
Mandala terlelap beberapa menit, kemudian kembali terbangun karena posisi tidur yang tidak nyaman. Namun saat membuka mata, Mandala malah melihat Kahyang yang sedang berdiri menatap tubuhnya.
"Kamu terbangun?"tanya Mandala, mengulum senyum melihat Kahyang yang nampak mengagumi tubuhnya.
Kahyang terlonjak mendengar suara bariton Mandala. Dengan cepat berbalik dan berlari menuju kamarnya.
"Hei, jangan lari! Kamu itu sedang mengandung!"teriak Mandala merasa terkejut sekaligus khawatir melihat Kahyang langsung berbalik dan berlari. Mandala pun bergegas menyusul Kahyang.
"Brakk!"Kahyang menutup pintu dengan kuat.
"Astaga!"pekik Mandala saat akan ikut masuk, tapi Kahyang malah menutup pintu dan hampir saja mengenai wajahnya. Bahkan Kahyang kembali mengunci pintu kamar itu dari dalam.
"Yang! Buka pintunya! Yang! Aku juga ingin tidur,"teriak Mandala, namun Kahyang tidak mau membuka pintu. Mandala menghela napas kasar dan terpaksa kembali tidur di sofa.
Keesokan harinya, seperti biasanya, Kahyang bangun karena perutnya terasa sangat mual. Kahyang memuntahkan semua makanan yang di makannya semalam. Tubuhnya terasa lemas dan mengeluarkan keringat dingin, kepalanya terasa sangat pusing.
Sedangkan Mandala juga terbangun karena biasa bangun pagi untuk bersiap pergi bekerja. Mandala kembali mengetuk pintu kamar itu.
Tok! Tok! Tok!
"Yang! Buka pintunya! Aku harus pergi bekerja! Pakaian ku ada di dalam kamar. Buka pintunya, Yang!"panggil Mandala seraya mengetuk pintu.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya pintu itu terbuka, dan Mandala pun merasa lega.
"Kahyang!"pekik Mandala saat tiba-tiba Kahyang hampir saja terjatuh, jika saja Mandala tidak segera menangkap tubuh Kahyang, Kahyang pasti akan jatuh di lantai.
Kahyang merasa tubuhnya lemas dan kepalanya pusing setelah muntah-muntah tadi. Gadis itu memaksakan diri untuk membuka pintu karena Mandala terus mengetuk pintu.
"Kamu kenapa?"tanya Mandala terlihat panik, langsung menggendong Kahyang dan membaringkan Kahyang di atas ranjang.
"Yang, kamu kenapa? Jangan membuat aku takut!"ucap Mandala seraya merapikan anak rambut Kahyang yang menutupi wajah Kahyang. Mengelap keringat dingin di wajah Kahyang. Mandala terlihat sangat khawatir melihat wajah Kahyang yang begitu pucat.
"A..aku tidak apa-apa. Aku hanya lemas saja. Setiap pagi aku memang selalu muntah-muntah,"jawab Kahyang yang merasa gugup karena perlakuan Mandala. Entah mengapa, hati Kahyang merasa senang saat mengetahui Mandala sangat mengkhawatirkan dirinya.Namun dadanya juga berdetak kencang saat Mandala menyentuh nya.
"Kamu mengalami ini setiap pagi? Kamu sudah periksa ke dokter?"tanya Mandala, bertambah khawatir, dan spontan memegang pipi Kahyang.
"Su.. sudah."sahut Kahyang dengan suara yang terdengar lemah dan gugub. Wajahnya tersipu malu menerima perlakuan lembut dan manis dari Mandala.
__ADS_1
"Lalu apa kata dokter, hem?"tanya Mandala seraya mengusap pipi Kahyang dengan jari jempolnya.
"Ka.. kata dokter ini wajar,"sahut Kahyang bertambah gugup.
"Apa semenjak hamil, kamu selalu seperti ini?"tanya Mandala beralih mengelus kepala Kahyang dengan lembut.
"Hum,"sahut Kahyang yang tersipu karena perlakuan Mandala padanya, namun juga merasa nyaman dengan perhatian yang diberikan oleh Mandala. Pria itu memperlakukannya dengan lembut.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu merasa lebih baik?"tanya Mandala merasa sangat bersalah. Mandala baru tahu jika gadis ini mengalami hal semacam ini karena mengandung anaknya.
"Aku.. aku hanya butuh istirahat sebentar,"sahut Kahyang segera memejamkan matanya.
"Baiklah. Istirahat lah!"ucap Mandala kemudian menyelimuti tubuh Kahyang. Pria itu kembali mengelus kepala Kahyang, kemudian mengecup kening Kahyang dengan lembut.
Kahyang terkejut saat merasakan sentuhan benda kenyal di keningnya dan hembusan napas di rambutnya. Dapat dipastikan jika Mandala mencium keningnya. Bahkan Kahyang tidak berani membuka matanya saat Mandala mencium keningnya. Setelah terdengar suara pintu kamar mandi yang tertutup, Kahyang baru berani membuka matanya.
