
Prasetyo melangkah cepat menuju UGD. Sampai di UGD, Prasetyo melihat seorang pria berkacamata berdiri di ruangan itu.
"Tuan!"sapa pria berkacamata itu sedikit menunduk memberi hormat pada Prasetyo.
"Siapa kamu?"tanya Prasetyo yang wajahnya terlihat khawatir.
"Saya orangnya Tuan Aldi. Saya ditugaskan untuk membawa Tuan Mandala dan nona Kahyang ke sini,"sahut pria berkacamata itu.
"Aldi?"gumam Prasetyo seraya mencoba untuk mengingat,"Oh, iya. Aku baru ingat. Pemuda tadi namanya Aldi, ya? Pantas, aku seperti pernah melihat dia. Bagaimana keadaan menantu saya? Dan mana putri saya? Tadi, kamu bilang membawa putri dan menantu saya, 'kan?"tanya Prasetyo masih dengan kekhawatiran di wajahnya.
"Pras, bagaimana keadaan Mandala?"tanya Agung yang datang bersama Prameswari dan Mala.
"Tuan Mandala masih di dalam ruangan UGD. Sepertinya kepala dan lengannya cidera. Sedangkan Nona Kahyang ada di ruangan rawat karena syok melihat Tuan Mandala mengalami kecelakaan di depan matanya,"ujar orang kepercayaan Aldi menjelaskan.
"Aku akan melihat Kahyang,"ucap Mala.
"Aku ikut dengan mu,"sahut Prameswari.
Dua wanita paruh baya itu akhirnya pergi ke ruangan Kahyang di rawat. Sedangkan Prasetyo dan Agung menunggu Mandala di depan ruangan UGD.
"Sebenarnya, bagaimana kronologi kecelakaannya?"tanya Agung.
"Tuan Anggoro membayar Sheila, mantan kekasih Tuan Mandala untuk menghabisi Tuan Mandala. Menabrak Tuan Mandala dengan truk,"jawab orang kepercayaan Aldi, membuat Agung terkejut. Sedangkan Prasetyo hanya bisa membuang napas kasar.
Orang kepercayaan Aldi akhirnya menceritakan semua yang dia ketahui pada Prasetyo dan Agung. Tentang Aldi yang ingin dijadikan Anggoro sebagai menantunya. Sheila yang disuruh untuk menggoda Mandala, bahkan Aldi yang sebenarnya mencintai Kahyang, tapi memilih melihat Kahyang bahagia bersama Mandala.
"Lalu, apa Sheila sudah di tangkap?"tanya Agung.
__ADS_1
"Sheila meninggal karena kecelakaan, setelah melarikan diri dari TKP,"sahut orang kepercayaan Aldi.
Setelah beberapa jam ditangani di UGD, akhirnya Mandala pun dipindahkan ke ruang rawat. Prasetyo dan Agung merasa lega karena Mandala tidak mengalami cidera yang serius.
Di ruangan rawat Mandala, Prasetyo dan Agung kembali menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mala, dan Prameswari nampak terdiam setelah Prasetyo menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi, semua ini adalah perbuatan suamiku?"tanya Mala dengan wajah tertunduk. Terlihat kekecewaan yang mendalam di wajahnya.
"Iya. Bahkan polisi sudah membawa Anggoro ke kantor polisi untuk di mintai keterangan. Orang yang bernama Aldi yang melaporkan Anggoro ke polisi dengan bukti-bukti yang memberatkan Anggoro,"sahut Prasetyo menghela napas berat,"Atas nama adikku, aku minta maaf pada kalian, Agung, Prameswari,"sambung Prasetyo.
"Aku tahu Anggoro pasti sakit hati dengan perlakuan keluarga kami padanya dan juga pada Kahyang. Namun, tidak bisakah dia melupakan rasa sakit hatinya? Bagaimanapun cara Mandala dan Kahyang bersatu, pada kenyataannya mereka bahagia, bukan? Apakah kebahagiaan putra-putri kita tidak bisa membuat Anggoro melupakan sakit hatinya? Anggoro hampir saja membuat cucu kita kehilangan ayahnya,"ujar Agung yang menyesalkan tindakan Anggoro.
"Aku juga tidak tahu lagi, bagaimana caranya agar bisa membuat Anggoro sadar jika semua yang dia lakukan adalah salah dan hanya akan melukai hati banyak orang,"sahut Prasetyo menghela napas yang terasa berat.
"Aku akan kembali ke ruangan Kahyang,"pamit Mala, bangkit dari duduknya. Meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang terlihat sedih. Tidak menyangka jika suaminya akan sangat nekad seperti itu.
Kahyang perlahan mulai sadar. Mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Namun tiba-tiba Kahyang terkejut saat mengingat sesuatu. Ingatannya berputar saat dirinya melihat mobil Mandala yang ditabrak oleh truk, hingga akhirnya meledak di depan matanya.
"Man!"pekik Kahyang melihat ke sekeliling tempatnya berada dengan napas yang tiba-tiba tidak teratur.
"Yang, kamu sudah sadar?"tanya Mala. Melihat Kahyang sudah sadar, Yudha dan Riska yang ada di tempat itu pun menghampiri Kahyang.
"Suamiku, dimana suamiku, ma? Di mana dia?"tanya Kahyang menggoyang kedua lengan Mala dengan wajah yang terlihat cemas.
"Tenanglah! Dia masih di ruang rawat,"sahut Mala mencoba menenangkan.
"Aku ingin melihatnya. Ada di ruangan mana suamiku, ma? Dia baik-baik saja, 'kan, ma? Tidak terjadi apa-apa padanya, 'kan, ma?"tanya Kahyang dengan raut kekhawatiran di wajahnya, bahkan air matanya pun sudah menetes.
__ADS_1
"Tenanglah! Dia tidak mengalami luka yang serius. Kamu bisa melihatnya sendiri,"sahut Mala.
"Aku ingin bertemu dengan dia, ma. Tunjukkan padaku di mana suamiku, ma!"pinta Kahyang tidak sabar. Hatinya belum tenang jika belum melihat Mandala dengan mata dan kepalnya sendiri. Mengingat mobil Mandala yang meledak tadi, bagaimana Kahyang bisa tenang?
"Baiklah, mama akan mengantarkan kamu"sahut Mala.
Yudha yang melihat Kahyang seperti itu pun hanya bisa menghela napas berat. Napas yang terasa sesak di dadanya. Hari ini, Yudha bisa melihat betapa Kahyang mencintai Mandala. Yudha bisa melihat, betapa takutnya Kahyang kehilangan Mandala. Ternyata cinta Kahyang untuknya benar-benar sudah tidak ada lagi. Dan rasanya, percuma mengharapkan Kahyang kembali. Kenyataannya, cintanya kini hanya bertepuk sebelah tangan.
...🌟It’s hard to forget someone who gave you so much to remember. (Sulit untuk melupakan seseorang yang memberi begitu banyak hal untuk diingat)...
... But... (Tapi...)...
...Love is when the other person’s happiness is more important than you own. (Cinta adalah ketika kebahagian orang lain lebih penting daripada kebahagiaanmu)...
...Jika saatnya tiba, sedih akan menjadi tawa, perih akan menjadi cerita, dan kenangan akan menjadi guru. ...
...Jika melupakan adalah jalan terbaik untuk memulai masa depan, maka lepaskanlah, apa yang seharusnya kamu lupakan....
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
.
To be continued
__ADS_1