
Mandala nampak kecewa saat Kahyang mendorong dadanya. Jujur, saat ini Mandala ingin bercinta dengan Kahyang. Jadi, saat Kahyang menolaknya, Mandala menjadi sangat kecewa.
"Yang, please! Jangan menolak ku! Aku benar-benar menginginkan mu,"mohon Mandala dengan wajah memelas.
Mandala kembali mendekati Kahyang, menyesap, mengulum dan menggigit kecil bibir Kahyang. Ciuman yang mulanya lembut semakin lama semakin agresif dan panas.
"Man, hentikan! Ini masih siang!"ucap Kahyang setelah Mandala melepaskan tautan bibir mereka. Kembali mendorong pelan dada Mandala.
"Memangnya kenapa jika ini masih siang? Tidak ada larangan bercinta di siang hari, 'kan?"tanya Mandala dengan suara berat.Kahyang menghela napas panjang melihat suaminya yang memang terlihat sangat menginginkan nya itu.
Mandala kembali mendaratkan bibirnya di bibir Kahyang. Kembali menikmati bibir Kahyang dengan agresif.Lama kelamaan Kahyang pun terhanyut dan akhirnya membalas ciuman suaminya. Tangan kiri Kahyang memegang rahang kokoh suaminya, sedangkan tangan kanannya mulai merayap di dada dan perut suaminya. Tangan Mandala terus menyusuri tubuh Kahyang. Bahkan tangan pria itu sudah bergerak nakal bergerilya kemana-mana dan mulai melucuti pakaian Kahyang serta pakaiannya sendiri yang masih tersisa. Membimbing istrinya ke arah ranjang tanpa melepaskan tautan bibirnya.
Perlahan mendorong Kahyang terduduk di ranjang hingga akhirnya menindih tubuh Kahyang. Mandala pun akhirnya menyatukan tubuh mereka. Pria itu terus bergerak diatas tubuh Kahyang membuat Kahyang gelisah di dalam kungkungan nya.
"Man,"racau Kahyang memanggil nama Mandala. Pria itu benar-benar membuatnya tidak berdaya. Permainannya selalu menghanyutkan Kahyang. Sangat pintar memancing gairah Kahyang, hingga wanita itu tidak pernah bisa menolak saat Mandala menginginkan dirinya.
Mandala merebahkan tubuhnya di samping Kahyang dan merengkuh Kahyang dalam dekapannya.
"Aku mencintaimu! Sangat mencintai mu!"ucap Mandala memeluk erat tubuh Kahyang dan mengecup kepala Kahyang beberapa kali.
"Kamu tidak akan selingkuh dari ku, 'kan?"tanya Kahyang dalam dekapan Mandala.
"Untuk apa aku berselingkuh? Aku sudah memiliki istri yang cantik dan sangat pintar memuaskan aku di atas ranjang.Aku tidak menginginkan yang lain lagi,"ujar Mandala memejamkan matanya, enggan melepaskan pelukannya pada Kahyang.
"Nafsu mu terlalu besar. Kamu seolah tidak pernah puas dan lelah untuk bercinta. Kamu tidak akan jajan di luar sana, 'kan?"tanya Kahyang.
Wanita itu selalu was-was jika suaminya sampai jajan di luar. Mengingat suaminya selalu ingin dilayani kapanpun tanpa mengenal waktu. Kahyang takut Mandala kurang puas jika hanya meniduri dirinya lalu, jajan di luar sana.
__ADS_1
"Aku seperti itu hanya saat bersama mu saja, sayang. Aku tidak punya keinginan bercinta dengan wanita lain. Aku tidak bisa mengendalikan diri jika sedang bersamamu,"sahut Mandala jujur adanya.
"Benarkah?"tanya Kahyang masih belum percaya.
Mandala merenggangkan pelukannya. Mengangkat dagu Kahyang hingga istrinya itu menatapnya.
"Setiap bercinta dengan Sheila, aku hanya melakukannya sekali. Tapi dengan mu, aku selalu tidak puas jika hanya melakukan nya sekali,"ucap Mandala kembali mengecup bibir Kahyang dan memulai kembali mengulang kegiatan panas mereka di atas ranjang siang itu.
Sedangkan di depan rumah itu, nampak Sheila yang masih dalam mobilnya menatap kediaman Mandala dan Kahyang.
"Jadi di sini mereka tinggal? Rumahnya megah sekali. Mudah sekali Mandala melupakan dan mencampakkan aku. Apakah karena perempuan itu dia mencampakkan aku? Seharusnya aku yang menjadi nyonya di rumah ini,"gumam Sheila menatap rumah megah itu penuh kebencian.
