
Kahyang mengendarai mobil Mandala, sedangkan Mandala duduk bersandar di kursi penumpang di sebelah kursi kemudi. Pria itu tampak memejamkan matanya. Ada memar di beberapa bagian wajahnya. Bibirnya juga pecah. Anggoro benar-benar murka. Untung saja ada pamannya. Jika tidak, Kahyang tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Mandala. Dan untung saja pamannya itu tidak ikut menentang hubungan
nya dengan Mandala. Jika Prasetyo juga menentang hubungannya dengan Mandala, akan sulit bagi Kahyang untuk mempertahankan hubungan nya dengan Mandala.
Kahyang menghela napas panjang menatap sekilas pada Mandala. Pria itu sepertinya tertidur. Pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantor, pulang saat makan malam. Setelah pulang bukannya langsung istirahat, tapi malah sibuk meminta jatahnya. Seolah tidak ingin.libur mengambil jatah nya barang sehari saja. Padahal jika melihat aktivitas nya, suaminya itu pasti sangat lelah.
Setelah beberapa menit mengemudi, akhirnya mereka pun tiba di basemen apartemen mereka. Sedangkan Mandala nampak masih tertidur.
"Man! Man!"panggil Kahyang lembut seraya mengelus lengan Mandala. Perlahan Mandala pun membuka matanya.
"Kita sudah sampai? Aku tertidur,"ujar Mandala kemudian menguap beberapa kali. Kahyang membantu melepaskan sabuk pengaman Mandala.
"Ayo, kita segera ke unit apartemen kita! Aku akan mengobati lukamu,"ajak Kahyang.
"Hum,"sahut Mandala singkat. Mandala merasakan tubuhnya sakit semua karena di hajar habis-habisan oleh Anggoro. Walaupun sudah berusia hampir setengah abad, tapi tenaga Anggoro masih sangat kuat. Hingga membuat Mandala babak belur.
"Tuan? Kenapa wajah Tuan babak belur seperti ini?"tanya Bik Mar saat Kahyang dan Mandala baru saja masuk ke dalam apartemen. Wanita paruh baya itu terlihat khawatir.
"Tidak apa-apa, Bik. Tadi ada kesalah pahaman sedikit. Tapi sekarang sudah selesai,"sahut Mandala tersenyum tipis.
"Syukurlah,"ujar Bik Mar merasa lega, walaupun prihatin melihat wajah Mandala yang babak belur.
"Bersihkan lah tubuhmu, Man! Setelah itu aku akan mengobati lukamu. Aku akan menyusui Rayno dulu,"ujar Kahyang.
"Hum,"sahut Mandala berjalan masuk ke kamarnya.
"Sini, Bik! Biar aku susui Rayno,"ujar Kahyang mengambil Rayno dari gendongan Bik Mar.
"Kebetulan, Tuan Muda sedang haus, nyonya. Baru saja saya akan menghangatkan ASI,"ujar Bik Mar yang tadinya memang ingin menghangatkan ASI karena Rayno kelihatannya haus.
"Kalau begitu aku menyusui Rayno di kamar dulu, ya, Bik!"pamit Kahyang.
"Iya, nyonya,"sahut Bik Mar.
Kahyang masuk ke dalam kamarnya dan menyusui Rayno. Beberapa menit kemudian, Mandala pun keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Dadanya yang bidang dan perutnya yang sixpack pun terekspos sempurna. Menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil. Mandala menghampiri Kahyang yang duduk di tepi ranjang menyusui Rayno sambil mengelus kepala Rayno. Mandala duduk di sebelah Kahyang dan memeluk pinggang Kahyang. Sedangkan dagunya diletakkan nya di atas pundak Kahyang.
"Man, kondisikan tanganmu!"ucap Kahyang berusaha menyingkirkan tangan Mandala yang mulai merayap di pahanya.
"Memangnya ada apa dengan tangan ku?"tanya Mandala menunjukkan tangannya tanpa dosa.
