
Mandala langsung menerima panggilan dan menempelkan benda pipih itu di telinganya. Belum sempat Mandala bersuara, suara Bik Mar lebih dulu menyapa pendengarnya.
"Halo! Tuan, sepertinya nyonya akan melahirkan. Saya sudah menelpon ambulan,"ucap Bik Mar lewat sambungan telepon terdengar panik.
"Apa? Saya akan segera ke sana!"ucap Mandala langsung menutup teleponnya dengan wajah yang terlihat tegang sehingga menjadi pusat perhatian semua yang hadir di meeting room itu. Apalagi Mandala menerima telepon pada saat meeting belum selesai.
"Saya terima proposal anda, selanjutnya, anda bisa menghubungi sekretaris saya. Saya ada urusan yang tidak bisa di tunda. Saya permisi!"ucap Mandala sedikit membungkukkan tubuhnya, kemudian berlari keluar dari meeting room itu.
Semua orang yang hadir di ruangan itu pun nampak terkejut dengan reaksi Mandala setelah menerima telepon. Namun sekretaris Mandala langsung mengambil alih memimpin meeting yang sebenarnya sudah hampir selesai itu.
Mandala mengendarai mobilnya secepat mungkin diantara padatnya lalu lintas. Beberapa menit kemudian, Mandala sudah sampai di basemen apartemen nya, Mandala pun bergegas menuju unit apartemen nya.
"Tuan! Nyonya di kamar,"ujar Bik Mar dengan wajah panik, saat melihat Mandala sudah pulang. Mandala pun berlari masuk ke kamarnya.
"Yang!"panggil Mandala menghampiri Kahyang dengan wajah yang terlihat panik.
"Man, sakit sekali!"ujar Kahyang nampak meringis menahan sakit.
"Kita akan segera ke rumah sakit,"ucap Mandala langsung menggendong Kahyang keluar dari unit apartemen nya diikuti oleh Bik Mar yang membawa tas perlengkapan bayi dan pakaian untuk Kahyang.
Ambulance datang saat mereka baru saja keluar dari apartemen itu. Mereka pun langsung masuk kedalam ambulance. Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Mandala tetap menemani Kahyang sampai ke dalam ruangan bersalin.
"Kamu pasti bisa, Yang!"Mandala terus memberi semangat pada Kahyang. Tangannya menggenggam erat tangan Kahyang dan sesekali mengelap peluh di wajah Kahyang yang berjuang melahirkan bayi mereka.
Setelah berjuang keras, akhirnya tangis nyaring seorang bayi pun terdengar. Mandala dan Kahyang nampak sangat bahagia saat dokter memperlihatkan bayi yang baru saja dilahirkan oleh Kahyang.
"Anaknya laki-laki. Sehat dan sempurna,"ucap dokter membuat kebahagiaan semakin menyelimuti hati Kahyang dan Mandala.
__ADS_1
"Terimakasih!"ucap Mandala mengecup lembut kening Kahyang dengan penuh rasa syukur dan bahagia.
Kahyang menitikkan air mata karena merasa sangat bahagia atas kelahiran putranya, sekaligus sedih karena sebentar lagi akan berpisah dengan Mandala.
Saat pertama kali bertemu Mandala, pria itu terkesan dingin, datar dan kasar di mata Kahyang. Namun setelah mereka menikah dan tinggal bersama, sikap Mandala malah berubah seratus delapan puluh derajat. Kahyang tidak menyangka jika Mandala adalah pria yang begitu lembut, perhatian dan penuh kasih sayang. Memperlakukan dirinya dengan baik dan mencukupi semua kebutuhannya, bahkan sebelum dirinya memintanya.
Beberapa menit kemudian, Kahyang pun dipindahkan ke ruang perawatan. Seorang perawat datang membawa bayi mereka yang sudah bersih. Kulit bayi yang memiliki bobot tiga kilo setengah itu terlihat putih bersih, rambut tebal dan hidung yang mancung.Sangat tampan. Perawat itu memberi arahan pada Kahyang untuk menyusui bayinya dengan meletakkan bayi itu di atas dada Kahyang. Mandala nampak menelan salivanya dengan kasar saat melihat Kahyang mengeluarkan salah satu benda kenyal miliknya yang terlihat montok lalu mulai menyusui putra mereka.
