
Anggoro baru saja turun dari pesawat. Di bandara, sudah ada seorang supir yang menjemputnya.
"Kita langsung pulang saja, Pak,"titah Anggoro pada supir pribadinya.
"Baik, Tuan,"sahut supir pribadi Anggoro, bergegas membawakan koper Anggoro.
Setelah masuk ke dalam mobil, pria paruh baya itu memejamkan matanya sambil menyandarkan punggungnya di kursi penumpang. Beberapa saat kemudian, handphone Anggoro pun berdering.
"Halo!"sahut Anggoro.
"Halo, Tuan! Tuan, ada yang ingin saya sampaikan. Apa Tuan sudah pulang?"tanya orang yang menelpon Anggoro.
"Kamu tunggu saja di rumah. Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju rumah,"ujar Anggoro.
"Baik Tuan,"sahut si penelepon, kemudian sambungan telepon pun dimatikan.
Setelah sekitar empat puluh lima menit menempuh perjalanan, akhirnya Anggoro pun tiba di rumahnya. Seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun sudah berdiri di depan pintu utama rumah Anggoro. Pria yang tidak lain adalah orang kepercayaan Anggoro itu menyambut kedatangan Anggoro.
"Selamat datang, Tuan,"ucap orang itu.
"Kita bicara di ruang kerja ku saja,"ujar Anggoro berjalan menuju ruangan kerjanya.
"Baik, Tuan,"sahut orang kepercayaan Anggoro mengikuti Anggoro ke ruang kerja Anggoro.
"Oh, iya. Apa kamu sudah mengurus akte nikah putri ku?"tanya Anggoro tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Apa yang akan sampaikan ini, ada hubungannya dengan hal itu, Tuan,"sahut orang kepercayaan Anggoro. Mendengar kata-kata orang kepercayaan nya, Anggoro nampak mengernyitkan keningnya. Penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh orang kepercayaannya.
"Ada apa?"tanya Anggoro saat mereka sudah berada di ruang kerja Anggoro.
"Saya menemukan sesuatu, Tuan,"ucap orang kepercayaan Anggoro meletakkan sebuah amplop berwarna coklat di atas meja kerja Anggoro.
"Apa ini? Jelaskan!"titah Anggoro tanpa menyentuh amplop berwarna coklat yang diberikan oleh orang kepercayaannya.
"Tuan, dalam amplop itu ada bukti bahwa Nona Kahyang sudah menikah dengan Tuan Mandala sembilan bulan yang lalu,"ucap orang kepercayaan Anggoro.
"Apa maksud kamu?"tanya Anggoro dengan tatapan tajam dan suara yang tiba-tiba terdengar dingin.
__ADS_1
"Saat saya mengurus akte pernikahan Nona dan Tuan Mandala, pihak dari catatan sipil mengatakan pernikahan Nona dan Tuan Mandala telah terdaftar sembilan bulan yang lalu. Yang artinya, sebelum Tuan menikahkan Nona dan Tuan Mandala kemarin, mereka sudah menikah duluan,"sahut orang kepercayaan Anggoro.
Anggoro terdiam. Keningnya membentuk lipatan-lipatan. Pernikahannya putrinya telah terdaftar sembilan bulan yang lalu? Sedangkan sembilan bulan yang lalu putrinya kabur dari nya dari sebuah klinik. Waktu itu putrinya kabur karena dipaksa nya untuk melakukan aborsi. Anggoro kembali menatap orang kepercayaan nya.
"Apa kamu sudah menyelidiki tentang hal ini?"tanya Anggoro dengan ekspresi yang tidak terbaca.
"Saya sudah menyuruh orang kepercayaan saya untuk menyelidiki hal ini, Tuan. Tapi mereka tidak menemukan apapun yang bisa menjelaskan tentang hal ini,"sahut orang kepercayaan Anggoro.
"Hubungi menantu saya! Dan suruh dia datang ke sini sekarang juga!"titah Anggoro dengan aura dingin.
"Baik, Tuan,"sahut orang kepercayaan Anggoro segera menghubungi Mandala.
Setelah mendapatkan telepon dari orang kepercayaan mertuanya. Mandala yang sedang berada di kantor pun bergegas pergi ke rumah Anggoro.
Sepanjang perjalanan, Mandala bertanya-tanya. Kenapa mertuanya tiba-tiba menyuruhnya datang ke rumah. Ada apa gerangan? Mandala tidak dapat menebaknya.
Masih jelas diingatan Mandala, selama satu minggu dirinya memarkirkan mobilnya di tepi jalan di depan rumah Anggoro hanya untuk melihat Kahyang berdiri di balkon kamarnya. Akhirnya Mandala pun tiba di rumah itu. Pria itu menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Anggoro.
