Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
36. Skorsing


__ADS_3

"Kamu tahu, apa kira-kira hukuman atas semua perbuatan kamu itu?"tanya rektor nampak menahan amarah.


"Bukti apa yang bapak miliki hingga menuduh saya seperti itu?"tanya Nita mencoba berkelit.


"Bukti? Saya mempunyai bukti dari cctv yang ada di universitas ini,"tegas Pak rektor.


"Bapak jangan membodohi saya! Cctv di universitas ini hanya di beberapa tempat saja,"ucap Nita percaya diri.


"Itu yang terlihat. Saya mempunyai beberapa cctv yang tersembunyi. Kamu tidak percaya? Lihat ini!"ujar rektor tersenyum sinis, membalikkan laptopnya ke arah Nita.


Nita sangat terkejut saat melihat rekaman dirinya berbicara dengan Roger di malam kejadian itu.


"Ini hanya satu bukti. Saya masih memiliki bukti yang lain atas kejahatan kamu. Jika suami Puspa melaporkan peristiwa malam itu, saya pastikan, kamu juga akan merasakan dinginnya lantai penjara. Kali ini, suami Puspa tidak membawa masalah ini ke jalur hukum, tapi bukan berarti kamu bisa merasa senang. Jika kamu membuat masalah lagi, saya akan mengeluarkan kamu dari universitas ini! Sebagai hukuman kamu kali ini, kamu saya skorsing selama satu minggu. Saat kamu akan masuk nanti, kamu harus datang bersama orang tua kamu. Jika tidak, saya tidak akan mengijinkan kamu mengikuti mata kuliah di universitas ini lagi,"tegas Pak rektor.


Nita tertunduk tanpa bisa mengatakan apa-apa lagi. Mahasiswi itu keluar dari ruangan rektor dengan perasaan kesal, setelah mendapatkan ceramah lumayan panjang dari rektor.


"Sial! Ternyata Puspa benar-benar sudah menikah. Siapa suaminya?"gumam Nita penasaran.


***


Hari terus berganti, tidak ada lagi mahasiswa yang menggosipkan Kahyang. Nita pun tidak berani berbuat ulah karena sudah diancam rektor akan di keluarkan jika membuat masalah.


Tanpa terasa, kandungan Kahyang sudah menginjak sembilan bulan. Sikap Mandala juga tidak berubah, tetap lembut dan perhatian kepada Kahyang. Sedangkan kedua orang tua Mandala, sama sekali tidak pernah menemui Kahyang. Karena Mandala tidak pernah memberi tahu dimana dia tinggal bersama Kahyang. Walaupun berulang kali mamanya menanyakannya. Mandala takut papanya menemui Kahyang dan mengatakan hal-hal yang membuat Kahyang kepikiran. Mengingat setiap pulang ke rumah, papanya selalu mewanti-wanti agar Mandala segera menceraikan Kahyang jika Kahyang sudah melahirkan. Selain itu, Mandala juga tidak ingin kebersamaannya dengan Kahyang diganggu siapapun.


"Kenapa kamu memasak? Kita, 'kan bisa pesan makanan. Aku tidak ingin kamu kecapekan,"ujar Mandala yang melihat Kahyang baru saja mematikan kompor. Sedangkan di atas kompor ada nasi goreng yang baru saja matang.


"Aku lagi pengen aja sarapan nasi goreng buatan aku sendiri,"sahut Kahyang.


"Baiklah. Duduklah! Biar aku saja yang membawanya ke meja makan,"ujar Mandala pengertian. Pria itu segera memindahkan nasi dari penggorengan ke dalam wadah. Sedangkan Kahyang berjalan ke meja makan.


Terkadang Kahyang memang memasak jika sedang ingin. Namun Mandala sering kali melarang Kahyang memasak dengan alasan takut Kahyang kecapekan. Mandala tidak tega melihat Kahyang dengan perut yang sebesar itu harus memasak. Bahkan saat kandungan Kahyang belum sebesar saat ini pun, Mandala sering melarang Kahyang memasak.


Mandala meletakkan nasi goreng itu di atas meja, kemudian mengambil piring Kahyang untuk diisi nasi goreng.


"Biar aku saja,"ujar Kahyang saat Mandala mengambilkan nasi goreng untuknya.


"Sudah! Biarkan aku yang mengambilkan,"sahut Mandala lembut dan Kahyang pun tidak bisa menolaknya.

__ADS_1


Mereka pun sarapan bersama. Mandala akui, masakan Kahyang memang enak. Tidak kalah dengan masakan mamanya. Beberapa menit kemudian mereka pun selesai sarapan.


"Hari ini, kamu nggak kuliah, 'kan?"tanya Mandala seraya mengusap perut Kahyang yang besar.


"Enggak,"sahut Kahyang.


Mandala menundukkan tubuhnya kemudian mengecup perut Kahyang. Senyumnya merekah saat janin dalam kandungan Kahyang itu bergerak, seolah memberi respon atas kecupan Mandala tadi. Setiap Mandala menyentuh atau mengecup perut Kahyang, janin dalam kandungan Kahyang memang sering merespon dengan gerakan. Dan hal itu selalu saja memberi kebahagiaan tersendiri bagi Mandala.


"Aku berangkat dulu!"pamit Mandala.


"Apa kamu pulang larut lagi?"tanya Kahyang, karena sudah tiga hari ini Mandala selalu pulang larut malam.


Mandala menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah Kahyang,"Sepertinya iya. Kamu tidak usah menunggu aku! Tidur lah lebih awal!"ujar Mandala kemudian melanjutkan langkahnya.


