
"Bukankah sejak awal kamu hanya ingin menikahi aku sampai anak ini lahir?"tanya Kahyang pelan menatap manik mata pria yang sudah beberapa bulan ini bersamanya.
"Aku mencintai mu!"ucap Mandala menghela napas berat, sedangkan Kahyang menundukkan kepalanya.
"Aku tahu, tidak seharusnya aku mengatakan ini padamu. Namun, hatiku merasa lebih lega, setelah aku mengatakan nya padamu. Aku tahu, kamu mau menikah dengan ku hanya karena ingin memberikan status sah untuk anak kita. Lagi pula, walaupun aku mencintaimu, aku tidak akan pernah bisa mengakui mu sebagai istriku di hadapan publik. Aku juga tahu, jika dalam hatimu tidak pernah ada aku. Bahkan, ada orang yang setia menunggu mu bercerai dariku. Dan mungkin dia memang orang yang terbaik untuk mu. Bukan pria brengseek dan pecundang seperti ku. Aku bahkan tidak bisa memilih untuk hidup bersama orang yang aku cintai. Aku terikat karena hutang budi. Harta yang kami miliki, bahkan mata yang aku pakai untuk menatap mu pun adalah hutang budi yang harus aku bayar. Maaf! Aku telah menghancurkan masa depan mu dan membuatmu menderita.Aku berharap, setelah kita berpisah, kamu bisa mendapat kebahagiaanmu. Tidurlah!Kamu harus istirahat!"ucap Mandala menghela napas berat, melonggarkan dadanya yang terasa sesak. Kesedihan nampak terpancar jelas di wajah dan mata pria tampan itu.
"Kenapa kamu mencintai ku?"tanya Kahyang yang dari tadi tertunduk. Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap Mandala.
"Aku tidak tahu, kenapa, kapan, bagaimana, dan mengapa aku mencintaimu. Tapi itulah yang aku rasakan. Aku merasa nyaman saat bersamamu. Merasa rindu jika kita berjauhan. Terasa ada yang hilang dan kosong jika tanpamu. Aku merasa tidak rela saat kamu disentuh pria lain, aku cemburu. Aku merasa sedih saat melihat mu sedih, apalagi saat kamu menangis. Dan aku merasa bahagia saat kamu bahagia. Tapi aku sadar, walaupun aku ingin hubungan ini bukan sekedar status, nyatanya, sampai kapanpun, aku hanya suamimu sebatas status. Karena aku tidak mempunyai jalan untuk memperjuangkan mu,"ucap Mandala jujur adanya. Wajahnya tertunduk, nampak kesedihan dan rasa tidak berdaya di wajah pria itu.
"Cup"
Mandala membulatkan matanya saat tiba-tiba Kahyang mengecup pipinya dengan lembut. Tidak seperti biasanya, biasanya Kahyang menciumnya sekilas dan itu pun sebagai bayaran karena Mandala mengajarinya mengerjakan tugas atau menjelaskan materi yang tidak dimengerti nya. Kahyang sedikit menjauhkan wajahnya. Mandala mengangkat wajahnya menatap Kahyang yang saat ini wajahnya begitu dekat dengan wajahnya.Mata mereka pun bertemu.
Tatapan mereka begitu dalam, seolah saling menyelami isi hati orang yang saat ini mereka tatap. Hening, diam tanpa suara, seolah mereka bicara lewat tatapan mata mereka. Hanya detak jantung keduanya yang entah mengapa tiba-tiba berdetak tidak beraturan. Dan entah siapa yang memulainya tiba-tiba bibir mereka saling menempel.
Dengan lembut Mandala memagut bibir Kahyang. Tanpa disadarinya, tangan kirinya bergerak memeluk pinggang Kahyang. Tangan kanannya menyentuh lengan Kahyang dan terus bergerak naik hingga ke tengkuk Kahyang. Sedangkan tangan kiri Kahyang mencengkram lengan Mandala dan tangan kanannya mencengkram dada Mandala, berusaha membalas setiap pagutan Mandala.
Jantung Kahyang semakin berdetak kencang. Mandala menciumnya dengan lembut dan terasa memabukkan. Bahkan ada sensasi aneh tapi membuatnya penasaran saat lidah Mandala menerobos masuk ke dalam mulutnya dan membelit lidahnya. Ciuman yang semakin lama semakin memabukkan. Apalagi bagi Mandala yang selama ini sudah bersusah payah menahan diri agar tidak menyentuh Kahyang. Maka saat Kahyang tidak menolak ciuman dan sentuhan nya, pria itu pun sulit untuk mengendalikan diri.
