
Kahyang nampak menggeliat, terbangun dari tidurnya setelah semalam terlelap karena kelelahan melayani suaminya.
"Sudah bangun?"tanya Mandala yang baru saja duduk di tepi ranjang. Mengecup lembut puncak kepala Kahyang.
Perlahan Kahyang membuka matanya dan menatap suaminya yang sudah siap, rapi dengan setelan kantor.
"Apa sudah siang?"tanya Kahyang kemudian memeluk pinggang Mandala yang sedang duduk di sampingnya.
"Kenapa? Masih ingin lagi?"tanya Mandala, tersenyum seraya mengelus kepala Kahyang.
Kahyang menghela napas melepaskan pelukannya,"Apa hanya itu yang ada di dalam otakmu?"tanya Kahyang kemudian menutup mulutnya yang sedang menguap. Tapi Mandala malah tertawa.
"Tidurlah lagi! Nampaknya kamu masih mengantuk. Kamu kuliah pukul sepuluh, 'kan?"tanya Mandala seraya mengelus kepala Kahyang.
"Hum,"sahut Kahyang kembali memejamkan matanya.
"Aku berangkat kerja, ya?"pamit Mandala mengecup pipi Kahyang kemudian beranjak dari duduknya.
"Hum,"sahut Kahyang.
Mandala melajukan mobilnya menuju kantornya. Beberapa menit kemudian, gedung tinggi tempat Mandala bekerja pun terlihat.
"Ckiitt"
Mandala mengerem mobilnya mendadak saat seorang wanita tiba-tiba menghadang mobil Mandala yang akan melewati gerbang perusahaannya.
"Perempuan ini! Apa lagi maunya?"gerutu Mandala saat melihat siapa perempuan yang tiba-tiba menghadang di depan mobilnya. Pria itu kemudian membuka kaca jendela mobilnya.
"Hei! Minggir!"bentak Mandala nampak emosi.
"Aku tidak mau, sebelum kamu mau bicara padaku!"sahut perempuan yang tidak lain adalah Sheila.
"Security! Singkirkan perempuan itu sekarang juga!"titah Mandala yang merasa geram dengan Sheila. Walaupun Kahyang percaya jika dirinya tidak ada perasaan lagi pada Sheila, namun tetap saja, Mandala tidak suka dengan kehadiran Sheila. Walau bagaimanapun, Mandala harus menjauhi Sheila untuk menjaga hati Kahyang.
__ADS_1
Dua orang security pun segera mendekat untuk mengusir Sheila. Namun tiba-tiba kedua security itu berhenti mendekati Sheila saat Sheila mengeluarkan sebilah pisau.
"Jangan mendekat!"ucap Sheila menodongkan pisau yang dibawanya pada dua security itu,"Aku akan bunuh diri di sini jika kamu tidak mau bicara padaku!"ancam Sheila mengarahkan pisau di lehernya sendiri menatap Mandala.
Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu pun mulai mengerumuni tempat itu. Dan tidak sedikit yang mengabadikan moment itu dalam jepret kamera handphone mereka, bahkan mengadakan live streaming di sosial media mereka.
Mandala mendengus kesal, menggaruk dahinya yang tidak gatal. Dengan hati yang dongkol, pria beranak satu itu pun keluar dari dalam mobilnya.
"Katakan! Apa yang ingin kamu bicarakan dengan aku!'titah Mandala seraya duduk di cap mobil nya dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku ingin bicara secara pribadi dengan mu. Dan tentunya bukan di tempat ini,"ucap Sheila masih meletakkan pisaunya di depan lehernya sendiri.
"Kalau ingin bicara, bicaralah di sini! Aku tidak punya banyak waktu untuk bicara denganmu. Banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan yang menyangkut ribuan nasib karyawan. Katakan apa maumu!"titah Mandala tidak sabar.
"Aku ingin bicara secara pribadi dengan mu?"ucap Sheila keras kepala.
Mandala berdecak kesal, kemudian menatap Sheila malas,"Aku tidak ingin bicara secara pribadi dengan seorang wanita pun. Kecuali wanita itu adalah ibuku, istriku, saudara perempuan ku, dan putriku. Jadi jangan berharap aku mau bicara secara pribadi dengan mu!"ujar Mandala tegas, melangkahkan kakinya menuju perusahaan nya, meninggalkan mobilnya.
"Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu!"teriak Sheila membuat Mandala menghentikan langkahnya, dan membalikkan tubuhnya, menatap ke arah Sheila.
"Kamu telah meniduri aku! Jadi kamu harus bertanggung jawab untuk menikahi aku!"bentak Sheila yang seperti buntu akalnya setelah disiksa oleh Aldi dari malam sampai pagi tadi. Bahkan semalam Sheila hanya tidur selama dua jam karena Aldi terus terusan ingin dilayani.
Pertanyaan nya, kenapa Sheila tidak mencari pria lain untuk diajak menikah? Kenapa harus mengejar-ngejar Mandala yang nyata-nyata menolaknya? Tentu saja karena Sheila mencintai Mandala. Lagi pula, mencari orang yang bisa dijadikan pacar aja susah, apalagi nyari orang yang mau diajak nikah.