"A.. apakah barusan.. dia mencium keningku?"gumam Kahyang dengan wajah yang merona, sedangkan tangannya menyentuh keningnya," Aku tidak pernah menyangka jika dia bisa bersikap lembut seperti tadi,"Kahyang tersenyum malu dengan wajah yang merona. Entah apa yang terjadi pada gadis itu saat ini. Haruskah author menjelaskan nya?π
Kahyang kembali memejamkan matanya dengan hati yang berbunga-bunga. Entah apa penyebabnya. Seolah rasa mual dan pusing yang dialaminya tadi hilang tanpa bekas laksana ditelan pintu ajaib Doraemon. Gadis itu bermalas-malasan di atas ranjang dan masih setia memejamkan matanya hingga kembali tertidur.
Mandala keluar dari kamar mandi dengan hanya handuk yang melilit di pinggangnya. Bibirnya mengulas senyum yang terlihat lembut, saat melihat Kahyang nampak terlelap. Mandala mengenakan pakaian di depan lemari. Beberapa menit kemudian, Mandala sudah rapi dan siap ke kantor. Perlahan pria itu mendekati Kahyang yang masih terlelap. Mencium kening dan perut Kahyang dengan lembut.
"Perutku lapar sekali,"gumam Kahyang beranjak dari tempat tidurnya. Dengan langkah gontai berjalan menuju dapur. Kahyang membuka tudung saji dan menemukan roti panggang dan segelas susu di di dalam tudung saji. Ada pula secarik kertas catatan.
Kahyang meraih kertas yang diletakkan di bawah gelas susu seraya mengunyah roti panggang nya.
"Yang, makan dulu roti panggang nya, agar anak kita tidak kelaparan! Jangan lupa minum susunya, agar kamu dan anak kita sehat,"pesan Mandala dalam secarik kertas.
"Kenapa dia jadi lembut dan so sweet gini?"gumam Kahyang dengan wajah yang bersemu merah. Namun beberapa detik kemudian, senyum di wajah Kahyang berubah,"Apa dia bersikap seperti ini kepada ku karena ada maunya? Jangan-jangan, dia bersikap lembut dan manis karena menginginkan sesuatu dari ku,"gumam Kahyang penuh dengan kecurigaan.
***
Kahyang sudah selesai membersihkan diri. Hari ini Kahyang harus pergi ke kampus karena ada beberapa mata kuliah. Untungnya Kahyang tidak bagun terlalu siang, jadi tidak terburu-buru untuk pergi ke kampus.
Setengah jam kemudian, Kahyang sudah ada di kampus dan melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan. Pendengarannya langsung disapa dengan kata-kata menghina dari teman-temannya.
"Eh, bumil sudah datang!"
__ADS_1
"Pasti mengalami morning sickness, mukanya pucat banget,"
"Jangan-jangan kelamaan olahraga malam, sampai kurang tidur,"
"Nggak nyangka, cantik-cantik, ternyata SaSiMu, Sana Sini Mau,"
"Aku dengar dia di bawa Yudha ke dokter kandungan. Nggak mungkin,'kan, itu anaknya Yudha?"
"Semenjak ulang tahun Nita kemarin, dia menghindari Yudha, bahkan memutuskan Yudha. Jadi nggak mungkin, lah itu anaknya Yudha,"
"Iya, Yudha, 'kan, cowok baik-baik,"
"Lihat! Dia udah pakai baju branded lagi. Padahal kemarin masih pakai baju murahan,"
"Denger-denger, kemarin ada yang jemput dia dengan mobil mewah,"
"Kemarin, tiba-tiba ada beberapa orang yang ngambil barang-barang dia di kost-an,"
"Dapet Om-om kaya, kali!"
Itulah sebagian dari celotehan teman-temannya yang lumayan bikin gatel telinga. Memang banyak mahasiswi yang iri pada Kahyang karena dikejar -kejar para mahasiswa. Walaupun mereka tahu Kahyang adalah kekasih Yudha. Namun karena Yudha berasal dari keluarga yang tidak terlalu kaya, membuat para mahasiswa yang lebih kaya dari Yudha merasa lebih pantas untuk bersanding dengan Kahyang. Walaupun tidak dapat dipungkiri, bahwa Yudha adalah mahasiswa tertampan di kampus itu.
"Eh, Yang! Sini!"ucap Riska langsung menarik tangan Kahyang dan memaksa Kahyang untuk duduk.
"Ada apa?"tanya Kahyang nampak mengernyitkan keningnya. Riska memang tidak suka bergosip, tapi selalu mempunyai berita yang aktual dan terpercaya.
"Siapa yang jemput kamu pakai mobil mewah kemarin?"tanya Riska pelan, seraya menaik turunkan alisnya.
"Suamiku,"
...π"Seperti batu yang terus menerus ditetesi air, lama kelamaan akan berlubang. Seperti itu pula dengan hati."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
.
To be continued