"Tin! Tiinn!" Mandala membunyikan klakson mobil nya. Seorang satpam yang sudah dikenali Mandala pun menghampiri Mandala. Mandala pun segera menurunkan kaca mobilnya.
"Pak, saya ke sini di suruh oleh Tuan Anggoro,"ujar Mandala tersenyum ramah memberi tahukan tentang tujuannya datang, tanpa menjawab pertanyaan security itu.
"Oh, begitu, ya? Sebentar, akan saya buka kan pintu gerbang nya,"sahut Pak Supri bergegas membuka pintu gerbang.
"Terimakasih, Pak,"ucap Mandala pada Pak Supri setelah pintu gerbang terbuka. Pak Supri hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan pada Mandala.
Pak Supri menatap mobil Mandala yang masuk ke pekarangan rumah majikannya sambil menutup kembali pintu gerbang.
"Hari ini dia kelihatan sangat berbeda. Memakai pakaian formal dengan rambut yang disisir rapi ke belakang dan tanpa membawa putranya. Tidak seperti biasanya yang hanya memakai celana pendek dan kaos oblong sambil menggendong putranya,"gumam Pak Supri mengingat bagaimana penampilan Mandala sebelumnya.
Mandala turun dari mobilnya. Ditatapnya rumah yang selamanya ini selalu dilihatnya dari tepi jalan di depan sana. Mandala masuk ke dalam rumah itu disambut seorang ART, kemudian diarahkan ke ruangan tamu. Anggoro nampak sudah duduk di salah satu kursi singel di ruangan itu. Sedangkan orang kepercayaannya berdiri di sampingnya.
"Pa, ada apa papa memanggil ku ke sini Apa ada sesuatu yang sangat penting?"tanya Mandala sopan.
"Duduklah dulu!"titah Anggoro dengan suara datar.
Melihat aura wajah Anggoro, Mandala merasa ada firasat buruk. Mandala yakin akan ada sesuatu yang akan terjadi, dan itu bukan lah hal yang baik.
__ADS_1
"Tolong jelaskan ini!"titah Anggoro seraya meletakkan amplop berwarna coklat di atas meja.
Dengan tenang Mandala meraih amplop itu dan mengeluarkan isinya. Walaupun sebenarnya jantung Mandala berdegup dengan kencang saat meraih amplop itu. Mandala membaca lembaran kertas dari dalam amplop berwarna coklat itu dan tetap berusaha bersikap tenang walaupun sudah bisa memprediksi apa kira-kira hal yang terburuk yang akan terjadi padanya saat ini.
"Bisa kamu jelaskan apa maksudnya?"tanya Anggoro dengan suara dingin penuh penekanan.
"Aku memang menikah dengan Kahyang sembilan bulan yang lalu, resmi secara hukum. Kami tinggal bersama di sebuah apartemen yang sampai saat ini kami tinggali. Aku..."
"Kenapa kamu menikahi putri ku tanpa meminta izin dari ku?"tanya Anggoro memotong kata-kata Mandala. Menatap tajam pada Mandala, terlihat menahan amarah. Tangan pria paruh baya itu nampak mengepal kuat, rahangnya mengeras dan bibirnya terkatup rapat.
Mandala bangkit dari duduknya kemudian bersimpuh di depan Anggoro. Apapun yang akan dilakukan Anggoro padanya nanti, Mandala sudah pasrah.
"Maafkan aku,.pa! Aku adalah orang yang menghamili putri papa..."
"Dasar bajingan!"umpat Anggoro memotong kata-kata Mandala, langsung memukul Mandala.
Dengan membabi buta Anggoro melayangkan pukulan pada Mandala. Ada amarah yang sangat besar yang terlihat di mata pria paruh baya itu. Namun tidak sedikit pun Mandala menghindari pukulan Anggoro yang bertubi-tubi di tubuhnya, apalagi melawan Anggoro. Mandala membiarkan Anggoro memukulnya habis-habisan, meluapkan emosinya. Mandala merasa pantas mendapatkan pukulan dari Anggoro.
"Tuan, hentikan, Tuan! Kita bisa membicarakannya baik-baik,"ucap orang kepercayaan Anggoro mencoba menghentikan Anggoro.
"Minggir! Akan aku hajar pria brengseek ini!"sergah Anggoro. Dengan kuat Anggoro yang amarahnya sedang meledak-ledak itu mendorong tubuh orang kepercayaan nya hingga terjatuh.
"Tuan! Cukup, Tuan! Anda bisa membunuhnya!"orang kepercayaan Anggoro kembali berusaha menghentikan Anggoro.
"Hentikan!"
...π"Amarah tidak akan menyelesaikan masalah. Dan dendam tidak akan membawa kedamaian."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1