Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
46. Anak Haram


__ADS_3

Sudah tiga hari semenjak Kahyang melahirkan, dan malam itu Agung menyuruh Mandala untuk pulang ke rumah. Dan disinilah saat ini Mandala berada.Duduk di ruang keluarga bersama Agung dan Prameswari. Pria yang sekarang sudah menjadi seorang ayah itu tampaknya sudah tahu apa yang hendak dikatakan oleh kedua orang tuanya, terutama papanya.


"Apa dia sudah melahirkan?"tanya Agung datar, menatap lekat wajah putranya.


"Sudah,"sahut Mandala singkat.


"Laki-laki atau perempuan?"tanya Prameswari nampak antusias.


"Laki-laki,"sahut Mandala, lagi-lagi singkat.


"Mama ingin melihat cucu mama,"sahut Prameswari yang terlihat bahagia.


"Jangan!"larang Agung yang tidak ingin ada hubungan antara keluarganya dengan Kahyang ataupun anaknya. Agung takut jika nantinya istrinya akan sering menemui cucu mereka, dan itu tidak baik. Rahasia bahwa Mandala sudah pernah menikah dan memiliki putra akan terungkap jika mereka terus berhubungan dengan Kahyang.


"Kenapa? Walau bagaimanapun, bayi itu adalah cucu kita,"protes Prameswari yang sangat ingin melihat cucu pertamanya.


"Dia itu hanya anak haram!"sergah Agung.


"Dia bukan anak haram!"teriak Prameswari dan Mandala bersamaan. Ibu dan anak itu nampak tidak suka mendengar kata-kata Agung.


"Jangan pernah menyebut putraku anak haram! Karena dia tidak tahu apa-apa. Akulah yang berdosa hingga dia terlahir di dunia ini. Papa boleh memarahi aku, menghina aku, atau memukul aku. Tapi jangan pernah menghina putraku dengan menyematkan nama anak haram padanya,"tukas Mandala tidak terima dan sakit hati anaknya di panggil sebagai anak haram. Dan yang lebih menyakitkan, yang mengatakannya adalah kakeknya sendiri.


"Iya, Mandala benar! Anak itu tidak berdosa. Kenapa papa memanggilnya anak haram?"timpal Prameswari yang juga ikut sakit hati mendengar suaminya sendiri memanggil cucu mereka anak haram.


Agung membuang napas kasar,"Baiklah, terserah apa kata kalian. Apa kamu sudah mengurus surat perceraian kalian?"tanya Agung menatap Mandala, seolah tidak bosan menanyakan hal itu.


"Sudah,"sahut Mandala datar, membohongi Agung karena masih merasa sakit hati dengan kata-kata Agung tadi. Mandala sudah berjanji pada Kahyang, bahwa Mandala tidak akan menceraikan Kahyang sebelum Kahyang memintanya.


"Kalau begitu, mulai malam ini, sebaiknya kamu kembali ke rumah ini,"titah Agung.


"Aku akan kembali ke rumah ini jika hari pernikahan ku sudah di tentukan,"sahut Mandala yang masih ingin menghabiskan waktu yang tersisa bersama Kahyang dan Rayno. Selain itu, Mandala juga tidak tega jika Kahyang harus menjaga Rayno sendirian.

__ADS_1


"Mana boleh seperti itu! Mulai hari ini, kamu harus memutuskan hubungan mu dengan mereka!"tegas Agung tidak ingin dibantah.


"Papa setuju atau tidak, aku akan tetap tinggal bersama mereka sampai hari pernikahanku. Lagi pula, mana ada orang yang bisa memutuskan hubungan darah? Walaupun dunia berakhir pun, dia tetap putraku,"sahut Mandala menahan emosinya.


"Kamu jangan keras kepala! Pikirkan bagaimana jika Prasetyo tahu bahwa kamu sudah pernah menikah dan bahkan memiliki anak!"sergah Agung.


"Papa jangan hanya memikirkan diri papa sendiri. Papa seharusnya juga berpikir! Bagaimana pun, ini semua adalah kesalahan ku. Kahyang dan anakku adalah korban. Aku yang telah menghancurkan masa depan Kahyang. Seharusnya aku bertanggung jawab sepenuhnya pada Kahyang dan putra kami, bukan malah berniat meninggalkan mereka seperti ini. Apalagi sampai memutuskan hubungan dengan darah daging ku sendiri. Tidak adil bagi Kahyang jika harus menanggung dosa-dosa yang aku lakukan dan mengurus bayi kami seorang diri! Bahkan kelak juga harus membesarkan anak kami sendirian,"ujar Mandala kemudian bangkit dari duduknya dengan rasa kesal pada papanya dan rasa bersalah kepada Kahyang. Pria itu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, berniat kembali ke apartemen.


