Bukan Sekedar Status

Bukan Sekedar Status
39. Istri?


__ADS_3

"Plak"


Dengan penuh emosi Kahyang menampar wajah Mandala dan menghentakkan tangannya hingga pegangan Mandala terlepas.Yudha yang baru sedikit membuka pintu toilet pun terkejut saat melihat Kahyang menampar seorang pria. Pemuda itu pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari toilet dan memilih berdiam diri sambil mengintip apa yang terjadi.


"Ada hak apa kamu mencampuri urusan pribadi ku? Kita menikah hanya karena bayi dalam kandungan ku. Karena kamu menodai aku! Aku bukan istri kamu yang sesungguhnya. Hubungan kita hanya sekedar status. Dan setelah anak ini lahir, kita akan berpisah. Jadi jangan mencoba mengatur hidupku! Setelah anak ini lahir, kita akan menjalani hidup kita masing-masing. Lagi pula, bukankah setelah ini kamu akan menikah dengan gadis pilihan orang tuamu? Kamu akan membina keluarga yang baru yang direstui kedua orang tuamu! Bukan cuma kamu yang berhak bahagia! Aku juga berhak bahagia!"sergah Kahyang penuh emosi kemudian meninggalkan Mandala yang terdiam membeku.


"Kamu mengambil Kahyang dari ku secara paksa. Dan kamu juga telah menyakitinya. Kamu tidak pantas menjadi suami Kahyang. Aku pasti akan mengambilnya kembali dari mu!"ucap Yudha yang keluar dari toilet dengan suara sinis, mendorong pundak Mandala.


Dengan cepat Mandala mencengkram kerah kemeja Yudha dengan rahang mengeras dan mata berkilat tajam.


"Aku tidak akan menceraikan nya. Tidak akan pernah! Dan kamu tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk memilikinya!"ucap Mandala dengan suara berat menahan amarah, kemudian melepaskan cengkraman nya dan mendorong Yudha.


"Kita lihat saja nanti!"ucap Yudha sinis seraya merapikan kemeja nya, kemudian berlalu meninggalkan Mandala.


"Argh!"pekik Mandala kemudian meninju dinding toilet hingga tangannya berdarah.


Mandala merasa tidak rela jika harus bercerai dengan Kahyang. Hatinya sudah terlanjur mencintai Kahyang. Apalagi ada seorang anak yang akan lahir diantara mereka.


Kahyang keluar dari kafe itu dengan menahan air matanya. Ibu hamil itu kemudian bersandar di sebuah tiang besar dekat parkiran dan menangis tanpa suara.


Jujur, selama tinggal bersama Mandala, perlahan hati Kahyang berpindah ke Mandala. Perasaan nya terhadap Yudha kini hanya sebatas teman, atau lebih tepatnya mantan. Sekuat apapun Kahyang menepis perasaan sukanya pada Mandala, hatinya selalu mengatakan tidak ingin jauh dari pria itu. Namun siang tadi, Mandala nampak begitu mesra dengan seorang gadis yang diduga Kahyang adalah calon istri Mandala. Dan hal itu sukses membuat Kahyang marah pada Mandala. Ditambah lagi saat Mandala memarahinya di toilet tadi hanya karena tangannya di pegang Yudha. Sedangkan Mandala sendiri berpelukan dengan wanita lain di depan umum.Kahyang merasa tidak terima dan sangat marah hingga akhirnya menampar Mandala.


"Kak, acaranya, 'kan baru di mulai! Kenapa malah sudah mau pulang, sih?"protes Andini yang mengikuti Mandala ke parkiran.


"Andini! Kita pulang, atau aku akan meninggalkan mu di sini!"ujar Mandala terdengar datar.


"Iya, iya. Kakak udah persis kek cewek lagi dapet aja. Aku cuma minta sedikit waktu kakak, ntar kalau kakak udah nikah, pasti lupa sama aku dan sibuk sama istri kakak,"gerutu Andini berjalan mengikuti Mandala.

__ADS_1


"Ka.. kakak? Jadi.. jadi gadis itu adalah adiknya?"gumam Kahyang yang mengintip dari balik tiang besar dan melihat Mandala bersama gadis yang tadi siang..


Kahyang terduduk kemas di balik tiang dengan butiran kristal yang kembali berjatuhan dari sudut matanya. Jadi yang membuat dirinya marah pada Mandala adalah adik Mandala? Cemburu pada orang yang salah. Itulah yang sedang terjadi pada Kahyang. Kahyang menatap tangan nya yang bergetar dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah. Tangan itu telah digunakan nya untuk menampar orang yang telah melindungi nya, memperhatikan dan memberikan semua yang dibutuhkannya, bahkan sebelum dirinya memintanya. Sejak mereka menikah dan tinggal bersama, baru dua kali ini Mandala marah padanya.


