Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
25. Sorry, ya!


__ADS_3

"Suamiku,"celetuk Kahyang dengan nada suara yang lumayan keras. Sengaja, agar di dengar teman-temannya.


"Plak"Riska memukul lengan Kahyang karena merasa gemas mendengar jawaban Kahyang yang dianggap Riska hanya bercanda.


"Bercanda mu nggak lucu!"ujar Riska kemudian tertawa. Tawa yang nampak dipaksakan.


"Kalau nggak percaya ya sudah,"ujar Kahyang santai seraya mengambil buku dari dalam tasnya. Setelah mendapatkan buku nikah kemarin, Kahyang tidak akan menyembunyikan bahwa dirinya telah menikah. Kahyang juga tidak merasa takut lagi jika semua orang mengetahui tentang kehamilannya.


"Paling juga, suaminya Om-om botak,"sahut salah seorang temannya.


"Mau seperti apapun rupa suamiku, nggak ada hubungannya dengan kamu. Nggak ada ruginya sama kamu. Aku makan juga nggak minta sama kamu,"sahut Kahyang santai, membuat temannya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Paling juga nikah siri, jadi istri simpanan. Buktinya nggak ngundang kita semua,"cibir Nita yang ikut bersuara. Nita sudah mengejar-ngejar Yudha, tapi Yudha malah terus-menerus mencari cara untuk mendekati Kahyang lagi. Dan itu membuat Nita kesal. Nita dan teman kost-an Kahyang lah yang menyebarkan semua gosip tentang Kahyang. Agar Yudha berhenti mengejar Kahyang.


"Sorry, ya! Aku nggak minat jadi istri siri. Urusi saja, urusan kamu. Jangan mengurusi urusan orang lain,"sahut Kahyang masih terlihat tenang dan santai, membuat Nita geram.


Dari Riska, Kahyang tahu jika akhir-akhir ini Nita semakin gencar mendekati Yudha. Tapi Yudha selalu menghindari Kahyang sendiri juga berusaha menghindari Yudha. Walau bagaimanapun, saat ini dirinya adalah seorang istri. Walaupun hanya sekedar status.


Setelah mata pelajaran selesai, Kahyang pun berjalan keluar dengan Riska menuju gerbang kampus.


"Sayang!"


"Grep"tiba-tiba saja seorang pria memeluk Kahyang.


"Lepaskan!"teriak Kahyang mencoba memberontak. Karena tidak bisa melepaskan diri dari pelukan pria itu, dengan geram Kahyang menggigit dada pria itu sekuat tenaga


"Argh"pekik pria itu, reflek mendorong tubuh Kahyang, hingga punggung Kahyang membentur pagar kampus.


"Dasar gadis liar!"umpat pria itu mengusap dadanya yang terasa sakit karena digigit Kahyang.


"Dasar brengseek!"umpat Kahyang penuh amarah, dengan cepat menghampiri pria itu.


Bugh! Bugh! Bugh!


"Argh"pria yang tidak lain adalah Roger itu membungkuk, meringis, menahan sakit di wajah dan pangkal pahanya.


Sudah dua kali Roger memperlakukan dirinya seperti ini. Kahyang merasa sangat benci dengan perlakuan Roger yang sembarangan menyentuh dirinya. Bahkan sudah dua kali ini, dengan seenak hati, Roger memeluk Kahyang di tempat umum.

__ADS_1


Saat ini di depan gerbang kampus itu lumayan ramai dengan para mahasiswa. Kahyang dan Roger pun menjadi pusat perhatian semua orang.


"Kau!"geram Roger dengan wajah merah padam karena marah, sekaligus menahan sakit.


"Apa? Mau ku hajar lagi? Kamu pikir aku siapa? Seenak jidat kamu pegang dan peluk aku! Teman bukan, saudara juga bukan, apalagi suami! Tapi seenaknya saja kamu menyentuh aku. Kamu pikir aku perempuan apaan? Jika sekali lagi kamu berani menyentuh aku, aku tidak akan cuma menghajar kamu, tapi aku juga akan melaporkan kamu ke pihak yang berwajib!"bentak Kahyang dengan amarah yang meledak-ledak, kemudian meninggalkan tempat itu dengan membawa kekesalan di hatinya.


"Awas saja kamu! Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku dan menyesal telah mengabaikan dan mempermalukan aku seperti ini!"gumam Roger menatap kepergian Kahyang penuh dendam. Sudah lama Roger mengejar Kahyang, tapi gadis itu tidak sedikitpun meliriknya apalagi mau menjadi pacarnya.


Wajah Kahyang cantik dan imut tanpa makeup, postur tubuh mungil, wajah yang agak tirus dan rambut yang panjang membuat Kahyang seperti boneka hidup yang menggemaskan.


Semua orang nampak terdiam menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Kahyang memang terkenal galak dan suka main pukul jika merasa dilecehkan. Dan karena itu pula, malah semakin banyak mahasiswa yang menyukai Kahyang.


"Dasar pria brengseek! Bajingan! Beraninya menyentuh aku sembarangan,"gerutu Kahyang penuh emosi berjalan menuju sebuah mini market untuk membeli air mineral.


Kahyang duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di depan minimarket itu dan meminum air mineral.Setelah meminum air mineral, Kahyang pun merasa lebih lega, namun tiba-tiba perutnya terasa kram.


"Yang!"sapa seseorang membuat Kahyang menoleh ke arah sumber suara.


"Kau?"ucap Kahyang menatap seorang pria yang menyapanya.


"Ingin bicara soal apa? Katakan lah!"sahut Kahyang. Entah mengapa, walaupun masih ada cinta di hatinya untuk Yudha, tapi semenjak mengetahui tentang kehamilannya, Kahyang jadi merasa canggung pada Yudha.


"Bisa kita bicara di tempat lain?"tanya Yudha lembut.


Masih utuh cinta di dalam hati Yudha untuk Kahyang. Sampai saat ini, Yudha belum mampu melepaskan, apalagi melupakan Kahyang.


"Kita bicara lain kali saja,"ucap Kahyang yang perutnya semakin terasa sakit. Sempat terbentur di pagar, memukul dan menendang Roger dengan sekuat tenaga, mungkin itu yang menyebabkan perut Kahyang kram saat ini.


"Sebentar saja, Yang!"pinta Yudha penuh permohonan.


"Aku.. "Kahyang tidak melanjutkan kata-katanya saat handphonenya berdering, menandakan ada panggilan masuk. Kahyang pun menerima panggilan itu setelah tahu siapa orang yang menelponnya.


"Halo!"sahut Kahyang menahan rasa sakit di perutnya yang semakin terasa.


"Kamu dimana?"


"Kenapa?"Kahyang malah balik bertanya. Dengan sebelah tangannya memegangi perutnya.

__ADS_1


"Aku sekarang ada di dekat kampus kamu. Apa kamu sudah pulang?"tanya penelpon yang tidak lain adalah Mandala.


"Aku ada di minimarket dekat kampus,"sahut Kahyang yang perutnya semakin lama semakin sakit.


"Tunggu di sana! Akan akan segera ke sana,"ucap Mandala dan sambungan telepon pun dimatikan.


"Maaf, Yud! Lain kali saja kita bicara,"ucap Kahyang tersenyum tipis pada Yudha menyembunyikan rasa sakit di perutnya. Kahyang bangkit dari duduknya berniat meninggalkan tempat itu.


Yudha segera memegang tangan Kahyang, agar Kahyang tidak pergi,"Yang, tolong beri aku kesempatan untuk bicara padamu! Aku.."


Tiinnn! Tiinn!


Suara klakson mobil itu membuat keduanya menoleh ke sumber suara dan membuat Yudha tidak melanjutkan kata-katanya.


"Lepaskan aku! Aku sudah dijemput,"ucap Kahyang seraya melepaskan tangan Yudha yang memegangnya.


Yudha hanya bisa terdiam, melihat Kahyang berjalan menuju ke sebuah mobil. Ada perasaan tidak rela dalam hatinya melihat Kahyang pergi.


"Mobil itu lagi? Siapa sebenarnya orang yang ada di dalam mobil itu?"gumam Yudha menatap mobil yang ditumpangi Kahyang semakin menjauh.


Sedangkan di dalam mobil, Mandala nampak tidak suka saat melihat tangan Kahyang di pegang seorang pria. Pria yang sama, yang kemarin memegang tangan Kahyang.


Kahyang langsung masuk kedalam mobil dan menyandarkan tubuhnya di sandaran mobil. Kedua tangannya memegang perutnya, seraya memejamkan matanya.


Mandala pun segera melajukan mobilnya dengan wajah yang terlihat suram,"Siapa.."


...🌟"Jangan sibuk menghakimi orang lain, seolah diri sendiri paling benar. Ingatlah jika kita tidak bisa melihat punggung kita sendiri."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2