
Hari terus berganti dan waktu terus berlalu. Mandala dan Kahyang menikmati kebersamaan mereka sebagai orang tua baru. Keduanya saling membantu untuk mengurus Rayno. Bik Mar pun dipekerjakan setiap hari oleh Mandala, agar Kahyang tidak kerepotan saat Mandala pergi ke kantor. Tidak terasa usia Rayno sudah satu bulan. Mulai hari ini, Kahyang pun sudah mulai masuk kuliah.
"Kamu mau aku antar ke kampus, nggak?"tanya Mandala pada Kahyang yang sedang membantunya memasang dasi.
"Boleh,"sahut Kahyang dengan seulas senyum di bibirnya. Kahyang tidak ingin melewatkan waktu semenit pun untuk bersama Mandala. Baginya, setiap menit waktu yang bisa mereka habiskan bersama sangat lah berharga.
'Kamu sudah siapkan ASI buat Ray, 'kan?"tanya Mandala.
"Sudah, kok. Aku juga sudah kasih tahu Bik Mar cara ngasih ASI dari freezer,"sahut Kahyang merapikan jas yang dikenakan Mandala.
"Ya sudah, kita sarapan dulu, yuk!"ajak Mandala seraya merangkul Kahyang.
Dari luar, hubungan keduanya memang seperti pasangan suami-istri pada umumnya. Namun yang sesungguhnya, selama mereka menikah, hanya sekali mereka melakukan hubungan intim layaknya suami-istri. Selebihnya hanya berpelukan, cium kening dan pipi saja. Bahkan Mandala menahan dirinya agar tidak mencium bibir Kahyang. Karena jika mencium bibir Kahyang, Mandala takut tidak bisa menahan diri untuk menerkam Kahyang.
Selesai sarapan, dan mencium putra mereka, keduanya pun pamit pergi pada Bik Mar. Mandala mengantarkan Kahyang ke kampus, sekalian berangkat ke kantor. Setengah jam kemudian, mereka pun tiba di depan gerbang universitas tempat Kahyang menimba ilmu. Setelah Kahyang turun, Mandala pun melajukan mobilnya menuju kantornya.
Kahyang melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Kahyang menjadi pusat perhatian karena tidak ke kampus lumayan lama. Apalagi kemarin perutnya masih besar dan sekarang saat masuk lagi ke kampus, perutnya sudah kempes. Penampilan Kahyang sekarang masih seperti seorang gadis. Bahkan wajahnya terlihat semakin cantik dan tubuhnya terlihat semakin seksi dan berisi.
"Hai, Puspa! Sudah lahiran, ya?"tanya seorang mahasiswi berkacamata.
"Iya,"sahut Kahyang dengan seulas senyum.
"Cowok atau cewek, nih?"tanya mahasiswi satunya yang rambutnya sebahu.
"Cowok,"sahut Kahyang masih dengan senyum yang nampak tersemat di bibirnya. Terlihat jelas, wanita muda itu sangat bahagia.
"Selamat, ya!"ucap mahasiswi berkacamata dan mahasiswi yang rambutnya sebahu bersamaan.
"Terimakasih,"sahut Kahyang.
"Habis lahiran tambah cantik saja,"puji mahasiswi yang rambutnya sebahu.
__ADS_1
"Aduh, uang belanjaku habis, nih! Tadi aku lupa mau ngambil di ATM,"ucap Kahyang dengan wajah serius, seraya membuka dompetnya.
"Memangnya kamu butuh uang buat apa?"tanya mahasiswi berkacamata.
"Buat sawer kalian karena telah mengucapkan selamat dan muji aku cantik,"ujar Kahyang masih dengan wajah seriusnya.
"Haish, aku kira buat makan di kantin. Ternyata malah bercanda,"sahut mahasiswi yang rambutnya sebahu. Dan akhirnya mereka pun sama-sama tertawa.
Sepanjang berjalan menuju kelasnya, banyak teman-teman Kahyang yang mengucapkan selamat dan menanyakan jenis kelamin anak Kahyang. Karena semenjak tahu Kahyang sudah menikah dan sedang mengandung, tidak ada lagi mahasiswa dan mahasiswi yang bergosip soal Kahyang. Tidak ada lagi pula mahasiswa yang berusaha mendekati Kahyang. Namun mereka semua masih penasaran dengan sosok yang sering mengantar Kahyang ke kampus dan terkadang menjemput Kahyang pulang. Di duga kuat orang yang sering mengantar dan menjemput Kahyang itu adalah suami Kahyang. Namun sayangnya, mereka tidak pernah melihat pria yang diduga adalah suami Kahyang itu keluar dari mobil setiap kali mengantar atau menjemput Kahyang.
