
Seperti biasanya, Mandala sibuk dengan berkas dan dan dokumen di mejanya. Hingga perhatiannya teralih pada handphonenya yang berdering.
"Halo!"sahut Mandala menerima panggilan setelah mengetahui siapa yang tengah menghubunginya.
"Halo, kak? Gimana? Apa kakak sudah punya waktu luang untuk aku?' Hanya be berapa jam saja, kak,"ujar seorang gadis yang tidak lain adalah Andini. Andini masih berusaha menjalankan rencana yang disusun oleh Sheila. Tanpa mengetahui vidio yang sedang ramai diperbincangkan mengenai Sheila yang menuntut tanggung jawab dari Mandala dan mengancam akan bunuh diri di depan perusahaan Mandala jika Mandala tidak mau menikahi Sheila.
"Kalau sekarang belum bisa, An. Tapi mungkin kalau sekitar seminggu lagi bisa,"ujar Mandala yang perusahaan nya berangsur normal setelah Prasetyo mendatangi Anggoro tanpa diketahui oleh Mandala.
"Benarkah? Kalau begitu, aku tunggu kabar baiknya dari kakak,"ujar Andini terdengar senang.
"Hum,"sahut Mandala lalu mengakhiri panggilan.
Sedangkan Andini pun langsung menghubungi Sheila untuk menyampaikan kabar baik itu. Walaupun waktunya belum tentu, tapi Andini yakin Mandala akan segera memenuhi janjinya untuk bertemu dengan Andini yang akan digantikan oleh Sheila.
Mandala kembali meraih handphonenya saat benda pipih itu kembali berdering. Menerima panggilan di handphone nya setelah mengetahui Prasetyo lah yang menghubungi dirinya.
"Halo pa!"sahut Mandala seraya memeriksa dokumen di atas mejanya.
"Apa kamu ada waktu luang? Papa ingin mengajakmu makan siang bersama,"ujar Prasetyo dari sambungan telepon.
"Ada, pa. Papa ingin kita bertemu di restoran mana?"tanya Mandala.
"Nanti papa kabari. Sekarang papa mau meeting dulu,"sahut Prasetyo.
"Oke. Nanti kabari aja. Aku pasti datang,"sahut Mandala.
"Oke. Nanti akan papa kabari,"sahut Prasetyo kemudian mengakhiri panggilan.
"Em.. hari ini Kahyang tidak kuliah. Apa dia mau aku ajak makan siang bersama dengan papa? Sudah lama Kahyang tidak bertemu dengan papa,"gumam Mandala seraya menatap foto keluarga kecilnya di atas meja kerjanya, kemudian menghubungi istrinya.
"Halo, Man!"sapa Kahyang dalam panggilan telepon.
"Sayang, kamu dimana? Kok suaranya berisik sekali?"tanya Mandala yang mendengar banyak suara orang saat Kahyang menerima panggilannya.
"Aku sedang di mall. Ada apa, Man?"tanya Kahyang.
__ADS_1
"Apa bisa kita makan siang bersama?"tanya Mandala.
"Boleh. Nanti aku akan ke kantor kamu sebelum waktu makan siang tiba,"sahut Kahyang.
"Oke. Aku tunggu,"sahut Mandala dengan seulas senyum di bibirnya. Akhir-akhir ini mereka jarang makan bersama selain sarapan pagi. Sudah lama tidak makan siang dan makan malam bersama.
Sedangkan Kahyang yang berada di mall, ternyata tidak sendirian. Kahyang bersama Bik Mar dan Rayno.
"Bik, kita beli es krim dulu, yuk, Bik! Aku pengen makan es krim,"ajak Kahyang kemudian membawa Bik Mar dan Rayno membeli es krim. Setelah mendapatkan es krim, Kahyang pun berniat menghampiri Bik Mar yang sedang duduk memangku Rayno.
"Yang!"panggilan seseorang membuat Kahyang menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.
"Ah, hai, Yud!"sapa Kahyang bersikap biasa saja pada Yudha.
"Kamu sendirian?"tanya Yudha lagi.
"Tidak. Aku bersama putraku dan pengasuh nya. Kamu mau beli es krim, 'kan? Aku mau duduk dulu,"pamit Kahyang kemudian meninggalkan Yudha menghampiri Bik Mar dan Rayno.
"Sini, Bik! Biar aku pangku Rayno,"ujar Kahyang seraya mengambil Rayno dari pangkuan Bik Mar,"Makanlah es krim nya, Bik!"ujar Kahyang yang juga mulai memakan es krim nya.
"Sayang mama mau makan es krim?"tanya Kahyang pada Rayno yang nampak menggerak-gerakkan bibirnya saat melihat Kahyang makan es krim. Rayno sepertinya ingin es krim yang di makan Kahyang.