__ADS_1
"Muka sudah babak belur seperti itu masih saja tidak bisa diam,"gerutu Kahyang.
"Sayang, aku juga haus,"ucap Mandala dengan tangan yang mulai menjalar ke dada Kahyang sedangkan bibirnya mulai bermain di ceruk leher Kahyang.
"Man, hentikan! Kamu selalu saja menganggu aku jika aku sedang menyusui Rayno,"keluh Kahyang mencoba menghindar dari Mandala.
"Siapa yang mengganggu mu? Aku cuma pegang istri ku saja, kok! Tidak ada larangan buat pegang istri sendiri, 'kan?"tanya Mandala yang tangannya tetap tidak mau diam.
"Man, hentikan! Kamu ini benar-benar jahil. Pakai baju kamu sana!"titah Kahyang. Namun Mandala malah menempel padanya. Rasanya percuma menyuruh Mandala menghentikan tangannya yang jahil itu. Kahyang hanya bisa menghela napas berat. Semenjak mereka sah di mata hukum dan agama, Mandala selalu menempel padanya setiap ada kesempatan.
"Lihatlah! Ray sudah kenyang, sayang. Dia sudah berhenti menyusu,"ujar Mandala saat melihat Rayno sudah berhenti menyesap dan melepaskan sumber kehidupannya.
"Lebih baik kamu pesan makanan untuk makan malam kita, Man!"pinta Kahyang seraya membaringkan Rayno yang masih terjaga di ranjang.
"Oke. Kamu ingin makan malam dengan apa?"tanya Mandala meraih handphonenya.
"Terserah kamu mau makan apa,"sahut Kahyang seraya merapikan pakaian nya.
"Aku ingin makan kamu,"ucap Mandala seraya mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
"Aku tidak bercanda, Man,"ujar Kahyang membuang napas kasar, kemudian beranjak untuk mengambil kotak obat.
"Pesan saja makanannya! Aku akan mengobati lukamu,"ujar Kahyang kembali duduk di sebelah Mandala. Membuka kotak obat dan mulai mengobati luka Mandala.
"Man, besok aku akan kuliah pagi. Besok sudah mulai ujian,"ujar Kahyang sambil mengobati luka Mandala.
"Maaf! Aku tidak bisa mengantar dan menjemput kamu lagi. Aku sangat sibuk. Karena aku harus mulai membantu di perusahaan papa Prasetyo juga,"ucap Mandala yang akhir-akhir ini semakin sibuk.
"Tidak apa. Aku bisa pergi dan pulang sendiri,"sahut Kahyang.
Pagi harinya Mandala sudah bersiap ke kantor, sedangkan Kahyang bersiap ke kampus. Semenjak Mandala dan Kahyang kembali bersama, Rayno tidak rewel lagi seperti saat Kahyang dan Mandala berpisah selama seminggu kemarin. Jadi Kahyang dan Mandala pun tenang meninggalkan Rayno bersama Bik Mar. Mandala berangkat lebih dulu, sedangkan Kahyang berangkat setengah jam setengah Mandala pergi.
Kahyang kembali menginjakkan kakinya di kampus tempat nya menuntut ilmu. Berjalan menuju kelas tempat diadakannya ujian. Kahyang melihat Riska yang sudah duduk di bangkunya.
"Ris,"sapa Kahyang, membuat Riska menoleh menatapnya.
"Hai, Yang! Apa kabar? Sudah lama nggak ketemu. Aku pikir kamu nggak bakal ikut ujian. Aku chat nggak kamu bales, aku telepon juga nggak diangkat. Ada apa?"tanya Riska yang memang sudah seminggu lebih tidak bisa menghubungi Kahyang.
