
Mandala melihat Kahyang yang berdiri di depan gerbang kampus bersama Riska dan Yudha. Ada rasa cemburu di hati Mandala saat melihat Yudha berdiri di samping Kahyang. Mandala sedikit mempercepat laju mobilnya. Namun mata Mandala membulat saat melihat sebuah truk dari arah yang berlawanan melaju dengan kencang dan seperti menuju ke arah mobilnya. Dengan cepat Mandala membanting stir. Namun karena truk itu melaju dengan sangat kencang, Mandala tidak bisa menghindari truk itu sepenuhnya.
"Tiinnnn..."
"Brakk"
"Brakk"
"Brakk"
Mobil Mandala terdorong ke samping setelah di tabrak truk yang melaju dengan kencang itu dan di tabrak serta menabrak beberapa kendaraan pengguna jalan lain. Sedangkan truk yang menabrak Mandala terus melaju dengan kencang meninggalkan tempat itu.
"Tidak! Ini aroma bensin. Mobil ini akan meledak,"gumam Mandala yang mencium aroma bensin dan melihat api di kap mobil nya,"Aku harus segera keluar. Aku tidak boleh mati di sini,"gumam Mandala berusaha keluar dari mobilnya.
"Walaupun aku tidak berhasil menabrak kamu dengan telak. Tapi kamu menabrak dan di tabrak mobil lain. Aku yakin, kamu pasti tidak akan selamat. Lima Milyar! Aku akan menjadi orang kaya,"gumam Sheila kemudian tertawa penuh kemenangan seraya terus melajukan truk yang d kendarainya.
"Maaannnn!"pekik Kahyang yang melihat mobil Mandala di tabrak sebuah truk yang terus melaju kencang meninggalkan tempat itu. Kemudian juga menabrak dan di tabrak mobil lainnya.Kahyang berlari ke arah mobil Mandala dengan lalu lintas yang nampak kacau.
"Kahyang!"teriak Yudha dan Riska bergegas mengejar Kahyang yang berlari ke arah mobil Mandala tanpa mempedulikan apapun.
"Lepaskan aku!"bentak Kahyang saat tangan kanan dan kirinya di pegang oleh Yudha dan Riska,"Maaannnn!"pekik Kahyang berusaha berontak dari pegangan Yudha dan Riska dengan wajah yang sudah basah oleh air mata. Kahyang dapat melihat percikan api dan asap yang keluar dari mobil Mandala.
"Jangan kesana, Yang! Terlalu berbahaya!"ucap Yudha masih menahan Kahyang yang masih terus berontak.
"Lepaskan aku! Aku harus menyelamatkan suamiku. Lepaskan aku! Brengseek! Maaannnn!"pekik Kahyang terus berontak dan memanggil nama suaminya. Melihat api yang keluar dari mobil Mandala semakin besar dan asap yang semakin banyak.
"Boomm"
"Boomm"
"Boomm"
Tiba-tiba mobil Mandala meledak bersama beberapa mobil dan kendaraan yang ada di sekitarnya.
"Maann! Lepaskan aku! Maaann! Maaannnn!"teriak Kahyang dengan air mata yang terus berjatuhan, hingga suaranya terdengar parau.
"Di sana sangat berbahaya, Yang! Kamu juga tidak akan bisa menolong nya!"ucap Riska membujuk Kahyang.
"Jangan nekad, Yang!"imbuh Yudha.
__ADS_1
Tubuh Kahyang melemah, tiba-tiba pandangan matanya menjadi buram, kepalanya pusing, dan tubuhku seperti tidak bertulang.
"Man!"gumam Kahyang dengan suara yang terdengar lemah.
"Brugk"
Tiba-tiba tubuh Kahyang jatuh terduduk di pinggir aspal, dengan kedua tangan yang di pegang oleh Yudha dan Riska.
"Kahyang!"pekik Yudha dan Riska bersamaan.
"Tua bangka sialan! Sudah bau tanah juga masih cari masalah!"umpat seorang pria yang baru saja tiba di tempat itu.Tidak jauh dari tempat Kahyang berada. Pria itu melihat mobil Mandala yang meledak dan melihat Kahyang yang nampak sangat putus asa hingga pingsan.
