, dan menghajar pemuda ini, saya tidak mengenalinya, Pak,"jelas Riska.


Dalam rekaman itu, pria yang membawa Kahyang pergi selalu membelakangi kamera. Sehingga mereka tidak dapat melihat wajah pria itu.Hanya Riska dan security yang berada di TKP yang melihat wajah Mandala.


"Melihat rekaman ini, akan lebih baik jika kita tidak melapor pada polisi. Mereka bertiga pantas diperlakukan seperti ini. Beraninya ingin berbuat asusila di universitas kita. Bahkan berniat melecehkan salah satu mahasiswi kita,"ujar rektor itu nampak marah.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Bagaimana jika mereka bertiga melapor ke polisi, Pak? Mereka, 'kan dihajar sampai babak belur sampai seperti ini,"tanya sang security.


"Mereka tidak akan berani. Karena jika mereka melapor ke polisi, mereka juga akan di tangkap atas tuduhan berniat melecehkan seorang gadis,"sahut rektor.


"Bagaimana jika dari pihak gadis itu yang melapor, Pak?"kali ini sang dosen yang bertanya.


"Kita akan mencoba mengajak mereka bicara baik-baik. Besok saya akan menghubungi pihak keluarga gadis itu. Saya berharap mereka tidak membawa kasus ini ke jalur hukum. Karena kasus ini bisa merusak reputasi universitas kita. Namun, jika mereka bersikeras membawa kasus ini ke jalur hukum, kita juga tidak akan menghalangi. Walaupun itu akan merusak reputasi universitas kita, kita tidak akan menghalangi orang untuk mendapatkan keadilan,"ujar sang rektor penuh pertimbangan.


Akhirnya dosen dan security membawa tiga orang yang babak belur itu ke rumah sakit. Rektor meminta pada security, dosen dan juga Riska untuk menyembunyikan masalah itu dari siapapun, dan mereka pun setuju.


***


Keesokan harinya.


Mandala nampak menggendong Kahyang dari kamar mandi. Seperti biasanya, Kahyang baru saja selesai muntah-muntah.


"Aku ingin duduk saja,"ujar Kahyang.


"Baiklah,"sahut Mandala menuruti keinginan Kahyang, mendudukkan Kahyang di atas ranjang. Mandala mengatur bantal agar Kahyang bisa bersandar dengan nyaman.


"Kamu tidak perlu khawatir. Kata dokter dia sehat, kok,"ujar Kahyang seraya mengelus perutnya yang terlihat sedikit membuncit.


Mandala duduk di samping Kahyang, kemudian menunduk, mengecup perut Kahyang, kemudian mengusapnya dengan lembut. Wajah Kahyang bersemu merah mendapatkan perhatian manis seperti itu dari Mandala. Walaupun Mandala sering melakukannya, tetap saja Kahyang malu saat Mandala melakukannya.


"Jika aku boleh bertanya, apa sebenarnya yang terjadi semalam?"tanya Mandala hati-hati. Tidak ingin Kahyang merasa tertekan dengan peristiwa semalam.


Kahyang menghela napas kasar, kemudian menatap mata Mandala yang begitu teduh menatapnya.


"Aku semalam pergi ke toilet. Saat aku keluar dan mengangkat telepon mu, tiba-tiba dia sudah ada di depan toilet. Lalu dia menyeret aku ke ruangan itu dan..."Kahyang nampak tertunduk menghela napas berat, dan Mandala langsung memotong kata-kata Kahyang.

__ADS_1


"Tidak perlu dilanjutkan! Aku melihatmu saat dia menyeret kamu masuk ke ruangan itu. Apa kamu mengenal mereka?"tanya Mandala.


"Dia adalah Roger, sepupu teman sekelas ku. Sudah berulangkali dia menyatakan cinta, dan ingin menjadi pacarku, tapi aku menolaknya. Aku sepat dua kali menghajarnya karena dia memelukku secara paksa, dan suka menyentuh aku sesuka hatinya,"ujar Kahyang merasa kesal.


"Seharusnya aku mematahkan semua tangan dan kakinya,"ujar Mandala dengan wajah suram,"Apa kamu ingin melaporkan mereka ke kantor polisi?"


"Tidak perlu membawa kasus ini ke jalur hukum. Aku tidak ingin masalah ini sampai di dengar oleh papa dan mamaku. Lagi pula semalam kamu menghajar dia sampai babak belur. Jika kita melaporkan kasus ini, namamu juga akan terseret dan kemungkinan besar, hubungan kita juga akan diketahui oleh publik,"ujar Kahyang menghela napas berat.


"Baiklah jika menurutmu seperti itu,"sahut Mandala.


Mandala menunduk menatap cincin yang disematkannya di jari manis Kahyang. Dari cincin yang sudah dipasang GPS itulah Mandala bisa menemukan Kahyang dengan cepat di universitas yang luas itu.


"Satu yang aku pinta, apapun yang terjadi, tolong jangan pernah melepaskan cincin ini. Kecuali untuk kau berikan pada anak atau menantu kita kelak,"ujar Mandala menggenggam lembut tangan Kahyang.


"Hum,"sahut Kahyang.


Suara dering handphon Mandala mengalihkan perhatian keduanya. Mandala nampak mengernyitkan keningnya karena nomor itu tidak ada dalam kontaknya.


"Halo!"sahut Mandala.


"Dengan wali Puspa Kahyang? Saya rektor universitas Kusuma Bangsa,"


...🌸❤️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2