Perhatian Sheila teralih saat handphone nya berdering,"Halo! Kenapa kamu tidak bilang kalau Mandala sudah menikah?"tanya Sheila pada orang yang menghubunginya.
"Kenapa? Kamu ingin mundur hanya karena dia sudah beristri? Apa kamu sudah tidak mencintai dia lagi?"tanya penelpon itu.
"Apa kamu berniat untuk mundur? Apa kamu lupa, apa yang akan aku lakukan jika kamu tidak melakukan apa yang aku suruh?"tanya seseorang dari sambungan telepon terdengar mengancam Sheila.
"Iya, aku tahu. Tidak usah mengancam aku lagi!"ketus Sheila pada orang yang menelponnya..
"Bagus kalau kamu mengerti. Kerjakan apa yang aku suruh secepatnya! Semakin cepat semakin baik. Jika kamu tidak bisa merebutnya dari istrinya, buat istrinya meninggalkan dia. Kamu akan tetap mendapat imbalan jika bisa membuat mereka berpisah."ujar suara orang di dalam telepon itu, kemudian sambungan telepon pun diputuskan.
"Aku akan disebut pelakor. Tidak keren sama sekali. Tapi aku juga masih mencintai Mandala. Dia itu pria yang istimewa. Berbeda dari para pria kebanyakan. Dia sangat penyayang dan menghormati aku sebagai kekasihnya. Tapi apakah aku bisa merebut hatinya?"gumam Sheila menghela napas panjang menatap rumah megah di depannya.Merasa tahu bisa mendapatkan cinta Mandala lagi.
Mandala terbangun dari tidurnya. Aktivitas bercinta dengan istrinya cukup membuatnya merasa lelah hingga mudah tertidur setelah bercinta. Ditatapnya wajah Kahyang yang ada dalam dekapannya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Merapikan anak rambut wanita yang sudah menjadi ibu dari anaknya itu.
"Entah mengapa kamu sangat istimewa di hati ku. Kamu membuat aku tergila-gila padamu. Aku menyukai semua yang ada pada diri mu. Semuanya,"gumam Mandala mengecup bibir Kahyang dengan lembut beberapa kali.
__ADS_1
Perlahan Mandala melepaskan pelukannya pada Kahyang yang masih terlelap karena kelelahan melayani dirinya. Menyelimuti tubuh Kahyang yang polos tanpa sehelai benang, kemudian beranjak untuk membersihkan diri. Pria itu keluar dari kamarnya dengan rambut setengah basah.
"Ma!"sapa Mandala pada Prameswari yang sedang memangku Rayno di teras samping.
"Mama pikir kamu nggak bakal turun lagi. Mana Kahyang?"tanya Prameswari.
"Masih tidur. Mungkin kelelahan,"sahut Mandala seraya mencubit hidung putranya gemas.
"Apa mertuamu masih belum bisa menerima mu?"tanya Prameswari menyinggung soal Anggoro.
"Belum, ma. Saat kami ke rumah mereka,. papa Anggoro tidak mau bicara dengan aku,"sahut Mandala menghela napas panjang. Anggoro bahkan tidak mau menemui apalagi makan bersama Mandala, jika Mandala ke rumahnya. Hanya Mala yang menyambut mereka saat mereka ke rumah itu. Sehingga Kahyang dan Mandala pun tidak pernah menginap di rumah Anggoro.
"Kamu harus sabar. Disini memang kamu yang bersalah,"ujar Prameswari.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membujuk papa Anggoro,"ujar Mandala menghela napas sedangkan Prameswari juga nampak menghela napas panjang.
Semua ini karena sikap keras kepala Agung. Seandainya waktu itu Agung mendukung Mandala untuk bertanggung jawab pada Kahyang sepenuhnya, maka semua ini tidak akan terjadi. Prameswari mengerti dengan kekecewaan Anggoro pada Mandala. Ayah mana yang tidak sakit hati jika putrinya diperlakukan seperti Kahyang.
Dinodai, kemudian dinikahi hanya agar cucunya mendapat status anak sah dimata hukum. Kemudian diceraikan karena Mandala ingin menikahi wanita yang dijodohkan dengan pilihan orang tuanya. Bagaimana nasib putri Anggoro jika wanita yang dijodohkan dengan Mandala itu bukan Kahyang? Tapi wanita lain. Akan seperti apa nasib putrinya? Bahkan tidak ada itikad baik sama sekali dari Mandala untuk menemui Anggoro. Prameswari merasa itulah yang membuat Anggoro sakit hati pada Mandala.
Namun semua telah terjadi. Dan pada akhirnya Kahyang dan Mandala tetap bisa bersama. Seharusnya Anggoro bisa menerima semua ini dengan lapang dada. Mungkin begitulah cara Tuhan untuk menguji dan menyatukan Mandala dan Kahyang.
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued