
"Apa kau marah padaku?"tanya Kahyang, yang tidak tahan diacuhkan oleh Mandala, tapi Mandala tidak merespons samasekali.
"Apa kau marah padaku?"tanya Kahyang lagi, tapi Mandala tetap diam. Pria itu tetap berbaring membelakangi Kahyang. Kahyang yang tidak pernah diperlakukan seperti itu pun merasa kesal.
"Apa kamu tidak mendengar ku?"tanya Kahyang agak meninggikan suaranya. Emosi ibu hamil itu nampak naik.
"Tidur lah!"ucap Mandala datar, tanpa menoleh ke arah Kahyang, membuat emosi Kahyang semakin naik.
"Aku bertanya padamu!"teriak Kahyang yang merasa tidak terima diabaikan. Entah mengapa hati nya terasa sakit saat Mandala mengabaikannya.
Mandala beranjak dari tempatnya berbaring, duduk menghadap Kahyang seraya menghela napas berat.
"Tidak baik jika kamu emosi seperti itu. Tidur lah! Tidak baik tidur terlalu malam,"ujar Mandala mencoba bersabar sekaligus menenangkan Kahyang, mengingat wanita itu sedang mengandung.
"Pergi kamu! Pergi!!"teriak Kahyang seraya melempari Mandala dengan bantal.
"Kamu kenapa, sih?"tanya Mandala ikut kesal. Masih jelas diingatan nya saat Yudha memegang tangan Kahyang. Dan juga saat Kahyang melarangnya untuk mencampuri urusan pribadi nya. Dan menekankan pada Mandala bahwa hubungan mereka hanya sekedar status. Hal itu membuat hati Mandala sakit. Merasa apa yang dilakukannya untuk Kahyang sama sekali tidak dihargai.
"Aku benci kamu! Benci! Benci! Benci! Pergi kamu!"pekik Kahyang beringsut mendekati Mandala kemudian memukulinya secara bertubi-tubi dengan air mata yang sudah menetes di pelupuk matanya. Ada perasaan kesal di hatinya saat Mandala mengabaikannya. Apalagi semalam Mandala mengatakan mencintai nya berulang kali. Walaupun dalam keadaan mabuk. Tapi setelah itu malah mengabaikannya.
"Berhentilah bersikap seperti ini! Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" bentak Mandala, seraya menahan kedua tangan mungil Kahyang yang memukulinya, membuat Kahyang tidak bisa lagi memukul Mandala. Wanita itu nampak terkejut mendengar Mandala membentaknya.
"𝘼𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙚𝙢𝙤𝙨𝙞 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪? 𝘼𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖? 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣𝙠𝙖𝙝 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙥𝙞𝙨𝙖𝙝? 𝘽𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙥𝙞𝙨𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙞𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙧𝙞,"gumam Kahyang dalam hati. Kepalanya tertunduk dan tangan nya melemas, hanya isak tangisnya yang terdengar.
Mandala melepaskan tangan Kahyang, kemudian membuang napas kasar. Mandala tidak bermaksud membentak wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Emosinya naik begitu saja hingga tanpa sengaja membentak Kahyang. Kahyang langsung beringsut menjauh dan membaringkan tubuhnya membelakangi Mandala. Punggung ibu hamil itu nampak bergerak-gerak karena menangis.
Mandala menengadahkan kepalanya, memejamkan matanya seraya menghela napas berat. Entah mengapa Mandala tidak bisa berlama-lama marah kepada Kahyang. Dadanya terasa sesak bagaikan ditimpa batu besar saat melihat dan mendengar wanita yang dicintainya itu menangis.Mandala tidak tahu, kenapa malam ini Kahyang bersikap seperti itu.
"Maaf! Aku tidak bermaksud membentak kamu. Jangan menangis! Aku tidak suka melihatmu menangis,"ujar Mandala merengkuh Kahyang dalam pelukannya. Walaupun pelukan mereka agak terganggu dengan perut Kahyang yang besar.
Kahyang semakin terisak dalam pelukan Mandala. Tangan ibu hamil itu meremas kaos yang dipakai Mandala. Mandala tidak mengucapkan sepatah katapun lagi. Namun tangannya bergerak mengelus kepala Kahyang, hingga Kahyang tidak menangis lagi dan terlelap dalam pelukannya.
__ADS_1
"Apakah kamu marah karena aku abaikan? Maaf! Aku tidak akan melakukannya lagi,"ujar Mandala lirih, kemudian mengecup puncak kepala Kahyang dengan lembut.
Keesokan harinya, Mandala tidak lagi mengabaikan Kahyang. Namun ibu hamil itu nampak tidak bersemangat, wajahnya terlihat murung. Bahkan Kahyang tidak menghabiskan sarapan nya, membuat Mandala merasa bersalah dan khawatir.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Mandala lembut. Hatinya terasa sakit saat melihat Kahyang seperti itu.
