Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
62. Konsekuensi


__ADS_3

Siang itu, Mandala membawa Kahyang, Rayno dan Bik Mar pulang ke apartemennya. Meninggalkan hotel tempat mereka menginap semalam. Seperti biasanya, pada sore hari, Bik Mar pulang dari apartemen Mandala, dan keesokan harinya kembali lagi. Setelah makan malam bersama, Mandala dan Kahyang pun masuk ke dalam kamar. Rayno nampak sudah terlelap di box bayi nya.


Mandala langsung masuk ke kamar mandi, sedangkan Kahyang merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Setelah berbaring beberapa menit, Kahyang tiba-tiba teringat sesuatu. Wanita itu langsung bangun dan mencari handphonenya yang sudah satu minggu ini tidak disentuhnya.


"Sedang apa, hem?"tanya Mandala yang tiba-tiba memeluk Kahyang yang baru saja duduk di depan meja belajarnya dari belakang. Pria itu mengecup leher Kahyang beberapa kali.


"Man, jangan seperti ini! Aku sedang mengecek ponsel ku. Aku sudah meninggalkan kuliah ku selama satu minggu tanpa kabar,"ujar Kahyang mendorong pelan wajah Mandala yang berada di ceruk lehernya.


"Aku sudah meminta ijin pada rektor agar kamu kuliah daring. Dan selama satu minggu ini, aku sudah mengerjakan tugas yang seharusnya kamu kerjakan,"ujar Mandala yang masih memeluk Kahyang dari belakang.


"Benarkah?"tanya Kahyang dengan mata yang berbinar. Menoleh menatap Mandala.


"Tentu saja benar. Apa aku pernah membohongi kamu?"tanya Mandala seraya mengangkat kedua alisnya,"Lihatlah di handphone dan laptop kamu! Aku sudah mengerjakan tugas kuliah kamu selama satu minggu ini"ujar Mandala. Dan Kahyang pun langsung memeriksa handphone dan laptopnya.


"Terimakasih, Man!"ucap Kahyang tersenyum manis setelah mengecek handphone dan laptopnya.


"Aku tidak butuh ucapan terimakasih secara lisan,"ucap Mandala melepaskan pelukannya kemudian berjalan ke arah ranjang.


"Lalu, apa kamu ingin aku mengucapkan terima kasih secara tertulis?"tanya Kahyang tertawa kecil beranjak dari duduknya, kemudian berjalan menyusul Mandala.


"Auwh!"pekik Kahyang karena Mandala berhenti tiba-tiba dan langsung berbalik membuat Kahyang menabrak dada Mandala.


"Aku ingin ucapan terimakasih dengan tindakan,"ucap Mandala menaik turunkan kedua alisnya.


"Man! Apa yang kamu lakukan?"pekik Kahyang saat tiba-tiba Mandala mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


"Menagih ucapan terima kasih dari kamu,"ucap Mandala kemudian membaringkan tubuh Kahyang di atas ranjang dan langsung menindihnya.


"Man! Ka.. kamu mau apa?"tanya Kahyang gugup karena sekarang dirinya sudah berada dalam kungkungan Mandala.


Mandala tersenyum tipis seraya membelai wajah Kahyang,"Kamu tahu, betapa rindunya aku padamu selama satu minggu kemarin? Setiap malam aku dan Rayno melihatmu berdiri di balkon kamar. Ingin sekali rasanya aku menghampiri mu dan memelukmu,"ujar Mandala dengan wajah yang begitu dekat dengan Kahyang. Matanya yang tajam menatap lekat mata Kahyang.


"Aku memang selalu merasa jika, mobil yang setiap malam berhenti di depan rumah ku itu adalah mobilmu. Karena itulah setiap malam aku selalu berdiri di balkon kamarku sampai mobilmu pergi,"ujar Kahyang mengingat apa yang dilakukannya setiap malam di balkon kamarnya selama satu minggu.


"Apa kamu juga merindukan ku?"tanya Mandala dengan suara berat, masih pada posisinya semula.


"Man... emp.."Kahyang tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya saat Mandala langsung membungkam mulut Kahyang dengan bibirnya.


"Mulai saat ini, kamu adalah milikku. Istri ku seutuhnya, bukan sekedar status,"ucap Mandala menjeda ciuman nya sebentar kemudian kembali mencium bibir Kahyang, menautkan lidah mereka dengan tangan yang mulai bergerilya melepaskan helai demi helai kain yang menempel di tubuh mereka.


Kahyang tidak bisa menolak setiap sentuhan lembut Mandala ditubuhnya.Pria itu benar-benar pintar memancing hasraatnya. Malam itu Mandala kembali menyatukan tubuh mereka. Pria itu seolah tidak pernah merasa lelah dan puas. Hingga tidak hanya cukup sekali saja melakukan penyatuan dan mendapatkan pelepasan. Kahyang terbaring lemas dalam dekapan Mandala hingga akhirnya terlelap. Tenaganya terasa habis karena ulah Mandala. Sedangkan Mandala memejamkan matanya dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Mendekap tubuh polos Kahyang dengan perasaan bahagia. Wanita ini adalah miliknya, dan tidak akan pernah dilepaskan nya.


