Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
54. Firasat


__ADS_3

Mandala masuk ke ruangan pribadinya untuk melihat putranya. Karena sebentar lagi Mandala akan mengadakan meeting.


"Apa Ray tidur Bik?"tanya Mandala setelah membuka pintu ruangan pribadinya.


"Iya, Tuan,"sahut Bik Mar.


"Bibi jangan keluar dari ruangan ini, ya! Kalau ada apa-apa, bibi suruh Patih saja. Tolong bibi jangan mengatakan apapun tentang anakku dan juga ibunya pada Patih! Patih itu nggak bisa diajak nyimpen rahasia,"ujar Mandala melirik Patih sekilas, kemudian mengelus kepala Rayno dan mengecup pipi Rayno.


"Baik, Tuan,"sahut Bik Mar lagi.


"Bos begitu amat sama aku,"gerutu Patih yang mendengar Mandala berpesan pada Bik Mar.


"Tih, kamu disini saja! Lakukan apa yang dipinta Bik Mar. Rahasiakan keberadaan putraku! Dan jangan bertanya apapun yang bersangkutan dengan putraku! Kamu mengerti!"ucap Mandala memperingati Patih. Mengingat Patih yang selalu berkata jujur, Mandala takut Patih membocorkan keberadaan Bik Mar dan putranya pada orang lain.


"Iya, bos. Aku mengerti,"sahut Patih dengan bibir yang mengerucut.


Setelah berpesan pada Patih dan Bik Mar, Mandala pun keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju ruangan meeting bersama sekretaris nya.


"Tuan, tadi Patih menyuruh saya membuat email,"lapor sekretaris Mandala berjalan di samping Mandala.


"Email? Email apa?"tanya Mandala seraya mengernyitkan keningnya.


Pria jangkung yang menjadi sekretaris Mandala itu pun menjelaskan email apa yang dimaksud olehnya. Mandala menghela napas panjang setelah mendengar penjelasan dari sekretarisnya tentang email yang berisi tentang larangan mengambil kantong susu yang disimpan oleh Patih.


"Aku benar-benar akan memotong gaji orang yang berani mengambil kantong susu itu,"ujar Mandala membuat sekretarisnya itu diam.


Walaupun masih penasaran dengan susu yang di simpan Patih dalam freezer pantry. Namun sekretaris Mandala itu tidak berani bertanya lebih lanjut tentang susu itu pada Mandala.

__ADS_1


"𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝘼𝙎𝙄 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙆𝙖𝙝𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙞𝙩𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙗𝙞𝙨. 𝙎𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙍𝙖𝙮 𝙢𝙞𝙣𝙪𝙢 𝙨𝙪𝙨𝙪 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠,"gumam Mandala dalam hati.


"𝙆𝙤𝙠, 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙪𝙢 𝙖𝙧𝙤𝙢𝙖 𝙗𝙖𝙮𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙩𝙪𝙗𝙪𝙝 𝙏𝙪𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙣𝙙𝙖𝙡𝙖,"gumam sekretaris Mandala dalam hati, sesekali melirik Mandala yang berjalan di samping nya. Atasannya itu biasanya selalu memakai parfum beraroma maskulin, tapi sekarang malah tercium aroma parfum bayi dari tubuh atasannya itu. Sehingga sekretaris Mandala itu merasa aneh. Belum lagi rasa penasarannya tentang kantong susu yang diletakkan Patih di freezer juga belum terjawab.


Biasanya setelah memakai setelan kantor, Mandala tidak lagi menggendong Rayno. Tapi karena Rayno hari ini rewel, Mandala pun menggendong Rayno. Sehingga parfum bayi yang dipakaikan pada Rayno menempel di pakaian Mandala.


***


Waktu terus berlalu dan hari terus berganti. Setiap pulang dari bekerja, Mandala selalu membawa Rayno pergi ke rumah Kahyang. Walaupun hanya bisa melihat Kahyang dari kejauhan, tapi sudah cukup bagi Mandala. Dan karena setiap hari Mandala selalu parkir di depan rumah Kahyang, Pak Supri, security di rumah Kahyang sampai hafal dengan Mandala. Mandala pun sering memberikan kue untuk security itu.


Tidak terasa, hari yang mendebarkan pun tiba. Yaitu hari pernikahan Mandala, Kahyang dan Riska. Sampai hari ini tiba, baik Mandala, Kahyang maupun Riska tidak tahu siapa orang yang akan dinikahkan dengan mereka.


Mandala memesan kamar hotel di sebelah kamar hotel yang sudah di pesan Prasetyo untuk Mandala dan putrinya. Mandala memesan kamar itu untuk Bik Mar dan Rayno. Mandala takut Rayno rewel, karena semenjak Kahyang pergi, Rayno selalu rewel jika di tinggal Mandala terlalu lama. Mandala sudah hafal dengan perangai putranya selama satu minggu ini. Jika sudah rewel dan mengamuk, putranya itu akan terus menangis dan tidak mau minum susu, apalagi tidur sebelum Mandala menggendongnya. Mengingat hal itu, Mandala memesan kamar yang bersebelahan dengan kamar pengantinnya. Agar Mandala bisa ke kamar Rayno jika sewaktu-waktu Rayno rewel.


