Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
26. Menculik?


__ADS_3

Mandala pun segera melajukan mobilnya dengan wajah yang terlihat suram,"Siapa.."Mandala tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat wajah Kahyang yang nampak menahan rasa sakit. Mandala tadinya ingin menanyakan siapa pemuda yang bersama Kahyang tadi. Namun melihat ekspresi Kahyang yang nampak menahan rasa sakit, membuat Mandala urung untuk bertanya. Dan malah menepikan mobilnya.


"Kamu kenapa, hem?"tanya Mandala seraya memegang pipi Kahyang. Wajah Mandala yang tadinya suram, seketika berubah menjadi sangat khawatir.


Kahyang membuka matanya dan menatap Mandala yang terlihat khawatir,"Perutku kram,"jawab Kahyang lirih.


"Apa? Perut kamu kram?"tanya Mandala terkejut,"Kita ke rumah sakit, ya?"ucap Mandala dengan wajah panik ingin kembali melajukan mobilnya.


"Tidak perlu! Aku hanya ingin pulang dan istirahat,"ucap Kahyang seraya memegang tangan Mandala.


"Kita harus ke dokter!"keukeh Mandala yang tidak ingin terjadi apapun pada Kahyang dan anaknya.


"Aku tidak mau! Auwh!"sergah Kahyang yang malah membuat perut nya terasa semakin sakit.


Melihat Kahyang yang bersikeras, Mandala pun tidak bisa memaksa,'Kamu yakin tidak ingin ke dokter?'"tanya Mandala berusaha membujuk Kahyang lagi.


"Iya. Aku ingin pulang,"sahut Kahyang melembut Tidak dapat dipungkiri, ada perasaan senang di hati Kahyang melihat Mandala nampak mengkhawatirkan dirinya. Bahkan pria itu tidak marah dengan sikap kasarnya.


"Baiklah. Kita pulang,"sahut Mandala seraya menurunkan kursi yang diduduki Kahyang, agar Kahyang bisa duduk dengan nyaman. Kemudian melajukan mobilnya.


Mandala melirik ke arah perut Kahyang. Pria itu mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap perut Kahyang dengan lembut. Sedangkan matanya fokus melihat jalan raya. Entah mengapa, Kahyang merasa nyaman saat Mandala mengelus perutnya.


Kram di perut Kahyang perlahan berkurang karena di usap Mandala, dan akhirnya Kahyang pun tertidur. Mandala menatap sendu wanita yang sedang mengandung darah daging nya itu. Ada rasa bersalah dan juga sesak dalam hatinya saat mengingat harus menceraikan wanita itu setelah melahirkan nanti. Seandainya tidak ada perjodohan itu, Mandala akan tetap bersama Kahyang dan membangun rumah tangga yang sesungguhnya.


Setelah tiba di basemen apartemen, Kahyang nampak masih terlelap. Merasa tidak tega membangunkan Kahyang, Mandala pun memilih menggendong Kahyang untuk kembali ke apartemennya.Mandala masuk ke dalam lift diikuti seorang wanita paruh baya.


"Kenapa gadis ini?"tanya wanita paruh baya itu menatap Mandala penuh curiga. Wanita itu curiga Mandala menculik atau memperdaya gadis dalam gendongannya itu, lalu dibawa dan ditiduri seperti dalam film atau novel yang pernah dia baca.


"Dia tertidur, Bu. Saya tidak tega membangunkannya. Jadi saya gendong saja,"sahut Mandala pelan, tidak ingin Kahyang terganggu karena suaranya.


"Kamu tidak menculiknya, 'kan?"tanya wanita paruh baya itu semakin curiga.


"Menculik? Ibu ada-ada saja. Dia ini istri saya,"sahut Mandala tertawa tanpa suara.


"Saya tidak percaya!"cetus wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Tolong jagan terlalu kuat bicaranya, Bu! Tadi, perut istri saya sempat kram. Karena itu saya tidak tega membangunkannya,"pinta Mandala dengan wajah memelas.


"Kram?"tanya wanita paruh baya itu. Nampak masih belum percaya pada Mandala.


"Iya. Dia sedang mengandung. Waktu saya menjemputnya dari kampus tadi, perutnya kram. Saat ingin saya bawa ke dokter, dia tidak mau,"sahut Mandala menatap sendu wajah Kahyang.


Mendengar alasan dan melihat tatapan Mandala pada gadis yang digendong nya itu, membuat kecurigaan wanita paruh baya itu perlahan menghilang.


"Apa dia dari terjatuh?"tanya wanita paruh baya itu menurunkan suaranya.


"Saya tidak tahu,"sahut Mandala.


"Jika istri mu sedang mengandung, jaga dia baik-baik! Jangan sampai jatuh atau stres! Kedua hal itu bisa membahayakan bayi dalam kandungannya,"ucap wanita paruh baya itu.


"Iya,"sahut Mandala tersenyum tipis, tapi kemudian Mandala teringat sesuatu,"Maaf, Bu. Sejak mengandung, istri saya mengalami mual dan muntah di pagi hari. Apa kira-kira ada obatnya?"tanya Mandala, berharap wanita paruh baya itu mempunyai solusi.