Kahyang menggeleng, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kamar. Ibu hamil itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya. Entah kenapa semenjak dirinya tahu jika Mandala juga mencintainya, Kahyang merasa galau saat mengingat bahwa tidak lama lagi, mereka akan berpisah.
Mandala menyusul Kahyang ke dalam kamar. Pria berwajah tampan itu menghela napas berat menatap Kahyang yang berbaring. Mandala pun, mendekati Kahyang dan duduk di tepi ranjang, dekat Kahyang berbaring.
"Apa aku melakukan kesalahan? Atau aku melakukan sesuatu yang membuat hatimu merasa kesal? Aku minta maaf, karena telah membentak mu semalam! Aku minta maaf karena telah mengabaikan mu,"ujar Mandala lembut. Kahyang hanya menggeleng tanpa membuka matanya. Membuat Mandala menghela napas berat. Mandala yakin ada sesuatu yang membuat Kahyang seperti itu, namun bumil itu nampak enggan mengatakannya.
"Hari ini, aku ada meeting dengan beberapa orang klien. Kamu jangan menunggu aku pulang! Mungkin aku pulang agak larut. Tidurlah lebih awal!"pesan Mandala seraya mengelus lengan Kahyang yang berbaring miring.
Mandala meninggalkan apartemen itu dengan berat hati. Bahkan karena khawatir, Mandala meminta orang yang biasanya membersihkan apartemen mereka untuk menemani Kahyang.
***
"Bos nyonya? Siapa yang kamu maksud bos nyonya?"tanya Mandala mengernyitkan keningnya.
"Tentu saja istri bos. Memangnya siapa lagi? Apa bos nyonya masih marah dan bos nggak dapat jatah? Karena itukah muka bos lecek begitu?"tanya Patih lagi.
Mandala terdiam sejenak kemudian teringat jika semalam Patih lah yang menemaninya di klub malam.
"Jadi, semalam kamu yang mengantar aku pulang?"tanya Mandala.
"Ya, iya lah, bos! Memangnya siapa lagi? Tapi kalau bos nggak mabuk semalam, aku nggak bakal tahu kalau bos menyembunyikan istri secantik itu,"ujar Patih tersenyum tipis saat teringat betapa cantiknya istri Mandala.
Mandala memijit pelipisnya, kemudian menatap serius pada Patih,"Jangan sampai ada yang tahu jika aku mempunyai istri! Jika rahasia ini bocor, aku akan memecat mu!"ancam Mandala. Mandala tahu, Patih adalah orang yang jujur dan tidak bisa berbohong. Karena itulah, Mandala tidak mau mengatakan sesuatu yang sifatnya rahasia kepada Patih.
"Memangnya kenapa harus disembunyikan, bos? Istri.."
__ADS_1
"Diam!"bentak Mandala membuat bahu Patih terangkat karena terkejut, dan tidak melanjutkan kata-katanya, lagi. "Ada beberapa hal yang akan lebih baik jika kamu tidak mengetahuinya. Dan ingatlah! Terkadang kejujuran mu bisa menjadi penyebab kematian mu,"ucap Mandala dengan tatapan tajam.
"A... aku akan diam, bos,"sahut Patih menundukkan kepalanya.
"Bagus!"ucap Mandala.
Malam telah larut, dan Mandala baru saja sampai di apartemennya. Mandala bergegas ke kamar mandi saat melihat Kahyang sudah berbaring dan memejamkan matanya.Tak lama kemudian, Mandala sudah keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian. Pria itu membaringkan tubuhnya di belakang Kahyang, kemudian mengelus perut Kahyang dengan lembut. Namun, wanita muda itu malah terbangun.
"Apa aku membuatmu terbangun?"tanya Mandala merasa bersalah, seraya membantu Kahyang untuk bangun.
"Aku ingin ke kamar mandi,"sahut Kahyang dan beringsut turun dari ranjang. Kandungan nya yang sudah mendekati waktu kelahiran membuatnya sering ke kamar mandi.
Mandala menunggu Kahyang kembali dari kamar mandi. Pria itu merasa khawatir, melihat Kahyang berjalan dengan perut yang besar. Pria itu membantu Kahyang naik ke atas ranjang.
"Yang, apa kamu benar-benar ingin bercerai dari ku? Dan kembali bersama dia?"tanya Mandala tiba-tiba dengan rasa sesak di dadanya.
Kahyang terkejut mendengar pertanyaan Mandala. Wanita itu mengangkat wajahnya, menatap Mandala yang menatapnya dengan tatapan sendu.
"Bukankah sejak awal kamu hanya ingin menikahi ku sampai anak ini lahir?"tanya Kahyang menatap manik mata pria yang sudah beberapa bulan ini bersamanya.
"Aku mencintai mu!"
...🌟"Terkadang sangat sulit untuk mengatakan cinta, apalagi saat menyadari, tidak mungkin untuk bersama."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued