Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
59. Kamar Pengantin


__ADS_3

Setelah mobil yang mengantar Mandala dan Kahyang sampai di hotel yang mereka tuju, Mandala pun bergegas menggandeng Kahyang masuk ke dalam hotel.


"Man, kenapa kita masuk ke hotel? Bukankah kita akan menemui Rayno?"tanya Kahyang mencoba menghentikan Mandala yang ingin membawanya masuk ke dalam hotel.


Kahyang mengira Mandala hanya menunggu supir pribadi Prasetyo pergi, kemudian mereka akan pulang ke apartemen. Tapi ternyata Mandala benar-benar membawa Kahyang masuk ke dalam hotel.


"Rayno juga ada di hotel ini. Aku menyewa kamar untuk Bik Mar, Rayno dan Patih di sebelah kamar kita,"sahut Mandala yang terus menggandeng Kahyang masuk ke dalam lift.


"Benarkah?"tanya Kahyang dengan mata yang berbinar dan senyum merekah yang terukir di bibirnya.


Mandala yang melihat senyuman merekah di bibir Kahyang pun menelan salivanya susah payah. Melihat bibir wanita yang saat ini sudah seutuhnya menjadi miliknya itu membuat Mandala ingin menerjang istrinya itu saat ini juga Namun Mandala harus menahan diri untuk menyentuh istrinya karena saat ini mereka masih berada di dalam lift.Tak berapa lama kemudian, Manda dan Kahyang pun keluar dari lift.


"Dimana kamar Rayno, Man?"tanya Kahyang yang nampak sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putranya. Sudah satu minggu Kahyang tidak bertemu dengan buah hatinya itu.


"Ini kamarnya,"ucap Mandala berhenti di depan sebuah kamar, lalu mengetuk pintu kamar di depannya itu.


Tak lama kemudian, Patih nampak muncul dari dalam kamar itu,"Bos!"sapa Patih.


"Di mana anakku?"tanya Kahyang, entah pada siapa ditujukan, langsung menerobos masuk diikuti Mandala.


"Haish, apa aku ini tidak terlihat di mata mereka?"gerutu Patih yang diabaikan pasangan suami-istri itu.


"Bik!"panggil Kahyang pada Bik Mar yang baru saja memberi susu pada Rayno dan hendak kembali mengambil susu karena sepertinya bayi itu belum kenyang.


"Nyonya!"ucap Bik Mar terlihat terkejut sekaligus bahagia saat bisa melihat Kahyang lagi.


"Ray, belum tidur?"tanya Kahyang seraya menghampiri Bik Mar.


"Belum, Nyonya. Sepertinya masih ingin menyusu,"sahut Bik Mar tersenyum tipis.


"Biar aku susui Rayno, Bik,"pinta Kahyang.


"Baiklah, nyonya,"sahut Bik Mar tersenyum lebar dan Kahyang pun mengambil Rayno dari gendongan Bik Mar, kemudian menyusuinya membelakangi Mandala dan Patih.


"Kalian menginap di sini malam ini. Bik Mar akan tidur di ranjang, dan kamu, Tih, tidak apa-apa, 'kan kalau kamu tidur di sofa?"tanya Mandala pada Patih.

__ADS_1


"Santai saja, bos! Aku bisa tidur di mana saja. Ngomong-ngomong, bos menikah lagi dengan bos nyonya?"tanya Patih penasaran.


"Memangnya kenapa?"tanya Mandala dengan tatapan mengintimidasi.


"Ti.. Tidak apa-apa, bos,"sahut Patih tergagap melihat tatapan Mandala yang terlihat menakutkan.


"Bik, tolong jaga Rayno, ya, malam ini!"pinta Mandala pada Bik Mar membuat Kahyang yang duduk membelakangi Mandala menoleh.


"Man.."


"Jika Rayno rewel, bibi langsung telepon saja,"ucap Mandala memotong kata-kata Kahyang.


"Baik, Tuan,"sahut Bik Mar.


Mandala mendekati Kahyang yang masih menyusui Rayno, kemudian duduk di samping Kahyang,"Biarkan malam ini Rayno bersama Bik Mar. Bukankah malam ini adalah malam pengantin kita?"bisik Mandala hingga hembusan napasnya terasa di leher Kahyang. Pria itu memeluk pinggang Kahyang dari samping. Matanya menatap dua bukit kembar yang satunya terekspos karena Rayno sedang menyusu. Melihat pemandangan itu, Mandala menelan salivanya dengan susah payah.


Kahyang merasa tubuhnya meremang saat hembusan napas Mandala terasa hangat di lehernya. Apalagi saat ini tubuh mereka menempel karena Mandala memeluk pinggangnya. Sedangkan Bik Mar dan Patih nampak canggung melihat kemesraan majikan mereka. Bik Mar dan Patih memilih duduk di sofa yang ada di kamar hotel itu tanpa mau menoleh pada kedua majikan mereka.


"Aiss.. jiwa jomblo ku meronta-ronta karena melihat mereka bermesraan di depan mata,"gumam Patih yang masih bisa di dengar Bik Mar.