__ADS_1
Mandala melepas ciuman nya saat Kahyang mulai kesulitan bernapas. Bibirnya berpindah ke leher Kahyang yang putih mulus. Mencium, menyesap dan meninggalkan jejak di kulit putih mulus Kahyang. Tangannya perlahan melucuti kain yang menempel ditubuh Kahyang, dan di tubuhnya sendiri. Tanpa di sadari Kahyang, Mandala hampir melucuti semua kain yang menempel di tubuh nya, karena terbuai oleh setiap sentuhan bibir, lidah dan tangan Mandala.
Tubuh Kahyang terasa bergetar, darahnya seolah mengalir lebih cepat, jantungnya berdetak tidak beraturan. Ada sensasi aneh yang membuatnya gelisah saat Mandala menyentuh setiap bagian tubuhnya. Mandala meneguk salivanya kasar saat melihat dua bukit kembar yang terlihat montok dan menantang di depan matanya. Lebih menggoda dari sebelumnya,.saat Mandala meniduri Kahyang dalam keadaan tidak sadarkan diri waktu itu.
Bibir, lidah dan tangan Mandala mulai bergantian bermain-main di dua bukit kembar itu, membuat Kahyang tanpa sadar mengeluarkan suara yang terdengar menggoda di telinga Mandala.Tubuh Mandala terasa semakin panas dan gelisah, begitu pula tubuh Kahyang. Mereka menginginkan lebih dari sebuah sentuhan.
Dengan perlahan dan lembut Mandala membimbing Kahyang untuk memulai penyatuan mereka. Walaupun saat ini gejolak dalam dirinya terasa meledak-ledak, tapi Mandala berusaha untuk melakukan nya dengan lembut agar tidak menyakiti Kahyang dan juga bayi dalam kandungan Kahyang.
Mandala memejamkan matanya saat tubuh mereka benar-benar menyatu. Menikmati rasa hangat, sesak dan menjepit yang membuatnya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Rasanya tempat itu tetap terasa sempit seperti yang pernah dirasakan Mandala dulu.
Sedangkan Kahyang merasakan tubuhnya bergetar hebat dan merasakan rasa nikmat yang belum pernah dirasakannya sebelumnya saat Mandala memasuki tubuhnya.
"Ugh.. Mann!"pekik Kahyang menjambak rambut Mandala, merasakan sensasi nikmat saat Mandala terus bergerak di atas tubuhnya, seraya mempermainkan di benda kenyal miliknya. Sungguh, Kahyang merasakan kenikmatan yang benar-benar membuatnya melayang. Mandala begitu pandai memberikan sentuhan di tubuhnya hingga Kahyang tidak bisa menahan diri untuk mendesah dan berteriak karena kenikmatan yang dirasakan nya.
Walaupun sudah berusaha menahan suaranya dengan menggigit bibirnya sendiri, tapi tetap saja suara-suara aneh itu keluar dari mulut Kahyang. Bahkan tanpa sadar beberapa kali memekik dan memanggil nama Mandala.
Tangannya mencengkram lengan, dada, dan pundak Mandala bergantian. Bahkan Kahyang menjambak rambut Mandala, saat pria itu menenggelamkan wajahnya di dadanya. Rasa nikmat itu benar-benar sulit di jabarkan dan dilukiskan. Hingga akhirnya tubuh keduanya menegang saat secara bersamaan mereka mendapatkan pelepasan. Menikmati puncak kenikmatan yang luar biasa nikmatnya.
Mandala merapikan anak rambut Kahyang yang menutupi wajah Kahyang. Wajah wanita itu nampak memerah karena malu. Entah mengapa mereka tiba-tiba melakukannya, dan ini baru pertama kali bagi Kahyang merasakan nikmatnya dan indahnya bercinta dalam keadaan sadar. Dan semua ini karena Kahyang mencium Mandala. Mandala mengelap peluh yang membasahi wajah Kahyang, kemudian mengecup lembut kening Kahyang.
__ADS_1
"Aku mencintaimu!"ucap Mandala kemudian mengecup lembut bibir Kahyang untuk beberapa saat. Mandala menyelimuti tubuh mereka, kemudian memeluk Kahyang yang berbaring miring dari belakang. Kahyang memegang tangan Mandala yang memeluk perutnya.
"Apa perutmu terasa sakit?"tanya Mandala nampak khawatir.
"Tidak,"sahut Kahyang singkat.
"Aku minta maaf! Tidak seharusnya aku melakukan ini padamu. Selama ini, aku sudah berusaha keras untuk tidak menyentuh mu. Tapi, malam ini aku tidak bisa menahan diri ku lagi,"ujar Mandala menghela napas berat. Sungguh, tadi Mandala benar-benar tidak bisa mengendalikan diri saat Kahyang membalas semua yang dilakukannya. Apa yang ditahannya selama ini benar-benar tidak bisa dikendalikan nya lagi. Apalagi saat Kahyang tidak menolak, tapi malah merespons dengan baik.
...π"Cinta itu tidak diminta, dia datang dengan sendirinya ke setiap hati tanpa meminta balasan."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1