
Mandala pulang dengan dada yang terasa sesak. Tidak dapat dipungkiri, keputusan orang tuanya untuk menikahkan dirinya dengan putri Prasetyo dua bulan lagi membuat hati Mandala menjadi gegana alias gelisah, galau, merana.
Mandala masuk ke dalam apartemennya dan mendapati Kahyang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kau baru pulang? Kenapa malam sekali?"tanya Kahyang.
"Maaf! Aku tadi lupa memberitahu mu. Tadi tiba-tiba papa menyuruh aku ke rumah. Apa kamu sudah makan?"tanya Mandala seraya mengelus kepala Kahyang lembut.
"Sudah. Bersihkan lah tubuhmu,"sahut Kahyang seraya mendorong dada Mandala pelan.
"Baiklah,"sahut Mandala tersenyum lembut pada Kahyang. Menyembunyikan kegelisahan hatinya agar Kahyang tidak merasa khawatir dan kepikiran.
Beberapa menit kemudian, Mandala pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar.
"Kamu kenapa?"tanya Mandala nampak khawatir saat melihat Kahyang yang sedang duduk di tepi ranjang nampak meringis menahan sakit seraya memegangi perutnya.
"Tidak apa-apa. Hanya saja, dia menendang terlalu kencang,"sahut Kahyang. Mandala duduk di sebelah Kahyang dan mengelus perut Kahyang dengan penuh kasih sayang.
"Jangan menendang terlalu kencang sayang! Kasihan mama mu,"ucap Mandala dengan seulas senyum di bibirnya menatap perut Kahyang seraya mengelusnya. Berbicara dengan bayi dalam kandungan Kahyang,"Aku tidak sabar menunggu dia lahir,"ucap Mandala masih mengelus perut Kahyang.
Kahyang terdiam mendengar apa yang dikatakan Mandala. Kahyang tahu, jika dirinya sudah melahirkan nanti, Mandala pasti akan segera menceraikan dirinya. Rasanya Kahyang tidak ingin berpisah dengan Mandala. Pria ini benar-benar suami idaman. Pria yang lembut, perhatian dan penuh kasih sayang. Sangat perhatian dan selalu memanjakan dirinya. Apakah setelah berpisah dengan Mandala, dirinya bisa menemukan pria seperti ini?
Yudha memang tulus mencintainya, tapi Yudha tidak terlalu peka dengan perasaan nya, layaknya pria pada umumnya. Tidak bisa dibandingkan dengan Mandala, yang lebih mengerti apa yang diinginkannya. Memang tidak selalu mengerti semua keinginannya, tapi Mandala jauh lebih peka terhadap dirinya dibandingkan dengan Yudha yang sudah beberapa tahun menjadi pacarnya. Kahyang sudah terlanjur nyaman dengan Mandala, tidak rela rasanya jika harus kehilangan Mandala.
Tidak mendapatkan respon dari Kahyang, Mandala pun mengangkat wajahnya lalu menatap wajah Kahyang. Wanita itu nampak melamun.
"Kamu kenapa?"tanya Mandala saat melihat wajah Kahyang yang terlihat sedih.
__ADS_1
"Ah, ti.. tidak apa-apa,"sahut Kahyang tergagap, memalingkan wajahnya. Matanya sudah berkabut.
"Jangan berbohong padaku! Katakan padaku! Apa yang membuat kamu bersedih?"tanya Mandala lembut seraya merapikan anak rambut Kahyang dan menyelipkannya di belakang telinga.
Kahyang tidak menjawab dan masih memalingkan wajahnya. Lidahnya terasa kelu, lehernya terasa tercekat. Mana mungkin dirinya mengatakan jika tidak ingin berpisah dari Mandala. Sedangkan Kahyang tahu jika sejak awal menikah, mereka telah sepakat akan bercerai setelah bayi dalam kandungan lahir. Dan Kahyang juga tahu benar alasan Mandala dan keluarganya hanya bisa menerimanya sebagai menantu sekedar status yang bahkan disembunyikan dari publik.
Mandala meraih tangan Kahyang dan menggenggam nya dengan lembut,"Maafkan aku! Ini semua salahku. Aku yang menyebabkan mu dalam situasi sulit seperti ini. Aku yang membuat masa depan mu dan hubungan mu dengan orang tuamu hancur. Jika saja malam itu aku tidak khilaf, semua ini tidak akan terjadi,"ujar Mandala tertunduk dalam, menghela napas berat.
Rasa bersalah dalam hatinya setiap hari semakin menumpuk dan membebaninya. Berusaha menekan rasa cintanya yang terus tumbuh dan berkembang di hatinya. Agar hatinya tidak terlalu sakit saat tiba waktunya berpisah nanti. Namun semakin ditekan, dan coba dipadamkan nya, rasa cinta itu malah semakin tumbuh berkembang dan berkobar di dalam hatinya, membuat dirinya tersiksa.
