
Setelah Patih dan sekretaris Mandala pulang, Prasetyo hanya bisa menghela napas panjang kemudian membuangnya dengan kasar. Menatap berkas yang ditinggalkan kedua bawahan menantunya.
"Harus bagaimana lagi aku menyadarkan Anggoro. Kahyang sudah bahagia bersama Mandala, tapi dia tetap saja membenci Mandala. Tidakkah dia sadar? Kebencian nya itu bisa menghancurkan kebahagiaan Kahyang,"gumam Prasetyo kemudian mengambil berkas di atas meja dan berjalan ke arah kamar nya.
Sesampainya di dalam kamar, Prasetyo menyimpan berkas yang di bawanya ke dalam lemarinya. Pria itu duduk di tepi ranjang dan meraih foto di atas nakas. Foto dirinya bersama anak dan istrinya. Ingatan pria itu kembali pada lima belas tahun yang lalu.
"Yang, cium pipi kakak!"titah Leo putra sulung Prasetyo. Tepatnya putra Prasetyo satu-satunya yang saat itu berusia lima belas tahun.
"Nggak mau!"sahut Kahyang yang waktu itu masih berusia tujuh tahun.
"Kalau kamu tidak mau, kakak tidak akan membelikan coklat lagi untuk kamu,"ancam Leo.
"Bodo! Aku tidak suka sama kakak! Kakak selalu jahil padaku. Aku lebih suka teman laki-laki ku di sekolah. Mereka memberikan aku kue tanpa meminta imbalan seperti kakak!"sahut Kahyang kecil bersungut-sungut.
"Dengar! Kamu tidak boleh terlalu dekat dengan anak laki-laki. Karena kamu hanya milikku! Jangan coba-coba dekat dengan mereka! Mata kakak akan selalu mengawasi mu!"ancam Leo.
"Kakak tidak akan bisa mengawasi aku kemanapun aku pergi,"sahut Kahyang kecil.
"Walaupun kakak sudah mati, kakak akan tetap melihat kamu dengan mata kakak ini!"ucap Leo melebarkan matanya membuat Kahyang kecil takut.
"Mama! Lihatlah! Kakak menakut-nakuti aku!"adu Kahyang kecil, berlari menghampiri Mala, meninggalkan Leo yang malah tertawa setelah menjahili Kahyang kecil.
"Hei! Tunggu!"teriak Leo ingin mengejar Kahyang kecil,"Auwh! Auwh! Sakit!"pekik Leo saat tiba-tiba telinganya di jewer oleh Prasetyo.
"Jangan menakut-nakuti adikmu!"ujar Prasetyo memperingati.
"Pa, aku menyukai dia. Aku akan menikahinya, jika dia dewasa nanti,"ujar Leo seraya mengelus telinganya yang baru saja di jewer Prasetyo.
"Kalian itu saudara sepupu. Carilah perempuan lain! Jangan adik sepupu mu,"ujar Prasetyo.
"Tapi aku mencintainya, pa. Walaupun hanya mataku yang bisa hidup, aku akan tetap melihatnya tumbuh dewasa,"ujar Leo menatap Kahyang kecil yang sudah menjauh.
"Kalau kamu mati, mata kamu juga ikut mati! Sudah! Jangan bicara yang tidak-tidak,"sahut Prasetyo waktu itu.
Prasetyo menghela napas mengingat kebersamaan nya dengan putranya yang sudah lama meninggal itu. Putranya meninggal karena kecelakaan dan akhirnya matanya di donorkan untuk Mandala. Setiap kali menatap mata Mandala, Prasetyo merasa rindunya pada almarhum putranya sedikit terobati.
"Kamu benar. Kamu masih tetap bisa melihat gadis yang kamu cintai dewasa,"gumam Prasetyo mengusap foto putranya. Pria itu kemudian mengambil foto dirinya dan Anggoro saat mereka masih muda dulu.
__ADS_1
"Kamu tidak tahu betapa berartinya kebahagiaan Kahyang, karena kamu tidak pernah merasakan rasanya kehilangan. Seperti aku yang kehilangan putraku. Jika aku tahu kebersamaan kami begitu singkat, aku akan membuat putraku bahagia semampuku. Jangan sampai kamu menyesal seperti aku,"gumam Prasetyo menatap foto Anggoro.
Keesokan harinya, Prasetyo mendatangi Anggoro di rumahnya. Prasetyo tidak mau lagi menunda untuk bertemu dengan adik kandungnya itu. Ingin menghentikan kebodohan adiknya yang menghambur-hamburkan uang untuk menghancurkan kebahagiaan putrinya sendiri.
"Kak! Mari masuk, kak!"ujar Mala saat melihat kakak ipar nya datang.
"Di mana Anggoro?"tanya Prasetyo seraya membawa berkas yang diberikan dua orang bawahan Mandala semalam.
"Ada di ruangan kerjanya, kak,"sahut Mala sopan.
"Biar aku ke sana saja,"sahut Prasetyo melangkah menuju ruang kerja Anggoro.
"Baiklah!"sahut Mala.
"Ceklek"
Anggoro yang sedang fokus pada layar laptopnya langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu dibuka dari luar tanpa di ketuk terlebih dahulu.
"Kak! Tumben pagi-pagi sekali kakak kesini?"tanya Anggoro yang melihat kakaknya masuk ke ruangannya.