Di sisi lain, Yudha dan Riska nampak kebingungan mencari Kahyang. Riska sudah menelpon berkali-kali, tapi Kahyang tidak kunjung mengangkatnya. Kahyang tidak tahu kalau ada panggilan masuk karena handphonenya di atur dalam mode senyap.


Setelah Mandala pergi, Kahyang pun mengambil handphone nya untuk memesan taksi online. Namun saat menatap layar handphonenya, Kahyang melihat Riska sedang menelponnya.


"Halo, Ris!"ucap Kahyang berusaha menetralkan suaranya. Agar tidak ketahuan jika baru saja menangis.


"Kamu di mana?"tanya Riska terdengar khawatir. Karena tadi Yudha mengatakan jika Kahyang baru saja bertengkar dengan suaminya.


"Aku pulang,"sahut Kahyang singkat, kemudian memutuskan panggilan tanpa memberi kesempatan pada Riska untuk bicara.


Riska menghela napas berat saat mengetahui Kahyang memutuskan panggilan nya, sebelum dirinya bertanya lagi.


"Bagaimana dia? Apa dia baik-baik saja?"tanya Yudha. Kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.


Sedangkan Kahyang, setelah mengakhiri panggilan telepon Riska, segera memesan taksi online dan tidak lama kemudian taksi itu pun sudah tiba.


Andini nampak kesal karena harus pulang saat acara baru di mulai. Bahkan karena sangat kesal pada kakaknya, Andini tidak menyadari ada bekas tamparan di wajah kakaknya dan juga ada darah di tangan kakaknya. Mandala sendiri tidak bicara apapun semenjak mereka berada di dalam mobil.


Setelah sampai di rumah dan Andini sudah turun dari mobil, Mandala segera melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah mereka, membuat Andini menghela napas kasar.


"Ada apa, sih, dengan kakak? Kenapa jadi aneh kek gitu?"gumam Andini menatap mobil kakaknya yang melaju keluar dari gerbang rumah, tidak mengerti dengan sikap kakaknya yang tiba-tiba berubah datar.


Mandala melajukan mobilnya menuju sebuah klub malam. Tempat yang akan di datanginya saat otaknya kacau seperti saat ini. Tidak lama kemudian Patih pun datang.

__ADS_1


"Bos, ada masalah apa sampai bos datang ke tempat ini? Sudah setengah tahun lebih, bos tidak datang ke tepat.ini. Kenapa malam ini tiba-tiba kesini?"cerocos Patih, namun Mandala tidak merespons. Pria itu tetap minum minuman yang membuat orang yang meminumnya kehilangan kesadaran.


Mandala memang menghubungi Patih, setelah mengantar Andini pulang. Setiap Mandala pergi ke klub malam, tugas Patih adalah menjaga Mandala agar tidak didekati orang, apalagi di dekati perempuan dan mengantarkan Mandala pulang, saat Mandala sudah mabuk.


"Paijo, apa aku memang tidak pantas menjadi seorang suami?"tanya Mandala kembali meneguk minuman keras itu. Dan kali ini tidak lagi dari gelasnya, tapi langsung dari botolnya.


"Patih, bos! Patih! Orang tuaku menyembelih dua ekor kambing untuk memberiku nama. Bos seenak jidat aja mengganti namaku,"protes Patih. "Tunggu! Tunggu! Kenapa bos, bertanya seperti itu? Pertanyaan bos itu kayak orang yang sudah menikah saja,"ujar Patih ceplas-ceplos seperti biasanya. Pemuda itu baru menyadari pertanyaan Mandala yang terdengar aneh baginya.


"Bos, apa maksud pertanyaan mu tadi?"tanya Patih yang masih penasaran. Namun Mandala tidak menjawab pertanyaan Patih dan kembali minum.


"Bos, ayo kita pulang! Kau akan mabuk jika minum lagi!"ujar Patih yang melihat Mandala sudah banyak meminum minuman beralkohol itu.


"Aku tidak mau! Dia telah menamparku. Dia marah padaku,"sahut Mandala yang mulai mabuk.


Patih mengerutkan keningnya mendengar jawaban Mandala, lalu iseng bertanya,"Siapa yang marah pada bos, dan berani menamparmu, bos?"


"Tentu saja istriku! Di dunia ini, tidak ada yang berani menamparku, selain istriku,"sahut Mandala dengan suara khas orang mabuk, menyandarkan kepalanya di meja.


"Istri? Sejak kapan, bos menikah?"tanya Patih yang nampak terkejut mendengar pengakuan Mandala.


...🌟"Cinta bukanlah bagaimana kita melupakan kesalahan, tapi bagaimana kita memaafkan."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2