
Patih mengendarai mobil menuju perusahaan Prasetyo untuk mengantarkan dokumen dari Mandala.
"Akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk pergi ke perusahaan Tuan Prasetyo. Semoga saja aku bisa bertemu dengan beliau,"gumam Patih penuh harap.
Lalu lintas yang padat membuat Patih menghabiskan banyak waktu di perjalanan. Setelah keluar dari kemacetan, beberapa menit kemudian, Patih pun telah tiba di perusahaan Prasetyo. Patih pun bergegas menuju meja resepsionis.
"Permisi! Saya disuruh bos Mandala untuk menyerahkan dokumen pada Tuan Prasetyo,"ujar Patih pada resepsionis.
"Sebentar, ya!"ucap resepsionis. Kemudian resepsionis itu nampak menelpon, dan tak lama kemudian menutup teleponnya,"Silahkan langsung ke ruangan Tuan Prasetyo!"ucap resepsionis itu.
"Terimakasih!"ucap Patih kemudian segera berjalan ke arah lift,"Waktunya mepet sekali. Bos sudah mewanti-wanti agar aku secepatnya menyerahkan dokumen ini pada Tuan Prasetyo. Beberapa menit lagi, Tuan Prasetyo akan mengadakan meeting. Aku takut tidak punya kesempatan untuk bicara pada Tuan Prasetyo,"gumam Patih yang nampak gelisah.
Tak lama kemudian Patih pun tiba di lantai tempat ruang kerja Prasetyo berada. Sekretaris Prasetyo yang sudah mengenal Patih pun mempersilahkan Patih masuk.
"Tuan. Ini dokumen yang dikirimkan bos untuk Tuan. Maaf terlambat, karena tadi di jalan sempat macet,"ujar Patih.
"Tidak apa-apa. Belum terlambat, kok! Sepuluh menit lagi dokumen ini baru akan saya pakai untuk meeting,"sahut Prasetyo.
"Tuan, apakah anda punya waktu? Saya dan rekan kerja saya ingin bicara dengan Tuan secara pribadi?"tanya Patih agak ragu, takut Prasetyo tidak bersedia.
"Apa sangat penting?"tanya Prasetyo memicingkan sebelah matanya.
"Menurut saya sangat penting, Tuan. Ini berhubungan dengan bos,"sahut Patih terlihat serius
"Pukul tujuh malam nanti. Datang saja ke rumah saya! Kamu tahu, 'kan dimana rumah saya?"ujar Prasetyo merasa agak heran pada asisten menantunya yang tiba-tiba ingin bicara secara pribadi dengan dirinya bersama rekannya. Apalagi yang akan dibicarakan berhubungan dengan menantunya.
"Iya, Tuan. Terimakasih, Tuan! Kami akan datang nanti malam. Kalau begitu, saya permisi!"pamit Patih, kemudian keluar dari ruangan itu.
"Ada apa asisten Mandala dan rekannya ingin bicara padaku? Apa ada sesuatu yang yang terjadi?"gumam Prasetyo setelah kepergian Patih. Tiba-tiba merasa ada firasat buruk.
Sesuai dengan kesepakatan tadi siang, saat ini Patih dan sekretaris Mandala sedang dalam perjalanan menuju rumah Prasetyo. Menggunakan motor milik Patih.
"Kamu bilang jalanan macet, ini lancar-lancar saja. Tahu begini, tadi pakai mobilku saja. Ini malah pakai motor kamu. Bisa masuk angin aku,"protes sekretaris Mandala yang di bonceng Patih.
"Lebay lah! Masa gara-gara naik motor mau masuk angin. Dulu sebelum jadi sekretaris bos, kamu juga naik ojek buat ke kantor. Mentang-mentang sudah punya mobil jadi sombong,"sahut Patih seraya menyalip beberapa kendaraan di depannya.
__ADS_1
"Ya, 'kan lebih nyaman pakai mobil dari pada pakai motor seperti ini. Macet juga enggak,"gerutu sekretaris Mandala.
"Di sini memang nggak macet. Sebentar lagi, di depan sana kamu bakal lihat betapa macetnya jalanan. Dan kamu bakal berterima kasih sama aku karena punya ide naik motor dari pada naik mobil,"sahut Patih masih fokus pada jalan raya.
Dan benar apa yang dikatakan oleh Patih, tak lama kemudian mereka pun melihat kemacetan di jalan yang akan mereka lalui. Tapi karena mereka menggunakan motor, Patih bisa keluar dari kemacetan lebih cepat karena bisa menyelip di antara kendaraan yang lain.
"Apa kataku? Jika tadi kita menggunakan mobil, kita bakal terjebak dalam kemacetan. Entah berapa lama kita bisa keluar dari kemacetan jika kita pakai mobil. Kita bisa telat datang ke rumah Tuan Prasetyo. Kamu tahu sendiri, bagi pebisnis, waktu adalah uang. Mereka tidak akan mau menemui kita lagi jika kita terlambat datang,"ujar Patih melajukan motornya lebih cepat.
"Iya.. iya... kamu memang benar,"sahut sekretaris Mandala menghela napas.
Tidak lama kemudian, kedua orang itu pun sampai di rumah Prasetyo. Sekretaris Mandala nampak kagum melihat megahnya rumah Prasetyo dari pintu gerbang. Security yang sudah mengenal Patih pun membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan Patih masuk.