"Ris, apa kabar?"tanya Kahyang saat masuk ke dalam kelas dan melihat Riska sibuk dengan handphonenya.
"Hai, Yang! Selamat, ya, atas kelahiran putramu!"ucap Riska seraya memeluk Kahyang. Walaupun sudah mengucapkan selamat lewat chat, tapi Riska ingin mengucapkan nya lagi secara langsung.
"Terimakasih!"sahut Kahyang membalas pelukan Riska.
"Kamu kenapa? Kok nggak seperti biasanya?"tanya Kahyang saat menyadari bahwa Riska tidak seceria dan seantusias seperti biasanya.
"Di jodohkan? Serius?"tanya Kahyang terkejut.
"Sangat serius. Bahkan aku tidak tahu siapa dan bagaimana orang yang akan dinikahkan dengan aku. Dan parahnya lagi, mungkin sekitar seminggu lagi kami akan dinikahkan,"ujar Riska nampak lesu.
"Hah? Yang bener? Seperti beli kucing dalam karung, dong! Gimana kalau jelek?"tanya Kahyang dengan ekspresi serius.
"Aku juga udah bilang gitu sama orang tuaku. Minimal aku pengen tahu foto tuh cowok, tapi kata mereka lihat pas akad nikah aja biar surprise. Dijamin ganteng dan pintar dalam bisnis. Gitu kata orang tua aku,"jelas Riska apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya.
Mendengar penjelasan Riska, Kahyang pun hanya bisa menghela napas panjang.
"Ya sudah lah. Kalau benar-benar ganteng, 'kan rejeki nomplok. Lagian selama ini kamu juga masih jomblo, 'kan? Setelah putus sama anak kedokteran kemarin, kamu juga belum dapet gebetan lagi, 'kan?"tanya Kahyang.
"Iya, sih! Tapi kalau yang mau dinikahkan dengan aku jauh dari ekspektasi aku, aku bakal menggagalkan pernikahan itu. Masa nunjukin foto aja nggak mau, 'kan sangat mencurigakan. Jangan-jangan cuma dompetnya doang yang ganteng, orangnya enggak. Hidup itu cuma sekali, jadi aku harus bahagia. Kalau bisa, aku akan hidup dengan orang yang aku cintai dan mencintai aku. Bukannya aku tidak mau memikirkan perasaan kedua orang tua ku, tapi yang akan menjalani rumah tangga itu adalah aku, bukan mereka. Dan berumah tangga itu bukan untuk sehari atau dua hari saja. Kalau bisa, aku akan menikah sekali saja dalam hidupku,"ujar Riska nampak serius.
__ADS_1
"Kamu benar,"sahut Kahyang dengan wajah sendu dan dada yang terasa sesak bagaikan ditimpa batu besar. Sayangnya dirinya tidak bisa hidup dengan orang yang dicintai dan mencintainya. Dirinya dan Mandala akan segera berpisah, dan tidak mungkin bersatu selamanya.
Kedua sahabat itu akhirnya mengikuti mata kuliah dengan perasaan gundah di hati mereka masing-masing. Nampak tidak bersemangat, sampai akhirnya mereka pun pulang setelah mengikuti beberapa mata kuliah.
"Yang,!"panggil Yudha saat Kahyang baru saja keluar dari gerbang kampus bersama Riska.
"Aku duluan, Yang, Yud!"pamit Riska saat melihat Yudha nampak tidak menginginkan kehadiran nya.
"Oke,"sahut Kahyang dan Yudha bersamaan.
"Ada apa, Yud?'tanya Kahyang tanpa mau berbasa-basi lagi. Kahyang ingin segera pulang dan bertemu dengan putranya.
"Bisa kita bicara? Aku ingin bicara serius sama kamu,"ujar Yudha terlihat serius dan penuh harap agar Kahyang mau bicara dengannya.
"Bicara saja, Yud! Aku harus cepat-cepat pulang.Aku sudah lama meninggalkan anakku,"sahut Kahyang seraya melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Jangan di sini, Yang! Kita bicara di kafe depan, yuk! Please, sebentar saja!'pinta Yudha penuh harap.
...π"Waktu akan terasa sangat berharga, saat kita tahu, bahwa tidak lama lagi kita akan berpisah dengan orang yang kita cinta,"π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
Notebook : Mungkin untuk beberapa hari ini aku cuma bisa up sekali. πππππ
.
.
To be continued
__ADS_1