"Apa maksud kakak?"tanya Anggoro yang sebenarnya nyalinya agak menciut di hadapan kakak kandungnya itu.
"Jangan berlagak tidak tahu! Kamu memberikan uang untuk saingan bisnis Mandala untuk menghancurkan perusahaan Mandala. Apa kamu tidak berpikir? Jika kamu mengusik Mandala, berarti kamu juga mengusik kebahagiaan Kahyang. Dan lagi, bukan cuma Mandala yang akan terpuruk jika perusahaannya bangkrut. Banyak karyawan yang menggantungkan hidup mereka dengan menjadi karyawan di perusahaan Mandala. Jika perusahaan Mandala bangkrut, akan banyak orang yang akan menjadi pengangguran. Dan itu semua karena kamu!"sarkas Prasetyo pada Anggoro.
"Siapa yang mengatakan semua itu pada kakak? Apa menantu kesayangan kakak itu mengadu pada kakak. Cih, laki-laki macam apa yang suka mengadu,"ujar Anggoro tersenyum meremehkan.
"Mandala bukan tipe orang yang suka mengadu. Aku mengetahuinya sendiri,"tukas Prasetyo.
"Aku tidak ada hubungannya dengan perusahaan anak itu. Dia saja yang tidak becus mengelola bisnis. Dan sekarang malah memfitnah aku. Aku yakin dia mengadu pada kakak. Orang seperti itukah yang akan kakak jadikan sebagai pemimpin untuk bisnis kita ini? Sebaiknya kakak pikirkan lagi! Carilah menantu yang lebih cakap dalam bisnis! Jika bisnis kita hancur karena dikelola oleh Mandala, maka putri kita akan menjadi orang miskin, kak!"ujar Anggoro menghasut Prasetyo.
"Plak "
Prasetyo membanting berkas yang dibawanya sedari tadi di atas meja Anggoro. Dan Anggoro pun langsung memeriksanya.
"Ini buktinya kalau kamu sengaja menjalin kerjasama dengan perusahaan saingan Mandala. Dan ini juga merupakan bukti betapa bodohnya kamu memberikan uang bermiliar-miliar secara cuma-cuma kepada perusahaan saingan Mandala. Jika kamu mempunyai uang berlebihan dan bingung harus kamu gunakan untuk apa, mending kamu sumbangkan pada anak yatim-piatu. Sumbangkan untuk pendidikan orang-orang tidak mampu, atau sumbangkan pada orang-orang yang terkena musibah bencana alam. Jangan kamu berikan secara cuma-cuma untuk memperkaya orang lain! Apa otak kamu itu masih waras, hingga melakukan hal sebodoh itu?"ujar Prasetyo yang merasa sangat kesal pada adiknya itu.
"Sebaiknya kakak pulang saja dari pada kakak datang ke sini untuk memarahi dan mengatai aku,"ujar Anggoro yang sudah tidak bisa mengelak lagi karena bukti-bukti yang dibawa kakaknya.
__ADS_1
"Kamu memang harus di marahi! Agar kamu sadar dan bisa berpikir dengan benar. Di mana otak kamu itu kamu taruh? Bagaimana kau bisa jadi sebodoh ini? Apa kau masih memiliki otak? Anak sudah bahagia malah kamu usik. Apa kamu tidak ingin melihat darah daging kamu sendiri bahagia?"sarkas Prasetyo berapi-api. Sungguh sangat kesal dengan kelakuan adiknya sendiri.
"Kahyang tidak akan bahagia hidup bersama orang brengseek seperti Mandala,"sahut Anggoro yang tetap keras kepala.
"Brakk "
Prasetyo menggebrak meja kerja Anggoro hingga kedua pundak Anggoro terangkat karena terkejut.
"Tahu apa kamu tentang bahagia? Apa kamu pikir kebahagiaan itu hanya karena harta semata? Kamu bahagia saat ini karena kamu memiliki harta dan istri yang mencintai kamu dan putri yang cantik. Jika kamu kehilangannya salah satunya untuk selamanya, apa kamu pikir kamu masih bisa bahagia? Aku sudah bilang padamu, aku tidak akan membiarkan kamu menganggu apalagi merusak kebahagiaan Kahyang. Jika kamu masih berbuat ulah, aku tidak akan segan mengambil seluruh asetku dari mu!"ancam Prasetyo pada Anggoro kemudian pergi meninggalkan Anggoro.
"Brak!"
Prasetyo menutup pintu ruangan kerja Anggoro dengan keras untuk melampiaskan kekesalan nya pada Anggoro.
"Kenapa kakak begitu menyayangi anak brengseek itu?"gumam Anggoro merasa kesal.
"Ceklek"
Pintu ruangan Anggoro kembali terbuka, dan Mala muncul dari balik pintu.
"Mama tidak menyangka, jika papa akan melakukan hal seperti itu. Apa papa tidak suka melihat putri kandung papa sendiri bahagia? Mama benar-benar kecewa pada papa!"ujar Mala kemudian keluar dari ruangan itu.
"Brak"
Mala ikut-ikutan membanting pintu seperti Prasetyo, membuat Anggoro membuang napas kasar. Ternyata sedari tadi Mala menguping pembicaraan Prasetyo dan Anggoro. Mala menjadi sangat kesal pada Anggoro, setelah mendengar pembicaraan Prasetyo dan Anggoro.
...π"Rasa benci akan menjadi api yang bisa menghancurkan dirimu sendiri."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1