"Ini rumah apa istana?"gumam sekretaris Mandala.
"Rumah bos juga tidak kalah megah dari rumah Tuan Prasetyo,"sahut Patih melajukan motornya memasuki halaman rumah itu.
Setelah menekan bel, tak lama kemudian seorang ART membukakan pintu.
"Bik, aku ada janji ketemu sama Tuan Prasetyo,"ujar Patih pada wanita yang berusia sekitar lima puluh tahun di depannya itu.
Patih dan sekretaris Mandala pun duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian Prasetyo pun datang bersama ART tadi yang membawa minuman.
"Diminum dulu, teh nya!"ucap Prasetyo.
"Terimakasih, Tuan,"sahut Patih dan sekretaris Mandala bersamaan.
"Oh ya, ini siapa?"tanya Prasetyo menatap sekretaris Mandala.
"Ini sekretaris bos, Tuan,"sahut Patih.
"Oh, sekretaris Mandala. Baiklah. Jadi, ada hal penting apa yang ingin kalian bicarakan?"tanya Prasetyo.
"Begini, Tuan. Sebelumnya, saya mohon pada Tuan agar merahasiakan kedatangan kami kemari dan juga pembicaraan kita nanti. Terutama pada bos,"ujar Patih sopan.
"Sepertinya penting sekali. Baiklah, saya janji akan merahasiakan pertemuan kita ini dan juga merahasiakan apa yang akan kita bicarakan nanti. Katakan lah!"titah Prasetyo nampak semakin penasaran dengan maksud kedatangan dua orang bawahan menantunya itu.
__ADS_1
"Ini mengenai Tuan Anggoro, Tuan,"sahut Patih.
"Ada apa dengan Anggoro?"tanya Prasetyo nampak mengernyitkan keningnya.
"Kamu jelaskan!"pinta Patih pada sekretaris Mandala.
"Begini, Tuan. Tuan Anggoro berusaha menjatuhkan perusahaan Tuan Mandala melalui saingan bisnis perusahaan kami,"ujar sekretaris Mandala kemudian menjelaskan semua yang terjadi di perusahaan tempatnya mengais rezeki dan memberikan bukti atas semua yang sudah dijelaskan nya pada Prasetyo.
"Anggoro benar-benar keterlaluan. Apa dia sudah tidak waras? Rela mengeluarkan begitu banyak uang hanya untuk menjatuhkan menantunya sendiri,"gumam Prasetyo setelah mendengar penjelasan dari sekretaris Mandala dan melihat bukti-bukti yang dibawa dua orang bawahan menantunya itu,"Kenapa anak itu tidak mengatakan tentang hal ini padaku?"gumam Prasetyo.
"Saya yakin, bos tidak mau mengadu pada Tuan karena tidak mau harga diri bos jatuh di depan Tuan Anggoro. Tuan tahu sendiri, 'kan, bagaimana hubungan mereka selama ini?"ujar Patih yang sudah lama bersama dengan Mandala dan sudah banyak mengetahui tentang kehidupan Mandala.
"Iya. Kamu benar. Jika Mandala mengadu pada saya, Anggoro akan semakin meremehkan Mandala,"sahut Prasetyo mengingat Anggoro yang belum mau menerima Mandala sebagai menantunya, bahkan jelas-jelas menunjukkan kebencian nya jika bertemu dengan Mandala.
"Jadi kami mohon, Tuan rahasiakan kedatangan kami ke sini. Kami takut bos akan marah pada kami. Kami takut kena pecat, tapi kami juga tidak mau masalah ini berlarut-larut. Saat ini, nasib seluruh karyawan di perusahaan kami sedang dipertaruhkan,"ujar Patih.
"Kalian tenang saja! Saya tidak akan membocorkan pertemuan kita ini. Saya juga akan mengatasi masalah ini tanpa membawa nama siapa pun dari perusahaan kalian. Tapi saya minta bukti-bukti yang kalian bawa ini,"ujar Prasetyo.
"Baik, Tuan. Tidak masalah,"sahut sekretaris Mandala.
"Dan satu lagi, mulai sekarang, saya minta kalian melaporkan kepada saya jika ada masalah yang menyangkut menantu saya. Apa kalian bersedia?"tanya Prasetyo membuat Patih dan sekretaris Mandala terdiam dan saling bertatapan seolah sedang berdiskusi. Melihat reaksi keduanya, Prasetyo pun kembali berkata,"Saya hanya tidak ingin terjadi apapun pada menantu saya. Karena putri saya sangat mencintai nya. Saya hanya ingin putri saya bahagia, dan kunci kebahagiaan putri saya adalah Mandala. Jadi, saya tidak ingin terjadi hal buruk apapun pada Mandala, agar putri saya tetap bahagia,"ujar Prasetyo menjelaskan maksudnya.
Patih dan sekretaris Mandala kembali saling menatap seolah sedang berdiskusi. Kemudian keduanya saling mengangguk dan menatap Prasetyo.
"Tentu saja, Tuan. Kami bersedia,"sahut Patih dan sekretaris Mandala bersamaan.
"Terimakasih,"sahut Prasetyo merasa lega.
Setelah selesai dengan misi mereka, Patih dan sekretaris Mandala pun pamit pulang. Saat ini mereka hanya bisa berharap Prasetyo bisa segera menyelesaikan masalah yang di hadapi perusahaan tempat mereka bekerja.
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued