
Anggoro memasuki rumahnya, sepintas Anggoro melirik kamar putrinya. Putri yang sudah hampir sembilan bulan kabur dari rumah. Selesai membersihkan diri, Anggoro pun pergi ke ruang makan. Di ruangan itu, Mala nampak sudah menunggu Anggoro.
"Dimana anak nakal itu?"tanya Anggoro pada Mala.
"Bibi sedang memanggilnya, sebentar lagi pasti turun. Papa jangan memarahi Kahyang lagi, bagaimana pun, dia adalah putri kita, anak kita satu-satunya. Apalagi dia sudah kehilangan anaknya. Papa jangan menambah bebannya lagi!"ujar Mala lembut. Mala tahu bagaimana watak suaminya yang sama kerasnya dengan putrinya.
"Baguslah! Akhirnya anaknya itu mati juga, 'kan! Itu karmanya karena tidak mau menurut pada orang tua,"cetus Anggoro tanpa rasa berdosa.
"Pa! Jangan seperti itu! Bagaimana pun juga, yang meninggal itu adalah cucu kita,"ucap Mala dengan nada lembut. Wanita paruh baya itu hanya bisa menghela napas menghadapi suaminya yang keras kepala, yang kata-katanya terkadang terdengar kasar dan menusuk hati seperti barusan.
"Memang benar anak itu cucu kita. Tapi bukankah lebih baik dia mati dari pada dia hidup tapi dipanggil sebagai anak haram?"ujar Anggoro yang menurut Mala tidak berperasaan.
Tak lama kemudian, Kahyang masuk ke ruangan makan itu. Tidak ada semangat sama sekali di wajah wanita muda itu. Saat mereka makan pun, tak sepatah katapun yang keluar dari bibir wanita muda yang sudah menjadi ibu itu.
"Seminggu lagi kami akan menikahkan kamu dengan pria pilihan papa. Kali ini, jangan membuat ulah lagi! Jangan harap kali ini papa akan membiarkan kamu kabur!"ancam Anggoro pada Kahyang setelah mereka selesai makan malam.
"Yang, kali ini tolong turuti kata-kata papamu. Semua ini kami lakukan untuk kebaikan kamu, untuk masa depanmu. Kami tidak tahu sampai kapan kami bisa menjagamu. Mama ingin ada yang menjaga dan bertanggung jawab atas diri mu sebelum kami dipanggil-Nya,"ujar Mala lembut.
Kahyang hanya diam, tertunduk tanpa mengatakan apapun. Ternyata papanya masih bersikeras untuk menikahkan dirinya dengan laki-laki pilihannya. Dirinya dipaksa menikah agar papanya bisa mendapatkan pengganti untuk memimpin perusahaan.Sedangkan Mandala dipaksa menikah oleh orang tuanya untuk membalas budi. Namun, yang menjadi korban di sini adalah Rayno, putranya dan Mandala. Anak yang terlahir dari rahimnya dan ternyata membuat dirinya terikat dan jatuh cinta pada Mandala.
Saat ini Kahyang tidak bisa menghubungi siapapun. Anggoro mengurung Kahyang dan dilarang memakai telepon ataupun handphone hingga Kahyang tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun.
Kahyang membuang ASI yang baru saja dipompa nya. Tadi Kahyang memohon pada mamanya untuk membelikan pompa ASI. Karena ASI-nya penuh hingga membuat pay*dara nya bengkak dan sakit. Mau tak mau Kahyang harus memompa dan membuangnya. Entah bagaimana sekarang keadaan putranya. Asi yang biasanya diberikan pada putranya kini harus di buang percuma. Tanpa terasa air mata Kahyang menetes saat mengingat Rayno. Baru tadi sore Kahyang berpisah dengan putranya, tapi Kahyang sudah sangat merindukannya.
Kahyang membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan perasaan hampa. Biasanya saat akan tidur, Kahyang akan mencari posisi yang nyaman dalam pelukan Mandala. Kahyang sudah terlanjur nyaman dan terbiasa tidur dalam dekapan pria itu. Hingga Kahyang sulit memejamkan mata saat pria itu tidak ada. Dekapan hangat dan belaian lembut dari tangan pria itu sekarang sangat dirindukan nya. Kahyang merindukan dua pria yang sangat berarti dalam hidupnya, yaitu Mandala dan Rayno. Wanita itu pun terisak dalam tangisnya, hingga akhirnya tertidur karena lelah menangis.
Sedangkan di apartemen, Mandala membaringkan Rayno di atas ranjang. Mandala memeluk putra pertamanya yang sudah terlelap itu dengan rasa sesak di dalam hati, mengingat Kahyang sudah tidak ada lagi disisinya. Wanita itu biasanya selalu tidur dalam dekapan nya. Tapi malam ini, Mandala tidak bisa lagi memeluknya. Hanya dengan memeluk Rayno hati Mandala bisa sedikit tenang. Karena sekuat apapun Mandala ingin melupakan Kahyang, bayangan Kahyang tetap tidak bisa hilang dari hati dan pikirannya.
