Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
70. Sakit Tidak Berdarah


__ADS_3

Kahyang keluar dari kafe bersama Riska yang nampak merasa lebih lega setelah bercerita tentang masalahnya pada Kahyang.


"Aku tadi bawa mobil, Yang. Kita balik ke kampus buat ambil mobil aku, yuk! Nanti aku antar kamu pulang,"ajak Riska.


"Oke. Lumayan, nih, dapat tumpangan gratis,"sahut Kahyang tersenyum riang, kemudian berjalan bersama Riska kembali ke kampus mereka yang ada di seberang kafe tempat mereka nongkrong tadi.


"Yang!"panggil seorang pria saat Kahyang dan Riska baru saja tiba di dekat gerbang kampus, di bawah pohon rindang. Suara yang sangat dikenal oleh Kahyang dan Riska.


"Ada apa, Yud?"tanya Kahyang menatap pria yang saat ini sudah berdiri di depannya. Ya, pria yang memanggil Kahyang adalah Yudha, mantan pacar Kahyang.


"Bisa kita bicara, Yang?"pinta Yudha menatap Kahyang masih sama seperti dulu. Tatapan penuh cinta.


"Aku akan..."


"Kamu tetap di sini bersama ku,"ucap Kahyang memotong kata-kata Riska. Kahyang tahu jika Riska pasti akan meninggalkan mereka berdua. Sedangkan Kahyang tidak ingin lagi bicara berdua dengan Yudha.


"Tapi, Yang.."


"Apa yang ingin kamu bicarakan? Katakan lah!"ucap Kahyang kembali memotong kata-kata Riska. Bahkan kali ini Kahyang memegang tangan Riska agar sahabat nya itu tidak bisa kabur meninggalkan dirinya. Riska hanya bisa menghela napas panjang. Pasrah. Sepertinya hari ini dirinya benar-benar akan menjadi obat nyamuk.


Yudha ikut menghela napas panjang, pemuda itu menyadari jika Kahyang tidak ingin diajak bicara berdua. Sedangkan di sekitar mereka nampak ada beberapa orang mahasiswa yang sedang memperhatikan mereka.


"Yang, tawaran aku waktu itu masih berlaku. Aku masih mencintaimu. Aku bersedia menikahi kamu, dan aku juga bersedia menerima anak kamu, Yang. Aku akan menganggap anakmu seperti anakku sendiri,"ucap Yudha meraih tangan Kahyang dan menggenggamnya. Ternyata Yudha belum bisa move on, gagal move on, atau mungkin memang tidak mau move on. Entahlah, tapi yang pasti, pria itu masih mencintai Kahyang.


"Maaf, Yud. Aku tidak bisa. Aku.."


"Yang!"suara seorang pria yang memanggil Kahyang membuat Kahyang tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Tiba-tiba jantung Kahyang berdegup kencang. Kahyang tahu benar suara siapa yang memanggilnya barusan. Suara orang yang akhir-akhir ini selalu menempel padanya. Ya. Suara itu adalah milik Mandala.


Dengan cepat Kahyang menarik tangannya yang sedang di pegang oleh Yudha. Riska menatap pria yang baru saja memanggil Kahyang. Mencoba mengingat-ingat siapa pria itu. Karena Riska merasa pernah melihat wajah pria itu.

__ADS_1


Yudha membuang napas kasar melihat siapa orang yang baru saja memanggil Kahyang. Pria itu adalah pria yang sangat dibenci oleh nya. Pria yang telah merebut Kahyang dari nya.


Sedangkan para mahasiswa yang ada di sekitar tempat itu nampak kasak-kusuk memperhatikan keempat orang itu, terutama memperhatikan Mandala. Pasalnya baru kali ini mereka melihat pengendara mobil yang sering kali mengantar dan menjemput Kahyang. Dan ternyata, pengandara mobil itu adalah seorang pria yang sangat tampan. Walaupun saat ini wajah Mandala masih terlihat memar dan lebam karena di hajar Anggoro kemarin, tapi ketampanan pria itu tidak bisa disembunyikan. Dan pastinya, Mandala lebih tampan dari Yudha yang disebut-sebut sebagai pria tertampan di kampus itu.


"Ris, Yud, aku pulang dulu,"ucap Kahyang yang tidak ingin Mandala cemburu melihat dirinya bersama Yudha. Walaupun ada Riska bersama mereka dan saat ini mereka berada di tempat umum yang terbuka.


"Tunggu, Yang! Kita belum selesai bicara!"ucap Yudha langsung memegang tangan Kahyang.


"Lepaskan tangannya! Kahyang sudah tidak ingin bicara lagi dengan mu,"ucap Mandala dengan aura yang terlihat suram. Menatap tajam pada Yudha.


