
Kahyang membulatkan matanya saat tiba-tiba Mandala mencium pipinya. Untuk beberapa detik, Kahyang nampak membatu. Namun begitu sadar apa yang telah dilakukan Mandala, tatapan mata Kahyang langsung berkobar penuh api amarah.
"Dasar brengseek mesum!"teriak Kahyang seraya menggosok pipinya yang baru saja dicium oleh Mandala. Merasa sangat kesal pada Mandala.
Sedangkan Mandala yang sedang membuka pintu pun tersenyum simpul mendengar teriakan Kahyang. Mandala pun bergegas keluar dari unit apartemen itu. Entah mengapa, Mandala merasa sangat senang setelah berhasil mencuri ciuman di pipi Kahyang.
"Awas saja kalau pulang nanti!"gerutu Kahyang penuh emosi.
Tatapan mata Kahyang tertuju pada kartu ATM dan uang tunai yang diletakkan Mandala di atas meja. Sudut bibirnya tertarik ke atas setelah menghitung jumlah uang tunai itu.
"Satu juta. Lumayan. Hemm, kira-kira ada berapa saldo di dalam ATM ini?"gumam Kahyang dengan tangan kiri memegang uang dan tangan kanan memegang ATM.
Di sisi lain, Mandala melajukan mobilnya menuju kediaman orang tuanya. Setelah mandi tadi, Agung menelpon nya dan memintanya pulang secepatnya.Setelah sampai di rumah, Mandala bertemu dengan papanya di ruang keluarga.
"Ada apa papa menyuruh aku pulang cepat?"tanya Mandala menatap papanya yang sedang duduk santai.
"Akhirnya kamu pulang juga. Ikut ke ruang kerja papa!"titah Agung langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruangan kerjanya diikuti oleh Mandala.
"Duduklah!"titah Agung, dan Mandala pun duduk di depan papanya. Keduanya menoleh bersamaan saat pintu ruangan itu terbuka. Prameswari muncul dari balik pintu itu.
"Kapan kamu pulang, Man? Mama nggak tau kalau kamu sudah pulang, jika bibi tidak melihat mu masuk ke ruangan ini,"ujar Prameswari.
"Baru, kok, ma,"sahut Mandala kemudian menatap Agung,"Ada apa papa menyuruh aku segera pulang?"tanya Mandala yang melihat wajah Agung nampak serius.
"Apa kamu sudah selesai mengurus surat pernikahan kamu dengan Kahyang?"tanya Agung tanpa menjawab pertanyaan Mandala.
"Sudah, pa,"sahut Mandala singkat.
"Lalu kenapa kamu tadi siang menyuruh Asisten rumah tangga kita untuk mengemasi barang-barang mu?"tanya Agung curiga.
__ADS_1
"Aku akan tinggal bersama dengan Kahyang di apartemen, pa,"sahut Mandala.
"Tinggal di apartemen bersama Kahyang? Apa maksud kamu?"tanya Agung nampak tidak suka dengan keputusan Mandala.
"Pa, Kahyang sedang mengandung. Aku mengkhawatirkan nya, jadi aku berniat untuk menjaganya,"jawab Mandala jujur. Mandala memang berniat menjaga Kahyang karena khawatir jika terjadi apa-apa dengan Kahyang. Sedangkan saat ini Kahyang tidak punya siapapun selain dirinya.
"Bukankah pernikahan kamu hanya untuk memberi status pada anak yang dikandung Kahyang? Kenapa kamu harus repot-repot menjaganya?"cetus Agung menunjukkan ketidak setujuan nya pada keputusan Mandala.
"Pa, walaupun bagaimanapun, Kahyang sedang mengandung anakku ,darah daging ku. Mana tega aku membiarkan dia tinggal sendirian di saat dia sedang mengandung anakku?"jelas Mandala yang memang tidak tega membiarkan Kahyang tinggal sendirian di apartemen yang sudah disiapkan nya, apalagi jika Kahyang tinggal di kos-kosan seperti kemarin.
"Jika kamu khawatir pada anakmu, kamu bisa menyuruh orang untuk menemani Kahyang. Tidak perlu kamu yang harus menjaganya,"sambar Agung.
"Pa, aku ayah dari anak yang dikandung Kahyang, kenapa aku harus menyuruh orang lain untuk menjaganya?"Mandala tidak setuju dengan pendapat papanya. Mandala ingin menjaga Kahyang sendiri.
"Papa tidak ingin ada orang yang tahu, jika kamu sudah menikah dengan Kahyang,"sergah Agung nampak mulai emosi.
"Aku akan berusaha agar tidak ada orang yang mengetahui tentang pernikahan ku dengan Kahyang,"sahut Mandala masih keukeh dengan keputusannya.