"Memang banyak wanita hamil yang mengalami mual dan muntah, terutama di pagi hari. Biasanya dokter akan memberikan obat untuk mengurangi mual dan muntah. Tapi banyak pula bumil yang tetap mengalami mual dan muntah walaupun sudah meminum obat dari dokter. Ada yang rasa mualnya hilang jika mencium aroma tubuh suaminya. Ada pula yang malah benci jika didekati suaminya,"ujar wanita paruh baya itu.


"Benarkah? Mual ibu hamil bisa hilang jika mencium aroma tubuh suaminya?"tanya Mandala nampak tidak percaya.


"Maaf! Saya tidak bermaksud membuat ibu sedih,"ucap Mandala merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa. Itu sudah lama,"ucap wanita paruh baya itu memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


Tak lama kemudian pintu lift itu terbuka dan keduanya pun berjalan ke unit apartemen mereka masing-masing. Dengan hati-hati Mandala membaringkan Kahyang di atas ranjang. Menyelimuti tubuh Kahyang, kemudian mengecup kening Kahyang.


Mandala meninggalkan Kahyang untuk membersihkan diri.Setelah merasa tubuhnya lebih segar, Mandala pun menyelesaikan ritual mandinya. Seperti biasa, Mandala keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Mandala menghampiri Kahyang saat melihat wanita muda itu menggerakkan kepalanya. Mandala duduk di tepi ranjang, membuat Kahyang membuka matanya.


"Kamu sudah bangun?"tanya Mandala lembut dengan seulas senyum di bibirnya.


"Ka..kamu? Ma.. mau apa kamu?"tanya Kahyang yang terkejut sekaligus panik melihat Mandala bertelanjang dada. Kahyang langsung membuka selimut untuk melihat tubuhnya. Dirinya masih memakai pakaian lengkap, tapi bukankah itu tidak menjamin jika Mandala tidak melakukan apapun pada dirinya? Mandala pernah melakukannya tanpa sepengetahuan dirinya karena Mandala kembali memakaikan pakaian nya setelah melakukannya.


Mandala menghela napas panjang saat melihat reaksi Kahyang,"Jangan khawatir! Aku tidak akan melakukannya tanpa izin darimu,"ucap Mandala yang mengerti apa yang membuat Kahyang panik.


"Ka.. kamu kenapa tidak memakai baju?"tanya Kahyang seraya memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Aku baru saja selesai mandi. Apa perutmu masih sakit? Apa kamu tadi terjatuh?"tanya Mandala seraya mengusap perut Kahyang dari balik selimut.


"Tidak. Aku tadi tidak jatuh. Aku sudah baikan,"sahut Kahyang tanpa mau menatap Mandala, walaupun sebenarnya ingin. Kahyang teringat saat Mandala berbaring di atas sofa dengan bertelanjang dada. Kahyang melihat dada pria itu begitu bidang, dan otot-otot di perutnya juga tercetak sempurna. Persis seperti di komik-komik yang dia baca. Mengingat hal itu membuat wajah Kahyang bersemu merah.


"Lalu kenapa wajahmu bersemu merah?"tanya Mandala kembali merasa khawatir.


"Tidak apa-apa,"sahut Kahyang langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Baiklah, kalau tidak apa-apa. Aku memakai baju dulu,"ucap Mandala seraya beranjak dari duduknya.


***


Malam harinya, Mandala nampak duduk di tepi ranjang, meluruskan kakinya, memangku laptopnya dengan pandangan yang fokus pada layar laptopnya. Sedangkan Kahyang uduk di depan meja belajarnya, mengerjakan tugas kuliahnya, wanita muda itu nampak menguap beberapa kali.


Mandala melirik Kahyang yang sudah beberapa kali menguap,"Jika sudah lelah, istirahatlah dulu! Jangan memaksakan diri! Tidak baik untuk kesehatan kamu dan juga anak kita,"ujar Mandala dengan mata yang masih fokus pada layar laptopnya.


"Aku harus menyelesaikan tugas ini, dan mengumpulkan nya besok. Kalau tidak, dosen killer itu akan memberikan lebih banyak tugas lagi padaku. Yang ini saja bikin aku sakit kepala, gimana kalau ditambah lagi?"sahut Kahyang membuang napas kasar dengan wajah yang terlihat kusut.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Kahyang, Mandala pun menoleh ke arah Kahyang. Mandala baru menyadari jika wajah wanita itu terlihat kusut. Mandala menutup laptopnya dan menghampiri Kahyang.


"Coba aku lihat. Tugas seperti apa yang membuatmu sakit kepala?"tanya Mandala seraya duduk di meja belajar Kahyang.


Kahyang memperlihatkan tugasnya pada Mandala. Kemudian meletakkan kepalanya di atas meja. Melihat lembaran tugas yang diberikan Kahyang, Mandala menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum.


"Aku ajari mau?"tanya Mandala, membuat Kahyang mengangkat kepalanya menatap Mandala.


"Mau,"sahut Kahyang antusias.


"Tapi tidak gratis,"


...🌸❤️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2