"Maaf! Kemarin ada sedikit masalah. Aku tidak bisa menghubungi kamu. Tapi aku bersyukur karena masalah nya sudah selesai,"ujar Kahyang. Walaupun sebenarnya masih ada yang mengganjal di hatinya. Karena Anggoro belum bisa menerima pernikahan nya dengan Mandala. Setelah tahu jika Mandala adalah pria yang menghamilinya, Anggoro nampak membenci Mandala.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Aku juga pengen cerita sesuatu sama kamu. Tapi aku ceritakan nanti saja setelah kita selesai ujian. Sebentar lagi ujiannya dimulai,"ujar Riska yang melihat tinggal beberapa menit lagi ujian akan dimulai.
"Oke. Aku tunggu,"sahut Kahyang.
Setelah selesai ujian, Riska pun mengajak Kahyang pergi ke kafe di seberang kampus. Keduanya memesan makanan dan minuman untuk teman mereka mengobrol.
"Apa yang ingin kamu ceritakan?"tanya Kahyang.
"Kamu ingat tidak, jika aku akan dijodohkan?"tanya Riska.
"Hum. Aku ingat. Bukankah pernikahan kalian harus nya hari Minggu yang lalu, ya? Bagaimana? Jadi, apa kamu sudah menikah? Kapan resepsinya?"tanya Kahyang penasaran. Namun Riska malah menghela napas panjang.
"Kamu tahu siapa yang akan dinikahkan dengan aku? Dia adalah si Roger. Pria brengseek yang hampir saja melecehkan kamu,"ujar Riska nampak kesal.
"What? Oh my God! Jadi kamu menikah dengan dia?"tanya Kahyang seraya menutup mulutnya.
"Tentu saja tidak. Aku menolaknya. Orang tuaku sempat marah padaku saat aku menolak pernikahan itu. Tapi setelah aku jelaskan siapa Roger, akhirnya mereka setuju membatalkan pernikahan itu. Tapi konsekuensinya, perusahaan papaku terancam bangkrut. Karena sebenarnya keluarga Roger mau berinvestasi di perusahaan papaku dengan syarat menikahkan Roger dengan aku. Jadi, saat kami membatalkan pernikahan itu, keluarga Roger pun tidak jadi berinvestasi di perusahaan papaku. Sekarang papa sedang berusaha mencari orang yang mau berinvestasi di perusahaan kami. Jika sampai tidak mendapatkan investor, mungkin perusahaan kami akan segera gulung tikar,"ujar Riska nampak lesu.
"Sabar, Ris. Siapa tahu papamu mendapatkan investor baru,"ujar Kahyang berusaha menguatkan sahabat nya itu.
"Apa aku egois, Yang? Jika waktu itu aku menerima pernikahan itu, mungkin papaku tidak akan mengalami kesulitan seperti sekarang ini. Jika perusahaan kami gulung tikar, akan banyak orang yang kehilangan mata pencaharian. Dan penyebabnya adalah aku,"ujar Riska merasa bersalah.
"Lalu, jika kamu berkorban demi perusahaan papamu dan demi karyawan yang bekerja di perusahaan papamu, apa kamu akan bahagia? Hidup dengan pria brengseek seperti Roger. Apa kamu sanggup? Hidup cuma sekali, Ris. Berkorban untuk orang lain boleh saja. Tapi jika keputusan mu untuk berkorban itu membuat mu menderita seumur hidup, apa kamu mau?"tanya Kahyang menghela napas panjang.
"Tentu saja tidak, Yang. Seperti katamu, hidup cuma sekali. Jadi, aku ingin bahagia. Karena itu, aku menolak dinikahkan dengan Roger,"sahut Riska.
"Kalau begitu, jangan pernah menyesali keputusan kamu kemarin. Yakinlah, pasti akan ada jalan keluarnya,"ujar Kahyang menguatkan.
"Terimakasih, Yang! Aku merasa lebih lega,"ucap Riska.
...π"Terkadang kita harus egois untuk kebahagiaan kita sendiri. Karena dalam hidup, belum tentu ada kesempatan kedua."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
__ADS_1
To be continued