Bahkan bayi yang sudah belajar merangkak itu menggerak-gerakkan tangannya ingin meraih apa yang dimakan ibunya. Kahyang menyuapi Rayno dengan sedikit es krim. Kahyang tertawa melihat ekspresi putranya yang merasakan dingin nya es krim. Ekspresi bayi itu terlihat lucu saat es krim masuk ke dalam mulutnya.
"Nyonya! Kenapa Tuan Muda diberi es krim? Nanti flu, nyonya,"ujar Bik Mar memperingati.
"Cuma sedikit, kok, Bik. Nggak bakal flu,"sahut Kahyang kemudian mencium pipi Rayno karena gemas melihat ekspresi wajah Rayno.
"Boleh aku duduk di sini?"tanya Yudha membuat Kahyang menoleh.
"Silahkan!"ujar Kahyang yang tidak mungkin menolak Yudha duduk bersamanya dan Bik Mar,"Bik Mar, kenalkan! Ini teman kuliah aku. Namanya Yudha,"ujar Kahyang pada Bik Mar.
Bik Mar dan Yudha pun saling menjabat tangan dan saling melempar senyum tipis. Bik Mar duduk di depan Kahyang, dan Yudha duduk disamping Bik Mar dan Kahyang.
"Siapa nama putramu, Yang?"tanya Yudha menyendok es krim nya seraya memperhatikan putra Kahyang yang terlihat sehat dan menggemaskan.
__ADS_1
"Rayno,"sahut Kahyang seraya mengelus rambut putranya yang tebal.
"Ayo, ikut Om!"ujar Yudha seraya mengulurkan tangannya pada Rayno. Tapi bayi itu hanya menatap Yudha dengan bola matanya yang bulat dan tajam. Bayi itu memegang erat lengan ibunya seolah mengatakan tidak mau di ajak Yudha.
"Ray, tidak akrab dengan semua orang,"ujar Kahyang seraya menyendok es krim nya dan Rayno nampak sangat menginginkan nya. Pandangan mata bayi itu tidak lepas dari es krim yang di sendok Kahyang dan berusaha menggapainya.
"Mungkin karena baru pertama kali bertemu,"ujar Yudha seraya menyendok es krim nya.
"Nggak. Ray memang pilih-pilih. Walaupun baru bertemu, jika dia menyukai orang itu, Ray pasti mau digendong. Dan walaupun sudah lama mengenal, jika dia tidak menyukainya, Ray tidak akan mau digendong,"ujar Kahyang dengan jahil mengoleskan sedikit es krim di bibir Rayno. Hingga berulang kali bayi itu menjilat bibirnya sendiri.
"Putramu tampan,"ujar Yudha. Sedangkan Bik Mar dari tadi hanya diam seraya memakan es krimnya seraya memperhatikan interaksi Kahyang dan Yudha.
"Tentu saja. Ayahnya tampan,"ujar Kahyang kemudian menciumi pipi Rayno dengan gemas.
Yudha tersenyum getir mendengar jawaban dari Kahyang. Wanita yang sampai saat ini masih di cintainya itu terlihat sangat bahagia bersama putranya. Bahkan sedari tadi mereka bicara, Kahyang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada putranya.
"Hai, sayang! Kamu di sini rupanya!"sapa seorang pria yang langsung mengelus kepala Kahyang lalu duduk di sebelah Kahyang dan Bik Mar. Berhadap-hadapan dengan Yudha.
Kahyang menepis tangan pria yang menyentuh kepalanya itu. Kemudian menghela napas panjang,"Jangan menyentuh aku sembarangan! Aku ini sudah ada yang punya. Sudah punya suami,"ketus Kahyang pada pria yang tidak lain adalah Aldi.
"Hais, tetap saja galak seperti dulu! Tapi aku suka,"ujar Aldi seraya mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Yudha mengepalkan tangannya menatap Aldi. Yudha nampak tidak suka dengan Aldi. Pria itu nampak seenak nya menyentuh Kahyang dan memanggil Kahyang dengan panggilan sayang. Membuat Yudha geram.
"𝙎𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙞𝙣𝙞. 𝘽𝙚𝙧𝙖𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝 𝙆𝙖𝙝𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙚𝙣𝙖𝙠 𝙟𝙞𝙙𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖,"gumam Yudha menatap Aldi dengan penuh kebencian.
Sedangkan Bik Mar hanya diam memperhatikan majikannya yang di datangi dua orang pria tampan. Dan sepertinya kedua pria tampan itu menaruh hati pada majikannya. Bik Mar juga melihat aura kecemburuan di mata Yudha.
...🌸❤️🌸...
.
.
To be continued
__ADS_1