
Saat Mandala keluar dari kamar mandi, Kahyang nampak sedang memangku Rayno yang baru saja selesai menyusu. Bayi berusia satu bulan itu nampak mulai mengantuk setelah menyusu tadi.
"Man, tadi aku dan Yudha..."Kahyang nampak bingung untuk melanjutkan kata-katanya.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun padaku,"sahut Mandala seraya duduk di sebelah Kahyang, kemudian mengambil Rayno dari pangkuan Kahyang.Mandala mencium pipi Rayno, kemudian mengelus rambut Rayno yang tebal.
"Aku tidak akan melarang kamu untuk bertemu, pergi atau berhubungan dengan siapapun. Aku sadar, hubungan kita hanya sebatas status. Aku tidak punya hak untuk mengatur hidup mu.Sebentar lagi aku akan menikah dengan gadis yang dipilihkan orang tuaku. Kamu juga berhak bahagia dan mencari pasangan hidup yang bisa menjadi pelindung mu dan menemani mu setelah kita berpisah nanti,"ujar Mandala terdengar tenang walaupun sebenarnya dadanya terasa sesak. Setelah mengatakan itu semua. Mandala berjalan ke arah box bayi dan membaringkan Rayno yang sudah terlelap.
"Apa kamu akan menceraikan aku sebelum kamu menikah dengan gadis pilihan orang tuamu?"tanya Kahyang pelan.
Entah mengapa Kahyang merasa tidak suka saat Mandala mengatakan tidak akan melarangnya untuk bertemu, pergi, dan berhubungan dengan siapapun.
Mandala menghela napas yang terasa sesak. Pria itu berjalan menghampiri Kahyang, kemudian duduk berhadapan dengan Kahyang. Mandala meraih tangan Kahyang dan menggenggamnya dengan lembut.
"Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu? Aku tidak akan menceraikan kamu sebelum kamu memintanya dariku. Apa kamu lupa?"tanya Mandala menatap manik mata hitam Kahyang yang juga sedang menatapnya.
"Aku.. aku tidak ingin bercerai darimu,"ucap Kahyang terdengar gugup, kemudian menundukkan kepalanya.
Mandala terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Kahyang,"Apakah kamu tahu, hubungan macam apa yang akan kita jalani jika kamu ingin bertahan dengan ku? Kamu hanya akan menjadi istri simpanan ku. Aku bahkan hanya akan bisa memberimu nafkah lahir tanpa bisa memberimu nafkah batin. Karena pernikahan kita hanya sah di mata hukum, tapi tidak sah di mata agama. Kamu tidak akan bahagia dengan pernikahan semacam ini, Yang! Kamu berhak bahagia, Yang!"ucap Mandala dengan suara lemah. Tidak rela rasanya untuk menceraikan Kahyang. Tapi juga tidak mau egois dengan mengikat Kahyang seperti ini. Mengikat Kahyang dalam ikatan pernikahan sekedar status.
"Aku.. aku mencintaimu!"ucap Kahyang dengan wajah tertunduk, tiba-tiba butiran kristal berjatuhan dari pelupuk matanya.
Mandala semakin terkejut mendengar pengakuan Kahyang. Perlahan Mandala melepaskan genggaman tangannya dan menangkup kedua pipi Kahyang dengan tangan yang bergetar. Mengangkat wajah Kahyang agar wanita itu menatapnya.
__ADS_1
"Ka.. kamu mencintai ku?"tanya Mandala nampak tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Kahyang. Ada perasaan bahagia yang menyeruak di hatinya. Tapi juga ada rasa sedih di hatinya. Kenapa mereka harus berjumpa dan saling jatuh cinta jika akhirnya tidak mungkin untuk bersama?
"Aku tidak ingin berpisah dari mu. Aku mencintaimu! Jangan ceraikan aku!"ucap Kahyang dengan air mata yang berderai membasahi pipinya yang putih mulus.
"Aku juga mencintai mu. Sangat mencintai mu,"Mandala merengkuh Kahyang dalam pelukannya, air matanya pun menetes tanpa bisa dibendungnya lagi. Keduanya saling memeluk seolah tidak ingin dipisahkan. Kahyang terisak dalam pelukan Mandala. Malam itu sepasang insan yang saling mencintai itu tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka. Mereka tidak tahu, harus sedih atau bahagia, saat mereka tahu bahwa mereka saling mencinta tapi tidak mungkin bisa bersama.