Selama ini setiap menjemput Kahyang, Mandala tidak pernah keluar menghampiri Kahyang. Karena hubungan mereka yang hanya sekedar status. Tapi saat ini Kahyang adalah istrinya seutuhnya. Mandala tidak akan membiarkan siapapun mendekati apalagi merebut Kahyang darinya.


"Lepaskan, Yud!"Kahyang berusaha melepaskan pegangan tangan Yudha. Merasa ketakutan melihat aura suram di wajah suaminya. Kahyang masih ingat bagaimana Mandala menghajar Roger waktu itu. Dan Kahyang tidak ingin hal itu terjadi pada Yudha. Kahyang juga tidak ingin Mandala sampai kalap menghajar Yudha dan berakhir di penjara.


"Tidak usah posesif! Apa kamu tidak sadar jika hubungan kalian itu hanya sekedar status?"sindir Yudha dengan wajah sinis. Begitu percaya diri. Tidak tahu jika Mandala dan Kahyang saat ini bukan lagi suami istri sekedar status.


"Bugh"


"Akh!"pekik beberapa mahasiswi termasuk Riska saat melihat Yudha mendapatkan bogem mentah dari Mandala.


"Man!"pekik Kahyang langsung memeluk Mandala dari samping. Mencoba menahan Mandala yang saat ini sedang memegang kerah baju Yudha.


"Kahyang adalah istriku. Istriku yang sah di mata hukum dan agama. Pernikahan kami pun telah direstui kedua orang tua kami. Jadi, jangan pernah menggoda istri ku lagi! Atau..."


"Atau apa, hah?"tantang Yudha memotong kata-kata Mandala. Pemuda itu juga terlihat emosi, tidak terima rasanya jika Kahyang sudah seutuhnya menjadi milik pria di hadapannya ini.


Mandala mengangkat tangannya yang terkepal dengan wajah yang terlihat merah padam, ingin kembali melayangkan tinju pada Yudha. Namun tanpa di duga tiba-tiba Kahyang berjinjit meraih tengkuk Mandala dan mencium Mandala dengan agresif. Mandala berdiri mematung mendapatkan serangan ciuman yang tiba-tiba dari Kahyang, apalagi saat ini mereka berada di tempat terbuka dan lumayan banyak orang yang melihat mereka.


Mata Yudha melotot melihat apa yang terjadi tepat di depan matanya. Jarak antara dirinya dengan Mandala dan Kahyang saat ini sangat dekat. Bahkan tangan Mandala masih memegang kerah bajunya.

__ADS_1


Tanpa sadar, perlahan tangan Mandala yang memegang kerah baju Yudha dan tangan satunya yang ingin memukul Yudha pun beralih memeluk Kahyang.


Sedangkan Riska dan orang-orang yang ada di sekitar tempat itu pun terkejut melihat aksi Kahyang yang begitu agresif mencium seorang pria di depan umum.


Beberapa saat kemudian, Kahyang melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Mandala dengan kening yang menempel dengan kening Mandala. Menatap dalam pada manik mata suaminya kemudian memegang kedua pipi Mandala.


"Kamu tahu, 'kan, kalau aku sangat mencintai mu?"tanya Kahyang menatap lekat mata suaminya.


"Hum,"sahut Mandala.


Kahyang kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Mandala,"Apa kamu tidak ingin pulang dan mengambil jatah mu yang semalam belum kamu ambil?"bisik Kahyang membuat Mandala langsung tersenyum.


"Kamu yang menjanjikannya,"ucap Mandala dengan senyuman di bibirnya, kemudian langsung membawa Kahyang ke mobilnya. Dan tak lama kemudian mobil Mandala pun melaju meninggalkan tempat itu dengan para penonton yang tertegun melihat adegan barusan.


Tubuh Yudha merosot, terduduk di bawah pohon dengan bibir yang terlihat berdarah dan wajah yang terlihat sangat terpukul. Melihat orang yang dicintainya selama bertahun-tahun mencium pria lain di depan matanya dengan agresif. Hatinya terasa diremas-remas, hancur berkeping-keping.


"Yud!"panggil Riska mendekati Yudha yang nampak menyedihkan. Riska duduk berjongkok di depan Yudha,"Bibir kamu berdarah, Yud. Apakah sakit sekali?"tanya Riska nampak kasihan melihat Yudha.


"Sakit nya bibirku yang berdarah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sakitnya hati ku yang tidak berdarah,"ucap Yudha tertunduk lesu.


Mendengar jawaban dari Yudha, Riska pun hanya bisa menghela napas panjang. Riska sangat tahu jika Yudha sangat mencintai Kahyang. Tapi apa daya, jika pada akhirnya mereka tidak berjodoh. Dan kini hati Kahyang sudah berpindah ke pada Mandala.


...🌟"Terkadang, luka yang tidak terlihat dan tidak berdarah jauh terasa lebih sakit dari luka yang terlihat dan berdarah.🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2