"Hei! Mau kemana kamu! Dasar anak nakal! Kembali kamu! Mandala!"teriak Agung, tapi tidak digubris oleh Mandala.


"Sudah lah, pa! Cukup! Biarkan dia pergi! Dia bukan anak kecil lagi yang bisa dengan mudah papa atur! Lagipula, benar apa kata Mandala. Papa tidak boleh memikirkan kepentingan papa sendiri. Papa juga harus memikirkan perasaan orang lain juga. Apalagi, disini yang bersalah adalah anak kita, dan yang dirugikan adalah Kahyang,"ujar Prameswari yang ikut merasa kesal pada Agung lalu meninggalkan ruangan itu. Tidak mau semakin emosi karena berdebat dengan suaminya sendiri.


"Huh, kalian ibu dan anak sama saja!"gerutu Agung membuang napas kasar.


Mandala pulang ke apartemen nya dengan perasaan kesal kepada papanya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat Mandala tiba di apartemennya. Saat membuka pintu apartemen nya, pendengaran Mandala langsung di sapa oleh suara tangis putranya. Pria itupun bergegas masuk ke dalam kamar dan menghampiri putranya yang berada dalam box bayi.


"Tunggu sebentar sayang!"teriak Kahyang dari dalam kamar mandi.


"Ceklek"Kahyang nampak buru-buru keluar dari kamar mandi dengan ekspresi khawatir.


"Hati-hati! Jangan sembarang bergerak! Kamu belum terlalu pulih,"ujar Mandala terlihat khawatir, memperingati Kahyang seraya menghampirinya.


"Aku tahu, aku tidak tega mendengar Ray menangis,"sahut Kahyang.


"Aku sudah mengganti popoknya, tapi dia masih menangis. Sepertinya Ray haus,"ujar Mandala.


"Biar aku susui dulu,"sahut Kahyang mengambil Rayno dari gendongan Mandala.


"Aku membersihkan diri dulu,"ujar Mandala. Setiap kali Kahyang menyusui Rayno, Mandala selalu mencari alasan untuk menghindar, tidak ingin melihat sesuatu yang bisa membuat dirinya gelisah. Entah mengapa, Mandala sulit menahan diri jika melihat dada Kahyang. Apalagi semenjak menyusui, ukurannya bertambah besar dan berisi.


Beberapa menit kemudian Mandala sudah keluar dari dalam kamar mandi, bertepatan dengan Kahyang yang baru selesai mengancingkan bajunya.

__ADS_1


"Dia sudah tidur?"tanya Mandala seraya menghampiri Kahyang.


'Iya,"sahut Kahyang tanpa menoleh pada Mandala. Wanita itu membelai rambut putranya yang tebal.


"Jika aku sudah sehat, aku ingin masuk kuliah lagi. Boleh, 'kan?"tanya Kahyang menatap Mandala yang duduk di sampingnya.


"Bukannya kamu mengambil cuti?"tanya Mandala. Karena waktu itu Mandala memang menyuruh Kahyang untuk mengambil cuti.


"Sebenarnya aku nggak ngambil cuti. Aku minta ijin untuk kuliah daring,"sahut Kahyang menyengir bodoh.


Mandala menghela napas panjang mendengar pengakuan Kahyang,"Pantas saja kamu masih sering nanya tentang materi yang tidak kamu mengerti,"ujar Mandala.


"Sayang kalau ngambil cuti. Mumpung masih ada guru bimbelnya,"sahut Kahyang tertawa kecil. Sedangkan Mandala hanya tersenyum tipis, tepatnya memaksakan diri untuk tersenyum. Menyadari jika mereka sudah berpisah nanti, dirinya tidak akan bisa lagi membantu Kahyang menjelaskan materi yang tidak dimengerti oleh Kahyang. Apalagi sebentar lagi Kahyang akan segera menghadapi ujian kelulusan dan juga membuat skripsi.


"Sini! Biar aku tidurkan Rayno di boxnya. Tidurlah! Mumpung Ray tidur. Kamu akan kurang tidur jika tidak tidur sekarang,"ujar Mandala.


Kahyang pun menurut. Setelah membaringkan putranya ke dalam box bayi, Mandala pun merebahkan tubuhnya. Kahyang mendekati Mandala, merebahkan kepalanya di lengan Mandala dan memeluk perut rata pria itu. Mandala pun memiringkan tubuhnya, mendekap Kahyang dan mengelus kepala wanita dalam dekapannya itu. Beberapa menit kemudian, wanita muda itupun terlelap karena merasa lelah.


"Rasanya aku ingin waktu berhenti berputar, agar kita tetap bisa bersama seperti ini,"gumam Mandala mengecup lembut kepala Kahyang dengan dada yang terasa sesak.


...🌟"Waktu akan terasa sangat berharga, saat kamu menyadari bahwa kebersamaan mu dengan orang yang kamu cinta tidak akan lama."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2