__ADS_1
Pagi harinya, setelah memandikan Rayno dan memberinya susu, Mandala pun bersiap pergi ke kantor, bersamaan dengan Bik Mar yang baru saja datang. Setelah bersiap, Mandala pun berangkat ke kantor.. Satu jam setelah berada di kantor, Mandala pun bersiap untuk bertemu dengan Prasetyo.
"Tih, kita pergi!"ujar Mandala pada Patih.
"Kita akan kemana, bos?"tanya Patih.
"Ke perusahaan Om Pras,"sahut Mandala.
"Oke, bos! Siap meluncur,"ucap Patih langsung melajukan mobil Mandala, setelah Mandala masuk ke dalam mobil.
Selama dalam perjalanan Mandala nampak sibuk dengan laptopnya. Setelah menempuh perjalanan empat puluh menit, akhirnya mereka pun tiba di perusahaan Prasetyo. Sudah beberapa kali Mandala datang ke perusahaan Prasetyo. Prasetyo benar-benar mempersiapkan Mandala untuk memimpin perusahaannya.
'Oh ya, Man, beberapa hari lagi kamu akan menikah dengan putri Om. Om harap kamu bisa menjadi suami yang baik untuk putri Om,"ujar Prasetyo penuh harap.
"Aku akan berusaha, Om,"sahut Mandala memaksakan diri tersenyum pada Prasetyo. Mandala sebenarnya tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Bagaimana dirinya bisa mencintai wanita lain jika setiap detik yang ada dalam hatinya hanyalah Kahyang dan Kahyang.
"Bolehkah aku bertemu dan berkenalan dengan putri Om, sebelum kami menikah?"tanya Mandala hati-hati.
"Tidak. Sebaiknya kalian bertemu saat akad nikah saja. Om tidak ingin kamu meminta kami mempercepat pernikahan kalian jika kamu sudah melihat putri Om,"ujar Prasetyo kemudian terkekeh.
"Om semakin membuat aku penasaran dengan putri, Om,"sahut Mandala ikut terkekeh. Namun sebenarnya Manda merasa kecewa karena tidak diijinkan Prasetyo bertemu dengan putrinya.
Mandala ingin berbicara dengan putri Prasetyo tentang pernikahan mereka. Tapi ternyata Prasetyo kekeuh tidak membiarkan Mandala bertemu dengan putrinya. Entah apa sebabnya, Mandala pun sangat penasaran.
Setelah satu jam berada di perusahaan Prasetyo, akhirnya Prasetyo mengijinkan Mandala kembali ke perusahaannya.
"Ayo kita kembali ke kantor, Tih!"ucap Mandala setelah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
'Oke, bos! Siap meluncur!"sahut Patih.
Mandala menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah. Matanya menatap ke luar jendela mobil. Patih yang melihat Mandala tidak sedang sibuk pun berinisiatif memutar lagu. Beberapa kali Patih mengganti lagu yang tidak cocok dengan seleranya, sedangkan Mandala nampak diam saja dengan tatapan kosong ke luar jendela mobil. Hingga akhirnya Patih memutar lagu yang dilantunkan oleh Samsons yang berjudul "Kenangan Terindah"
Aku yang lemah tanpamu. Aku yang rentan karena. Cinta yang t'lah hilang darimu. Yang mampu menyanjungku
Selama mata terbuka. Sampai jantung tak berdetak. Selama itu pun aku mampu untuk mengenang mu.
Darimu (darimu), kutemukan hidupku. Bagiku (bagiku), kaulah cinta sejati. Yeah, huu, huu (darimu). (Bagiku, engkaulah cinta sejati)
Bila yang tertulis untukku. Adalah yang terbaik untukmu. 'Kan ku jadikan kau kenangan Yang terindah dalam hidupku. Namun takkan mudah bagiku. Meninggalkan jejak hidupmu. Yang t'lah terukir abadi. Sebagai kenangan yang terindah.
Bait demi bait lirik lagu itu seolah melukiskan isi hati Mandala. Mandala sama sekali tidak percaya jika dirinya bisa melupakan Kahyang. Nama wanita itu terlanjur terukir dalam di lubuk hatinya. Mandala sama sekali tidak bisa melupakan setiap detik yang dilaluinya bersama Kahyang. Seluruh cintanya sudah diberikan pada Kahyang, sehingga tidak ada lagi cinta yang tersisa untuk wanita lain. Hatinya telah dipenuhi oleh Kahyang, hingga tidak ada lagi ruang bagi wanita lain untuk menempati hatinya.
Entah bagaimana rumah tangga yang akan dijalaninya bersama putri Prasetyo nanti. Mandala tidak dapat membayangkannya.
Getaran handphone di saku jas Mandala membuat Mandala terhenyak dari lamunannya. Mandala nampak khawatir saat melihat siapa yang sedang menghubunginya.
...π"Jika hidup itu begitu singkat, biarkan aku mencintaimu sebelum aku kehabisan waktu. Dan jika cinta itu begitu kuat, beri aku kesempatan untuk mencintai mu."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
__ADS_1
To be continued