"Lebih susah cari pasangan dari pada cari kerjaan, Bik. Soalnya cari pasangan itu kalau bisa buat seumur hidup,"sahut Patih menghela napas panjang. Sedangkan Bik Mar hanya tersenyum tipis menatap Patih.


"Aku sangat rindu pada Ray, Man,"ujar Kahyang seraya mengelus rambut Rayno yang baru saja terlelap. Rayno hanya menyusu sebentar, kemudian tertidur karena kekenyangan.


"Hanya rindu pada Rayno? Apa kamu tidak rindu padaku?"tanya Mandala pelan seraya mengecup ceruk leher Kahyang, membuat Kahyang tersentak.


"Man, apa yang kamu lakukan? Ada Bik Mar dan Patih,"Kahyang menekan suaranya agar tidak terdengar oleh Bik Mar dan Patih, melotot menatap Mandala seraya mendorong dada Mandala yang menempel pada tubuhnya pelan. Namun Mandala malah tersenyum.


"Biarkan Rayno di sini bersama Bik Mar dan Patih. Atau..."Mandala menggantung kata-katanya dan tersenyum penuh arti pada Kahyang.


"Kamu mau apa?"tanya Kahyang seraya merapikan pakaian nya setelah menyusui Rayno tadi. Kahyang tiba-tiba merinding menatap wajah Mandala yang tersenyum penuh arti.


"Kita akan ke kamar kita,"bisik Mandala langsung mengambil Rayno yang sudah tidak lagi menyusu dari dalam pelukan Kahyang, lalu membaringkan Rayno di atas ranjang kemudian mengecup kening Rayno.


"Tapi, Man.."

__ADS_1


"Bik, tolong jaga Rayno, ya!"pinta Mandala memotong kata-kata Kahyang seraya merangkul pinggang Kahyang, membawanya berjalan menuju pintu kamar hotel.


"Iya, Tuan,"sahut Bik Mar.


"Patih, jaga mereka berdua!"titah Mandala.


"Baik, bos. Aku akan menjaga mereka dengan baik,"sahut Patih.


"Man, aku masih kangen pada Rayno,"ucap Kahyang yang nampak enggan meninggalkan kamar itu. Entah mengapa Kahyang merasa Mandala tidak seperti biasanya.


"Hanya malam ini saja. Setelah itu Rayno akan tidur bersama kita seperti sebelumnya,"ujar Mandala semakin erat memeluk pinggang Kahyang.


"Tapi, Man.."


"Apa kamu ingin aku menggendong mu ke kamar pengantin kita?"tanya Mandala pelan menatap Kahyang dengan wajah yang terlihat serius.


"Ka.. kamar pengantin?"tanya Kahyang yang tiba-tiba menjadi gugub mendengar kata kamar pengantin.


"Hum, apa aku perlu menggendong mu ke sana?"tanya Mandala menatap Kahyang.


"Ti.. tidak perlu,"ucap Kahyang yang merasa tatapan Mandala begitu mengintimidasi. Akhirnya sepasang suami-isteri itu pun keluar dari dalam kamar itu.


"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙙𝙚𝙜-𝙙𝙚𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙩𝙖𝙝𝙪𝙞 𝙙𝙞𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙬𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙚 𝙠𝙖𝙢𝙖𝙧 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙩𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞? 𝙋𝙖𝙙𝙖𝙝𝙖𝙡 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙪𝙡𝙖𝙣-𝙗𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙞𝙖. 𝘽𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙪𝙧 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙖. 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙢𝙞𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙥𝙞𝙨𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙩𝙖𝙩𝙪𝙨 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙚𝙙𝙖𝙧 𝙨𝙩𝙖𝙩𝙪𝙨 𝙙𝙞 𝙖𝙩𝙖𝙨 𝙠𝙚𝙧𝙩𝙖𝙨, 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙜𝙧𝙤𝙜𝙞 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖? 𝘼𝙥𝙖𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙩𝙖𝙩𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙩𝙖𝙥 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙞𝙣𝙞," gumam Kahyang dalam hati. Sesekali melirik ke arah Mandala.


"Aku merasa aneh sekali dengan bos. Dulu bos menyembunyikan pernikahan nya dengan bos nyonya. Sekarang menikahi bos nyonya lagi. Tapi malah menyembunyikan anaknya. Orang kaya memang aneh,"gumam Patih menghela napas panjang.


Sementara Bik Mar sebenarnya juga merasa terkejut saat melihat Mandala menemui mereka di kamar hotel itu bersama Kahyang. Sedangkan setahu Bik Mar menurut cerita Mandala, pernikahan Mandala dan Kahyang adalah pernikahan yang tidak direstui oleh kedua orang tua mereka. Mandala di jodohkan oleh orang tuanya, sedangkan Kahyang dibawa pulang secara paksa oleh orang tuanya. Tapi malam ini mereka berdua malah seperti menjadi sepasang pengantin. Karena pakaian mereka berwarna senada. Bik Mar jadi bingung sendiri menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi.


...🌸❤️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2