Kahyang melihat dada bidang dan berotot milik Mandala. Selama bersama Mandala, Kahyang hanya melihat Mandala bertelanjang dada beberapa kali saja dan langsung memalingkan wajahnya. Itu semua karena waktu itu Mandala hanyalah suami sekedar status baginya. Namun sekarang, pria ini adalah miliknya. Miliknya seutuhnya.


Perlahan Kahyang kembali menurunkan selimut yang menutupi perut Mandala. Terlihat di sana pemandangan yang begitu memanjakan mata. Perut rata berotot yang tercetak sempurna. Kahyang begitu mengagumi bentuk tubuh Mandala, hingga tanpa sadar tangannya membelai lembut dada bidang Mandala dan perlahan turun ke perut Mandala.


"Emh.."gumam Mandala yang merasakan tubuhnya dibelai dengan lembut. Namun Kahyang nampak masih asyik meraba dada dan perut pria yang telah membuatnya lemas semalam.


"Man!"pekik Kahyang saat tiba-tiba Mandala membalikkan tubuhnya dan langsung menindihnya. Kahyang terlalu asyik mengagumi tubuh suaminya hingga tidak menyadari jika pria itu terbangun karena tangan nakalnya.


"Kamu telah membangunkannya. Jadi kamu harus bertanggung jawab,,"Pria itu langsung menyerang bibir Kahyang dan kembali membuat Kahyang gelisah di bawah Kungkungannya. Kahyang benar-benar menyesal telah meraba dada dan perut pria yang sudah menjadi suaminya sepenuhnya itu. Karena ternyata tangan nakalnya telah membangunkan Mandala. Dan parahnya, bukan cuma Mandala yang terbangun. Tapi sesuatu di bawah sana ikut terbangun.

__ADS_1


Akhirnya Kahyang harus menerima konsekuensi dari ulahnya tadi. Pagi itu Mandala kembali mengulangi aktivitas panas mereka di atas ranjang.


Setelah mendapatkan pelepasan, Mandala menggendong tubuh Kahyang yang sama polosnya dengan dirinya ke kamar mandi. Pria itu mendudukkan Kahyang ke dalam bathtub, lalu mengisi bathtub dengan air hangat. Namun tanpa di duga Kahyang, Mandala malah mengulangi kegiatan panas mereka di dalam bathtub. Kahyang hanya bisa menghela napas menghadapi Mandala.


Semenjak mereka telah menjadi pasangan suami-istri yang sah di mata hukum dan agama, Mandala selalu menempel padanya dan enggan jauh darinya.Pria itu tidak terlihat lelah sama sekali setelah bercinta berulang kali dengan Kahyang. Wajahnya malah terlihat bahagia dan berseri-seri.


Mandala membantu Kahyang mengeringkan rambutnya dengan telaten. Bertepatan dengan Mandala selesai mengeringkan rambut Kahyang, Rayno terbangun. Semalam bayi tampan itu sama sekali tidak rewel. Hanya terbangun karena haus, kemudian setelah menyusu tidur lagi.


"Anak papa sudah bangun?"tanya Mandala pada Rayno. Merengkuh putra pertamanya itu ke dalam gendongannya.


"Man, biar Rayno aku mandikan,"ujar Kahyang mendekati Mandala.


"Tidak perlu. Gantilah pakaian mu, lalu pesan sarapan untuk kita. Aku akan memandikan Ray,"ujar Mandala mengecup pipi Kahyang sekilas kemudian membawa Rayno ke kamar mandi.


Kahyang tersenyum tipis menatap Mandala yang berjalan ke kamar mandi sambil menggendong Rayno. Wanita yang masih memakai bathrobe itu bergegas memakai pakaiannya kemudian memesan sarapan untuk mereka. Ada kebahagiaan di hati Kahyang karena akhirnya bisa menikah dengan Mandala. Namun ada yang mengganjal di hatinya tentang bagaimana menjelaskan pada papa, mama, dan pamannya, Prasetyo tentang Rayno. Bagaimana menjelaskan pada mereka jika sebenarnya dirinya dan Mandala telah menikah secara hukum selama hampir satu tahun dan telah tinggal di bawah atap yang sama, di kamar yang sama dan tidur di atas ranjang yang sama selama ini. Cepat atau lambat keluarga nya pasti akan tahu juga bukan?


...🌟"Terkadang memang sulit untuk mengatakan kebenaran. Perlu keberanian untuk mengungkapkan kebenaran. Karena tidak semua kebenaran bisa mendatangkan kebahagiaan."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2