Mandala melerai pelukannya dan menghapus air mata Kahyang. Dikecupnya kening Kahyang dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Kita akan menghabiskan waktu yang kita miliki bersama putra kita. Jangan menangis lagi! Mungkin ragaku tidak akan menjadi milikmu, tapi ku pastikan bahwa hatiku hanya untuk mu.Ijinkan aku mencintaimu walaupun kamu tidak bisa menjadi milikku,"ucap Mandala mengecup lembut bibir Kahyang untuk beberapa saat. Hanya beberapa saat, karena jika terlalu lama, Mandala takut akan khilaf.
"Aku mencintaimu!"ucap Kahyang dengan bibir yang bergetar. Menatap Mandala yang wajahnya hanya berjarak beberapa senti di depannya dengan tatapan penuh cinta yang bercampur kesedihan. Mandala kembali merengkuh Kahyang dalam pelukannya, dan mendekapnya dengan penuh cinta.
"Maaf! Aku tidak bisa memperjuangkan cinta kita,"ucap Mandala penuh sesal.
Hari terus berganti, setiap detik begitu berarti bagi Mandala dan Kahyang. Mencoba menikmati setiap detik kebersamaan mereka dan mencoba melupakan badai yang sebentar lagi akan segera datang menerpa mereka. Badai yang mungkin akan memporak porandakan dan meluluh lantakkan hati mereka.
Siang itu, Kahyang membawa Rayno dan Bik Mar pergi ke sebuah mall. Membeli beberapa pakaian untuk Rayno. Kahyang juga membelikan pakaian untuk Bik Mar. Wanita paruh baya itu pun merasa sangat senang. Selama bekerja pada Mandala, wanita paruh baya itu diperlakukan dengan baik oleh Mandala dan Kahyang. Sepasang suami-isteri itu menghormati Bik Mar seperti orang yang lebih muda menghormati orang yang lebih tua. Tidak pernah berkata apalagi berbuat kasar pada Bik Mar.
Bik Mar memiliki dua orang anak laki-laki yang sudah menikah, sedangkan suaminya sudah lama meninggal. Karena tidak mau membebani kedua anaknya yang perekonomiannya pas-pasan, Bik Mar pun bekerja mencuci dan menyetrika pakaian tetangganya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Suatu hari Bik Mar hampir tertabrak mobil Mandala karena kelelahan hingga kurang fokus saat menyeberang. Dan sejak itu lah Mandala menawari Bik Mar untuk bekerja membersihkan apartemennya dan memberi Bik Mar gaji yang lumayan dibandingkan mencuci dan menyetrika baju tetangga nya.
"Bik, aku pengen ke toilet sebentar. Bibi tunggu di sini saja, ya?"pamit Kahyang.
"Iya, Nyonya,"sahut Bik Mar.
__ADS_1
Kahyang bergegas ke toilet. Setelah beberapa menit, Kahyang pun keluar dari toilet. Namun saat baru beberapa langkah keluar dari toilet, Kahyang terkejut melihat beberapa orang pria yang menghadangnya. Bertepatan dengan Bik Mar yang menyusul Kahyang ke toilet.Bik Mar juga nampak terkejut melihat Kahyang dihadang beberapa orang pria.
"Selamat sore Nona! Nona, Tuan menyuruh kami untuk membawa Nona dan anak Nona pulang. Tuan juga mengatakan, jika Nona melawan, kami boleh melakukan apapun pada Nona. Mohon kerjasamanya, agar kami tidak perlu berbuat kasar pada Nona,"ucap salah seorang pria itu.
Kahyang menghela napas melihat para pria itu. Dan Kahyang hafal benar dengan pria yang baru saja bicara dengannya itu. Pria itu adalah orang kepercayaan papanya.
"Aku kira papa sudah lupa padaku. Aku tidak menyangka, papa akan mencari aku. Anakku sudah tidak bersamaku lagi, jadi kalian hanya bisa membawa pulang aku saja,"ujar Kahyang membuang napas kasar.
"Maksud Nona, anak Nona sudah meninggal?"tanya orang kepercayaan Anggoro itu nampak terkejut.
Kahyang tidak menjawab pertanyaan pria di depannya itu dan membiarkan orang kepercayaan papanya itu berasumsi apapun atas pernyataan darinya barusan. Kahyang sengaja membuat kalimat yang bisa membuat orang kepercayaan papanya itu berasumsi bahwa putranya sudah meninggal. Karena Kahyang takut jika papanya akan menyingkirkan putranya. Mungkin akan lebih baik jika putranya tinggal bersama Mandala. Kahyang percaya, Mandala pasti akan mengurus putra mereka dengan baik.
Kahyang menatap Bik Mar yang nampak tegang, kemudian menghampiri wanita paruh baya yang sudah dianggapnya seperti keluarganya sendiri itu.
...π"Tidak selamanya kita harus berkata jujur, karena berkata jujur pada situasi yang tidak tepat bisa membuat mu hancur."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
__ADS_1
To be continued