Kahyang membelai rambut putranya yang tebal dengan senyuman yang menghias bibirnya. Nampak kebahagiaan di wajahnya yang cantik, walaupun tanpa make-up. Sedangkan putranya nampak sudah bisa menemukan sumber kehidupan nya. Bayi mungil itu sudah mulai bisa menyusu. Sedangkan Mandala yang duduk di kursi di sebelah brankar Kahyang menyibukkan diri dengan membaca email di handphone nya. Mengalihkan pandangannya dari sesuatu yang nampak menggoda di matanya.
"Man, sepertinya dia sudah kenyang,"ujar Kahyang membuat Mandala menoleh ke arah Kahyang. Untung saja Kahyang sudah menutup dadanya, sehingga Mandala tidak perlu melihat pemandangan indah yang justru menyiksanya.
Mandala mengangkat tubuh putranya yang mungil dari atas dada Kahyang. Pria itu nampak tidak kaku sama sekali saat menggendong putranya dan seperti tahu cara menggendong bayi.
"Kamu bisa menggendongnya?"tanya Kahyang yang tidak menyangka Mandala bisa menggendong bayi yang masih merah itu.
"Aku banyak membaca dan juga menonton video seputar bayi,"ujar Mandala yang nampak bahagia menggendong bayi nya.
Sejatinya tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, karena yang sempurna itu hanya judul lagu dan pemilik alam semesta. Namun saat kita bisa menemukan kelebihan didalam sejuta kekurangannya, menemukan kebaikan dari sejuta keburukannya, itu berarti kita mencintai nya. Jangan pernah mencari pasangan yang sempurna! Karena tidak akan pernah ada. Carilah pasangan yang bisa membuatmu merasa sempurna dan tanpa kamu dia merasa tidak sempurna.
"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?"tanya Mandala bertepatan dengan perawat yang datang untuk membawa kembali putra mereka ke ruang bayi.
"Tidak apa-apa,"sahut Kahyang yang terhenyak dari lamunannya.
Mandala menyerahkan bayinya pada perawat, dan perawat itu pun segera keluar dari ruangan itu. Mandala mendekati Kahyang dan duduk di kursi disebelah brankar Kahyang. Pria itu meraih jemari tangan Kahyang dan menggenggamnya dengan lembut. Menatap mata jernih Kahyang yang juga sedang menatapnya.
"Aku tidak akan menceraikan mu, sebelum kamu memintanya dari ku,"ucap Mandala tanpa keraguan, terdengar tenang, tapi tegas.
__ADS_1
Kahyang menatap lekat wajah Mandala tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Mandala.
Mandala menghela napas dalam, kemudian mengusap lembut punggung tangan Kahyang,"Maafkan aku, aku tidak bisa menepati janjiku. Aku akui, aku terlalu egois. Jujur, berat rasanya untuk melepaskan mu. Tapi, kapan pun kamu menginginkan perceraian itu, aku akan mengurusnya,"ujar Mandala. Wajahnya terlihat tenang, tapi tidak dengan hatinya yang terasa tertindih batu besar saat mengatakan kata-kata yang sesungguhnya tidak ingin dikatakannya.
"Hum,"sahut Kahyang seraya mengangguk kecil.
Inilah yang membuat Kahyang merasa nyaman dan perlahan tubuh rasa cinta di hatinya untuk Mandala. Pria ini seolah bisa membaca isi hatinya, selalu mengerti keinginan nya. Lalu bagaimana Kahyang rela melepaskan pria ini? Tidak sanggup rasanya melepaskan pria yang sudah terlanjur dicintainya, apalagi jika harus melihatnya bersanding dengan wanita lain.
"Oh, ya, apakah kamu ingin memberikan nama untuk anak kita?"tanya Mandala mengalihkan pembicaraan untuk mengusir aura kesedihan yang mulai terasa.
"Aku belum mendapatkan nama yang pas untuknya,"ujar Kahyang. Selama ini mereka memang sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak mereka. Mereka ingin mendapatkan kejutan saat anak mereka lahir.
"Apa boleh aku memberinya nama?"tanya Mandala yang sebenarnya memang sudah menyiapkan nama untuk putranya.
"Tentu saja,"sahut Kahyang tersenyum tipis.
"Aku ingin memberinya nama "Rayno Izyan".Aku ingin putra kita menjadi orang yang bijaksana, memiliki pengetahuan luas, cerdas dan selalu bahagia. Bagaimana, apa kamu setuju?"tanya Mandala.
"Nama yang indah. Aku suka,"jawab Kahyang dengan seulas senyum manis di bibirnya.
...π"Orang yg mencintaimu setulus hati adalah orang yang mau menerimamu apa adanya. Orang yang selalu ada untukmu tanpa dipinta. Dan rela berkorban demi melihatmu bahagia."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
.
To be continued