"Bisakah kita tidak membahas masalah itu? Ijinkan aku menikmati kebersamaan kita yang tidak akan lama lagi ini,"ucap Kahyang tanpa bisa membendung air matanya.
Mandala terhenyak saat butiran kristal bening itu berjatuhan di tangannya yang sedang menggenggam kedua tangan Kahyang. Pria itu mengangkat wajahnya dan melihat Kahyang sudah berderai air mata. Mandala langsung merengkuh Kahyang dalam pelukannya. Menyandarkan kepala Kahyang di dada bidangnya. Memeluk erat tubuh wanita yang sedang mengandung darah dagingnya itu.
"Maafkan aku! Aku tahu, walau beribu bahkan berjuta kata maaf aku ucapkan, tidak akan pernah bisa merubah segalanya. Maaf!"ucap Mandala tanpa terasa kristal bening pun meluncur dari matanya.
Mandala memejamkan matanya, kemudian menghapus air matanya. Perlahan merenggangkan pelukannya, menangkup wajah wanita yang dicintainya, dan dengan lembut menghapus air mata Kahyang dengan kedua jari jempolnya.
"Aku tidak suka melihatmu menangis. Kamu lebih cantik saat kamu tersenyum,"ucap Mandala memaksakan diri untuk tersenyum.
Sesaat Kahyang menatap mata Mandala, kemudian kembali memeluk Mandala dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Mandala. Mendengar degup jantung pria yang saat ini dicintainya.
"Sudah malam. Kita tidur, ya?"ucap Mandala mengelus kepala Kahyang lembut kemudian mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
Kahyang tidak menjawab, tapi mengangguk kecil. Mandala pun membantu Kahyang berbaring, setelah itu ikut naik ke atas ranjang. Pria itu berbaring di belakang Kahyang dan menjadikan lengan kanannya sebagai bantal Kahyang. Sedangkan tangan kirinya mengusap perut Kahyang dengan lembut. Tangan kanannya pun membelai kepala Kahyang dengan lembut. Kahyang memejamkan matanya, kemudian menggenggam tangan Mandala yang mengelus perutnya.
"Tidurlah!"ucap Mandala lembut,. kemudian mengecup lembut kepala Kahyang. Tak lama kemudian, suara dengkuran halus Kahyang pun terdengar.
__ADS_1
"Tuhan, kenapa Engkau harus mempertemukan kami, jika akhirnya harus memisahkan kami.Bolehkah hamba-Mu ini memohon? Aku ingin kami tetap bersama, hidup bahagia hingga ajal memisahkan kami berdua?"gumam Mandala lirih.
Hari terus berganti, sepasang anak manusia itu nampak menikmati kebersamaan mereka tanpa membahas hal-hal yang membuat mereka bersedih. Kahyang telah mengambil cuti kuliah sejak kandungan nya menginjak sembilan bulan. Dan berdiam di apartemen ditemani bik Mar saat Mandala ke kantor. Bik Mar adalah orang yang digaji Mandala untuk membersihkan apartemennya.
Mandala berusaha untuk pulang sore hari dan memilih membawa pulang pekerjaan kantornya agar tidak pulang malam dan bisa menjaga Kahyang. Sekaligus agar bisa menghabiskan waktu bersama Kahyang.
"Aku pergi dulu!"ucap Mandala mengecup kening Kahyang, kemudian mengecup perut Kahyang.
"Hum. Hati-hati!"pesan Kahyang.
"Hum,"Mandala mengangguk seraya tersenyum pada Kahyang. Pria itu kemudian meninggalkan apartemen itu. Hari ini ada meeting dengan beberapa klien yang harus dihadirinya.
"Bagaimana Pak Mandala? Apa anda tertarik dengan proposal dari kami?"tanya seorang klien setelah melakukan presentasi.
Baru saja Mandala akan menjawab, tiba-tiba handphone nya bergetar, tanda ada panggilan masuk. Melihat nama Bik Mar yang tertulis di layar handphonenya, wajah Mandala pun berubah tegang. Mandala sengaja tidak mematikan handphone nya saat rapat, agar Kahyang dan Bik Mar tetap bisa menghubungi nya. Takut jika sewaktu-waktu Kahyang melahirkan.
Mandala langsung menerima panggilan dan menempelkan benda pipih itu di telinganya. Belum sempat Mandala bersuara, suara Bik Mar lebih dulu menyapa pendengarnya.
...π"Terkadang cinta membuat kita berada dalam situasi rumit. Bertahan sakit, pergi pun sulit.Saling mencintai, tapi tidak mungkin bisa memiliki."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
__ADS_1
To be continued