"Hum,"sahut Kahyang yang sebenarnya tidak suka jika Mandala pulang larut malam. Tapi tidak berani mengatakan nya. Kahyang merasa tidak berhak mencampuri urusan pribadi Mandala karena mereka berdua hanya sepasang suami-isteri sekedar status.


Kahyang menghela napas menatap Mandala yang telah menghilang di balik pintu. Mengusap lembut perutnya.


"Sebentar lagi anak ini akan lahir dan kami akan segera berpisah,"gumam Kahyang dengan tatapan kosong. Entah mengapa, membayangkan mereka akan berpisah membuat dada Kahyang terasa sesak.


"Halo! Ada apa Yang?"tanya Riska dari sambungan telepon.


"Bisa temani aku ke mall, nggak?"tanya Kahyang.


"Bisa. Kebetulan aku lagi gabut, nih"sahut Riska terkekeh kecil.


"Oke. Bagaimana jika kita ketemu di mall xx?"tanya Kahyang.


"Oke!"sahut Riska.


Walaupun Mandala sudah membelikan perlengkapan untuk bayi mereka, namun Kahyang ingin berbelanja sendiri dan memilih yang disukainya.


Beberapa jam kemudian, Kahyang dan Riska pun bertemu di mall tempat mereka janjian. Mereka langsung menuju ke tempat perlengkapan bayi. Kahyang membeli beberapa pakaian bayi yang menurutnya lucu dan juga pernak-pernik bayi yang lain. Setelah puas memilih, akhirnya mereka pun memutuskan untuk makan siang sambil istirahat.


Karena Riska sudah tahu makanan apa yang disukai Kahyang, maka Riska lah yang memesan makanan. Setelah memesan makanan, Riska pamit ke toilet dan Kahyang hanya mengangguk sebagai jawaban. Sambil menunggu Riska kembali dan pesanan mereka siap, Kahyang mengeluarkan handphonenya dan membaca artikel seputar kehamilan.


"Kenapa kamu makan sampai belepotan seperti itu?"

__ADS_1


Deg!


Kahyang terdiam beberapa detik saat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Dengan jantung yang berdetak kencang, Kahyang menoleh ke sumber suara. Tepat di sampingnya ada seorang pria yang duduk membelakanginya. Pria itu nampak mengelap sudut bibir seorang gadis cantik di depannya dan gadis itu tampak senang dengan perhatian pria itu.


Tiba-tiba tangan Kahyang yang memegang handphone nampak gemetar. Dadanya terasa sesak dan matanya nampak berkabut. Walaupun pria itu duduk membelakangi nya, tapi dari postur tubuh dan suaranya, Kahyang dapat mengenali pria itu. Pria itu adalah pria yang selalu bersamanya beberapa bulan ini, pria yang selalu memanjakannya, memperhatikan nya dan selalu tidur dengan mendekap tubuhnya. Ya, pria itu adalah Mandala. Dari tadi Kahyang tidak terlalu memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Tidak disangka dirinya malah duduk di dekat Mandala.


"Aku ingin membeli pakaian. Temani aku, ya!"pinta gadis yang bersama Mandala itu dengan suara manja.


"Oke! Apapun yang diminta tuan putri tersayang, pasti akan di turuti,"ucap Mandala membuat gadis di depannya tersenyum lebar. Sedangkan Kahyang merasa dadanya semakin terasa sesak.


"Malam ini temani aku ke kafe xx, ya? Aku dengar ada pertunjukan di sana,"ucap gadis itu lagi masih dengan suara yang manja.


'Boleh. Sudah tiga hari aku menemani kamu pergi. Mau apapun dan ingin kemanapun, pasti akan aku turuti,"sahut Mandala dan gadis itu kembali tersenyum lebar.


"π™…π™–π™™π™ž π™©π™žπ™œπ™– π™π™–π™§π™ž π™žπ™£π™ž π™™π™žπ™– π™¨π™šπ™‘π™–π™‘π™ͺ π™₯π™ͺπ™‘π™–π™£π™œ 𝙑𝙖𝙧π™ͺ𝙩 𝙒𝙖𝙑𝙖𝙒 π™ π™–π™§π™šπ™£π™– π™œπ™–π™™π™žπ™¨ π™žπ™£π™ž?"gumam Kahyang dalam hati.


"Ya udah! Yuk, cabut! Aku sudah tidak sabar buat belanja. Udah disiapkan, 'kan, kartunya? Aku mau borong pakaian,"


"Tenang saja. Mau dibeli tokonya sekalian juga boleh,"sahut Mandala.


Gadis yang bersama Mandala itu nampak sangat senang, berjalan seraya merangkul pinggang Mandala, sedangkan Mandala merangkul pundak gadis itu.


Kahyang menatap kemesraan keduanya dengan air mata yang tanpa terasa menetes di pipinya.


"Apa dia gadis yang dijodohkan dengan Mandala?"gumam Kahyang menatap Mandala yang semakin menjauh dengan wajah yang terlihat sedih,"Kenapa aku menangis? Bukankah sejak awal aku juga tahu, bahwa kebersamaan kami hanya karena bayi ini?"gumam Kahyang kemudian buru-buru menghapus air matanya saat melihat Riska sudah kembali dari toilet.


...🌟"Cinta itu indah, saat hatinya hanya untuk mu. Dan cinta itu sakit, saat raganya di sisimu, tapi hatinya tidak pernah bersamamu."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2