"Lakukan yang terbaik yang kalian bisa! Dan tangkap perempuan jal*ng sialan itu! Akan aku buat dia membayar setiap tetes air mata yang jatuh dari mata wanita yang kucintai,"ucap pria yang tidak lain adalah Aldi dengan raut wajah yang terlihat suram,"Beri tahu aku, dimana keberadaan tua bangka bau tanah itu!"titah Aldi pada pria berkacamata di samping nya.
"Dia ada di perusahaan Tuan Prasetyo, Tuan,"sahut pria berkacamata.
Dengan penuh amarah Aldi masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
***
Prasetyo sedang berbicara dengan Anggoro di depan pintu masuk perusahaan Prasetyo saat sebuah mobil yang melaju dengan kencang tiba-tiba berhenti tepat di depan mereka, membuat Prasetyo dan Anggoro terkejut. Jika saja mobil itu tidak mengerem dengan akurat, kedua kakak beradik itu pasti sudah tertabrak.
"Bugh"
Suara pintu mobil yang di buka dan di tutup dengan kasar. Seorang pria tampan keluar dari dalam mobil itu dengan tatapan tajam penuh amarah menghampiri Anggoro.
"Dasar tua Bangka sialan!"umpat pria yang tidak lain adalah Aldi.
"Bugh"
"Bugh"
"Hei! Apa yang kamu lakukan!"teriak Prasetyo mencoba menahan lengan pemuda yang tiba-tiba datang dengan penuh amarah dan langsung memukul Anggoro itu.
"Harimau saja tidak akan menyakiti anaknya sendiri. Tapi kamu malah dengan sengaja menyakiti putri mu sendiri!"bentak Aldi memegang kerah baju Anggoro.
"Bugh"
"Bugh"
__ADS_1
"Bugh"
"Hentikan!"bentak Prasetyo,"Cepat! Tolong aku!"titah Prasetyo menatap ke arah security.
"Lepaskan! Biar aku hajar tua bangka sialan, bau tanah ini!"teriak Aldi penuh amarah berusaha melepaskan pegangan security dan beberapa orang karyawan Prasetyo. Sedangkan Prasetyo membantu Anggoro untuk berdiri.
"Bicara baik-baik! Jangan pakai kekerasan!"ucap Prasetyo mencoba menengahi.
"Apa anda akan tetap bersikap baik pada tua bangka itu, jika anda tahu apa yang dia lakukan?"tanya Aldi masih dengan tatapan tajam penuh amanah nya.
"Memangnya apa yang dilakukan nya?"tanya Prasetyo.
"Si tua bangka itu telah membayar orang untuk melenyapkan menantu kesayangan anda. Dan sekarang saya belum tahu bagaimana keadaan menantu anda setelah mobilnya meledak tadi,"jelas Aldi menatap tajam pada Anggoro. Sedangkan Prasetyo nampak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Aldi.
"Jangan bicara sembarangan! Jangan menuduh tanpa bukti! Aku bisa menuntut kamu!"kilah Anggoro.
"Aku tidak menuduh sembarangan dan tanpa bukti. Orang-orang ku telah menyerahkan bukti-bukti yang kami peroleh pada polisi. Aku pastikan, sebentar lagi kamu akan mendekam di penjara,"ucap Aldi dengan tatapan yang seolah-olah ingin mencabik-cabik Anggoro.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Aldi, orang-orang yang memegangi Aldi pun melepaskan Aldi. Aldi melangkah pergi dari tempat itu, walaupun rasanya belum puas menghajar Anggoro.
"Kamu benar-benar melakukannya?"tanya Prasetyo dengan tatapan tajam,"Aku tidak akan pernah memaafkan kamu jika sampai terjadi sesuatu pada anak-anakku!"ucap Prasetyo, kemudian pergi meninggalkan Anggoro dengan rahang yang nampak mengeras.
"Anak muda! Apa kamu tahu, di mana menantuku di rawat?"tanya Prasetyo pada Aldi.
"Di rumah sakit xx, Tuan,"sahut Aldi yang hampir masuk ke dalam mobilnya.
"Terimakasih!"ucap Prasetyo.
Prasetyo melajukan mobilnya menuju sebuah rumah sakit setelah mengetahui alamatnya dari Aldi. Terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya.
"Kamu benar-benar keterlaluan Anggoro! Apa otak mu sudah pindah ke dengkul, sehingga tidak bisa berpikir lagi?"geram Prasetyo sambil terus melajukan mobilnya.
...🌸❤️🌸...
.
.
To be continued
__ADS_1