Jaman sekarang, pacaran mungkin saja karena iseng atau asal suka. Tapi belum tentu yang dipacari akan diajak nikah, bukan? Lagian, masalah hati memang susah diajak kompromi, 'kan? Kalau Sheila sukanya sama Mandala, mau bilang apa? Entah itu suka karena orangnya atau suka karena hartanya.
Jaman sekarang, kalau kita golongan orang-orang yang tidak punya pribadi. Tidak punya pribadi? Maksudnya tidak punya tabungan pribadi, kendaraan pribadi, rumah pribadi dan lain-lain yang bersifat pribadi. Soalnya nggak cewek, nggak cowok, nggak tua, nggak muda, jaman sekarang pada suka pada satu macam bunga. Bunga apa itu? Bunga bank.
Mandala tertawa tanpa suara seraya memalingkan muka,"Aku harus bertanggung jawab untuk menikahi kamu? Kapan aku meniduri kamu? Apa buktinya?"tanya Mandala sinis.
"Ini buktinya! Kalian semua lihat! Ini buktinya!"ucap Sheila membuka syal yang dipakainya. Menunjukkan jejak percintaan yang berwarna merah keunguan, bahkan ada bekas gigitannya juga. Jejak percintaan itu menunjukkan betapa brutalnya cara seseorang yang bercinta dengan Sheila. Membuat semua orang yang ada di tempat itu berbisik-bisik.
"Wahh.. parah sekali!"
__ADS_1
"Mengenaskan,"
"Sampai seperti itu bekasnya,"
"Bercinta sampai seperti itu. Udah nggak normal lagi,"bisik-bisik orang-orang yang ada di sekitar tempat itu.
"Jika hanya tanda seperti itu saja, kamu juga tidak bisa membuktikan apapun. Aku juga punya tanda seperti itu, yang dibuat istri ku semalam,"sahut Mandala datar seraya membuka dasi dan dua kancing kemeja bagian atasnya. Tanpa malu menunjukkan pada semua orang yang ada di tempat itu.
"Sekarang jika aku mengatakan ibu ini yang membuat tanda di tubuhku ini, apa kalian semua juga akan percaya?"tanya Mandala pada semua orang yang ada di tempat itu sambil menunjuk pada seorang wanita paruh baya di dekatnya,"Bukankah tanda seperti ini tidak bisa menjadi bukti akurat?"tanya Mandala lagi. Membuat Sheila bingung harus menjawab apa.
"Iya, ya. Mana bisa tanda seperti itu dijadikan bukti,"
"Buktinya kurang kuat,"bisik-bisik orang-orang.
"Lalu, di mana aku meniduri kamu semalam?"tanya Mandala lagi.
"Jangan pura-pura lupa! Semalam kamu meniduri aku di apartemen ku,"sahut Sheila cepat.
"Oh, begitu, ya? Jika aku memang benar-benar meniduri kamu, kita pergi ke dokter sekarang juga. Aku akan mengajak istriku juga. Kita buktikan, pada rahim siapa aku menanam benihku semalam!"tantang Mandala yang sampai saat ini wajahnya masih terlihat tenang.
"Tentu saja tidak akan ada buktinya dalam rahimku. Karena semalam kamu memakai alat pengaman,"sambar Sheila.
"Oh, jadi maksud kamu, dalam semalam aku bercinta dengan kamu dan istriku di tempat yang berbeda-beda? Begitu? Kalau begitu jam berapa aku ke tempat kamu semalam?"tanya Mandala tanpa rasa takut sedikit pun. Karena Mandala memang tidak meniduri Sheila, tapi meniduri istrinya sendiri.
"A.. aku tidak ingat,"sahut Sheila gelagapan.Jika dirinya menjawab sembarangan, takutnya jawabannya akan menyudutkan dirinya sendiri.
"Lalu apa bukti lain yang kamu miliki selain itu?"tanya Mandala membuat Sheila terdiam,"Kalau kamu tidak punya bukti, sebaiknya kamu pergi! Jangan menganggu aku lagi. Kalau tidak, aku akan melaporkan kamu ke polisi karena telah mencemarkan nama baikku dan membuat keributan di depan perusahaan ku. Aku punya bukti cctv di kantor ku dan juga di rumah ku yang bisa membuktikan jam berapa aku datang dan pergi. Dan polisi juga bisa memperkirakan berapa jam jarak antara kantor dan rumah ku. Dan juga jarak antara kantorku ke apartemen kamu. Atau jarak dari rumahku ke apartemen kamu. Membuat tanda di tubuhmu sampai mengenaskan seperti itu, tidak mungkin cuma butuh waktu lima menit, 'kan? Dan juga, melihat tanda di leher mu itu, aku rasa kamu tidak hanya memiliki tanda seperti itu di leher saja, 'kan?"cecar Mandala membuat Sheila tidak bisa berkata apa-apa lagi. Malu? Tentu saja.
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued