
Riska duduk di depan Kahyang, namun gadis itu nampak mengernyitkan keningnya saat melihat Kahyang yang menunduk terlihat lesu.
"Yang, kamu kenapa? Kok nampak lesu sekali?"tanya Riska merasa khawatir. Bersamaan dengan makanan pesanan mereka yang sudah datang.
"Nggak apa-apa, kok. Ayo, makan!"sahut Kahyang pura-pura tersenyum agar Riska tidak khawatir. Kahyang memaksakan diri untuk makan, walaupun sebenarnya tidak berselera. Sesak dadanya setelah melihat Mandala bersama seorang gadis yang ternyata telah ditemani Mandala selama tiga hari ini. Kahyang jadi tahu jika Mandala beberapa hari ini selalu pulang malam karena gadis itu. Namun demi bayi dalam kandungan nya, Kahyang berusaha menelan makanannya. Kahyang tidak ingin bayinya kelaparan karena dirinya tidak mau makan.
Usai makan, tiba-tiba handphone Riska berdering. Riska mengambil handphone nya dari dalam tas dan mengernyitkan keningnya saat mengetahuinya siapa yang menghubunginya.
"Halo, Yud,"sahut Riska dan Kahyang pun nampak mengernyitkan keningnya saat mendengar siapa yang dipanggil Riska.
"Halo, Ris,"sahut Yudha.
"Ada apa, Yud?"tanya Riska.
"Malam ini adalah ulang tahun kafeku yang pertama. Jika kamu punya waktu luang, bisakah kamu datang?"tanya Yudha penuh harap.
"Tentu saja aku akan datang, dengan senang hati,"sahut Riska tersenyum lebar.
"Em.. Ris, bisakah kamu ajak Kahyang untuk ikut bersamamu?"pinta Yudha ragu-ragu,"Eh, aku tahu dia sedang hamil besar, kalau dia tidak mau jangan di paksa!"ujar Yudha yang tahu keadaan Kahyang.
Memang Yudha tidak lagi mengejar Kahyang, namun Yudha selalu memperhatikan Kahyang dari jauh. Sedangkan Nita, sama sekali tidak bisa menarik perhatian Yudha. Belum lagi banyak pula para mahasiswi lain yang juga mengejar-ngejar Yudha setelah tahu Yudha putus dengan Kahyang.
"Oke, aku akan mengajak Kahyang. Tapi aku nggak bisa janji dia mau datang bersamaku atau tidak. Oh, iya. Kenapa nggak nelpon ke nomor dia aja? Kamu, 'kan bisa mengundang dia sendiri,"ujar Riska seraya melirik Kahyang.
"Aku pernah menghubunginya, dan mengirimi dia pesan beberapa kali. Tapi yang mengangkat selalu suaminya,"ujar Yudha tertawa kecut.
Yudha masih ingat, sudah beberapa kali dirinya menghubungi dan mengirim pesan pada Kahyang, tapi selalu suaminya yang mengangkat dan membalas pesannya. Suami Kahyang juga menunjukkan rasa tidak sukanya pada Yudha saat merespon telepon atau pesan dari dirinya. Karena itu, Yudha enggan untuk kembali menghubungi atau mengirim pesan pada Kahyang. Sedangkan Kahyang sendiri tidak pernah tahu jika Yudha menelpon dan mengirim pesan padanya. Karena Mandala selalu menghapus pesan dan juga panggilan Yudha di handphone Kahyang.
"Oh, begitu, ya? Baiklah, serahkan saja masalah ini padaku,"sahut Riska.
__ADS_1
"Terimakasih, Ris! Aku tunggu, ya, kehadiran kamu dan Kahyang!"ujar Yudha penuh harap.
"Oke. Tenang saja. Kalau aku pasti datang,"sahut Riska dan sabungan telepon pun diakhiri.
Setelah selesai menelpon, Riska menatap Kahyang,"Yang, malam ini adalah ulang tahun kafe Yudha yang pertama, dan kita diundang ke sana. Kamu mau nggak datang kesana bersama ku?"tanya Riska penuh harap.
Kahyang nampak terdiam. Selama beberapa bulan setelah putus dengan Yudha, Kahyang selalu menghindari Yudha. Bahkan tidak pernah mau mengangkat atau pun membalas pesan dari Yudha. Hingga akhirnya pemuda itu tidak lagi mendekati dirinya dan juga tidak menelepon dan mengirim pesan. Tanpa Kahyang tahu jika Yudha berhenti mengejar, menelpon dan mengirim pesan pada Kahyang karena Mandala. Setiap Yudha menelpon, Mandala selalu bertanya,"Ada perlu apa dengan istri saya?".Pertanyaan itu menjelaskan jika Mandala tidak suka jika Yudha menghubungi Kahyang dan menegaskan bahwa Kahyang adalah milik Mandala. Karena itulah Yudha tidak lagi menghubungi Kahyang.
Sedangkan yang ada dalam hati Kahyang saat ini adalah tidak ingin bertemu lagi dengan Yudha, karena masih merasa bersalah pada Yudha. Namun, jika tidak datang juga merasa tidak enak kepada Yudha. Selama berpacaran dengan Yudha, pemuda itu sangat baik padanya. Dan mereka putus pun karena kesalahan Kahyang yang tidak bisa menjaga diri. Itulah yang membuat Kahyang merasa sangat bersalah pada Yudha.
"Yang, cuma sekali ini saja. Kamu mau, 'kan datang?"tanya Riska lagi karena Kahyang hanya diam dan menunduk.
"Baiklah. Kita akan kesana,"jawab Kahyang membuat Riska tersenyum lebar.
***
"Ris, apa Kahyang tidak bisa datang?"tanya Yudha yang tiba-tiba muncul hingga membuat Riska terkejut.
"Kamu ngagetin aja, Yud,"ujar Riska menoleh ke arah Yudha sambil memegang dadanya,"Katanya sih, mau datang. Tapi belum nyampe juga. Maklum lah! Namanya juga bumil,"sahut Riska menatap orang-orang yang datang berharap salah satunya adalah Kahyang.
"Iya. Seharusnya dia mengandung anakku, bukan anak orang lain,"gumam Yudha yang masih bisa di dengar Riska. Dari suara Yudha, Riska bisa merasakan bahwa pemuda itu nampak sedih.
Riska menoleh pada Yudha dan menghela napas panjang melihat wajah Yudha yang terlihat sendu. Pria yang dulu selalu terlihat bahagia itu menjadi agak pendiam setelah putus dengan Kahyang.
"Sudah, jangan dipikirkan terus. Dia sudah punya kehidupan sendiri dan menjadi milik orang lain. Kamu harus move on, Yud. Jangan terus berdiri di tempat yang sama dan mengingat masa lalu yang tidak mungkin lagi menjadi masa depan. Kamu harus ingat, hidup terus berjalan! Kamu juga harus memikirkan diri kamu sendiri, Yud,"ujar Riska menghela napas panjang merasa kasihan pada Yudha.
"Aku tahu, aku dan Kahyang tidak mungkin lagi bersama,"sahut Yudha membuang napas kasar.
"Aku tahu hatimu pasti terluka saat orang yang kamu cintai, nyatanya malah menjadi milik orang lain. Namun aku sebagai sahabat kalian juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, walaupun hati mu terluka, kamu harus tetap kuat, Yud!"ujar Riska memberi semangat.
__ADS_1
"Jangan khawatir! Aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa,"ujar Yudha tersenyum tipis. Tapi kenyataanya, kesedihan yang tersirat di matanya tidak dapat disembunyikan nya.
"Bukankah menyedihkan, ketika kamu sangat terluka, kamu akhirnya bisa mengatakan, 'aku sudah terbiasa' ,"ujar Riska menghela napas berat, membuat Yudha tersenyum kecut.
"Kata orang, sakit karena cinta lama, bisa sembuh dengan cinta yang baru. Gimana kalau aku jadi cinta mu yang baru?"tanya Riska dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Kamu mau bikin sinetron yang berjudul "Mantan Pacar Sahabat Ku Menjadi Pacarku"?"tanya Yudha membuat keduanya tergelak.
"Ehh, itu si bumil sudah datang,"ujar Riska saat melihat sebuah taksi berhenti tidak jauh dari mereka berdiri. Dan saat pintu taksi terbuka, Riska melihat Kahyang yang hendak keluar dari taksi.
Yudha segera berlari kecil menghampiri Kahyang dan membantu Kahyang keluar dari taksi. Begitu pula dengan Riska yang ikut menghampiri Kahyang. Ibu hamil itu memang agak kesulitan untuk keluar dari taksi karena perutnya yang besar.
"Hati-hati!"ucap Yudha lembut seraya memegang tangan Kahyang.
"Makasih, ya! Kamu sudah mau datang ke sini,"ucap Yudha tersenyum lembut masih memegang tangan Kahyang. Sedangkan Kahyang hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Yudha.
Tanpa disadari oleh Kahyang, Riska dan Yudha, ada seseorang yang menatap mereka dengan tatapan tajam dan tangan yang terkepal.
...π"Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menyadari bahwa dia yang sangat berarti bagimu, tapi dia tidak bisa menjadi milikmu."π...
..."Nana 17 Oktober "...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1