"Aku hanya menjaganya sampai dia melahirkan. Kahyang mengandung karena kekhilafan ku. Bukankah wajar jika aku bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan?"tanya Mandala yang juga mulai emosi.
"Tapi.."
"Brakk"
'Cukup!"
Tiba-tiba Prameswari yang dari tadi hanya diam berteriak dan menggebrak meja dengan kuat. Membuat Agung dan Mandala terkejut, bahkan sangking terkejutnya, Agung tidak melanjutkan kata-katanya.
Agung dan Mandala menatap Prameswari dengan mulut ternganga. Prameswari terlihat sangat marah, matanya seperti api yang sedang menyala. Napasnya pun terlihat tidak teratur.
__ADS_1
"Kenapa papa begitu keberatan jika Mandala ingin menjaga Kahyang? Anak kurang ajar ini memang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Yang menjadi korban di sini adalah Kahyang! Yang dirugikan dan menderita juga Kahyang! Seharusnya papa mendukung anak kurang ajar ini untuk bertanggung jawab atas perbuatannya! Bukan malah melarang dia untuk bertanggung jawab! Apa papa tidak berpikir? Papa juga punya putri, bagaimana seandainya putri kita yang diperlakukan seperti ini, hah?"tanya Prameswari meledak-ledak.
Mandala dan Agung tertunduk diam, tidak berani menatap ataupun menyela kata-kata Prameswari yang sudah seperti macan betina yang sedang mengamuk.
"Kalian para lelaki sangat egois dan hanya memikirkan tubuh bagian bawah kalian saja! Tanpa mau tahu perasaan kami para wanita. Jangan karena Kahyang memaklumi keadaan kita dan mengalah hanya menginginkan status untuk anaknya, terus papa bisa menginjak-injak dia! Jika mama jadi Kahyang, mama tidak akan bersikap terlalu lunak seperti Kahyang. Diperk*sa, dipaksa menggugurkan kandungan, cuma di nikahi selama satu tahun untuk sebuah status setelah itu diceraikan. Apa kalian pikir, kami para wanita ini baju? Bisa kalian buang jika sudah lusuh atau kalian sudah tidak menyukainya lagi? Jika mama jadi Kahyang, anak kurang ajar ini bukan hanya mama hajar, tapi akan mama potong ular kobra nya yang sembarangan masuk dan nyembur ke lobang yang bukan miliknya!"sergah Prameswari membuat Mandala dan Agung bergidik ngeri. Sebagai sesama wanita, Prameswari merasa Kahyang diperlakukan tidak adil dan teraniaya dengan keputusan keluarganya. Apalagi saat Mandala ingin menjaga Kahyang, suaminya malah nampak keberatan.
"Papa hanya khawatir, dengan masa depan keluarga kita, ma!"ucap Agung lembut.
"Papa mengkhawatirkan masa depan kita? Lalu bagaimana dengan masa depan Kahyang yang sudah dihancurkan oleh anak kurang ajar ini? Karena anak kurang ajar ini, Kahyang kehilangan kesuciannya, mengandung diluar nikah, harus kabur dari rumah hanya untuk menyelamatkan bayi dalam kandungan nya agar tidak digugurkan. Bahkan pingsan di jalan dalam keadaan hujan deras karena kelelahan. Apa papa pikir dia tidak menderita? Dan semua itu karena anak kurang ajar ini!"ujar Prameswari menunjuk Mandala, masih dengan amarahnya yang meledak-ledak.
"Jika Kahyang menggugurkan kandungannya, masalah nya tidak akan seperti ini, ma,"sahut Agung malah terkesan menyalahkan Kahyang.
"Brakk!"Prameswari kembali mengebrak meja, membuat Mandala dan Agung kembali terkejut dibuatnya.
"Menggugurkan kandungan papa bilang? Apa papa pikir menggugurkan kandungan itu enak, hah? Selain sakit, menggugurkan kandungan juga berisiko membuat wanita menjadi mandul! Seenaknya saja nyuruh menggugurkan! Menggugurkan kandungan itu sama saja dengan membunuh! Apa hak kalian membunuh bayi yang tidak berdosa? Dia tidak pernah meminta di hadirkan di dunia ini. Bayi itu ada karena anak kurang ajar ini. Kalian para lelaki mencari enak saja, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi nantinya,"sergah Prameswari bertambah emosi.
"Tapi sebaiknya Mandala tidak tinggal bersama Kahyang, ma,"keukeh Agung, sedangkan Mandala memilih diam untuk mencari aman. Mamanya sudah seperti macan betina yang siap menerkam.
...π"Dalam hidup, terkadang kita memang harus egois untuk kebahagiaan diri kita sendiri....
...Namun bukan berarti harus mengorbankan kebahagiaan orang lain demi kebahagiaan kita sendiri."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
__ADS_1
To be continued