Mandala bermaksud jujur kepada putri Prasetyo tentang Rayno. Apapun tanggapan dan reaksi putri Prasetyo nanti padanya, Mandala sudah siap. Karena Mandala tidak mau memulai sebuah hubungan dengan sebuah kebohongan. Mandala percaya, bagaimana pun dirinya berusaha menyembunyikan Rayno, suatu saat, cepat atau lambat, identitas tentang Rayno yang merupakan putra kandung nya pasti akan terbongkar juga.


Mandala menyuruh Patih untuk menyusul Mandala ke tempat dirinya akan melakukan akad nikah. Patih ditugaskan untuk membawa Bik Mar dan Rayno. Mandala memberikan GPS -nya pada Patih dan menyuruh Patih mengikuti Mandala dari jauh agar tidak ada yang curiga. Mandala takut jika Rayno rewel, karena itu menyuruh Patih untuk membawanya bersama Bik Mar.


"Akhirnya kalian sampai di sini juga. Ayo masuk!"ucap Prasetyo dengan wajah yang sumringah menyambut kedatangan keluarga Agung.


Pernikahan itu memang hanya mengundang rekan-rekan bisnis saja, karena baru melakukan pernikahan secara agama saja. Sedangkan resepsinya belum ditentukan kapan akan dilaksanakan.


"Rumah kamu kelihatannya nyaman sekali, Pras,"ujar Agung mengamati rumah itu. Saat ini mereka masih berada di depan rumah yang terlihat megah itu.


"Ini bukan rumah ku. Rumah ini aku bangun khusus untuk putriku. Aku ingin putriku dan Mandala tinggal di sini dan memberikan kita banyak cucu,"ujar Prasetyo kemudian terkekeh.


"Wahh.. langsung dapat hadiah rumah. Sekali-kali aku boleh menginap di sini, dong! Iya, 'kan, kak?"tanya Andini pada Mandala. Gadis itu pulang dari luar negeri untuk menghadiri pernikahan kakaknya.

__ADS_1


"Jaga sikapmu!"ujar Prameswari memperingati putrinya.Sedangkan Mandala hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan dari adik satu-satunya itu.


Keluarga Agung pun akhirnya dibawa masuk oleh Prasetyo. Di dalam rumah itu cukup ramai. Ternyata Prasetyo mengundang lumayan banyak rekan bisnisnya. Dan sekarang Prasetyo mulai memperkenalkan Mandala dan Agung pada rekan-rekan bisnisnya itu.


Di sisi lain, Riska baru saja selesai di rias oleh seorang MUA. Gadis itu terlihat cantik dengan gaun pengantin yang berwarna putih tulang.


"Ma, sebenarnya siapa yang akan dinikahkan dengan aku? Kenapa kalian menyembunyikannya dariku?"protes Riska.


"Tenang saja! Kamu nggak bakalan kecewa. Dia baru saja datang, mama sudah melihatnya. Calon suami kamu orangnya tampan, kok!"ujar mama Riska nampak senang.


"Bukan duda atau pria tua, 'kan? Atau Om-om kepala botak?"tanya Riska memicingkan sebelah matanya, terlihat curiga.


"Enggak lah! Mama sudah lihat tadi. Orangnya masih muda, umurnya masih di bawah tiga puluh tahun. Wajahnya tampan dan menurut kedua orang tuanya, dia masih lajang,"sahut mama Riska.


"Lalu kenapa diminta fotonya aja nggak boleh?"tanya Riska belum percaya.


"Biar surprise. Sudah, jangan banyak tanya! Nanti kamu juga bisa melihatnya sendiri!"ujar mama Riska yang bosan ditanya terus oleh Riska yang nampak selalu curiga.


"Saya tadi juga melihat pengantin prianya, non. Beneran, kok, masih muda dan tampan,"imbuh MUA yang merias Riska.


"Perasaan ku mengatakan ada yang tidak beres dengan pria yang akan dinikahkan dengan ku,"ujar Riska nampak tidak tenang.


Entah mengapa, semenjak tau dirinya akan dinikahkan dengan orang yang tidak diketahui namanya dan juga tidak di ketahui fotonya, apalagi bertemu secara langsung, Riska merasa ada yang aneh dan punya firasat jika ada yang tidak beres dengan calon suaminya ini.


...🌸❤️🌸...


🌸 Kalau ada waktu, mampir ke novel aku yang baru, ya, kak! Judulnya SPd (Sales Penjual daster). Klik aja di profil aku. Makasih semuanya! 🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2